Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Down


__ADS_3

Keesokan paginya Bara dan keluarganya sedang sarapan bersama.


"Kalian ingat semalam kan? Nanti sepulang sekolah cepat pulang, nanti papa antarkan fisik sama om Robert," kata Bara membuat tiga bersaudara itu terdiam.


Sela yang melihat perubahan pada wajah putranya langsung memecahkan keheningan tersebut.


"Oh ya sayang, nanti anterin aku ke rumahnya Dea ya?" Bara tersenyum dan mengangguk.


"Koko berangkat dulu pa ma," pamit Al yang langsung pergi menyambar ransel hitamnya.


El dan Dante pun mengikuti kokonya dan berpamitan untuk berangkat ke sekolah.


"Kamu jangan bahas hal sensitif ini dulu, tahukan Al semalam mengurung diri setelah tahu Luna akan kuliah ke luar negeri," marah Sela pada Bara.


"Tapi sayang, tesnya sebentar lagi, hanya tinggal beberapa minggu mereka punya kesempatan untuk latihan fisik," jelas Bara pada istrinya.


"Tapi kamu kan bisa bicarainnya nanti aja, jangan waktu pagi gini," marahnya lalu pergi meninggalkan Bara sendiri di meja makan.


Sontak Bara langsung menyusul Sela ke kamarnya.


"Sayang," panggilnya pelan saat Sela melihat putranya berangkat ke sekolah mengendarai motornya.


Bara memeluk Sela dari belakang dan mencium ceruk lehernya.


"Mereka udah dewasa, kenapa kamu masih sulit melepaskan putra kita. Mereka akan mengejar impiannya seharusnya kamu dukung mereka," kata Bara dengan dagu yang ia topangkan pada bahu Sela.


"Tapi aku takut saat ditinggal oleh mereka, mereka sangat penting dan berharga bagiku," kata Sela pelan.


"Lantas aku tidak penting gitu setelah kehadiran mereka?" tanya Bara yang membuat Sela geram.


Dugh


"Aww," rintihnya saat Sela menyikut perutnya dengan siku.


"Terus kalau kamu enggak penting, siapa yang tiap hari urus kamu dengan alasan kamu adalah prioritas utamaku," Bara tersenyum dan mempererat pelukannya.


Bara membalik tubuh Sela untuk menghadap dirinya.


"Makasih ya, udah jadi istri yang sempurna untukku," kata Bara sembari mencium tangan Sela.


Bara meraih tengkuk Sela dan ******* bibirnya.


Tangan kanannya ia gunakan untuk meraih remote kontrol dan menutup gordennya.


"Kok ditutup?" tanya Sela dan melepaskan pangutan bibir Bara.


"Ayo buat dedek," katanya dan membopong Sela ke king sizenya.


"Baraaaa ini masih pagiii," teriaknya sembari tertawa saat Bara menggelitikinya.


°°°


Sedangkan sampai sekolah, Al dan kedua saudaranya langsung menuju kelas.


Tepat di depan kelas, Al berhenti dan berbalik menatap kedua adiknya.


"Jangan kasih tahu Luna dan lainnya," keduanya mengangguk paham.


Lalu Al masuk ke dalam dan terlihat Luna sudah duduk di bangkunya.


"La tolong pindah bentar," katanya pada Aqila.


"Repot kalau udah bucin, sekalipun yang duduk kepala sekolah tetep aja diusir," katanya sembari berjalan ke bangku Calista yang belum dateng.


"Nih buat kamu," kata Al sembari menyodorkan susu pisang kesukaan Luna.


"Makasih," kata Luna yang langsung meminum susunya.


"Sorry ya tadi enggak bisa jemput," Luna hanya mengangguk dan tersenyum manis.


"Kamu udah belajar?" Al hanya mengangguk sembari merapikan rambut Luna yang terjuntai ke depan.


"Minggu depan ada film Be With You, mau enggak ikut nonton setelah UN?" Al tersenyum sangat manis sekali dan mengangguk.


Dan senyuman itu mampu meningkatkan gula darah beberapa teman siswi yang sedang sibuk rumpi di pojok.


