Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Butuh Energi


__ADS_3

Sepulang sekolah tadi Bianca mampir ke apotek untuk membeli tespack.


Dan saat ini ia sedang mandi dan juga ingin memeriksa dirinya.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, Bianca kembali ke kamar mandi untuk memeriksa tespacknya.


Deg.


Dua garis merah.


Dia positif hamil.


Bianca tersenyum begitu lebar, ia mengandung janin Eros, bibit Eros.


"Akhirnya hal ini berjalan sesuai ekspetasiku," gumamnya sembari memasukkan tespack tersebut ke dalam tasnya.


Setelah mengambil jaket tebalnya Bianca keluar dari kamarnya.


"Sayang kamu mau kemana?" tanya Fara saat ia ingin memanggil Bianca untuk makan siang.


"Hmm ma Bianca mau keluar bentar cari bahan buat presentasi. Habis ini pulang kok, dah ma," kata Bianca yang begitu terburu- buru karena takut papanya pulang.


"Tapi sayang..,"


"Ah kemana anak itu pergi, dia belum makan siang," gumam Fara yang kembali turun ke lantai bawah.


Bianca mengendarai mobilnya sendiri tanpa diantar sopir pribadinya.


Dengan kecepatan sedang ia menuju rumah Eros yang diam- diam Bianca selidiki sendiri selama 3 hari kemarin saat Eros pulang dari sekolah.


Dan sudah 2 hari ini Eros tidak masuk ke sekolah membuat Bianca sedikit cemas dengan keadaannya.


Cit


Bianca sudah sampai di depan rumah Eros yang minimalis namun terlihat elegan.



Dengan cepat Bianca turun dari mobil dan mengetuk pintu rumahnya.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban ataupun satpam yang berjaga. rumahnya terlihat begitu sepi sekali, kemana Eros.


Ceklek


Bianca tak sengaja memegang knop pintu dan terbuka begitu saja tanpa dikunci.


Bianca dengan pelan memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah untuk mencari Eros.


"Astaga," kaget Bianca saat menemukan Eros yang tergeletak di sofa dengan botol wine yang begitu banyak berserakan di lantai.


Bianca langsung menghampiri Eros untuk menyadarkannya.


"Ros bangun, Eros," kata Bianca pelan sembari menepuk pipi Eros.


Eros menggeliat dan menjatuhkan botol minuman yang sedari tadi dia pegang.


"Lo mabuk? Sebanyak ini?" tanya Bianca saat Eros terbangun dengan keadaan mabuk berat.


"Leyna," gumam Eros saat ia membuka matanya.


Bianca mendengus sebal disaat mabuk seperti ini, Eros hanya mengingat Leyna.


"Eros gue positif hamil dan ini hasilnya," kata Bianca sembari menunjukkan hasil tespacknya.


"Jangan gila Leyna, kita tidak pernah melakukannya, bahkan gue belum pernah menyentuhmu," racau Eros yang masih terbaring di sofa.


Bianca memalingkan muka dan membuang napas.


"Sadarlah, gue bukan Leyna gue Bianca," teriak Bianca yang kesal.


Eros yang sedikit sadar dengan suara sekitar seketika membuka matanya dan menatap sayu Bianca.


*Sret


Bugh*


Eros menarik Bianca hingga terjatuh di atas dadanya.


Bianca mencoba bersikap tenang dan tidak gugup saat melihat wajah Eros dari dekat.


"Lo cantik banget hari ini," puji Eros membuat Bianca tersenyum lebar sembari membelai rahang Eros.


Bugh


Eros membalikkan posisi mereka, di mana Bianca kini berada di bawah kungkungan Eros.


Eros menatap Bianca sayu, ia membelai pipi tirusnya.


Perlahan Eros mendekatkan wajahnya pada leher Bianca, ia mencium sekilas hingga membuat Bianca mengeluarkan suaranya.


Eros beralih menciumi daun telinga hingga sampai pada bibir kenyal milik Bianca.


Bianca mengalungkan kedua tangannya pada leher Eros sembari menikmati permainan yang Eros pimpin.


