
Keesokan paginya, Leyna terbangun dan melihat sekitar kamar.
Ia merasa aneh karena bukan berada di kamarnya.
"Udah bangun?" Leyna langsung menoleh terlihat Damar membawa nampan berisikan segelas air dan bubur.
"Sekarang jam berapa Dam?" tanya Leyna karena sekarang harusnya mereka masuk.
"Enggak usah sekolah dulu ya, besok aja. Sekarang istirahat dulu," kata Damar membuat Leyna berusaha untuk duduk.
"Gue harus pulang Dam, mama lagi sakit," kata Leyna membuat Damar menatapnya serius.
"Nanti gue anter, sekarang sarapan dulu ya," Damar meraih semangkok bubur yang ia buat sendiri.
"Gue enggak mau makan bubur, perut gue mual Dam," rengek Leyna sembari menutupi mulutnya.
"Belum juga dimakan udah bilang mual," ketus Damar marah.
"Kamu harus minum obat, biar kandungan kamu enggak kenapa- napa," kata Damar mengingat bagaimana saran dokter Reza kemarin malam.
"Enggak ada makanan lain apa, gue beneran mual makan bubur," kata Leyna yang masih menolak untuk makan bubur.
"Coba satu suap aja, entar kalau mual jangan dimakan lagi," kata Damar berusaha keras untuk membujuk Leyna.
Perlahan Leyna menurunkan tangannya dan membuka mulutnya.
Damar tersenyum lebar lalu memasukkan suapan pertama.
"Gimana enak enggak?" tanya Damar saat bubur itu masuk ke dalam mulut Leyna.
Leyna menganggukkan kepalanya membuat Damar tersenyum dan kembali menyuapi Leyna.
Hanya 6 suapan Leyna sudah menolaknya.
"Udah Dam kenyang," adu Leyna sembari menutupi mulutnya.
"Satu suap lagi," bujuk Damar namun Leyna menggelengkan kepalanya.
"Yaudah sekarang minum obat ya," Leyna menatap Damar membukakan obatnya, terlihat besar- besar sekali.
"Nih minum," kata Damar menyodorkan obat yang sudah ia buka.
Leyna hanya menatapnya tanpa berniat untuk mengambilnya.
"Dam aku enggak bisa minum obat," kata Leyna dengan wajah menggemaskannya.
Damar tertawa melihat sikap lucu Leyna.
"Yaudah bentar," Damar ke dapur entah mengambil apa.
Tak lama ia kembali dengan sendok di tangannya.
Damar menggerus obat itu hingga halus lalu diberinya air.
"Coba buka mulutnya, aaaa," kata Damar sembari menyodorkan sendok itu ke depan mulut Leyna.
"Dam baunya enggak enak banget pasti pahit," kata Leyna yang kembali menutup mulutnya.
"Langsung telen aja habis itu minum entar enggak pahit kok," kata Damar masih sabar untuk membujuk Leyna minum obat.
Jika terus begini Leyna enggak akan minum obatnya.
Damar lalu meminum obatnya dan meletakkan sendoknya di atas nakas.
Leyna terkejut saat Damar menarik tangannya yang menutupi mulutnya dan menarik tengkuknya.
Bibir mereka bertemu, Leyna mendorong dada Damar saat ia merasakan rasa pahit dari obat tersebut.
Lama- kelamaan rasa pahit itu terganti dengan rasa manis dari mulut Damar.
Leyna tidak lagi memberontak membuat Damar diam- diam tersenyum dalam ciumannya.
Damar ******* juga mengulum bibir manis Leyna dengan sangat pelan tanpa menuntut dan menekan tengkuk Leyna untuk memperdalam ciumannya.
Leyna mendorong dada Damar karena ia tidak memberikan kesempatan Leyna untuk bernafas.
Damar menyatukan keningnya dengan kening Leyna dengan napas sedikit ngos- ngosan.
Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kalau di rumah nyatanya lebih aman buat berulah, apalagi enggak ada yang liat," gumam Damar menggoda Leyna.
Bugh
Leyna memukul bahu Damar dan memalingkan muka karena malu.
Damar terkekeh melihat pipi Leyna memerah.