"Ya tuhan dari gue kelas 10 sampai mau lulus, baru kali ini gue lihat pacar orang senyumnya manis banget,"


"Luna yang diusap kepalanya, kok hati gue yang jedag- jedug jeder,"


Tak lama pengawas datang dan ujian pun dimulai.


Sedangkan di satu sisi, ada Damar yang baru sampai di sekolah dan berjalan menyusuri lorong kelas untuk sampai ke lab komputer.


Karena ruang ujian kelas IPS berada di lab komputer sebab keterbatasan siswa yang sedikit dari yang mempunyai laptop.


Tok tok


Damar masuk ke dalam kelas dan tepat saat itu pak Budi yang sedang berjaga.


Damar bukannya berjalan menuju pak Budi dan meminta maaf atas keterlambatannya malah berjalan menghampiri seseorang.


Bianca.


PLAK


"Hahhhh," teriak seisi lab komputer kala Damar menampar Bianca tanpa segan di depan pak Budi.


"Damar apa yang kamu lakukan?" teriak pak Budi yang langsung menghampiri Damar.


Damar tersenyum sembari menatap wajah merah Bianca.


"Bagaimana, apa sakit?" tanya Damar.


"Lo kenapa sih?" tanya Bianca yang mulai sewot.


Damar hanya tersenyum miring lalu berjalan menuju bangku pak Budi untuk menyetel rekaman papanya Bianca dan ia tampilkan di monitor.


Vidio itupun terputar jelas mulai dari mobil Putra yang menculik Leyna di depan sekolah hingga Putra yang melecehkan Leyna.

__ADS_1


"Papa," gumam lirih Bianca yang tak percaya dengan semuanya.


"Damar itu kejadiannya kapan? Lalu di mana Leyna sekarang?" tanya pak Budi khawatir tentang keadaan Leyna.


"Leyna sedang dibawa ks psikiater dan sedang dalam pengawasan polisi, karena trauma yang begitu berat ia harus menjalani perlindungan dan pengawasan ketat," jawab Damar sopan pada pak Budi.


Damar lalu berjalan menuju Bianca dan menatapnya tajam.


"Lo sama bokap lo, itu sama- sama brengseknya, gue tahu bokap lo malu karena lo hamil dan berselingkuh dengan papanya Leyna, karena ia takut nama baiknya tercemar hingga ia melecehkan Leyna karena takut Leyna akan membocorkan pada publik dan reputasi bokap lo hancur, karena bokap lo seorang diplomat kan?"


"Tapi apa? Perbuatan bejat bokap lo yang malah buat Leyna menderita. Mentalnya terguncang, lo enggak tahu beban Leyna lebih berat dari lo, tapi lo bisa- bisanya buat dia sehancur ini, lo tuh manusia yang enggak tahu cara memanusiakan manusia," bentak Damar yang kini mampu membuat Bianca menangis.


"Sudah Damar jangan diteruskan, kita bicarakan ini di kantor," kata pak Budi sembari mengajak Damar keluar dari lab.


Bianca terduduk lemas dan menangis.


Semua kini seakan memandang Bianca layaknya sampah yang harus dibuang di tempatnya.


Pengawasnya pun diganti dengan guru lain karena pak Budi ingin mengindentifikasi tentang keadaan Leyna.


Ujian pun dimulai meski tadi ada beberapa masalah yang menghambat kegiatan ujian hari ini.


Hingga bel berbunyi itu tandanya waktu ujian sudah selesai membuat pengawas langsung mengakhiri ujiannya.


"Gue enggak nyangka Bi, kalau lo bakal setega itu sama Leyna," kata salah satu siswi yang menghampiri bangku Bianca.


"Lo dulu sahabat baiknya, kok bisa sih lo berubah menakutkan seperti ini,"


"Bener sih Leyna emang hamil tapi ia patut diacungi jempol karena berani mengakuinya, sedangkan lo,"


Bianca beranjak dari duduknya dan menyambar tasnya karena ia tak tahan dengan semua ucapan teman- temannya.


Bianca benar- benar bersumpah ia akan balas dendam atas semua perlakuan ini.


Sedangkan di kelas Al, pengawas baru saja keluar.


Dengan cepat Al menghampiri bangku Luna.


"Hari ini kamu ada acara?" tanya Al sembari membukakan botol minum Luna.


