Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Resmi


__ADS_3

Luna terdiam cukup lama dan enggan untuk menjawab pernyataan dari Al.


"Lun gue hitung sampai 3, kalau lo enggak keluar buat kasih jawaban itu artinya,"


Luna menoleh sekilas di mana Willy masih berdiri di tengah lapangan dengan mikrofon di tangannya.


"Lo nolak gue," terdengar helaan napas teman- temannya membuat Al merasakan detak jantungnya saat ini sedang berpacu lebih cepat.


"Ayo ikut gue," kata Al sembari merebut coklat Willy dan meletakkannya di meja.


Al menarik pelan tangan Luna keluar kelas.


Willy yang melihat Al menarik tangan Luna dengan setengah berlari hanya tersenyum tipis.


Setelah dirasa Al dan Luna tak terlihat di lorong, Willy berniat membubarkan kerumunan yang ia buat sebelum pak Kimmy datang.


"Hadehh panasnya, gimana akting gue bagus enggak? Prom night nanti gue mau bikin drama nembak cewek kayak gini?"


Seketika semua menatap tajam kesal dan jengkel pada Willy.


"Huuuhhh kirain beneran,"


"Mana gue udah paling heboh tadi teriaknya,"


"Gue kira beneran mau nembak Luna,"


"Udah gue dugong, kalau lo cuma mau berdrama kan? Mana mungkin lo berani nembak Luna, pawangnya aja kayak singa jantan," kata Dante mengejek Willy.


"Syukur deh Wil kalau cuma bercanda, untung gue belum panggil ambulans buat dateng kesini," kata El sembari menatap Willy iba.


"Mental lo kuat banget Wil, gue salut sama lo, tapi gue lebih salut kalau lo jangan buat drama kayak gini lagi sebelum babak belur," kata Arka sembari menepuk- nepuk bahu Willy.


"Emang kenapa sih pada sewot, namanya juga latihan berdrama," dumelnya lalu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah setelah membuat kerumunan dan orang panas- panasan hanya buat menonton dirinya.


"Terus, koko sama Luna apa kabar?" tanya Dante membuat Arka dan El bertatapan.



Di sinilah Al membawa Luna pergi, di rooftop sekolah.


Al melepaskan genggaman di pergelangan tangan Luna dan menatapnya lekat.


"Apa maumu?" tanya Luna dengan jari yang disibuk meremas ujung roknya.


Al menghembuskan napasnya pelan.


"Gue suka lo, makanya gue selalu bilang salah satu dari kita harus ada yang melangkah maju ke depan untuk mengubah hubungan teman ini, jadi,"


"Lo mau kan jadi pacar gue?"


Satu kalimat yang Al susun serapi dan seindah mungkin akhirnya bisa ia katakan begitu lancar di depan Luna.


Luna yang merasa terkejut dan tertohok hanya bisa diam tak berkutik dari tatapan Al yang begitu tulus.


"Aku...,"


HAPP


Al memeluk Luna, seakan ia takut dengan jawaban dari pertanyaan yang ia berikan pada Luna.


Al tidak siap untuk kecewa.


"Gue harap lo kasih jawaban yang tepat, gue enggak siap buat kecewa," gumamnya sembari mempererat pelukannya pada Luna.


Luna menatap langit yang begitu cerah dan awan yang bergerombol begitu indah.


Ia mencoba menatap ke atas agar air mata itu tak jatuh.


Al melepaskan pelukannya kala Luna tak kunjung bicara dan hanya diam saja.


Terlihat mata Luna begitu berkaca- kaca.


"Apa gue buat salah?" tanya Al lirih sembari memegang kedua bahu Luna. Luna hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Al menghapus air mata itu lembut dengan perasaan yang ketar- ketir akan jawaban Luna.


"Kalau hasil tesnya nanti aku dinyatakan lolos beasiswa di California, lalu bagaimana hubungan teman yang kamu rubah ini?" tanya Luna dengan suara yang terdengar begitu bergetar.


Al seakan dibuat terdiam mematung dengan pertanyaan balik Luna.


"Akan terus berlanjut," jawab Al dengan percaya dirinya.


Luna menatap Al dengan mata yang berkaca- kaca.


"Jarak jauh?" Al mengangguk mantap untuk bisa menyakinkan Luna.