Cup
"Ihhhh Damarrrr," teriak Leyna saat Damar mencium sekilas bibir Leyna dan pergi keluar kamar.
Leyna diam- diam tersenyum melihat betapa manisnya sikap Damar padanya.
《♡♡♡》
Sedangkan di rumah Bara mereka semua sedang sibuk untuk sarapan.
"Good moorning everybody," teriak Dante sembari berlari menuju meja makan.
"Adek jangan lari- lari," marah Sela pada Dante.
"Hehe iya ma," kata Dante yang langsung duduk di samping Sela.
"Ma pa setelah ujian nasional nanti, koko akan mendampingi study tour untuk kelas 11," kata Al memberitahu Bara juga Sela.
"Kemana aja ko?" tanya Bara mewakili Sela.
"Cuma ke museum nasional Kanada pa terakhir di pusat oleh- oleh sama mampir ke pantai," jelas Al membuat Dante langsung angkat tangannya.
"Dante ikut ya ko," katanya membuat El ikut mengangkat tangannya.
__ADS_1
"El juga ko," kata El bersemangat lalu tak lama Adam Agam dan juga Daffa serentak angkat tangan juga.
"Ini bukan mau jalan- jalan, cuma anak osis yang boleh ikut," kata Al tegas membuat wajah mereka seketika berubah.
"Enak banget ya sekolah sambil pacaran," gumam Dante membuat semua mengangguk sedangkan Bara Sela juga Laura Rendy hanya tersenyum mendengar ucapan Dante.
"Udah jangan sedih setelah kelulusan nanti, kita liburan sama- sama gimana?" tanya Bara pada mereka semua yang langsung berantusias.
"Beneran pa?" tanya Dante dengan mata berbinar.
"Iya son," jawab Bara sembari tersenyum ke arah Sela.
"Koko boleh enggak pa ngajak Luna?" tanya Dante yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Al.
"Boleh ajak aja, kalian mau ngajak temen kalian juga boleh," kata Bara membuat El dan Dante bersorak gembira.
"Ko ngajak Luna biar bisa cuci mata," kata Dante sembari mengerlingkan sebelah matanya kearah Al.
"Enggak," jawab Al ketus membuat Dante semakin menggodanya.
"Yaudah Dante aja kalau gitu yang ngajak," Dante langsung mendapat pelototan dari Al.
"Kan udah dibilangin, pawangnya galak masih enggak percaya," sindir El pada Dante.
Semua tergelak melihat Dante langsung menciut saat mendapatkan pelototan dari Al.
Selesai sarapan mereka langsung berangkat sekolah.
Seperti biasa, Al akan menjemput Luna yang menjadi rutinitas setiap harinya.
Sedangkan El memimpin adik- adiknya untuk berangkat ke sekolah.
Dante yang sudah naik di jok belakang motor El menggoda Al yang memasang helmnya.
"Ko gimana kalau kita ikut jemput Luna, biar ada yang ngawal gitu di jalan," kata Dante sembari tersenyum manis pada kokonya.
"Enggak perlu, yang ada kalian cuma ganggu," kata Al sembari menyalakan motornya.
Al lalu pergi terlebih dahulu menuju rumah Luna.
"Enak banget ya jadi koko, sekolah sambil pacaran," kata Dante yang iri pada kokonya.
"Udah sekolah yang bener, baru cari pasangan," kata El sembari melajukan motornya menuju sekolah.
.
.
Al sudah di depan tangga rumah Luna.
Tak lama Luna keluar dari dalam rumah sembari menenteng hoodie yang Al berikan.
Luna melihat Al sudah menunggunya di atas motor, entah kenapa Luna mendadak canggung dan malu setelah kejadian kemarin malam.
"Kamu udah nunggu lama?" tanya Luna dengan sedikit canggung.
"Barusan. Udah enggak sakit?" tanya Al yang terdengar sedikit ambigu.
"Pakai hoodienya, di jalan dingin," perintah Al saat Luna hanya menenteng hoodie yang ia beri.
"Ini aku mau balikin, aku pakai jaketku aja," kata Luna sembari menyodorkan hoodie yang sudah ia cuci.
"Itu buat lo, buruan pake," kata Al yang membuat Luna mendengus sebal.
