
Sedangkan di sekolah Damar dan Eros masih sibuk mengelilingi SMA.
Bahkan hampir 100 kalinya mereka mengobrak- abrik semua penjuru SMA.
Tapi tak menemukan Leyna di manapun.
"Bangsat," umpat Eros sembari meringsut duduk di lantai dengan penampilan yang sudah benar- benar kacau.
Sama halnya dengan Damar.
"Kita harus cari kemana lagi?" tanya Damar yang seakan ingin putus asa.
Eros menatap Damar sengit seketika dia langsung berdiri dan menarik kerah Damar.
"Bagaimana bisa lo luput jagain Leyna, seharusnya lo sama dia kan?" teriaknya keras.
Damar mendorong Eros hingga terhuyung ke belakang.
"Kalaupun gue tahu bakal separah ini, gue enggak akan biarin Leyna pulang ke rumahnya. Tapi apa kuasa gue, dia masih harus merawat mamanya yang sakit, sedangkan papanya sibuk dengan perempuan lain," bentak Damar yang tak kalah kerasnya.
Eros seakan kaget mendengar hal itu.
Apa seberat itu hal yang dialami Leyna.
"Terus kita mau gimana? Leyna belum ketemu," kata Eros yang sudah buntu.
"Kita tunggu dulu pak satpam memeriksa rekaman cctv nya," jawabnya lesu karena Damar juga sudah sangat lelah.
Ya, mereka baru memanggil satpam kala pukul 5 sore tadi.
Karena mereka pikir Leyna tidak masuk atau sedang terkunci di mana.
Faktanya lebih serius dari hal itu.
Leyna seakan ditelan bumi begitu saja.
"Damar Eros kemarilah," teriak satpam tersebut dari posnya.
Seketika keduanya berlari ke pos satpam.
"Ini Leyna bukan?" tanya satpam tersebut karena angel cctvnya menyorot jalanan dan sedikit menyorot pada gerbang sekolah.
"Iya benar," jawab mereka kompak.
Terlihat Leyna turun dari mobilnya lalu beberapa detik kemudian mobil mercedes hitam berhenti di depannya.
Terlihat mereka menarik paksa Leyna untuk masuk ke dalam mobil.
"Brengsek," umpat Damar sembari mengepalkan kedua tangannya.
Mobil tersebut melaju meninggalkan sekolah.
Damar mempause vidionya guna melihat plat mobil tersebut.
"Kira- kira kemana mereka membawa Leyna pergi?" gumam Eros sedangkan Damar entah sedang apa.
"Halo pa," kata Damar.
"Pa Damar minta tolong, tolong minta om Peter untuk melacak mobil dengan plat CDx 251," jelas Damar.
"Loh itukan plat mobil diplomat," kaget Aderald.
"Maksud papa?" tanya Damar tak paham.
"Nanti papa jelaskan, papa akan perintahkan om Peter melacaknya," kata Aderald yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Apa kata papa lo?" tanya Eros penasaran.
"Itu plat mobil khusus diplomat," jawabnya singkat.
"Hah? Seriusan lo?" Damar mengangguk lalu berpikir tentang siapa pemilik mobil tersebut.
Ting
Damar seketika langsung melihat pesan yang papanya kirimkan.
Itu lokasi di mana mereka membawa Leyna.
"Ayo kita ke gedung tua jalanan ke tol Tronto," kata Damar sembari berlari menuju motornya.
"Tunggu," teriak satpam tersebut membuat Damar dan Eros menoleh.
"Tolong hati- hati, saya akan mengirimkan bantuan jadi jangan ceroboh," Damar dan Eros seketika mengangguk bersamaan dan langsung pergi ke gedung tua tersebut.
Satpam sekolah itu seketika langsung menelpon polisi untuk membantu Damar dan Eros.
Karena bagaimanapun, ini masih di dalam tanggung jawab sekolah.
Karena Leyna diculik tepat di depan gerbang sekolah.
Tak lupa pak satpam juga mengirimkan bukti tersebut ke polisi.
Damar begitu menggila saat mengendarai motornya.
Hingga keduanya sudah sampai dan berjarak 100 meter dari gedung tua Leyna di sekap.
"Untuk kali ini aja, tolong sampingkan egoismu, kita selamatkan Leyna bersama," kata Damar memberitahu Eros.
Eros hanya mengangguk lalu keduanya turun dari mobil dan lewat dinding belakang untuk menghindari penjaga pintu depan.
Damar memberi isyarat pada Eros untuk masuk ke dalam secara bersamaan.
Damar menghitung dengan jarinya, tepat saat hitungan ketiga, suara bariton membuat keduanya terhenti untuk masuk.
