
"Dante gue takut," lirih Aqila membuat Dante ikut duduk di sampingnya.
"Jangan nangis dong La, entar kalau penghuni gudangnya ikutan nangis kan berabe urusannya,"
BUGH
"Lo jadi cowok enggak perasaan banget sih, udah tahu gue takut tenangin kek atau hibur kek malah ngledek," marah Aqila sembari memukul bahu Dante keras.
"Ya tuhan barusan gue lagi hibur lo kampret, lo nya aja yang enggak punya perasaan," kata Dante lebih sengit.
Aqila menatap sekeliling, gudang yang tanpa ventilasi ini membuat ruangan redup.
"Mukanya aja galak, aslinya lo penakut," ledek Dante sembari menatap ke depan dan bersandar di pintu.
"Gue sedikit pobia dengan kegelapan, beberapa tahun lalu nyokap udah bawa ke psikiater, tapi enggak tahu kenapa pobia itu seakan tumbuh kembali," Dante menoleh menatap Aqila yang menatap kosong ke depan sembari bercerita.
"Kenapa enggak balik lagi ke psikiater?"
"Karena gue kehilangan semangat gue saat bokap ninggal 3 tahun yang lalu. Dia yang selalu nemenin buat ke psikiater meski nyokap juga ikut entah kenapa rasa sayang gue lebih besar pada bokap," ungkap Aqila membuat Dante sedikit serius.
Dante terdiam mencoba mencari ide untuk menghibur Aqila.
Tak lama kembali terdengar suara isak tangis dari Aqila.
Entah dorongan dari mana, Dante merengkuh bahu Aqila dan memeluknya erat dari samping.
"Udah enggak usah nangis, gue enggak punya permen buat lo," canda Dante agar Aqila berhenti menangis.
Aqila yang berada dalam pelukan Dante sedikit tersenyum samar lalu berusaha untuk tidak takut dan mencoba melawan pobianya.
Dante sedikit menunduk saat tidak lagi mendengar suara isak tangis Aqila.
"Lah ini bocah malah tidur, perasaan beberapa menit yang lalu nangis- nangis ketakutan," heran Dante saat suara nafas Aqila begitu teratur.
Dante meraih ponselnya dari dalam saku.
Ko El Tampan
- Koko nanti pulangnya duluan aja ya, Dante disuruh pak Kimmy
Dante tersenyum lebar setelah mengirimkan pesan itu pada kokonya.
"Hehe sorry ya, gue lupa kalau bawa ponsel tadi, itung- itung kita bolos bareng waktu pelajaran bu Jesy," gumam Dante sembari menatap Aqila yang begitu pulas tidurnya.
Dante ikut memejamkan mata agar waktu cepat berlalu dengan Aqila yang berada dalam pelukannya.
Sedangkan di kelas Al terbangun dan kelas sudah terlihat sepi hanya ada El yang setia menunggu kokonya.
"Udah bangun ko, ayo pulang," kata El saat Al terbangun.
"Emang udah bel?"
"Dari tadi ko,"
Al langsung melihat ke depan, bangku Luna sudah kosong.
"Kamu pulang duluan aja, koko ada urusan," kata Al buru- buru keluar kelas sembari menyampirkan tasnya.
"Astaga, sia- sia dong gue dari tadi nungguin koko tidur, mana Dante masih disuruh lagi sama pak Kimmy," gumam El saat ia harus pulang sendiri.
"Sabar El, pulang sendiri aja udah enggak papa, enggak bakal ada yang bawa kok," gumamnya sembari berjalan keluar kelas.
Di satu sisi Al berjalan menuju ruang BK untuk memeriksa apakah Luna dan Willy ada di sana.
Belum sempat ia sampai di ruang BK, Luna dan Willy keluar bersamaan dari sana.
Al buru- buru bersembunyi agar Luna tidak melihatnya.
"Lun lo pulang sama siapa?" tanya Willy.
"Aku naik bus aja Wil, hari ini paman Hasan memintaku untuk datang ke sana," kata Luna sembari memeriksa ponselnya.
"Gue anter aja gimana?" Luna menggelengkan kepalanya.
"Enggak perlu, kamu pulang aja terus langsung belajar besok kita masih ada bimbingan lagi," kata Luna menolak halus tawaran Willy.
Terlihat Willy menghela napas berat dan mengangguk lemah.
"Yaudah, gue pulang duluan ya," pamit Willy yang langsung pergi.
Kini hanya menyisakan Luna sendiri di lorong depan ruang BK.
Al hanya menatap Luna yang entah perasaannya atau memang benar jika Luna seperti ada beban.
Terlihat Luna berjalan menuju gerbang tanpa tahu jika sejak tadi Al melihatnya.
Setelah dirasa Luna sudah jauh dari ruang BK, Al langsung berniat untuk mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi antara Willy dan Luna.
Ceklek
__ADS_1
"Eh Al, belum pulang?" tanya bu Jesy.