Mau tak mau Luna memakainya daripada ia debat sampai nanti hanya karena hoodie.
Al lalu menyodorkan helm pada Luna.
"Ayo berangkat," kata Luna yang sudah naik di jok belakang.
"Entar sampai sekolah enggak usah lari- lari, enggak kira dimakan enggak sama mereka," peringati Al pada Luna.
Luna hanya diam saja tak menghiraukan ucapan Al.
"Luna Ceysa Auristella denger enggak?" kata Al yang geram karena Luna hanya diam saja.
"Iya Al Gibran Bradsiton Arganta," diam- diam Al tersenyum saat Luna memanggil namanya dengan lancar.
Keduanya sama- sama terdiam setelah hal itu.
Al lalu melajukan motornya menuju sekolah dengan kecepatan standar untuk bisa menikmati suasana di pagi hari.
"Al kemarin Willy marah enggak?" tanya Luna membuat Al terdiam.
"Enggak," jawab Al singkat dengan nada sedikit keras.
"Aku takut Willy marah, apalagi dia kasih kita uang kan aku jadi enggak enak," kata Luna yang terdengar tidak enakan.
"Emang kenapa? Lo takut mantan lo marah?" tanya Al yang terdengar kesal.
Bugh
"Apaan sih, aku cuma takut Willy marah karena kemarin kita kan libur enggak kerja kelompok," ketus Luna membuat Al tersenyum di balik helmnya.
Tak lama mereka sudah sampai di sekolah.
Al yang merasakan tangan Luna hendak melepaskan pelukannya di perut langsung menahannya agar Luna tetap memeluknya dari belakang.
"Al dilihatin anak- anak yang lain loh," kata Luna yang malu juga takut dibully oleh penggemar Al.
Al hanya diam saja dan melajukan motornya menuju parkiran dengan posisi Luna memeluknya dari belakang.
Hal itu juga tak lepas dari tatapan Bianca juga Aretha.
"Enak banget jadi Luna," gumam Bianca membuat Aretha tersenyum sinis.
"Cuma pemungut yang beruntung nemu berlian," kata Aretha lalu pergi meninggalkan Bianca sendiri.
"Daripada lo, cuma jadi penganggu, masih mending gue," kata Bianca lalu pergi menuju ke kelasnya.
Luna turun dari motor dan memberikan helmnya pada Al.
__ADS_1
"Kamu apa- apaan sih Al malu tahu diliatin banyak orang, besok enggak usah jemput lagi," marah Luna pada Al.
"Emang kenapa kalau diliatin, namanya juga punya mata," jawab Al santai sembari turun dari motor.
"Luna," panggil Willy yang baru datang.
"Willy," sapa balik Luna sembari tersenyum manis.
"Gimana, lo udah sembuh? Kata Al kemarin lo sakit," kata Willy sembari memeriksa Luna.
"Udah enggak papa Wil, aku baik- baik aja. Nanti belajar kelompok lagi kan?" kata Luna yang diangguki oleh Willy.
"Gimana kalau nanti kita ke toko buku sambil refleshing jalan- jalan?" tanya Willy yang mengajak Luna untuk pergi ke toko buku.
"Iya deh...,"
"Enggak bisa dia sibuk kerja," kata Al yang langsung menarik tangan Luna meninggalkan Willy sendiri di parkiran.
"Al lepasin," berontak Luna saat mereka melewati lorong yang ramai dengan siswa yang sedang duduk di depan kelas.
"Lo berangkat pulang sama gue, kalau gue enggak ijinin berarti jangan pergi," kata Al memberitahu alasannya menolak ajakan Willy.
"Hih enak aja, emang kamu siapa pakai ngatur- ngatur segala?" tanya Luna membuat Luna terdiam.
"Kenapa diem?" tanya Luna membuat Al kembali menatap wajah cantik Luna.
"Pokoknya lo pulang berangkat sama gue, jangan pergi sama cowok lain," kata Al lalu pergi begitu saja membuat Luna menganga tak percaya.
"Astaga tuh anak kesambet apaan sih?" gumam Luna sembari menyusul langkah Al menuju kelasnya.