"Wah wah wah, sepertinya kau sangat lelah sekali sayang," Damar dan Eros bersamaan dengan itu mengintip dari balik jendela.
Putra Seanjaya.
Ayahnya Bianca.
Damar langsung meraih ponselnya guna merekam semuanya sebagai bukti untuk menjebloskan Putra ke dalam penjara sembari menunggu polisi datang.
Tak lupa Eros juga melakukan hal yang sama seperti yang Damar lakukan.
"Apa kau lelah sayang?" tanyanya sembari melepaskan jas hitamnya.
Damar menguatkan hatinya untuk tidak menendang dan memukuli Putra saat ini.
Damar tak tega melihat keadaan Leyna saat ini.
Namun, kesempatan ini Damar gunakan sebaik mungkin.
Damar harus bisa bersabar sebentar lagi untuk menghasilkan bukti ini.
"Bajingan, kau sama seperti putrimu," teriak Leyna dengan isak tangis yang mampu menyayat hati Damar.
"Oh ya? Lalu apa bedanya dengan dirimu sekarang? Berapa kali kau sudah digilir?" tanya Putra sembari meremas dua benda kenyal milik Leyna yang masih terbungkus seragam.
BRAKKKKKK
"DAMARRR," teriak Eros saat Damar menendang kaca jendela dan menerjang masuk.
"KEPARAT," teriak Damar sembari menendang Putra yang duduk didepan Leyna.
__ADS_1
BUGH
Putra tersungkur di lantai membuat Damar meraih tongkat kayu dan memukuli Putra dengan membabi buta.
"BRENGSEKKKK,"
"BAJINGANNN,"
Teriaknya dengan terus memukuli Putra tanpa henti.
Sedangkan Leyna sudah menangis dan terisak dalam.
Lalu Eros sendiri sibuk melawan anak buah Putra agar Damar bisa menghajar Putra dengan leluasa.
"Apa ini sakit hah?" tanya Damar sembari duduk di perut Putra dan menarik kerahnya.
Putra tertawa keras melihat emosi Damar begitu meluap.
"Bagaimana jika putrimu yang mengalami hal ini? Apa kau tidak memikirkan hal itu?" teriak Damar dengan nada tinggi.
"Lantas kenapa jika putriku yang mengalaminya? Toh kamu juga udah terlambat, karena kekasihmu sudah menjadi piala bergilir anak buahku," kata Putra bangga membuat Damar kembali tersulut emosinya.
BUGH
BUGH
BUGH
Damar semakin membabi buta saat mendengar tangisan Leyna apalagi melihat wajah Putra tersenyum.
"DAMAR AWASSSS," teriak Leyna.
BUGH
"Awwww," ringis Damar kala anak buah Putra memukulnya dari belakang.
Putra dengan susah payah bangun dan hendak melarikan diri.
Namun, semua terlambat.
DARRR
DARRR
"Angkat tangan kalian?" teriak polisi yang kini sudah mengepung mereka semua.
"Bangsat," umpat Putra kala tangannya diborgol.
Tatapan Putra begitu tajam dan sinis pada Damar.
"Kau ingat baik- baik, setelah aku keluar nanti, aku akan kembali membuat kekasihmu menjadi piala bergilirku," sontak Damar langsung berdiri dan mengejar polisi yang menyeret Putra.
BUGH
BUGH
"Sudah cukup," teriak polisi itu sembari menjauhkan Damar dari Putra.
"Hahaha, perlu kau ingat. Kekasihmu adalah piala bergilirku," kata Putra yang terus mengejek Damar membuat polisi geram dan menyuntikkan obat bius agar Putra tak memancing emosi Damar.
"Tenangkan kekasihmu, kita akan mengurusnya," kata polisi tersebut sembari menepuk bahu Damar yang seragamnya kini sudah sangat kotor.
Damar langsung bangkit dan menghampiri Leyna yang kini sedang menunduk dan terisak.
"Maaf aku terlambat," kata Damar yang langsung memeluk Leyna erat.
Leyna kembali menangis histeris di dekapan Damar.
Kini hanya ada serpihan kecil untuk Leyna bisa bertahan hidup.
Ia sudah rusak dan sangat kotor.
"Ayo pulang ya?" gumam Damar lirih sembari menghapus air mata Leyna.
Damar hendak membopong Leyna namun tangan Leyna mencengkeram bahunya dan menunduk.
"Damar sakit hiks hiks," tangis Leyna kala Damar mengangkat tubuhnya.
Tes
Air mata Damar menetes begitu saja ketika melihat noda merah yang mengotori rok Leyna.
"Nanti kita obati ya di rumah," bisik Damar bergetar karena menahan tangis.