"Maaf bu saya menyita waktu anda sebentar," kata Al yang ingin membahas intinya.
"Iya ada apa?"
"Belakangan ini saya lihat Luna dan Willy sibuk mondar- mandir untuk ke ruangan anda, kalau boleh tahu," Al merasa jika ini sedikit tidak sopan menanyakan sesuatu privasi seseorang.
"Oh itu, emang kamu belum tahu?"
"Apa bu?" tanya Al begitu penasaran.
"Ujian nasional kurang satu minggu lagi, karena itu kemarin ibu pasang beberapa brosur tentang beasiswa luar negeri dan banyak dari teman- teman kamu yang begitu antusias untuk mengikutinya termasuk Willy dan Luna,"
"Akhir- akhir ini mereka memang sibuk mondar- mandir dari ruangan ibu, karena mereka ingin berkonsultasi untuk masuk universitas yang mereka pilih," mendadak dada Al seperti terhantam batu.
"Universitas?" gumam Al membuat bu Jesy mengangguk.
"Bukankah kemarin sudah diumukan bagi siswa siswi yang ingin konsultasi tentang prodi dan universitas bisa langsung ke ruang BK, apa kamu tidak tahu Al?" tanya bu Jesy heran.
"Maaf bu saya kurang fokus mungkin, karena saya sibuk mengurus study tour kelas 10," kata Al beralasan meski sebenarnya ia sibuk memikirkan Luna hingga ia lupa segalanya tanpa bisa fokus.
"Oh gitu. Ya intinya gitu, Luna sama Willy berkonsultasi untuk memilih universitas yang menyediakan beasiswa, karena untuk mendapatkan beasiswa universitas itu setidaknya mereka harus mengikuti ujian tahap masuk sebelum ujian nasional," jelas bu Jesy membuat Al merasa tak lagi penasaran.
"Kalau boleh tahu, universitas mana yang Luna pilih?" tanya Al tanpa malu atau sungkan menanyakan tentang Luna.
Bu Jesy langsung melihat daftar beberapa siswa yang ingin mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri.
"Stanford University," jawab bu Jesy.
Rasa sesak itu kembali datang memenuhi dada Al.
Al langsung beranjak dari duduknya dan pamit untuk undur diri.
Pikiran Al sedetik kemudian kosong begitu saja.
Buru- buru ia menuju parkiran dan segera pulang ke rumah.
Sedangkan di satu sisi Luna sedang membantu Hasan yang kini begitu ramai pengunjung di cafenya.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan sekarang sudah pukul 7 malam.
"Lun kamu pulang duluan aja, bentar lagi paman juga akan pulang," kata Hasan layaknya seorang ayah bagi Luna.
"Luna temenin beres- beres paman, setelah itu kita pulang bersama," kata Luna yang tak ingin pulang lebih dulu.
"Baiklah, kalau itu maumu," kata Hasan yang tidak bisa menolak ucapan Luna.
"Lun kamu pulang naik apa?" tanya Hasan khawatir karena dia seorang gadis, tidak baik pulang sendirian di tengah malam gini.
"Luna biasa naik bus paman, itu jauh lebih aman," kata Luna yang tahu akan kekhawatiran Hasan.
Ting
Hasan tersenyum saat melihat pesan dari seseorang yang dirasa bisa menjaga Luna.
"Kalau gitu paman pulang dulu ya," pamitnya pada Luna setelah membaca pesan yang baru ia dapat.
Luna hanya mengangguk namun detik kemudian ia merasa aneh dengan paman Hasan.
Biasanya beliau akan menunggu hingga bus yang dinaiki Luna datang, tapi malam ini paman Hasan membiarkan Luna menunggu bus itu sendiri.
Biarlah mungkin paman Hasan sedang ada urusan lainnya.
Di tempat yang sama dengan jarak yang tidak begitu jauh, ada Al yang menatap Luna sejak tadi.
Ya, ialah orang yang dimaksud Hasan.
Orang yang tepat untuk menjaga Luna malam ini.
Al berjalan menghampiri Luna tanpa sepengetahuannya.
Tap tap tap
Luna menoleh saat seseorang berdiri di sampingnya.
"Al," gumam Luna kaget saat tiba- tiba Al datang di tempat ia kerja.
Al hanya diam saja dan menatap lekat Luna.
Detik kemudian, Al langsung memeluk Luna tanpa aba- aba.
Luna yang terkejut hanya diam saja dengan perasaan bingung dan campur aduk.
"Lo mau ninggalin gue kemana?" kata Al lirih di sela pelukannya.
__ADS_1
Luna langsung paham dengan apa yang dikatakan Al.
"Aku mau pergi belajar," jawab Luna dengan suara yang terdengar dingin di telinga Al.
"Kenapa harus California?" tanya Al pelan dengan pelukan yang semakin erat ditubuh Luna.
Luna hanya diam tak menjawab, itu adalah impian Luna dari dulu.