Kenapa dalam hati Luna seakan terasa sesak mendengar 'Jarak jauh'.


Itu hubungan yang sulit untuk dipertahankan bukan?


"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Al sekali lagi pada Luna.


Luna mendongak kembali fokus menatap Al.


"Ya," jawabnya pelan membuat Al tersenyum begitu lebar dan begitu antusias untuk memeluk Luna erat.


"Makasih, udah kasih jawaban yang tepat," gumam Al begitu senang dan bahagia untuk saat ini.


Luna hanya mengangguk dalam pelukan Al dan membalas pelukannya.


Al melepaskan pelukannya dan mencium lama kening Luna.


"Makasih ya," kata Al terlihat begitu lega dan bahagia untuk saat ini.


"Udah yok ke kelas, entar aku dimarahi bu Sari kalau anak- anak pada di luar," kata Luna yang was- was dengan keadaan kelas saat ini.


"Ayo," kata Al sembari menggandeng santai tangan lembut Luna.


Al berhenti dan berbalik saat Luna terdiam.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Al saat Luna melepaskan pelan tangan Al.


"Al kalau bisa jangan sampai ada yang tahu ya soal ini....,"


"Kamu malu jadi pacar aku?" Luna menggelengkan kepalanya sebelum Al salah paham.


"Bukan begitu, kamu sendiri tahukan gimana antusiasnya penggemarmu, aku cuma mau sekolah tenang aja tanpa gangguan dari mereka," kata Luna membuat Al paham.


Al mengangguk dan menggenggam tangan Luna lembut.


"Baik, asal kamu harus jarak jauh sama cowok lain," katanya yang terdengar begitu posesif.


Luna mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Dasar buaya," ejek Luna lalu pergi lebih dulu menuju kelas dan meninggalkan Al.


Al tidak bisa menahan senyum di bibirnya, ia melompat kegirangan hanya karena ucapan Luna.


"Ahhh kenapa jantung gue berdetak begitu kencang?" gumam Al sembari mengibaskan seragamnya karena merasa gerah.


Sedangkan di kelas lain, ada Bianca yang sedang duduk tenang di bangkunya sembari makan nanas.


"Sial, karena bayi ini aku setiap hari terus makan nanas," gerutunya kesal dengan nada lirih agar temannya tidak mendengar.


Bianca mengunyah nanas itu dengan setengah jengkel.


Ia memikirkan bagaimana Leyna sekarang, pasti Damar begitu memperhatikannya.


Beda dengan dirinya yang merasa tak adil sendirian dan dunia seakan begitu jahat padanya.


Bianca terus menatap ambang pintu berharap Eros datang ke sekolah dan menanyakan tentang kehamilannya persis seperti yang selalu ditanyakan Damar pada Leyna.


"Sialnya gue enggak seberuntung Leyna," dumelnya lagi sembari memaksa untuk makan nanas.


"Lo tiap hari perasaan makan nanas mulu Ca?" celetuk Liora sembari berdiri di samping meja Bianca.


Bianca menancapkan garpunya pada nanas sembari menatap tajam Liora.


"Emang ganggu lo?" bentak Bianca dengan nada keras.


"Ya enggak sih, kayak aneh aja gitu tiap hari makan nanas. Atau jangan- jangan lo kayak Leyna lagi...,"


PLAK


"Jaga ucapan lo, jangan sembarangan kalau ngomong," sontak keduanya menjadi pusat perhatian semua orang.


"Kenapa, lo takut semua orang tahu?" kata Liora yang kini mulai berani.


Bianca menatap sekeliling, mereka sedang memperhatikan Bianca dan Liora dengan begitu serius.


Bianca tersenyum miring pada Liora lalu mencengkeram kuat lengan Liora.


"Mau gue sama atau enggak kayak Leyna, itu bukan urusanmu. Jadi, kuperingati sekali lagi, jangan pernah ikut campur urusan gue, paham," kata Bianca dengan penuh penekanan di telinga Liora.


Bianca menghempaskan tangan Liora dan keluar kelas karena ia merasakan sakit yang begitu luar biasa dari perutnya.


Buru- buru ia masuk dan mengunci pintunya.


Bianca begitu kesakitan hingga ia berkeringat dingin.


"Ah kenapa sakit sekali," gumamnya sembari meremas perutnya yang kesakitan.


Bianca tak sanggup menahan rasa sakit itu hingga ia terduduk di lantai.


