Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Dia Terluka


__ADS_3

○○○


Sepulang sekolah Luna langsung menuju cafe untuk bekerja.


Luna terus memikirkan tentang membantu Willy belajar.


Jika waktunya bekerja ia gunakan untuk belajar bersama Willy, lalu dari mana Luna mendapatkan penghasilan.


Terlebih minggu depan Vino akan melakukan ujian akhir semester, jika Luna tidak bisa melunasi uang gedungnya, Vino tidak akan bisa mengikuti ujian tersebut.


Apalagi dirinya, minggu depan sudah ujian praktek jelas jika ujian ini akan banyak mengeluarkan biaya.


"Astaga, aku harus bagaimana," gumam Luna sembari mengusap gusar wajahnya.


"Lun," panggil Hasan lirih sembari menepuk bahu Luna.


"Astaga, paman Hasan," kaget Luna membuat Hasan tersenyum tipis.


"Ada apa? Sepertinya kamu memiliki masalah, apa Vino bolos sekolah lagi?" Luna menggelengkan kepalanya.


Bagi Luna, Hasan adalah ayah baginya, tempat Luna berbagi cerita dan keluh kesah.


"Tidak paman, Luna hanya pusing memikirkan bagaimana caranya membayar uang gedung Vino, minggu depan ia sudah ujian," Hasan mendadak sendu mendengar cerita Luna.


"Maafin paman ya Lun, paman enggak bisa bantu, kebutuhan paman juga banyak untuk biaya operasi bibimu," kata Hasan merasa tidak bisa membantu Luna.


"Jangan begitu paman, paman sudah banyak membantu Luna, bahkan uang yang paman pinjamkan belum sempat Luna kembalikan," Hasan menggelengkan kepalanya.


"Tidak jangan kembalikan uang itu. Anggap saja itu bonus dari paman buat kamu karena kamu sudah bekerja dengan baik," Luna tersenyum melihat ketulusan dan kebaikan Hasan.


"Kenapa kamu tidak pergi ke tempat lain saja Lun, cari kerja sampingan yang gajinya lebih besar," saran Hasan membuat Luna berbinar.


"Benar juga ya paman," tapi beberapa saat Luna kembali sendu.


"Tapi Luna enggak punya waktu paman untuk bekerja sampingan lagi selama seminggu ini," kata Luna dengan nada sedikit putus asa.


"Kenapa? Apa ada masalah dengan sekolahmu?" tanya Hasan terlihat cemas.


"Tidak, hanya saja Luna sedang mengajari teman baru di kelas Luna, dia pindahan dari Inggris," kata Luna membuat Hasan paham.


"Semacam les privat?" tanya Hasan dan Luna menganggukinya.


"Maaf ya Lun paman tidak bisa bantu banyak, kalau kamu mau, setelah pulang belajar kamu bisa kok lembur meski bukan jadwalmu, nanti paman akan memberikan bonus," Luna terlihat sangat senang dan tersenyum lebar.


"Beneran paman?" Hasan mengangguk lalu memeluk Luna layaknya putrinya sendiri.


Karena Hasan tidak mempunyai seorang anak, istrinya divonis kanker rahim karena itu ia tidak bisa mengandung.


Namun, Hasan merasa bahagia ketika Luna hadir dalam hidupnya.


Rasanya itu sebagai kebahagiaan tersendiri bagi Hasan.


Luna lalu melanjutkan kerjanya kembali hingga pukul 9 cafe sudah tutup karena hari ini hari rabu, di mana jadwal Hasan untuk menjenguk istrinya.


Luna duduk termenung di halte sembari memikirkan kerja sampingan lainnya.


Apa yang bisa Luna lakukan selain bekerja di cafe Hasan.


Ia belum memiliki ijazah SMA apa ada yang mau mempekerjakannya.


Brum brum


Luna mendongak dan mendapati Eros melepas helmnya.


"Eros?" Luna melihat sekitarnya sudah sepi sedangkan hanya ada lalu lalang kendaraan lainnya.


"Belum pulang Lun?" tanya Eros sembari melihat kanan kiri.


"Ngapain lo kesini?" ketus Luna dengan sedikit gemetar.


