Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Insiden Kecil


__ADS_3


Tenda sudah berdiri dan semua siswa juga sudah mandi dan bersiap untuk acara selanjutnya.


Yaitu makan malam.


Semua sibuk untuk mempersiapkan makan malam.


Para perempuan terlihat sangat repot untuk memasak dengan kayu bakar.


Namun, terlihat sangat mengharukan momen yang indah itu.


Para pembina pun juga tidak tinggal diam, mereka tak jarang membantu siswanya memasak atau meniup apinya agar cepat selesai.


Jika kalian tanya adakah perempuan yang hanya duduk manis dan diam saja?


Jawabannya tentu ada.


Leyna Bianca dan Aretha, merekalah orangnya.


Sedangkan para laki- laki sibuk menggelar tempat dan menyusun tempat makan dari daun.


"Ko," panggil Dante membuat Al yang semula menata tempat makan menoleh.


"Apa?" tanya Al saat Dante datang dengan senyam- senyum enggak jelas.


"Bekal dari mama kapan ngasihnya ke Luna ko?" Al menghela napas dan pergi ke tenda osis untuk mengambil beberapa tempat makan lagi.


"Enggak usah, koko makan aja sendiri. Lagian dia juga udah makan malam ini," kata Al yang terdengar seperti putus asa.


"Tenang ko, Dante bakal bantu koko," Al hendak mengejar Dante namun dia sudah berlari menuju Luna yang sibuk memasak.


"Arghhh Dante kampret," umpat Al saat Dante sedang berbicara dengan Luna.


Buru- buru Al masuk tenda sebelum Luna melihatnya.


"Al ngapain ngumpet, udah selesai belum natanya?" tanya Arka saat melihat Al buru- buru masuk tenda.


"Udah," jawab Al kesal lalu mengintip Luna kembali masak sedangkan Dante berada di tendanya.


Al keluar dari tenda untuk mengatur kelompok makannya.


Tepat pukul 6 malam, mereka makan malam bersama.


Terlihat mereka semua menikmati masakan yang mereka buat.


Canda tawa mengiringi makan malam ini.


Kedekatan siswa dan para pembina membuat semua terasa semakin hangat.


Al tidak melihat jajaran PMR ikut makan bersama termasuk Luna.


Dengan pelan Al berjalan menuju tenda PMR untuk memeriksanya.


"Lun lo enggak makan, nih ada sisa sedikit," kata Aqila yang sedang membagikan makan malamnya untuk semua anggota.


"Udah kalian aja dulu, entar aku nyusul," jawab Luna lalu keluar dari tenda.


"Astaga," kaget Luna saat Al berada di depan tenda.


Al mendadak salah tingkah dan canggung.


"Al? Ngapain kamu di sini, bukannya sekarang lagi makan malam?" tanya Luna pada Al.


"Hmm gue tadi nyari lo, makanya kesini," kata Al dengan sedikit kikuk.


"Kenapa?" tanya Luna yang terlihat santai.


Al mencoba menetralkan ekspresinya dan menatap Luna.


Al ingin sekali memberikan rantang makanan yang ia sembunyikan di belakang punggungnya pada Luna.


Tapi sialnya, kenapa Al mendadak jadi gugup gini.


"Enggak jadi deh," kata Al lalu pergi sembari menyembunyikan rantang makanannya.


"Al aku laper," kata Luna membuat Al berhenti dan berbalik menatap Luna yang terlihat lesu.


Luna menatap Al yang tidak berani menatap matanya.


"Yaudah ini buat lo," kata Al sembari memberikan rantang makanan itu pada Luna.


"Wah beneran. Kamu udah makan?" tanya Luna pada Al.


"Udah tadi, gue balik ke sana dulu," kata Al lalu buru- buru pergi setelah memberikan rantang makanannya.


Luna tersenyum tipis melihat sikap Al.


"Ohh jadi udah ada yang nyiapin makan malamnya, pantesan diajakin makan entar mulu," ejek Aqila dan anggota PMR yang lain.