Eros menciumi Bianca dengan sedikit kasar, ia ******* dan juga bertukar saliva.


"Ahhh Leyna,"


Seketika Bianca terdiam dan mendorong Eros hingga tersungkur di lantai.


Bugh


"Berapa kali gue harus jelasin sama lo, gue Bianca bukan Leyna," teriak Bianca marah.


Eros berdiri dengan sedikit sempoyongan, ia memegang kedua bahu Bianca.


"Kenapa? Kenapa lo bisa mengandung anak dari Damar, kenapa Leyna?" bentak Eros membuat Bianca terkejut hingga memejamkan matanya.


"Gue suka sama lo udah dari dulu, tapi kenapa lo dengan mudahnya bisa serahin diri lo sama Damar," ungkap Eros yang membuat Bianca meneteskan air matanya saat tahu kebenaran tentang perasaan Eros.

__ADS_1


"Ros gue bukan hmppp,"


Eros kembali mencium bibir Bianca dengan sangat brutal, Bianca memberontak sembari mendorong tubuh Eros namun nihil itu tidak berhasil.


"Kalau Damar bisa nebarin benihnya sama lo, itu artinya gue juga bisa," kata Eros sembari melepaskan kaos hitam oblongnya.


"Jangan gila Eros, gue sedang ngandung anak lo," teriak Bianca mencoba kabur dari kungkungan Eros.


Happ


"Eros lepasin gue," teriak Bianca saat Eros membopong dirinya layaknya karung dan membawanya ke kamar.


Bugh


Eros mendorong tubuh Bianca ke king size hingga terlentang.


"Eros jangan gila gue sedang hmppp,"


Eros langsung menciumi Bianca dengan kasar dan brutal.


Srek


"Eros," pekik Bianca saat Eros merobek baju Bianca dengan mudahnya.


"Gue juga ingin nebar benih dalam dirimu, bukan hanya Damar," kata Eros sembari menciumi seluruh tubuh Bianca.


"Eros sadarkan dirimu, lepasin," teriak Bianca mencoba mendorong tubuh Eros namun tak kuasa.


Eros melepaskan celananya membuat Bianca mencoba lari darinya.


Namun, gagal Eros lebih cepat darinya.


Bugh


Eros kembali mendorong Bianca ke king size hingga terlentang.


"Eros hentikan bodoh, kau bisa hmpp,"


Eros membungkam bibir Bianca dengan bibirnya.


Bianca mencoba untuk memberontak namun Eros semakin berani dan mencoba melepaskan kaitan branya.


Klik


Bra Bianca sudah terbuka membuat Eros langsung membuka pelindung dua benda tersebut.


Tanpa menunggu lama Eros langsung melahapnya dan meninggalkan banyak jejak pada dua benda tersebut.


Tangan kanannya tak berhenti di situ saja, Eros juga melepaskan rok mini Bianca hingga kini keduanya sudah tidak memakai sehelai kain pun.


"Ini hukuman bagimu, kamu pasti kemarin begitu menikmati milik Damar bukan, sekarang nikmatilah milikku," kata Eros yang menggesek- gesekkan miliknya pada milik Bianca.


"Tidak Eros sadarkan dirimu," bentak Bianca yang begitu marah saat Eros terus mengira jika dirinya adalah Leyna.


Jleb


"Akhhhh,"


"Eros kau hiks begitu gila hiks," kata Bianca yang sudah meneteskan air mata karena merasa perih dan sakit di bawah sana.


Eros menciumi leher dan juga dada Bianca.


"Tenanglah sayang, setelah ini kau akan menikmatinya," bisik Eros yang perlahan mulai menggoyangkan pinggulnya.


Awalnya begitu perlahan setelah terbiasa Eros begitu menggila, ia bermain begitu kasar dan menggebu.


Bahkan Bianca tidak bisa mengimbanginya.


Berbagai gaya telah mereka lakukan dan kini keduanya terbaring lemas dengan keadaan milik Eros masih menyatu di dalam sana.


"Bagaimana sayang, lebih kuat mana, aku atau Damar?" tanya Eros membuat Bianca membuka matanya.