"Gue baru pulang dari rumah Damar, enggak sengaja liat lo di sini, lagi nunggu bus?" tanya Eros namun Luna hanya diam tak menjawab.


"Kayaknya bus enggak ada yang lewat, gimana kalau gue anter aja, lagian juga udah malem," kata Eros menawarkan tumpangan pada Luna.


"Enggak perlu, gue naik taksi aja," kata Luna sembari melihat kanan kiri siapa tahu ada taksi lewat.


"Percaya sama gue, gue enggak bakal celakain lo, dan gue jamin lo bisa pegang kata- kata gue," kata Eros terus membujuk Luna agar mau ikut pulang bersamanya.


Luna melihat jam tangannya, pukul setengah 10, sudah sangat malam sekali.


"Ok gue nebeng lo, tapi inget gue bakal laporin lo kalau sesuatu bakal terjadi nanti," Eros tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Oh ya nih pake jaket gue, udara malam dingin banget," kata Eros sembari melepaskan jaket hitamnya.


"Enggak perlu," Eros tidak memedulikan ucapan Luna ia tetap saja memasangkan jaketnya pada Luna.


Setelah Luna naik, Eros langsung melajukan mobilnya menuju rumah Luna.


Hanya butuh 20 menit untuk sampai di rusun Luna.


Dengan cepat Luna mengembalikan jaket Eros lalu naik ke atas tangga.


Saat sampai setengah tangga, Luna menoleh ke belakang dan menatap Eros yang kebingungan.


"Makasih udah nganter," teriak Luna lalu buru- buru untuk masuk ke dalam rumah takut Eros melakukan hal tidak baik padanya.


Eros hanya tersenyum tipis, setelah itu ia pulang ke rumah karena besok masih sekolah.


.


.


.


Keesokan paginya rutinitas keluarga Bradsiton adalah sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah.


Adam Agam dan Daffa sudah berangkat lebih dulu karena mereka sedang ujian.


Sedangkan Al dan kedua adiknya berangkat pukul 8 karena hanya ada 3 mata pelajaran saja dan simulasi ujian siangnya.


"Ko Luna gimana kabarnya?" tanya Sela saat Al meminum susunya.


Uhuk uhuk


"Pelan- pelan ko," marah Sela saat Al tersedak.


"Itu baru ditanya gimana kabar Luna, coba mama tadi nanya, jadi gimana ko hubungannya sama Luna, pasti koko bakal terjungkal terhempas," kata Dante membuat El tergelak tawa.


"Apaan sih Dan. Dante kalau di sekolah suka godain cewek pa ma," adu Al membuat Sela dan Bara tertawa melihat tingkah Al.


"Loh itu hal yang wajar dong ko, apalagi Dante tampannya udah kelewat batas, pasti banyak yang ngantri," kata Dante dengan bangganya.


"Tapi ma lucunya Dante tuh paling takut kalau sama Aqila," adu El yang kini membuat Al yang gantian tergelak tawa.


"Oh ya? Siapa Aqila itu?" tanya Sela sembari menggoda Dante.

__ADS_1


"Sahabatnya Luna ma," jawab Al dengan cepat membuat mereka semua langsung menatap Al dengan senyum yang lebar.


"Hekm perasaan mama tanya El, koko gercep banget jawabnya," kata Sela membuat Bara tertawa melihat istrinya terus menggoda putranya itu.


"Iya ma bener banget, kemarin aja gara- gara dua orang bucin ini, masak El di suruh bawa motor vespa pulangnya, mana sendirian lagi," ungkap El jujur membuat semua tertawa.


"Makanya ko cari cewek juga biar kalau mereka berdua lagi bucin, koko enggak disuruh pulang sama vespa tapi sama perempuannya," El mendadak salting saat digoda oleh Sela.


"Udah- udah sarapan dulu nanti telat lagi," kata Bara melerai obrolan mereka yang saling mengadu satu sama lain.


Selesai sarapan mereka langsung berangkat ke sekolah.


Seperti biasa Dante dibonceng Al dan El naik sendirian.


Sepanjang jalan yang Dante lakukan adalah menyapa setiap pengendara, bernyanyi atau mengobrol dengan kokonya meski nantinya akan berakhir dengan kata 'hah apa'.