"Apaan sih," kata Luna yang kemudian masuk ke dalam tenda PMR dan membagi dengan anggota yang belum dapat jatah makan.


Sedangkan Al yang makan bersama anggota osis lainnya, berusaha dengan kuat untuk tidak tersenyum.


"Kenapa lo? Kesambet?" tanya Arka curiga pada Al yang seperti menahan senyum di bibirnya.


"Kenapa? Mulut gue lagi makan? Enggak usah bahas Luna," ketus Al saat Arka terus memperhatikan dirinya.


"Perasaan gue tanya kenapa lo diem aja, siapa yang nanya Luna," kata Arka membuat Al tidak bisa berkutik.


"Tenang Al, gue jomblangi entar sama Luna, tenang aja dah, dapet- dapet Luna nya," kata Arka yang langsung mendapat pukulan di punggungnya.


Bugh


Pluk

__ADS_1


"Kan ikan gue keluar lagi dari mulut, mana ikan terakhir lagi," kata Arka sembari menatap ikan yang tadi di mulutnya keluar saat Al memukul punggungnya.


Al tertawa puas melihat wajah Arka yang sangat kesal.


"Din minta ikannya lagi Din," rengek Arka pada Dinda.


"Tuh ada batu, makan aja," kata Dinda ketus pada Arka yang meminta ikan.


"Sial bener gue, baru juga makan ikan udah keluar lagi, mana dapetnya kepala lagi," kata Arka sembari makan dan sesekali melirik Al kesal.


Setelah makan malam selesai, kini saatnya acara yang paling ditunggu.


Apalagi, kalau bukan api unggun.


Semua panitia sedang menyiapkan obor untuk penyalaan api unggun ini.


Semua siswa mengelilingi kayu bakar yang akan dijadikan api unggun.


Sebelumnya mereka berdoa sebelum penyalaan api unggun.


Tepat hitungan ketiga para pembina mengarahkan obornya pada kayu.


Byar


Api unggun telah menyala.



Terlihat semua tersenyum saat api unggun telah menyala.


Kehangatan dan kebersamaan ini terasa sangat nyata sekali.


Sesekali mereka bercanda dan tertawa.


Terlihat Dante dan El yang sibuk membakar jagung yang telah disediakan sekolah.


Ada juga yang membakar marsmellow, ada yang bernyanyi, menari dan bercerita ria.


Aretha menghampiri Al yang hanya duduk menatap para siswa.


"Al," panggil Aretha pelan lalu duduk di samping Al.


Al hanya diam dan sesekali melihat Luna yang tersenyum bersama Aqila dan Dinda.


Tidak lama Daretha datang dan duduk bersama mereka bertiga.


Terlihat Luna begitu senang dan tertawa.


"Wah panas enggak tuh ko, Luna deket api," sindir Dante sembari sibuk membakar jagungnya.


"Kayaknya yang panas sebelah sini Dan, jadi jagung kita cepet kebakar nih, kayak bau- bau gosong ya enggak," kata El sembari melirik kokonya.


"Yaa kalian berdua bisa diem enggak?" kata Al kesal saat mereka terus mengejek dirinya.


Tidak lama Daretha dan Luna pergi entah kemana, hanya mereka berdua.


Sedangkan Aretha hanya ha ho tidak mengerti maksud ucapan mereka.


Al lalu berdiri dan pergi entah kemana.


"Wah koko pergi, kayaknya emang panas banget ya ko," kata Dante lalu mereka berdua tertawa saat bisa membuat kokonya cemburu.


Setelah acara api unggun selesai, mereka kembali ke tenda untuk istirahat.


Karena nanti malam pembina akan mengadakan jurit malam sekitar hutan.


Kenapa pembina tidak takut terjadi apa- apa sama mereka?


Karena satu, hutan ini tidak terlalu luas juga, ada batas untuk tempat perkemahan agar para siswa tidak keluar dari batas yang telah dibuat jadi tersesat adalah kemungkinan yang sangat kecil.