Ia paling membenci ucapan Eros saat ini.


Dia bukan Leyna, apa Eros tidak bisa melihatnya.


Apa dia begitu buta hingga tidak bisa membedakan mana Bianca mana Leyna?


Cup


Eros mencium kening Bianca, lalu ia kembali naik ke atas tubuh Bianca dan menindihnya.


"Ok sayang, saatnya untuk ronde selanjutnya," bisiknya sangat sensual tepat di telinga Bianca.


♡♡♡


Sedangkan di rumah Aldebaran, kini sedang sibuk untuk pergi ke turnamen Al.


"Pa mama mana?" tanya Al karena ia takut terlambat.


"Bentar ya ko mama lagi dandan mungkin, biasalah cewek emang suka lama," kata Bara sembari memperbaiki penampilannya.


"Pagi pa ko," sapa Dante dengan senyum manisnya dan penampilan yang fresh.



"Kenapa pa, Dante tampan ya. Biasalah dari lahir emang udah tampan," pujinya sendiri membuat Bara hanya terkekeh.


"Pagi semua," kini giliran El yang langsung duduk di meja makan meminum susu coklat yang sudah disiapkan.


"Mama mana pa?" tanya Dante saat tidak melihat mamanya.


"Bentar habis ini juga selesai, sabar ya mama mu wanita paling cantik jadi wajar kalau lama," kata Bara membuat Dante dan El tertawa.


Sedangkan Al sedang duduk diam setelah selesai sarapan, ia sesekali melirik arloji armynya, memastikan jika dia tidak telat nantinya.


"Sayang ayo kita berangkat. Mama gini aja ya, mama males dandan," kata Sela yang sedikit terburu sembari memasukkan beberapa barang yang diperlukan ke dalam tasnya.


Keempat pria itu terpesona akan penampilan Sela yang bisa dikatakan jika dia belum terlihat seperti menikah.


Sela yang menyadari ketika keadaan hening seketika mendongak menatap suaminya yang juga menatap dirinya.

__ADS_1



"Ganti enggak?" ketus Bara sembari menatap tajam Sela yang memakai dress yang menurutnya sedikit terbuka.


"Kenapa sih, ini enggak terlalu terbuka kok," kata Sela sembari menatap penampilan dirinya sendiri.



"Enggak ganti. Itu terlalu terbuka," kata Bara tegas namun tidak membuat Sela gentar.


"Aku capek ganti Baraaa. Ini aja ya, kalau enggak boleh yaudah mending mama enggak ikut aja," kata Sela merajuk membuat keempat pria itu langsung takut.


"Ehhhh jangan ma," kata keempat pria itu dengan serempak dan kompak.


"Mama pakai itu aja enggak papa cantik kok, serius," kata Dante yang memuji penampilan Sela.


Sedangkan Bara menatap tajam Dante yang mengiyakan penampilan terbuka Sela.


"Tenang pa, enggak usah khawatir mama diambil orang. Dante bakal jagain," katanya saat Bara menatapnya tajam.


Sela lalu beralih menatap El yang sedang duduk di meja makan sembari makan roti lapisnya.


"Ya ampun ko penampilan kamu, lepas kuncirannya," marah Sela saat melihat penampilan El.



"Hehe cuma sekali ini aja kok ma, boleh ya?" mohonnya memelas pada Sela.


"Ayo pa ma kita berangkat sekarang," kata Al membuat semua beralih fokus pada Al.


"Iya ko maaf nunggu lama, ayo kita berangkat," kata Sela sembari menggandeng Al keluar rumah.


"Ya ampun pa, itu tadi mama?" tanya El.


"Tadi itu mamanya Dante kan pa?" tanya Dante.


"Kenapa? Baru tahu kalau mama kalian cantik? Yaiyalah suaminya aja tampan kayak gini," bangga Bara yang berjalan keluar rumah karena teriakan Sela.


"Enggak dandan aja cantiknya kayak ratu Elizabeth apalagi dandan, pasti cantiknya enggak karuan," gumam El yang berjalan keluar rumah.


