
Sesampainya di rumah Luna langsung membersihkan diri.
Luna tidak melihat Vino, kemana dia pergi.
Selesai membereskan diri, Luna langsung bergegas masak.
Kasian pasti Vino kemarin hanya membeli makanan atau makan mie instan.
Vino pandai memasak hanya saja ia terlalu malas saat tidak ada Luna di rumah.
Dengan kaki sedikit sakit dan terasa ngilu, Luna memaksakan untuk masak buat makan malam bersama Vino.
"Malam- malam begini, kemana dia pergi?" gumam Luna sembari memotong sayuran.
Setelah bergulat di dapur akhirnya Luna selesai masak juga.
Ceklek
Pas sekali Vino sudah pulang dan masakan sudah siap.
"Vino ayo makan," ajak Luna pada Vino.
"Kakak kapan pulang?" tanya Vino sembari menenteng kantong plastik warna putih.
"Tadi sore. Dari mana kamu?" tanya Luna sembari menuangkan sayuran pada piring Vino.
"Beli soda," jawab Vino sembari mengeluarkan soda yang ia beli.
Bugh
"Sudah berapa kali kakak bilang, jangan beli soda apalagi perut kamu kosong," kata Luna sembari memukul punggung kekar Vino.
"Cuma sekali ini aja," kata Vino sembari mengusap- usap bekas pukulan kakaknya.
"Buruan duduk dan makan," kata Luna yang langsung di turuti oleh Vino.
"Kaki kakak kenapa?" tanya Vino saat melihat kaki Luna diperban.
"Enggak papa, cuma jatuh aja kemarin waktu persami," jawab Luna berbohong saat Vino bertanya.
Vino hanya menganggukkan kepalanya dan percaya saja.
"Kak, kalau aku berhenti sekolah sampai SMP aja gimana?" Luna langsung menyatukan alisnya tanda marah.
"Apa kamu gila? Kakak susah- susah biayain kamu buat bisa lanjut ke SMA malah mau berhenti gitu aja," marah Luna membuat Vino menunduk.
"Bukan gitu. Liat kakak kerja sepulang sekolah apalagi pulangnya malem buat Vino ngerasa enggak guna banget jadi adik. Belum lagi pulang kerja masih masak buat Vino," kata Vino membuat Luna mengerti kenapa adik laki- lakinya mengatakan hal itu.
"Karena itu kalau kamu kasihan sama kakak, kamu harus belajar yang rajin yang giat biar kamu bisa masuk SMA Alberta seperti kakak," kata Luna menasehati Vino.
"Kalau masalah masak, itu udah tugas kakak sebagai orang tua kamu terlebih kakak juga seorang perempuan, itu sudah kewajiban kakak," Vino menatap Luna sendu.
Ia bersyukur mempunyai kakak seperti Luna.
Sekolah kerja dan masak, semua Luna bisa mengatasinya sendiri.
Terkadang Vino juga ingin sekolah tinggi kayak temen- temen lainnya, tapi mengingat hanya Luna yang membiayai dia, Vino mendadak mengubur dalam mimpinya.
Sudah sangat susah Luna membesarkan dia seorang diri belum lagi membiayainya sekolah, itu sudah lebih dari cukup.
"Kak kalau Vino kelak pengin jadi dokter kayak kakak boleh enggak?" tanya Vino membuat Luna tersenyum lebar.
"Boleh aja asal kamu harus giat belajar. Kakak enggak nuntut kamu harus jadi dokter, bidang apa yang kamu kuasai, itulah mimpimu," kata Luna membuat Vino mengangguk paham.
"Jadi, mulai sekarang belajarlah dengan giat. Kamu hanya perlu belajar dengan rajin sisanya kakak yang urus," kata Luna dengan sangat entengnya padahal ia sendiri tak tahu bisa lanjut ke perguruan tinggi atau tidak.
Cita- cita Luna adalah menjadi seorang dokter dan bisa mendirikan banyak rumah sakit untuk mereka yang tidak mempunyai biaya untuk berobat.
Luna ingin sekali bisa menjadi seorang dokter, dan itu adalah impian terbesar Luna.
Sebab, ayah ibu Luna meninggal karena tidak bisa berobat ke rumah sakit karena keterbatasan biaya.
Luna bisa merasakan bagaimana orang di luaran sana yang ingin berobat namun tidak memiliki biaya.
Luna harap, semoga ayah dan ibunya adalah orang terakhir yang meninggal karena tidak bisa berobat, biarkan Luna mendirikan rumah sakit untuk mereka yang kurang mampu.