Dan benar saja, Bianca begitu terkejut saat ia melihat darah mengalir di kakinya.


"Darah," gumam Bianca begitu syok saat ia mengalami pendarahan.


"Sial kenapa harus di sekolah," umpatnya kesal.


Bianca seakan kehabisan tenaga hingga ia terkulai lemas di lantai.


"Bagaimana caranya aku membersihkan ini," gumamnya sembari mencoba untuk berdiri.


Tak lama Bianca tak sadarkan diri karena banyaknya darah yang keluar.


Sedangkan di tempat lain, Liora merasa aneh saat Bianca tak kunjung masuk kelas.


Liora mencoba mencari tahu apa yang terjadi padanya.


"Kalau benar dia hamil, mungkin itu alasan dia selalu makan nanas di sekolah," gumam Liora sembari berjalan menyusuri lorong untuk mencari Bianca.


Liora mengurungkan niatnya untuk mencari Bianca, ia berbelok dan masuk ke dalam toilet untuk membasuh mukanya.


"Astaga," kagetnya sembari membungkam mulutnya dan sedikit terhuyung ke belakang.


Liora berbalik dan berlari menuju ruang guru untuk memberitahu hal itu.


Tak lama Liora kembali ke toilet kini bersama pak Budi, bu Sari dan bu Jesy.


"Astaga, darah apa ini?" kaget bu Sari saat darah itu semakin mengalir keluar dari pintu.


Bu Jesy mencoba untuk membuka pintunya, tapi terkunci.


"Pintunya dikunci," kata bu Jesy membuat pak Budi bersiap untuk mendobraknya.


BRAKKK


"Bianca," pekik mereka semua kaget saat Bianca tergeletak lemas dan bersimpuh darah.


Tanpa menunggu lama pak Budi langsung melepaskan jasnya dan membopong Bianca ke rumah sakit yang tersedia di SMA.


Sekitar 5 menit mereka menunggu dokter memeriksa keadaan Bianca.


Ceklek


"Dok bagaimana keadaan Bianca, apa dia baik- baik saja?" tanya bu Sari yang terlihat begitu khawatir.


"Maaf sebelumnya, tapi ini hal yang serius," kata dokter Reza.

__ADS_1


"Apa sesuatu terjadi padanya?" tanya pak Budi cemas.


"Dia hamil," seakan udara mencekat tenggorokan mereka.


"Apa? Hamil?" kata bu Jesy yang begitu terkejut.


Dokter Reza hanya mengangguk.


"Karena itu ia berniat menggugurkan janinnya dengan makan nanas," jelas dokter Reza.


"Kemarin Leyna sekarang Bianca," gumam bu Sari.


"Kita harus melakukan rapat dengan kepala sekolah," kata bu Jesy yang diangguki oleh keduanya lalu pergi untuk melakukan rapat.


Sedangkan di kelas Al dan Luna, suasana seisi kelas mendadak jadi canggung dan awkward.


Apalagi si Willy yang pembuat drama itu, ia terlihat begitu santai dan biasa saja.


"Hah kenapa jadi canggung gini sih, perasaan yang nembak Luna Willy bukan kita kenapa yang canggung satu kelas," teriak Dante saat seisi kelas tiba- tiba hanya diam dan saling melihat Willy Luna dan Al.


"Mana pada diem- dieman semua lagi," sahut El yang juga merasakan hal sama.


"Serasa lagi perang dingin gue lama- lama di kelas ini," celetuk Arka yang beberapa saat membuat semua tergelak tawa.


"Bentar- bentar, kenapa gue curiga sama dua orang ini, dari tadi kemana aja kalian berdua?" kata Aqila yang mulai mengintrogasi Luna dan Al.


"Bener banget, kalian berdua dari mana tadi?" kini Calista ikut mengintrogasinya.


"Bu Sari manggil kita buat ke ruang osis," jawab Al singkat dengan muka datarnya.


"Bentar tapi kita kok enggak dipanggil?" kata Arka yang diangguki oleh Dinda.


"Cuma nanya proposal study tour," jawab Al cepat sembari melirik Luna sekilas.


"Oh nanya proposal," kata mereka dengan kompak membuat Luna dan Al kaget.


"Selamat siang anak- anak," sapa pak Kimmy membuat semua langsung duduk di bangkunya.