Luna menggelengkan kepalanya lalu meminum airnya.


"Kenapa?" tanya Luna.


"Hari ini aku enggak bisa nganter kamu pulang, kamu naik taksi enggak papa kan?" Luna menggelengkan kepalanya.


"Enggak papa, tapi aku naik bus aja sembari mampir ke cafe paman Hasan," tolak Luna yang tak mau naik taksi.


"Aku sudah memesannya. Ayo aku antar ke depan," kata Al sembari membawakan tas Luna dan keluar kelas begitu saja.


"Al tunggu," kata Luna yang kesal karena Al sudah membawa tasnya.


Terpaksa Luna mengejar Al yang sudah pergi menuju gerbang sekolah.


Sedangkan Dante baru saja selesai mengemas bukunya.


"Dan, koko ke perpus bentar ya kamu tunggu di parkiran dulu," kata El saat melihat Calista keluar kelas.


"Huaaaaaa hari ini hari patah hati seduniaaaaa buat gue," teriak Aqila tiba- tiba hingga membuat beberapa siswa yang masih di kelas terkejut terutama musuhnya, Dante.


Dante yang kesal langsung menghampirinya.


Tepat saat Dante berdiri di samping bangku Aqila, terlihat punggung Aqila bergetar.


Hiks hiks hiks


Dante mendengar suara tangisan Aqila, lalu beberapa dari mereka yang penasaran ikut menghampiri bangku Aqila.


"Mereka enggak tahu apa kalau gue patah hati,"


"Kenapa mereka tega banget sih,"


"Enggak tahu apa kalau gue udah lama suka sama dia sejak gue duduk di bangku SMP sampai mau lulus SMA," mendengar hal itu membuat Dante mendadak hatinya panas.


"La lo kenapa?" tanya Dinda sembari berjongkok di samping bangku Aqila.


"Dante nyakiti lo ya?" Aqila menggelengkan kepalanya kala Arka bertanya.


"Terus?" tanya Dante membuat Aqila mendongak dan menghapus air matanya.


"Gue ditinggal nikah sama Choi Tae Joon, huaaaaaaaaaa," teriak Aqila membuat semua langsung pergi kecuali Dante.


"Gue kan udah lama suka sama dia ehh dianya malah nikah sama Park Shin Ye," kata Aqila sembari menangis sesegukan.


Aqila baru sadar kala teman- temannya keluar kelas begitu saja saat tahu alasan dia menangis.


"Jadi, lo nangis karna ditinggal nikah?" Aqila mengangguk.


"Sama siapa tadi?" tanya Dante membuat Aqila menunjukkan foto Choi Tae Joon.


"Dia siapa?" tanya Dante yang tak tahu.


"Dia aktor Korea, tadinya sih calon suami gue ehh enggak tahunya tahun depan udah mau nikah sama cewek lain," jelas Aqila dengan mata yang sedikit sembab.


Seketika Dante tertawa begitu keras membuat Aqila menatapnya tajam.


"Udah puas ketawanya?" seketika Dante diam saat Aqila menatapny tajam.


"Sakit kan? Siapa suruh demen sama virtual," ejek Dante membuat Aqila berdiri dan berkacak pinggang di depan Dante dengan jarak yang tidak lagi dekat tapi hampir menempel.


"Ngapain ngarep sama virtual kalau yang cinta ada di depan mata," seketika Aqila terdiam dan tidak mengeluarkan suara.


"Apaan sih lo," ketus Aqila sembari mendorong Dante dan menyambar tasnya lalu keluar kelas.


Dante hanya tertawa renyah melihat rona merah di pipi Aqila barusan.


Gemes banget lihatnya.


.

__ADS_1


.


Sementara itu, Bianca yang baru sampai di rumah begitu terkejut kala ada beberapa mobil hitam dan mobil polisi.


Bianca langsung masuk ke dalam dan terlihat ibunya terduduk lemas di sofa.


"Mama," panggil Bianca yang langsung menghampiri mamanya.


"Bianca. Papa kamu ditangkap sama polisi dan rumah kita disita," adu Fara sembari memeluk Bianca.