Dan di hutan ini banyak sekali tanda untuk kembali ke pos dan juga petugas keliling banyak yang berjaga.


Tepat pukul 1 pagi, semua siswa dibangunkan dan sekarang dibariskan dengan sangat rapi sesuai kelompok.


Setiap satu regu akan didampingi satu anggota osis, satu anggota PMR dan beberapa perwakilan osis.


Tepat regu Luna, ada Aretha dan anggota PMR nya.


Al melirik di mana posisi Daretha.


Oh syukurlah, ternyata tidak satu regu dengan Luna.


Sedangkan regu Al, ada Leyna dan Aqila.


Dan yang lainnya sama seperti itu, satu regu akan ada 3 pendamping.


Regu pertama berjalan lebih dulu, yaitu regu yang didampingi Al.


Misi mereka adalah apa yang mereka lakukan disaat menjalani jurit malam sepanjang perjalanan.


Hingga regu keenam yang didampingi Luna mulai menyusul.


Misi mereka adalah, apa yang mereka temukan selama perjalanan meski keadaan gelap.


Jika mereka bisa menemukan lebih dari satu mereka termasuk memiliki kepedulian yang tinggi.


Jurit malam sudah berjalan sekitar 1 jam 15 menit.


Tepat sekali regu Al kembali menjadi yang pertama.


Lalu disusul regu yang lainnya.


Tepat saat regu Luna belum kunjung datang, membuat para pembina cemas.


Pasalnya regu ketujuh sudah sampai bahkan sampai regu kesepuluh.

__ADS_1


"Pak dimana regu yang didampingi Luna? Kenapa belum juga datang?" tanya bu Sari yang sangat mencemaskan anak- anaknya.


"Sabar bu tenang, jangan gelisah itu akan membuat anak- anak yang lain ikut panik," kata pak Budi menenangkan bu Sari yang merupakan tipikal guru panik.


"Kalian yang laki- laki tolong cari mereka ya, pak Budi akan meminta petugas hutan untuk berkeliling," kata pak Budi pada anak laki semua.


Semua langsung berpencar untuk mencari teman mereka.


Al pergi bersama Arka hanya dengan membawa senter.


Jika yang lain berpencar dua orang beda sama keluarga satu ini.


Dante El dan ketiga adiknya menjadi satu untuk ikut mencari.


"Ko jalan di depan dong, kan koko paling tua," kata Adam pada Dante.


"Enak aja yang paling tua ko El," kata Dante sembari mendorong El ke depan.


"Hihh kalian penakut banget sih, lo juga tadi waktu di rumah bilang bakal jaga koko, ini malah sembunyi," kata El kesal yang akhirnya memimpin di depan juga.


"Nyesel gue ikut, enakan tidur di rumah," gumam Dante sembari menyorot- nyorotkan senternya.


"Siapa suruh kemarin angkat tangan, maksa- maksa Luna biar bisa jadi perwakilan kelas," kata El menyalahkan Dante.


"Ko ayo balik aja ke tenda," ajak Daffa yang sangat penakut.


"Ini udah setengah jalan dodol nanggung yang mau balik ke tenda," kata Dante sembari terus memeluk lengan El.


"Ko ko itu putih- putih apaan ko," kata Dante saat senternya menyorot sesuatu warna putih di ranting pohon.


"Apaan sih Dan, jangan aneh- aneh deh," kata El kesal saat Dante menarik- narik bajunya.


"Ko kok lompat- lompat?" tanya Dante.


"Pocong kali ko," jawab Adam.


"Tapi sejak kapan pocong bisa naik pohon,"


"Lah terus apa emang, kuntilanak bisanya terbang ko,"


"Ya tuhan gue enggak nyangka kalau ternyata selama ini gue anak indigo," kata Dante sembari memeluk kokonya.


El menyorotkan senternya untuk memperjelas.


"Dante lepasin enggak," kesal El sembari melepaskan pelukan Dante.


"Itu cuma kain, lihat deh," kata El sembari menghadapkan wajah Dante pada secarik kain putih yang tersangkut di ranting.