Agar mereka bisa berobat tanpa harus susah payah membayar asuransi terlebih dahulu.
"Kakak tidur dulu. Kamu cepetan habisin setelah itu tidur," kata Luna sembari mencuci piringnya dan masuk ke dalam kamar.
Vino menatap pintu kamar kakaknya.
Cita- cita Vino memang tinggi, tapi ia yakin jika ia bisa menggapai cita- cita itu dengan kerja keras yang baik.
○○○
Semua keluarga Bara sedang sarapan seperti biasa.
"Koko mana dek?" tanya Sela saat putra sulungnya tak kunjung turun ke bawah untuk sarapan.
"Masak koko ngambek gara- gara Daretha kemarin?" tebak Dante seenak jidatnya.
"Emang koko kenapa dek? Berantem sama Daretha?" tanya Sela sembari memberikan roti lapisnya pada Bara.
"Bukan ma, koko cemburu kemarin gara- gara Daretha deketin Luna mulu," Bara terkekeh mendengar ucapan Dante begitu juga Sela.
"Bilangin koko, jangan suka cemburu kalau enggak bisa kasih kepastian, takutnya Luna berharap lebih sama koko nanti," kata Sela memberitahu Dante.
"Diem- diem ma, koko datang," kata El panik saat Al keluar dari lift.
"Pagi pa ma," sapa Al lalu langsung meminum segelas susunya.
"Ma koko langsung berangkat aja ya, nanti sarapan di kantin aja," kata Al yang mencium pipi Sela lalu salaman ala pria pada papanya.
"Ko kalau cemburu juga butuh tenaga, sarapan dulu gih," Al berbalik menatap Dante dan El yang cekikikan.
Seketika target yang ditatap langsung panik.
"Adam Agam Daffa, ayo berangkat," teriak Dante sembari menuju lift untuk menyusul adiknya.
Al lalu keluar menuju halaman untuk memanasi motornya.
__ADS_1
Nasib punya adik laknat emang harus sabar.
Dante dan lainnya keluar dari rumah dan langsung menaiki motornya masing- masing.
"Ko jangan ngebut- ngebut ya, inget yang dibonceng Dante bukan Daretha, jadi jangan panas hatinya," kata Dante memperingati Al.
Al hanya diam tidak menyahuti ucapan Dante.
Al melajukan motornya, memimpin di depan lalu diikuti adik- adiknya.
Selama perjalanan Al hanya diam tak berbicara sedangkan Dante sudah seperti orang gila yang terus mengoceh sendiri.
Mereka sampai di sekolah dan Al langsung pergi menuju kelasnya tanpa menunggu adik- adiknya.
"Koko kayaknya marah banget karena kita ledekin tadi," kata El saat melihat Al pergi begitu saja tanpa menunggunya.
"Kalau menurut gue itu antara marah karena kita ledekin sama marah karena cemburu kemarin," tebak Dante yang diangguki oleh mereka semua.
"Udah yok ko kita masuk kelas bentar lagi bel," kata Adam lalu mereka bergegas masuk kelas sebelum bel berbunyi.
Beberapa siswa bergerombol dari kantin buru- buru untuk masuk ke kelas sebelum bel berbunyi.
"Dante awas," teriak Arka membuat Dante dan lainnya menoleh.
Bugh
Untung Dante bisa menangkap bola basket yang terpantul itu dan hampir mengenai dirinya.
"Dan ayo main," teriak Arka dari lapangan.
"Ayoo," teriak Dante dengan semangat 45 dan hendak berlari ke lapangan namun El menarik kerah seragam belakangnya.
"Dan Dan, ada pak Kimmy Dan," Dante panik saat melihat pak Kimmy berjalan ke arah mereka.
Dante langsung mengembalikan bolanya ke lapangan.
"Oyyy jangan main basket, buruan masuk bentar lagi udah bel," teriak Dante pada anak- anak sekelasnya yang main basket.
Prok prok prok
"Bagus Dante, kamu berusaha untuk mendisiplinkan temanmu sendiri," puji pak Kimmy pada Dante bangga.
"Hehe iya pak itu kan sudah tugas saya sebagai teman saling mengingatkan," kata Dante dengan sikap sok malunya.
"Hilih preketek lo Dan, tadi aja diajakin main ayo- ayo, giliran pak Kimmy dateng lo marahi kita," gumam Arka yang masih berdiri di tengah lapangan.
"Ayo masuk sebelum bel," teriak Dante sekali lagi.