Mereka telah tiba di sekolah dan seperti biasa, mereka disambut ria oleh siswi yang sedang menunggu di dekat gerbang.


"Ya tuhan hidup gue udah serasa jadi idol aja, tiap hari selalu ada yang nunggu dan ngasih coklat," kata Dante yang merasa senang saat semua siswi tergila- gila padanya.


"Bener banget, harusnya kita punya bodyguard biar kayak idol beneran," kata El sembari menebar pesona dengan menyingkap rambutnya ke belakang.


"Kalau menurut koko gimana? Kita cocok enggak jadi idol?" tanya Dante saat Al sejak tadi hanya diam saja.


Dante menoleh dan tidak ada siapapun, kokonya sudah pergi menuju kelas meninggalkan mereka berdua yang sibuk tebar pesona.


"Koko mah enggak tertarik buat jadi idol," kata El sambil merangkul bahu Dante menuju kelas.


Sedangkan Al sudah duduk manis di bangkunya sembari bermain ponsel.


Kenapa ia tidak melihat Luna di bangkunya, kemana dia pergi.


"Makasih ya Lun," kata Willy membuat Al mendongak.


Terlihat Luna dan Willy masuk ke dalam kelas bersama sembari membawa beberapa tumpuk buku.


"Eh Al baru berangkat?" Al hanya diam sembari berdeham.


Al melirik Luna yang langsung merebahkan kepalanya di atas meja sembari memakai jaket.


Pyarrrr


Semua terkejut saat mendengar suara pecahan kaca.


"Ko koko, geng Alex buat ulah lagi ko," teriak Dante dari luar bersama El.


"Semua cewek kalian cari tempat aman," teriak Arka yang langsung berkeliling untuk memandu teman perempuannya agar berlindung ke tempat yang aman.


"Luna ayo pergi," teriak Aqila saat Luna malah melihat dari jendela.


Willy menghampiri Luna dan menarik tangannya tanpa bicara.


Setidaknya Luna sudah aman, kalau begitu Al akan mengatasi kerusuhan geng Alex.


Sesampainya di halaman depan sekolah, Al melihat mereka begitu brutal ingin masuk ke dalam sekolah.


"Al tolong hubungi polisi," perintah pak Budi yang baru saja tiba.


"Sudah pak tinggal menunggu mereka datang," jawab Al dan diangguki oleh pak Budi.


"Astaga, kerusakan yang mereka timbulkan sangat besar," gumam pak Budi saat tawuran itu membuat beberapa jendela sekolah pecah.


Mereka terus melemparkan batu dan berusaha untuk memanjat gerbang sekolah.


"Al mereka manjat gerbang, gimana ini?" tanya Arka panik saat sebagian dari mereka berhasil masuk ke dalam sekolah.



Sedangkan di perpus sejak tadi Luna terus ingin keluar untuk melihat keadaan di luar.


"Di sini aja Lun, ngapain sih lihat mereka?" kesal Aqila saat Luna tidak bisa diberitahu jika di luar sana berbahaya.


Luna tidak tahan lagi, ia langsung berlari keluar untuk membantu yang lainnya.


Luna merasa ia tidak berguna sekali, padahal ia juga ikut taekwondo seharusnya ia bisa ikut membantu yang lainnya.


Setibanya di halaman sekolah tinggal beberapa orang saja yang melawan mereka.


"Di mana anak- anak osis?" gumamnya pelan saat melihat tidak ada gerombolan anak osis.


Dengan sangat hati- hati, Luna berjalan lewat tepi- tepi agar tidak terluka.


"Luna," teriak Al membuat Luna terjengkit kaget.


"Al, kamu dari mana? Anak- anak osis lainnya di mana?" tanya Luna saat ia tidak melihat gerombolan anak osis laki- laki.


"Ngapain keluar?" bentak Al membuat Luna kaget, kenapa Al marah- marah padanya.


"Aku cuma mau bantu yang lain tadi, tapi tidak lama polisi sudah datang," kata Luna menjelaskan kenapa ia keluar dari perpus.


"Lo enggak tahu apa kalau di luar bahaya, jadi cewek jangan ceroboh," kata Al memarahi Luna yang ceroboh.