Juga cita- cita yang harus Luna perjuangkan sebagaimana itu adalah keinginan kedua orang tuanya.
"Hasil ujiannya belum keluar Al, belum tahu juga aku keterima atau enggak," kata Luna mencoba untuk membuat Al tidak merasa cemas akan hal itu.
Luna mencoba melepaskan pelukan Al, namun Al semakin mempererat pelukannya.
"Lo sehari aja bisa enggak jangan jauh- jauh dari gue, apalagi jangan deket Willy terus, meski gue tahu lo sama Willy punya urusan yang sama," mohon Al dengan perasaan begitu tulus dari dalam hatinya.
Luna diam, ia mencerna baik- baik setiap kata dari Al.
Luna juga punya keinginan yang sama seperti Al, sayangnya fokus Luna bukan hanya Al melainkan impian yang harus ia gapai.
Luna hanya mengangguk tanpa berkata membuat Al melepaskan pelukannya.
Al memegang kedua bahu Luna dan menatap lekat mata cantik itu kala malam hari.
"Mulai besok lo enggak boleh ninggalin gue, meski cuma berangkat ke sekolah,"
"Dan lo juga enggak boleh naik motor atau semobil sama Willy, kalau lo mau gue besok bawa mobil buat kita berangkat ke sekolah jadi lo cuma boleh berangkat ke sekolah sama gue bukan Willy," jelas Al yang terdengar begitu posesif dan over protektif.
"Tapi aku tiap hari naik bus, cuma dua kali dibonceng dan semobil sama Willy," jawab Luna membuat Al mencoba untuk tidak tersenyum.
Al kembali memeluk Luna dan tersenyum begitu lebar mendengar ucapan Luna.
Luna pun tersenyum begitu manis dalam pelukan Al dan membalas pelukan Al.
Luna tak sengaja menatap ke jalanan, betapa terkejutnya saat ia melihat pak Budi dan bu Sari.
"Al Al, liat deh itu bu Sari sama pak Budi kan?" Al melepaskan pelukannya dan berbalik untuk memastikannya.
Dan benar saja dong, guru favorit mereka sedang jalan berdua.
"Aduh Al sembunyi di mana nih," kata Luna panik.
Al menatap Luna dan tersenyum jahil.
"Kita jalan- jalan malam ini seperti mereka," kata Al sembari menggenggam erat tangan Luna dan berlari kecil menyebrangi jalanan.
Luna tertawa dengan hal sesederhana itu karena yang disampingnya adalah seseorang yang begitu tepat.
.
.
Sedangkan di kediaman Aldebaran, mereka sedang berkumpul bersama di ruang keluarga dengan acara menonton TV.
Adam Agam dan Daffa sedang ikut papa mamanya karena mereka sedang libur 2 minggu.
Hal itu karena kelas 12 akan ujian nasional, jadi mereka kelas 10 11 setelah UAS libur 2 minggu.
"Koko tadi kemana ya dek?" tanya Sela sembari mengusap- usap rambut Bara yang tidur di pangkuannya begitupun El.
"Lagi menyelesaikan masalah rumah tangga ma," sahut Dante dengan fokus di ponselnya.
"Emang kenapa? Berantem lagi sama Luna?" tanya Sela yang langsung panik.
"Kan, enggak mama enggak koko, tiap kali koko ada masalah sama Luna meski tanyanya ke Dante," keluh Dante membuat Bara tertawa.
"Kamu paling tahu dek hubungan koko sama Luna, jadi jangan marah kalau ditanya soal hubungan mereka," kata Bara membuat semua terkekeh.
"Dante nyesel dulu pernah kepoin hubungan koko sama Luna," gelak tawa terdengar dari mereka semua.
"Bentar lagi kalian udah mau lulus aja ya," gumam Sela yang terdengar pilu.
Bara menggenggam erat tangan istri tercintanya itu.
"Emang kenapa?" tanya lembut Bara sembari menatap wajah cantik yang selalu menjadi dambaan hatinya.
"Perasaan baru kemarin mereka masuk SMA, bulan depan udah mau lulus aja," El dan Dante saling menatap.
Tak disangka mereka ternyata sudah beranjak begitu dewasa dengan cepat.
"Masa- masa SMA gini menurut mama paling indah, selain untuk membuat banyak kenangan terkadang banyak dari mereka yang saling mengungkapkan perasaan,"
Mendadak El teringat akan Calista yang akhir- akhir ini begitu rajin belajar.
Dan Dante yang tiba- tiba mengingat kejadian tadi siang kala terkurung di gudang bersama Aqila.
"Dua putra apa ini gimana? Udah ada pasangan?" celetuk Bara yang disenyumi Sela dengan lebar.
El dan Dante seketika salah tingkah sendiri.
__ADS_1
"Jangan cuma ngepoin hubungan koko, cari pasangan sendiri aja biar enggak iri," kata Bara membuat Sela tertawa renyah.