"Baik pak Dante," jawab mereka serempak sembari menundukkan kepalanya membuat pak Kimmy terkekeh.
"Udah sana kamu juga masuk," kata pak Kimmy pada Dante dan adik- adiknya.
Dante lalu masuk ke dalam kelas yang memang tepat berhadapan dengan lapangan basket.
Lalu Adam dan kedua adiknya berjalan naik ke tangga atas karena kelasnya di lantai 2.
"Good morning everybody," teriak Dante saat masuk ke dalam kelas.
"Good morning babyyyy," jawab para siswi dengan sangat kompak dan begitu girang sekali saat Dante menyapanya.
Semua tertawa melihat tingkah Dante yang buru- buru duduk karena ada bu Sari.
"Selamat pagi Bu," jawab mereka serempak.
"Oh ya anak- anak ibu ingin mengingatkan pada kalian semua untuk jangan absen apalagi bolos sekolah. Tinggal satu bulan lagi kalian ujian untuk menentukan kelulusan dan ibu berharap jika hanya sakit batuk atau flu yang sekiranya tidak parah tolong sempatkan untuk masuk agar kalian tidan ketinggalan pelajaran," kata bu Sari mengingatkan pada mereka semua.
"Baik bu," jawab mereka dengan kompak.
"Oh ya ibu sampai kelupaan, hari ini kelas kita kedatangan siswa baru, menurut ibu dia pindah pada waktu yang kurang tepat karena apa, ujian sebentar lagi untuk mengejar materi yang tertinggal itu sangat sulit sekali,"
"Tapi ibu harap kalian bisa membantu teman baru kalian ini ya," kata bu Sari sebelum memanggil siswa baru itu.
"Masuklah nak," kata bu Sari pada siswa itu.
Tap tap tap
"Wowww dia tampan sekali,"
"Lihatlah dia seperti idol,"
"Tapi sayang, di hati kita yang nomor 1 tetep Al Gibran,"
"Bener banget,"
Kira- kira begitulah bisikkan para siswi saat anak baru ini masuk ke dalam kelas.
Sedangkan Luna menatap laki- laki itu dengan detak jantung yang tak beraturan.
Dia kembali?
"Perkenalkan nama saya Willy Delion, saya harap kalian bisa membantuku untuk belajar di sini," katanya memperkenalkan dirinya sembari senyum ramah pada mereka seisi kelas.
"Baik Willy kamu duduk di belakang Al yang sama Dante," kata bu Sari sembari menunjuk bangku kosong sebelah Dante.
"Sini blonde," kata Dante mengundang gelak tawa seisi kelas.
"Dante jangan bicara seperti itu," kata bu Sari sembari melototi Dante.
"Oh ya Wil kamu juga bisa minta tolong sama Luna, dia adalah ketua kelasnya," kata bu Sari sembari memberitahu mana yang bernama Luna.
"Baik bu," kata Willy sembari tersenyum manis kearah Luna.
"Lun tolong Willy dibantu ya," kata bu Sari pada Luna.
"Iya bu," jawab Luna pelan sembari terus menunduk.
Sedangkan Aqila yang sudah tahu hubungan mereka berdua sejak SMP tahu betul perasaan Luna bagaimana.
Willy lalu berjalan menuju bangku kosong yang ada di sebelah Dante.
__ADS_1
"Bu izin ke belakang," semua diam saat Al meminta izin ke belakang dan pergi dari kelas.
"Dan koko kenapa?" tanya El pada Dante yang pintar sekali menebak.
"Enggak tahu ko, Dante lapar makanya enggak bisa nebak isi pikiran koko," kata Dante sembari menggaruk kepalanya.
"Lo bisa baca pikiran orang?" tanya Willy sok akrab pada Dante.
"Jangankan pikiran, orang bisu aja bisa gue baca dalam hatinya," jawab Dante sedikit sinis karena ia kurang menyukai Willy.
Willy hanya tersenyum tipis lalu memerhatikan penjelasan bu Sari.
"Lun lo enggak papa kan?" tanya Aqila saat Luna hanya diam saja dan menunduk.
"Enggak papa," jawab Luna sembari menatap mata Aqila sendu.
Pelajaran pun dimulai dan berlangsung dengan sangat tenang.
Sudah hampir istirahat Al belum juga kembali dari kamar mandi.
"Dante, kira- kira koko kemana, dari tadi enggak balik- balik?" tanya El yang mencemaskan keadaan Al.
"Dante enggak tahu ko, siapa tahu koko tidur di perpus atau ada urusan di ruang osis," jawab Dante lirih supaya bu Sari tidak mendengarnya.