"Kok kamu marah- marah sih, aku kan cuma mau lihat yang lain dan mau bantu, kenapa kamu yang marah," ketus Luna yang kesal dengan Al yang terus memarahinya tanpa sebab yang jelas.


"Lo enggak tahu apa kalau gue....,"


Al tidak melanjutkan ucapannya dan memalingkan muka.


Luna mengangkat sebelah alisnya bingung.


"Lo enggak akan ngerti," gumamnya pelan lalu pergi meninggalkan Luna.


"Kenapa sih tuh cowok, aneh tahu enggak," ketusnya kesal sembari mengikuti langkah Al melewati lorong lab menuju kelas.


Luna berjalan di belakang Al yang hanya diam saja.


Terlihat lengan Al seperti ada goresan dan tampak begitu merah sekali.


"Tunggu," kata Luna menahan lengan Al dan melihat lukanya.


"Sendirinya aja ceroboh pakai marahi orang," ketus Luna sembari menatap sinis Al.


Tanpa banyak bicara Luna menarik tangan Al menuju uks.


"Duduk," perintahnya pada Al dan ajaibnya Al hanya diam dan menurut saja.


Luna mengambil obat merah dan plester untuk mengobati luka Al.


Dengan sangat hati- hati Luna membersihkan terlebih dulu lukanya baru memberinya plester.


"Udah," kata Luna lalu mengembalikan obat merahnya kembali.


Al melihat plester di lengannya, motif bunga sakura.


Indah juga.

__ADS_1


Luna hendak keluar dari uks karena sudah selesai.


"Makasih," gumam Al pelan membuat Luna berbalik dan kembali mendekat ke arah Al.


"Tunggu kamu bilang apa barusan?" goda Luna membuat Al menatapnya ketus.


"Telinga lo bermasalah?" tanya Al membuat Luna berkacak pinggang.


"Tinggal ngulangi aja apa susahnya sih, dingin banget jadi orang," kesel Luna yang hendak keluar dari uks namun kembali terhenti saat Al berbicara.


"Entar ke rumahnya Willy sama gue," kata Al yang langsung memalingkan wajahnya sebelum Luna menoleh.


"Iya," jawab lirih Luna membalas Al lalu pergi begitu saja.


Diam- diam ia tersenyum sendiri melihat wajah kesal Luna.


Al lalu keluar uks untuk kembali ke kelas.


Luna masuk ke dalam kelas dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Aqila dan Calista.


"Dari mana aja lo?" ketus Aqila lalu Calista menatap Luna tanpa kedip.


"Hehe enggak ada cuma dari kamar mandi," bohong Luna yang langsung mendapatkan deheman dari Al.


Luna melirik Al yang duduk dibangkunya dengan tatapan tajam.


"Selamat siang anak- anak," kata bu Sari yang langsung masuk dan duduk di kursinya.


"Siang bu," jawab mereka serempak.


"Karena hari ini ada insiden yang kurang mengenakan, pihak sekolah akan mempulangkan kalian lebih awal, jadi belajarlah di rumah dan langsung pulang," kata bu Sari yang langsung disambut dengan sorakan keras dari semua siswa.


"Kalau begitu, ibu pergi dulu," pamit bu Sari meninggalkan kelas XII IPA 1.


Mereka langsung bergegas berkemas untuk segera pulang.


"Lun gue pulang dulu ya mau jemput papa di bandara," pamit Aqila yang terlihat terburu- buru sekali.


"Iya hati- hati," kata Luna saat Aqila berlari keluar kelas.


"Ayo Lun gue anter pulang," kata Calista pada Luna.


"Enggak Ta, hari ini jadwalnya aku kerja," bohong Luna yang dipercayai oleh Calista.


"Yaudah gue pulang dulu ya, lo jaga diri baik- baik," kata Calista lalu keluar kelas.


Luna menoleh ke belakang dan melihat Al dan kedua adiknya sedang berbicara.


Jadi, Luna akan menunggu di luar kelas saja lagian Willy masih berada di ruang guru mengambil beberapa tugas dari pak Kimmy.


Sedangkan Al sedang memberikan alasan pada kedua adiknya ini.


"Kalian pulang dulu aja, koko ada urusan bentar," kata Al mencari alasan yang tepat.