"Apa? Disita? Lalu bagaimana dengan mobil kita?Terus kita mau tinggal di mana?" tanya Bianca yang langsung dihampiri oleh seseorang yang bertugas menyita seisi rumah Putra.


"Maaf bu, 1 jam lagi anda harus meninggalkan rumah ini, karena polisi ingin menggelar penyelidikan setelah terkait penyelundupan barang- barang terlarang," katanya memberitahu Fara dan Bianca.


"Pa apa enggak ada kesempatan untuk kita tinggal sementara di sini? Jika kita pergi sekarang, kita mau tinggal di mana pak?" kata Bianca mencoba untuk memohon agar diberi keringanan.


"Maaf nak bu, tapi ini sudah perintah dari atasan kami, anda harus meninggalkan rumah sebelum kami menyeret paksa anda," katanya lalu pergi dan kembali melakukan pemeriksaan pada setiap sudut rumah Putra.


"Ma kita mau tinggal di mana?" tanya Bianca membuat Fara sendiri bingung.


Lalu mereka mengemasi semua barang- barangnya sebelum diseret paksa oleh mereka.


Setelah seharian ini mereka mencari tempat tinggal sementara, akhirnya mereka bisa menemukan tempat tinggal di rumah susun yang bisa dibilang sangat kecil dan sempit.


Selain hanya untuk tempat tinggal sementara, harganya juga sangat terjangkau.


Keduanya menatap jalanan tempat tinggal yang akan mereka tempati untuk sementara waktu ini.


"Kamu yakin mau tinggal di sini?" tanya Fara yang terlihat tak nyaman.



Bianca menatap jalanan tersebut dan mengangguk pasrah.


Mau bagaimana lagi, daripada tidur di jalanan kan?


•••


Sedangkan di tempat lain, Damar baru saja menjemput Leyna dari kantor polisi setelah menjalani beberapa introgasi.


"Kamu enggak mau makan dulu?" tanya Damar dan dijawab gelengan kepala oleh Leyna.


"Aku capek," kata Leyna membuat Damar langsung membopong Leyna.


"Damar turunkan aku," katanya saat tiba- tiba Damar membopong dirinya ke kamar.


"Kamu capek jadi harus istirahat," katanya membuat Leyna mampu tersenyum tipis.


Dengan pelan Damar membaringkan Leyna di king sizenya.


"Sekarang kamu tidur, aku akan menjagamu," kata Damar sembari menyelimuti Leyna.


Leyna memegang tangan Damar membuat sang empu menatapnya.


"Janji ya, jangan pernah ninggalin aku?" Damar menatap lekat mata yang terlihat redup tanpa kehidupan tersebut.


Rasanya kenapa sakit dan sesak kala menatap matanya.


Damar tak menjawab, ia mencium kening Leyna dengan sangat lembut dan lama.


"Iya. Sekarang tidur ya," Leyna mengangguk lalu langsung memejamkan matanya dengan tangan yang menggenggam tangan Damar.


Damar tersenyum melihat wajah damai Leyna kala tertidur.


Sangat cantik sekali.


Terlihat Leyna begitu pulas, pasti dia sangat lelah sekali.


Damar membelai lembut rambut Leyna.


Kringg


Damar langsung mengangkat teleponnya agar Leyna tidak terbangun.


"Halo pa?" jawabnya lirih dengan sesekali melirik Leyna.


"Kamu di mana sekarang?"


"Di apartemen,"


"Bersama Leyna?" tanya papanya.


"Ya,"


Lama papanya terdiam membuat Damar mengerutkan keningnya.


Apa sinyalnya jelek?


"Papa masih di sana?" tanya Damar kala papanya terdiam sangat lama.


"Mamanya Leyna meninggal,"


Deg


Genggaman Damar pada tangan Leyna langsung mengerat.


Tatapannya seketika langsung tertuju pada wajah damai Leyna yang tertidur pulas.


Kabar apa ini?


Luka apalagi yang melubangi hati Leyna?


Tidak cukupkah luka yang diberikannya saat ini?


.


.


.

__ADS_1


"Hei sudah selesai belum teleponnya?" bentak polisi itu yang geram.


"Ya aku sudah selesai menelponnya," jawabnya lalu kembali ke sel tahanan.


__ADS_2