Kringggggg
Bel istirahat sudah berbunyi membuat bu Sari langsung mengakhiri pelajarannya.
Setelah bu Sari keluar kelas buru- buru para siswa berbondong- bondong pergi ke kantin.
"Dan ayo cari koko," kata El yang langsung berlari keluar kelas diikuti oleh Dante.
Sedangkan Willy menatap Luna yang duduk seorang diri.
"Gue harus tanya sama Luna," gumamnya pela sebelum berjalan menuju bangku Luna, Willy menarik napas.
"Lun, bisa bicara bentar enggak?" tanya Willy pelan agar Luna tidak marah.
Luna masih diam tidak menjawab, dengan berat hati Luna menatap mata Willy.
"Cuma bentar kan?" tanya Luna pada Willy dan diangguki olehnya.
Willy berjalan lebih dulu untuk mencari tempat nyaman.
Lalu Luna mengikuti dengan jarak sedikit jauh agar teman- temannya tidak curiga.
Di sinilah Willy dan Luna sekarang, taman belakang sekolah.
"Mau ngomong apa?" tanya Luna yang ingin cepat pergi dari sana.
"Lun, 3 tahun lalu lo nyatain perasaan ke gue..,"
"Kalau enggak penting enggak usah dibahas Wil, udah dulu juga," kata Luna memotong pembicaraan Willy.
"Gue cuma mau tanya, lo masih punya rasa enggak sama gue?"
Deg
Seakan disambar petir di siang hari saat Willy menanyakan hal itu.
Kelas 2 SMP dulu Luna memang nyatain rasa pada Willy, sayangnya Willy tidak memberikan jawaban lalu besoknya ia pindah sekolah begitu saja tanpa memberitahu Luna.
Luna terdiam dia hanya menunduk dan bingung dengan pikiran juga isi hatinya.
"Lo enggak perlu jawab sekarang kok Lun, gue cuma mau nanya dan pastiin, takutnya lo sekarang lagi milik orang lain, biar gue bisa move on dari lo dan enggak berharap lebih," kata Willy terdengar sangat tulus sekali.
Luna menatap mata Willy sekilas lalu memalingkan wajahnya.
Luna sendiri aja bingung sama perasaannya, karena ia sedang mempunyai satu nama yang akhir- akhir ini punya daya tarik bagi Luna.
Tapi Luna juga enggak boleh berharap lebih sama perasaan yang enggak pasti ini.
"Lun?" panggil Willy saat Luna hanya diam saja.
"Oh maaf," kata Luna gelagapan saat Willy melambaikan tangannya di depan wajah Luna.
"Jadi, gimana?" tanya Wilky sekali lagi.
"Bukannya apa Wil, cuma itu udah lama banget, kita juga udah ada jalan masing- masing, intinya jalani sekarang ini sesuai alur yang ada dan jangan bahas hal lainnya selain pelajaran," kata Luna menegaskan pada Willy agar lebih jelas.
"Baik gue ngerti sama apa yang lo ucapin. Kalau gini gue jadi lega karena hubungan di antara kita jadi jelas," Luna menatap Willy tak mengerti.
"Hanya sebatas temen," lanjut Willy membuat Luna menganggukkan kepalanya canggung.
Keduanya sama- sama diam dan canggung.
Apalagi setelah 4 tahun tidak bertemu.
"Yaudah gue mau ke sana dulu," kata Willy dan diangguki oleh Luna.
Luna hanya menatap kepergian sosok yang dulu ingin ia miliki.
Seorang Willy Delion.
"Hekm," Luna sontak kaget dan langsung menoleh.
"Al," kaget Luna saat Al keluar dari balik pohon.
"Kamu sejak kapan disitu?" tanya Luna dengan suara gaguk, sedangkan Al hanya menatap datar Luna.
"Jadi itu mantan lo?" tanya Al membuat Luna melotot tak percaya.
Bugh
"Enak aja mantan, pacaran aja enggak," kata Luna kesal sembari memukul bahu Al.
Al lalu pergi meninggalkan Luna sendiri yang sedang uring- uringan.
"Al gue bisa jelasin," teriak Luna membuat Al berhenti dan berbalik menatap Luna.
"Emang penting buat gue?" tanya Al membuat Luna kikuk dan salah tingkah.
__ADS_1
Al lalu pergi meninggalkan Luna dan siapa yang tahu jika dia diam- diam tersenyum samar.
"Iya juga ya, kenapa gue jelasin hal enggak penting itu ke Al," gumam Luna yang baru menyadarinya.