"Sekarang gue tahu, kenapa gue bisa sepede itu mengakui kalau gue tampan," gumam Dante sembari cengar- cengir.


.


.


Sekitar 15 menit mereka sudah sampai di lapangan turnamen Al tanding.


Dan ada begitu banyak penonton, terlebih SMA Al sendiri yang kebanyakan dihadiri oleh para siswi.


"Ko Luna yang mana?" tanya Sela saat melihat teman- teman siswi Al yang ia tahu selalu mengirimkan cokelat ke rumah.


"Enggak dateng ma," jawab Dante mewakili Al.


"Koko ganti baju dulu ya," pamitnya pada Sela.


"Iya, semangat ko," kata Sela yang juga diikuti oleh Dante dan El.


Mereka lalu duduk di bangku penonton paling depan.


Dan benar saja, para siswa laki- laki menatap Sela tanpa kedip dan takut jika Bara marah.


Bara meraih pinggang Sela agar lebih dekat dengannya.


Sela mendongak menatap heran suami posesifnya ini.


"Kan apa aku bilang, teman laki- laki koko aja pada liatin kamu apalagi kalau ada para buaya di sini," gerutu Bara sembari mempererat pelukan di pinggang istrinya.


"Namanya juga punya mata Baraaa, apa salahnya liatin. Lagian mau mereka liatin sampai mata mereka lepas, status aku tetap istri kamu," kata Sela jengkel dengan Bara yang selalu posesif padanya.


Bara tidak bisa menahan senyumnya seketika ia mencium pipi tirus istrinya.


Cup


"Hekm papa, kayak enggak ada tempat aja," kata El yang langsung memalingkan mukanya.


"Ya inilah salah satu godaan jomblowan, jadi harus tahan," kata Dante yang ikut memalingkan mukanya.


Sela memukul dada Bara karena ia malu dengan tindakan suaminya barusan.


Pertandingan pun di mulai dan suasana mendadak ramai dan penuh dengan sorak sorai.


Terlihat lawan Al memiliki kekuatan yang seimbang, buktinya pertandingan sudah berjalan sekitar 10 menit namun belum juga ada yang mencetak rekor.


Tepat saat babak kedua selesai mereka mencetak rekor 1 sama.


Selesai babak kedua mereka diberi istirahat 5 menit.


Terlihat pak Chandra sedang bertanya pada Al.


"Sayang, koko kenapa ya?" tanya Sela membuat Bara merangkul bahu istrinya.


"Itu hal yang wajar sayang, jangan cemas doakan saja semoga koko menang untuk turnamen yang terakhir kalinya sebelum kelulusan ini," kata Bara menenangkan Sela.


"Dante tahu pa, kayaknya koko butuh energi buat kembali semangat," kata Dante membuat mereka bertiga penasaran.


"Butuh energi?" tanya ketiganya serempak.


"Iya, karena kemarin lusa koko sama Luna kayak berantem gitu, apalagi koko dari kemarin- kemarin terus main basket tanpa henti dan kalau turnamen enggak biasanya koko nunggu babak kedua baru cetak rekor," jelas Dante membuat ketiga orang itu mengangguk paham.


"Bener juga lo Dan, kenapa koko baru sadar," kata El yang baru menyadari sikap kokonya sejak tadi.


"Emang Luna enggak mau dateng ke turnamen koko?" tanya Sela sembari menatap beberapa siswi yang merupakan teman ketiga putranya.


"Enggak tahu ma dari kemarin Luna sibuk sama Willy, makanya koko kayak yang cemburu gitu," kata Dante yang sangat polos membuat Sela dan Bara tersenyum manis.


"Coba dek, kamu telpon Luna buat dateng kesini, mama pengin tahu Luna kayak apa?" kata Sela pada Dante.


"Ok ma," kata Dante yang langsung menjalankan perintah mamanya.


Dante mengirimkan pesan pada Sela untuk datang ke turnamen kokonya.

__ADS_1


Dan mereka berharap Luna bisa datang, agar Al bisa memenangkan turnamen ini.


__ADS_2