Sepanjang lorong banyak siswa yang melayangkan beberapa godaan juga cuitan pada Luna.
Itulah yang Luna tak suka jika ia berdekatan dengan Al.
Pasti penggemarnya sibuk untuk kepo tentang mereka berdua dan berpikiran hal yang macam- macam.
Sedangkan di kelas IPS, Eros dan Edo sedang mabar seperti biasa sebelum bel masuk berbunyi.
Bianca yang baru datang tak melihat keberadaan Leyna juga Damar.
Kemana mereka pergi, pikir Bianca yang merasa tak biasanya mereka berdua bisa tidak masuk secara bersamaan.
Bianca lalu menatap Eros yang duduk di bangkunya bersama Edo.
Ia tersenyum lalu meraih bekal makanan yang sudah ia siapkan dari rumah tadi.
"Ini kesempatan buat gue mumpung Leyna enggak masuk," gumam Bianca sembari berjalan menuju bangku Eros.
"Eros," panggil Bianca namun tak mengalihkan perhatian Eros sedikitpun.
"Ros dipanggil Bianca noh," kata Edo memberitahu Eros.
"Apaan?" tanya Eros dengan tatapan masih fokus di layar ponselnya.
Bianca meletakkan bekal makanannya di depan Eros.
"Nih sarapan buat kamu, coba kamu buka," kata Bianca membuat Eros mempause gamenya.
Eros melihat bangku Leyna dan hasilnya kosong.
"Leyna kemana? Enggak masuk?" tanya Eros membuat ekspresi Bianca mendadak berubah.
"Enggak tahu," jawab Bianca ketus sembari menahan diri untuk tidak marah pada Eros.
"Do, Damar mana? Enggak masuk juga?" tanya Eros pada Edo.
"Gak tahu gue, dia enggak hubungi gue sama sekali nih," kata Edo membuat Eros bertanya- tanya.
"Masak lo enggak tahu kemana Leyna pergi, kan lo temen sebangkunya?" tanya Eros kembali membuat Bianca menghembuskan napas dengan kasar.
"Lo sekali aja bisa enggak sih jangan lihat Leyna mulu," Eros mendongak menatap intens Bianca.
"Maksud lo?" tanya Eros yang beranjak dari duduknya.
"Lo pernah enggak sih, sekali aja liat gue. Kenapa yang lo cari selalu Leyna Leyna dan Leyna," Eros mengalihkan tatapannya dan tersenyum miring.
"Kenapa? Lo cemburu?" tanya Eros dengan nada sedikit tinggi.
Bianca tak bisa menahan dirinya, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
"Ya gue emang cemburu setiap lo selalu nanya saat Leyna enggak ada di kelas dan lo diem- diem merhatiin Leyna, puas lo?" Eros terlihat biasa saja.
Tak ada rasa terkejut atau wajah senang mendengar pengakuan Bianca.
"Tapi emang yang gue cari Leyna bukan lo," kata Eros dengan entengnya.
Mendadak mereka berdua menjadi pusat perhatian dan suasana kelas menjadi hening.
"Tapi sayangnya Damar lebih dulu dapetin Leyna," kata Bianca mampu membangkitkan kemarahan Eros.
"Apa maksud lo?" tanya Eros dengan kedua tangan yang sedang menggenggam erat.
Bianca maju satu langkah lebih dekat ke arah Eros lalu berbisik di dekat telinganya.
"Karena Leyna dan Damar punya sesuatu yang lo dan Leyna enggak punya," bisik Bianca dengan sangat pelan.
Bugh
"Hahhh,"
Mereka terkejut bukan main saat Eros mendorong Bianca hingga tersungkur ke lantai.
"Ros apa yang lo lakuin," kata Edo yang membantu Bianca berdiri.
Bianca hanya tersenyum miring melihat Eros begitu marah sekali terlihat wajahnya memerah dan kedua tangan yang mengepal kuat.
"Kenapa, lo enggak percaya sama ucapan gue?" tanya Bianca pada Eros.
Eros hanya diam saja mencoba meredam emosinya dan tidak meluapkannya pada Bianca.
Eros menabrak bahu Bianca dan keluar kelas begitu saja.
__ADS_1