Ia lalu membawa Leyna pulang ke apartemennya.
Tidak mungkin kan, Damar membawa Leyna dengan keadaan seperti itu ke rumah apalagi mamanya kini sedang sakit.
Sesampainya di apartemen Damar langsung membawa Leyna ke dalam kamarnya.
Ia mendudukkan Leyna di king sizenya lalu pergi ke kamar mandi menyiapkan air panas.
Setelah selesai, ia berjongkok di depan Leyna sembari menggenggam tangannya yang masih bergetar.
"Aku panggilin bibi dulu ya, buat bantu kamu?" kata Damar lirih takut menyinggung perasaan Leyna saat ini.
Leyna menatap Damar dengan mata yang kini mulai berkaca- kaca lagi.
"Kamu enggak jijik, aku udah sekotor ini?" tanyanya lirih pada Damar yang sibuk melepaskan sepatu Leyna.
"Udah, aku panggilin bibi dulu ya," kata Damar selesai melepaskan sepatu dan tak menggubris ucapan Leyna.
"Damar," panggil lirih Leyna membuat Damar berbalik dan menatap Leyna.
Damar duduk di samping Leyna lalu meraihnya ke dalam pelukan.
"Aku takut," gumamnya lirih sembari mencengkeram kuat baju Damar dengan tangan bergetar.
Damar memalingkan muka agar ia tak meneteskan air matanya.
"Sssttt udah ya, cantik enggak boleh nangis. Sekarang mandi ya?" katanya pelan dan sangat lembut.
Damar lalu menghapus air mata Leyna lalu mengikat rambut panjangnya.
Emosi Damar seakan kembali tersulut kala ia melihat memar di bagian leher Leyna.
Lalu Damar memeriksa lengan Leyna, banyak memar di sana.
"Apa mereka memukulmu?" tanya Damar namun Leyna tak sanggup menjawabnya.
Damar tak melanjutkan introgasinya, ia mencium kening Leyna dengan sangat lama dan lembut lalu melanjutkan mengikat rambutnya.
"Aku mau mandi sendiri," kata Leyna dan diangguki pelan oleh Damar.
Ia lalu membopong Leyna ke kamar mandi dan menyiapkan segala persiapan mandi Leyna.
"Aku tunggu di luar," kata Damar dan diangguki oleh Leyna.
Damar lalu pergi ke dapur untuk mencari bibi.
"Bi," panggil Damar pada bibi yang sedang membersihkan dapur.
"Iya tuan muda ada apa?" tanyanya sopan dan ramah.
__ADS_1
"Saya minta tolong, buatkan sop panas juga air madu dan tolong antar ke kamar saya," perintahnya dengan sopan.
"Baik den," jawab bibi dan langsung mengerjakan perintah Damar.
Damar lalu kembali ke kamar atas untuk melihat Leyna.
Ternyata belum selesai, Damar lalu memutuskan untuk duduk di balkon berjaga- jaga jika Leyna meminta bantuan.
Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo pa,"
"Bagaimana, apa Leyna sudah ketemu?"
"Sudah?"
"Syukurlah, lalu bagaimana keadaannya?"
"Dia masih syok, trauma dan ketakutan,"
"Dam, tolong kamu bawa Leyna ke psikiater. Dan untuk sementara ini, jangan jauh- jauh darinya,"
"Baik pa. Tapi apa Putra akan mendapatkan balasannya?"
"Tentu. Mengingat beberapa kasus yang membuat dirinya terjerat akan penggelapan uang negara dan perdagangan bebas dengan menyelundupkan sajam dan barang terlarang, kemungkinan sulit untuk ia mendapatkan kebebasan. Ia akan ditahan untuk membayar semuanya," jelas papanya.
"Syukurlah, dengan begitu Leyna bisa tenang jika mendengar hal itu,"
"Baiklah papa mau istirahat. Kemungkinan besok polisi akan datang untuk meminta keterangan pada Leyna,"
"Ya besok Damar akan mendampinginya, papa jangan khawatir,"
Sambungan telepon pun berakhir dan itu semua tak luput dari pendengaran Leyna yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Tes
Sebaik itu Damar dan papanya menerima sampah seperti Leyna.
Sedangkan papanya sendiri entah berantah tak mau mengurusi putrinya.
Seakan Leyna kini tersadarkan jika karma memang ada dan berlaku pada siapapun.
Buktinya Leyna yang menerima karma papanya yang suka bermain wanita dan membeli ******- ****** di luaran sana demi menemani ranjangnya.
Leyna yang kini menjadi korbannya dengan menjadi piala bergilir mereka.