"Siang pak," jawab mereka.


"Hari ini kalian akan pulang lebih awal dikarenakan mulai besok ujian praktek akan dimulai dan minggu depan kalian sudah ujian nasional," jelas pak Kimmy membuat mereka benar- benar mendengarkannya dengan sangat serius dan hati yang berbunga- bunga karena pulang lebih awal.


"Bapak hanya akan membagikan jadwal ujian praktek untuk 4 hari ke depan dan besok tepatnya ujian praktek bahasa inggris. Untuk ujian bahasa inggris cukup simpel saja, seharian besok kalian hanya perlu berbicara bahasa inggris dan dilarang keras untuk berbicara dengan bahasa sehari- hari, dengan begitu bapak bisa menilai kalian masing- masing "


Mendadak mereka menjadi bisu dan mematung mendengar ucapan pak Kimmy.


"Simpel? Iya simpel kalau cuma jawab no yes, lah ini suruh ngomong seharian penuh," gumam Dante sembari mengusap dahinya.


"Roket mana roket, gue mau pindah ke mars," kata Arka yang paling lemah di bahasa inggris sama seperti Dante.


"Gampang itu, masak gitu aja enggak bisa kalian," ejek Willy yang langsung mendapat tatapan sengit dari Dante dan Arka.


"Oh gampang ya? Sekarang gue tanya bahasa inggrisnya cinta ditolak apa?" kata Dante pada Willy.


"Dia bukan milikku," jawab Willy dengan wajah begitu santai.


Sontak seisi kelas tertawa mendengar jawaban Willy.


"Dasar blonde, sok- sokan pakai nembak Luna segala, cintamu ditolak pawangnya bertindak baru tahu rasa lo," ketus Dante.


"Sudah- sudah, kenapa jadi ngomongin pawang cinta segala. Fokus sama ujian praktek buat besok, kalau besok sampai ada yang enggak lolos ujian praktek bahasa inggris, lihat aja," ancam pak Kimmy membuat keadaan kelas mendadak mencekam.


"Kalian akan tahu besok," katanya lalu pergi keluar kelas begitu saja bersamaan dengan bel pulang berbunyi.


"Itu pak Kimmy udah kayak algojo mau hukum orang aja, mana wajahnya enggak pernah senyum lagi," gerutu Dante sembari menyampirkan tasnya di pundak.


"Udah ayo pulang, buruan belajar," kata El sembari merangkul bahu Dante.


"Lun gue pulang duluan ya, bye- bye," kata Aqila setelah mencium pipi Luna sekilas dan berlari keluar kelas begitu saja.


"Eh tapi," kata Luna tak sempat karena Aqila sudah terburu pergi.


Luna menghela napas, itu tandanya ia harus pulang sendiri.


Karena Calista sedang berada di perpus sejak istirahat pertama.


Entah anak itu begitu gigih untuk bisa mendapatkan cinta El.


Siang malam ia belajar tanpa henti.


"Ayo semuanya buruan pulang," teriak Dinda mengintruksi teman- temannya.


"Buruan sebelum jadi nyamuk,"


"Enggak boleh ganggu bucinnya dunia,"


"Pulang cepat adalah solusi paling baik sebelum patah hati,"


Al dan Luna dibuat bingung dengan semua teman- temannya yang bertingkah aneh.


Mereka mendadak pulang dengan terburu- buru dan kini hanya meninggalkan Al dan Luna di kelas.


Al hanya tersenyum tipis, ia lalu menghampiri Luna.


"Pulang sekarang?" tanya Al sembari menggenggam tangan Luna erat.


"Eh," kaget Luna saat Al menggenggam tangannya.


"Al ini masih di sekolah, kalau ada yang tahu gimana," kata Luna mencoba melepaskan genggaman tangan Al namun terlalu erat.


"Emang kenapa?" tanya Al tanpa dosa.


"Hihhh kamu ngeselin banget sih," marah Luna membuat Al tertawa begitu renyah.


"Baik tuan putri, mari kita pulang," kata Al memperlakukan Luna layaknya seorang ratu sembari sedikit membungkukkan badannya.


Luna sekuat mungkin menahan agar bibirnya tidak tersenyum.


Dengan rona merah dan rasa panas di pipinya, Luna jalan lebih dulu keluar kelas.

__ADS_1


__ADS_2