"Untung bukan hantu," gumam Dante sembari mengusap dadanya.


"Lha terus lo tadi gimana waktu dampingi adik kelas?" tanya El penasaran.


"Hehe, mereka ngelindungin Dante dong ko, sambil megangin Dante gini, katanya biar enggak ilang," kata Dante mempraktekkan pada kokonya.


"Enak bener lo jadi pendamping, udah modus masih dapet bonus lagi," kata El lalu mereka semua tertawa dan kembali mencari Luna.


Sedangkan Arka dan Al sudah mencari di penjuru hutan yang dibatasi untuk penjelajahan.


Tapi belum juga ketemu.


"Al mereka kemana ya kira- kira?" tanya Arka sembari menyorotkan senternya.


"Enggak tahu, kita harus cari lagi Ar," kata Al kembali menyelusuri hutan.


"Kak kita di sini," teriak seorang siswi sembari melambaikan obornya ke atas agar Al dan Arka melihatnya.


"Al itu mereka," kata Arka yang langsung berlari untuk menghampiri regu Luna.


"Kenapa kalian lama sekali, apa terjadi sesuatu?" tanya Arka pada siswa kelas 1.


"Kak Luna lagi nolongin kak Aretha yang kepeleset ke jurang," kata siswa itu membuat Al langsung menyoroti tepi jurang itu.


"Al lewat sini," kata Arka saat melihat ada jalanan menurun untuk sampai ke jurang yang tidak terlalu terjal itu.


Sedangkan Luna dan Aretha masih bertengkar soal Al.


"Ayo Tha kita naik, kasian mereka nunggu kita," kata Luna mencoba untuk membantu Aretha yang kesulitan untuk berjalan karena kakinya terkilir.


"Enggak mau, gimanapun caranya gue bakal buat semua orang benci sama lo atas kejadian ini," kata Aretha membuat Luna menghela napas pelan.


"Terserah lo mau buat semua orang benci sama gue, gue enggak peduli. Lagian gue juga enggak ada rasa sama Al, jadi jangan kaitkan semua itu dengan hal ini, lo terlalu egois tahu enggak," kata Luna yang menahan amarahnya karen perkataan Aretha namun tidak bisa.


"Emang gue egois dan gue benci sama lo sejak dulu, semua perhatian seakan mengarah sama lo, mata mereka hanya tahu kehebatan lo bukan gue, apalagi sekarang Al yang perlahan mulai deket sama lo," Luna berkacak pinggang, ia paling muak jika berantem hanya karena laki- laki.


"Iyadeh terserah lo, entar lanjut lagi berantemnya sekarang kita harus naik," kata Luna yang memaksa Aretha untuk berdiri.


Bugh


"Awww," Aretha menjatuhkan diri saat ia melihat Arka dan Al datang.


Luna mengangkat sebelah alisnya, ratu drama satu ini memang jago akting.


Jadi, tak heran jika Aretha bersikap seperti itu.


"Tha lo enggak papa?" tanya Arka membantu Aretha untuk berdiri.


"Kaki gue kayaknya kekilir deh Ar, tapi Luna maksa buat naik jadi tambah lebam," adu Aretha namun Luna terlihat santai karena ia tidak melakukannya.


Luna lalu pergi dengan kaki yang pincang dan kesakitan.


"Lo mau kemana? Sini gue obati," kata Al menahan tangan Luna saat ia melihat Luna berjalan dengan kaki pincang dan sesekali merintih kesakitan.


"Enggak perlu, diobati di tenda aja," kata Luna lalu berusaha untuk naik ke atas namun kakinya sakit jadi sedikit kesusahan.


Al memegangi Luna dari belakang agar tidak jatuh.

__ADS_1


Sedangkan Arka memapah pelan Aretha untuk naik ke atas.


Aretha berharap Al yang akan menolongnya, ternyata ia malah menolong Luna tanpa menoleh sedikitpun ke Aretha.


__ADS_2