"Koko mau kemana emang?" tanya Dante yang sangat kepo.


"Koko mau pergi ya sama Luna?" tanya El yang langsung membuat Dante melebarkan kedua matanya.


"Yaampun koko tega ya tinggalin Dante sendiri demi Luna," Dante mulai berdrama membuat Al malas sekali.


"Apaan sih, enggak jelas," ketus Al membuat Dante dan El tertawa.


"Yaudah kalau gitu Dante sama ko El pulang dulu ya. Selamat bersenang- senang dengan kakak ipar," goda Dante yang langsung mendapat tatapan tajam Al.


"Eh tunggu," kata Al membuat keduanya berbalik.


"Apa ko?" tanya Dante saat Al memanggilnya.


"Pinjem hoodienya bentar," kata Al langsung sumringah dan mendekati kokonya.


"Bentar- bentar ko, koko kan udah pakai hoodie kenapa minjem punya Dante?" tanya Dante yang langsung mengintrogasi kokonya.


"Perasaan cuacanya panas ko, emang enggak gerah pakai dua hoodie," goda El sembari menahan senyum di bibirnya.


"Minjem bentar aja," ketus Al yang terdengar sedikit memaksa.


"Iya- iya Dante pinjemin kok, buat kakak ipar apa sih yang enggak," kata Dante sembari melepaskan hoodie hitamnya.


"Nih buat koko, biar enggak dingin," kata Dante yang langsung berlari bersama El sebelum Al mengamuk.


"Dasar adik enggak ada yang beres semua," gerutunya kesal saat dirinya terus digoda oleh mereka berdua.


Al melepaskan hoodienya dan mengganti dengan milik Dante.


Setelah selesai, Al langsung menuju parkiran karena mungkin Luna sudah menunggunya.


Dan benar saja, Luna sedang mengobrol bersama Willy di parkiran.


"Nih jaketnya," kata Al sembari memberikan hoodienya di tangan Luna.


"Lo naik apa?" tanya Al pada Willy.


"Naik mobil, oh ya Lun lo mau naik mobil sama gue enggak?" tanya Willy pada Luna yang masih bingung kenapa dirinya diberi hoodie oleh Al.


"Dia sama gue," sahut Al namun Willy masih tetap menunggu jawaban dari mulut Luna sendiri.


"Aku sama Al aja Wil," Willy mengangguk lemah lalu mengambil mobilnya di parkiran untuk segera pulang dan belajar bersama.


"Buruan pakai," kata Al saat melihat Luna tidak juga memakai hoodienya dan hanya diam.


"Aku kan udah pakai jaket Al, ngapain pakai hoodie panas tahu enggak?" ketus Luna dengan Al yang selalu seenaknya sendiri.


"Jaket lo buat nutupi rok pendeknya, hoodienya tinggal makai aja ribet banget," gerutunya sembari memasang helmnya.


Luna menghentakkan kakinya kesal lalu dengan terpaksa ia memakai hoodie Al.



Al tersenyum sangat samar saat melihat Luna memakai hoodienya yang kebesaran.


Sangat menggemaskan sekali.


"Ayo naik," kata Al sembari membantu memegangi tangan Luna untuk naik ke atas motor.


"Udah," kata Luna dengan perasaan yang canggung dan sedikit malu.


"Gue enggak mau tanggung jawab kalau lo jatuh di jalan, jadi cari inisiatif sendiri buat cari pegangan," kata Al sembari menyalakan motornya.


"Hihh dasar kutub, terus gue suruh pegangan mana coba," gerutunya membuat Al tersenyum di balik helm besarnya.


"Lun lo enggak makai helm? Bahaya lo, kalau kamu kenapa- napa di jalan gimana?" kata Willy menghentikan mobilnya tepat di depan motor Al.


Al yang geram dengan si alay Willy mematikan motornya dan menarik kedua tangan Luna untuk melingkar di perut kekarnya.


Al membuka kaca helmnya dan menatap Willy.

__ADS_1


"Dia udah aman sama gue," ketusnya lalu menyalakan motornya dan pergi mendahului Willy.


Luna yang merasa malu hanya bisa diam dengan tangan yang melingkar di perut Al.


__ADS_2