"Kamu sudah selesai?" Leyna tersentak kala Damar langsung membopongnya menuju king size.
Damar lalu mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut panjang Leyna.
"Makasih," ucap lirih Leyna membuat Damar menghentikan aktivitasnya.
Ia meletakkan hair dryernya dan menatap mata sembab Leyna.
"Tapi kamu harus janji, setelah ini kamu harus bangkit dari keterpurukan ini dan aku akan selalu menemanimu," kata Damar lembut sembari tersenyum manis.
Leyna menatap kedua mata elang Damar yang hanya memperlihatkan ketulusan dan kejujuran.
Leyna mencium bibir Damar dan disambut hangat oleh Damar dengan ******* lembut bibir pink tersebut.
Damar memegangi kepala Leyna untuk memperdalam ciumannya.
Bibi yang tadinya hendak mengantarkan sopnya kembali ke dapur kala melihat keduanya berciuman.
Bibi merasa jika Damar kini menjadi sosok yang kembali hangat seperti dulu sebelum ia ditinggalkan oleh mamanya.
Dan ia merasakan kebahagiaan itu juga saat ini.
○○○
Sedangkan di kediaman Aldebaran, ada Al yang mengurung diri sejak pulang sekolah tadi.
Tok tok
"Mama boleh masuk?" Al menoleh dan mendapati Sela berdiri di ambang pintu sembari membawa nampan berisi makan malamnya.
Al menutup gordennya dan menghampiri Sela yang duduk di tepi king sizenya.
"Koko kenapa enggak makan malam?" tanyanya saat Al menidurkan kepalanya di pangkuan.
"Koko masih kenyang," jawabnya lembut juga lirih.
Sela diam ia membelai rambut putranya dengan penuh kasih sayang.
"Koko ada masalah?" tanya Sela membuat Al yang tadinya memejamkan mata kini membuka kembali matanya.
Al terdiam ia bimbang untuk mengatakannya.
"Ma," panggil lirih Al.
"Iya sayang," jawab Sela.
"Luna lolos beasiswa universitas kedokteran di Standford," Sela tampak terkejut dan melengkungkan senyumnya.
"Wah bagus dong," kata Sela membuat Al memerengut kesal.
"Kok bagus sih ma," katanya.
"Lah kenapa? Luna mau gapai impiannya dan sebentar lagi mimpinya terwujud, kenapa koko marah?" tanya Sela memancing putranya.
Al terdiam sejenak hingga ia menceritakannya.
"Sebenarnya 2 minggu lalu Al nembak Luna, tapi baru aja jadian masak kita udah mau ldr ma. Apalagi Luna pasti enggak akan mau buat jalanin ldr ini," ungkapnya membuat Sela tersenyum.
"Oh udah jadian toh, pantesan mamanya diabaikan tiap hari sibuk bucin sama Luna," goda Sela membuat Al tersenyum.
"Enggaklah ma, mama yang utama untuk Al," katanya sembari mengenggam tangan Sela.
"Mama dulu juga gitu sama papa, mama kuliah di Hardvard untuk mengejar impian mama, lalu papa mencoba menghargai keputusan dan mendukung mama untuk mengejar impian itu," Al terdiam menyimak baik- baik cerita mamanya.
"Memang menjalin ldr enggak akan semudah itu, banyak masalah yang mama sama papamu lewati, godaan selalu aja ada, tapi jika kalian ditakdirkan bersama, sekalipun dipisahkan oleh pulau dan benua, jika takdirnya memang bersatu dan menua berdua,"
"Luna enggak akan kemana, pasti pada akhirnya ia akan pulang pada rumahnya," jelas Sela sembari membelai rambut Al.
Al mulai merenungkan ucapan mamanya.
"Koko sudah dewasa, pastinya koko tahu bagaimana cara menghargai keputusan Luna untuk mengejar impiannya, begitupun sebaliknya jika Luna mencintai koko, ia akan melakukan hal yang sama," kata Sela dengan senyum manisnya.
"Jadi, selagi masih ada waktu hargai itu. Isi dengan hal- hal yang positif dengan saling support, temani ia belajar dan dampingi ia hingga waktunya tiba kalian harus pergi ke masing- masing negara untuk belajar,"
Al mendengarkan dengan baik ucapan mamanya.
"Terima kasih ma," ucapnya sembari mencium tangan mamanya dan memejamkan mata.
Sela hanya tersenyum dan kembali membelai rambut tebal Al.
Dibalik itu semua tak luput dari pandangan Bara yang sejak tadi mendengarkan semua cerita istrinya.
Bimbang?
Tentu tidak.
Keputusan Bara sudat bulat untuk ketiga putranya.
__ADS_1