
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi tapi Leyna belum juga kembali membuat Damar enggan bisa duduk dengan tenang pasalnya mereka juga harus daring.
Ia tampak gelisah dan berjalan mondar- mandir hanya untuk melihat apakah Leyna sudah pulang.
Damar menatap ponselnya, ingin sekali ia menelponnya namun di satu sisi Damar juga takut menganggunya.
"Apa ia sungguh ke makam?" gumamnya yang penasaran.
"Bagaimana jika ia pulang? Pasti om Adi bakal sakiti dia," ujarnya sembari menelpon pengawal yang tadi Damar minta untuk mendampingi Leyna.
"Halo tuan,"
"Di mana Leyna?"
Lama pengawal itu hanya diam membuat Damar semakin geram.
"Ma- maaf tuan muda tadi nona Leyna meminta pada saya untuk tidak mengikutinya setelah minta diantar ke rumah papanya," Damar sangat terkejut dengan hal itu.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku jika Leyna pergi ke sana," teriaknya begitu marah dan langsung menuruni tangga dengan kunci mobil ditangannya.
"Maaf tuan saya salah," ujarnya membuat Damar langsung masuk ke dalam mobil dan menuju rumah Leyna.
"Apa Leyna masih di sana?"
"Ya tuan, sejak tadi nona masih di dalam. Tapi tuan Adi baru saja berangkat ke kantor diantar oleh perempuan muda," Damar mengerutkan keningnya samar.
"Perempuan muda?"
"Iya tuan, seumuran nona Leyna,"
Damar yang tahu siapa yang dimaksud perempuan muda itu sontak langsung menancapkan gasnya.
Dalam hati Damar sangat ingin sekali memukuli dan mencabik- cabik Bianca saat ini.
Rasanya sangat gatal sekali jika ia berdekatan dengan Bianca. Bahkan orang bisa darah tinggi hanya dengan mendekat padanya.
Damar tampak menggila di jalanan, pikirannya saat ini adalah bagaimana Leyna sekarang kala mengetahui Bianca di rumahnya.
Tak butuh waktu lama Damar sudah sampai di rumah Leyna.
Dengan cepat ia berlari masuk ke dalam.
BRAKK
Bianca yang duduk santai di ruang tamu sembari menikmati secangkir teh tampak terkejut.
"Damar," gumamnya membuat Damar langsung menghampirinya.
"Di mana Leyna?" tanyanya sembari mencengkeram kuat rahang Bianca.
"Gue enggak tahu," bohongnya membuat Damar semakin memperkuat cengkramannya.
__ADS_1
"Apa yang lo lakuin di sini, hah?" teriaknya begitu keras membuat Bianca tersenyum miring melihat betapa merahnya wajah Damar saat ini.
"Wahh apa wanitamu belum memberitahumu? Aku akan segera menikah dengan papanya. Jadi, bersikap baiklah dengan calon mertuamu ini," Damar melebarkan kedua matanya tak percaya dengan hal itu.
"Gue enggak akan biarin hal ini terjadi," Bianca berdecak kasar membuat Damar semakin erat mencengkeram rahang Bianca.
Bianca lalu menunjukkan cincin berlian di jari manisnya.
"Oh ya? Tapi sepertinya lo udah terlambat," Damar langsung menghempaskan Bianca ke sofa.
"Enggak heran jika lo emang semurah itu, berapa uang yang telah om Adi bayar sampai lo mau jadi istrinya?" Bianca yang mendengar itu sontak berdiri dan langsung menampar Damar.
PLAK
"Lo tahu apa sama harga tubuh gue? Siapa yang kini peduli dengan harga tubuh, gue hanya butuh uang dan uang," bentaknya sangat keras membuat Damar hanya berdecih dan mengusap sekilas pipinya.
"Butuh uang itu kerja bangsat, bukan jadi istri om- om," teriaknya tak kalah keras dari Bianca.
"Kerja lo bilang? Hidup gue udah sangat sengsara, gue cuma butuh ketenangan dan kebahagiaan yang gue miliki, apa itu salah?" sontak Damar langsung mendorong Bianca ke sofa.
"Kebahagiaan lo bilang? Terus apa kabar sama Leyna? Mamanya baru kemarin dimakamin, itupun tanahnya masih basah dan lo bilang ingin kebahagiaan? Sampah tahu enggak," Bianca tampak berkaca- kaca dengan ucapan Damar barusan.
"Lo enggak tahu seberapa sakitnya hidup gue, jadi jangan ikut campur sama urusanku," teriaknya membuat Damar benar- benar sangat frustasi saat ini.
"Jika lo emang hanya ingin hidup tenang dan bahagia habisin uang orang, dari sekian banyak pria kaya kenapa harus papanya Leyna?" Bianca tertawa sumbang dan berdiri mendekati Damar.
"Siapa bilang hanya papanya Leyna? Papamu aja bisa kuambil jika aku mau," mendengar hal itu Damar sangat ingin sekali mencekik Bianca saat ini.
Namun, ia sadar berhadapan dengan Bianca hanya akan menguras tenaga.
Bianca mengepalkan tangannya erat, Damar sudah benar- benar membuatnya bagai sampah.
Bahkan ucapannya begitu menyakiti hatinya.
"Oke kita lihat aja nanti, bakal sehancur apa lo nanti," gumamnya sembari menelpon Adi.
Lama ponsel itu berdering hingga terdengar suara bariton dari seberang telepon.
"Halo sayang,"
"Sayang aku boleh enggak nyusul ke kantor? Aku bosan di rumah," ujarnya dengan manja sembari sesekali melirik tangga.
"Bosan? Bagaimana jika kamu shopping atau ke spa ke salon mungkin?" tawarinya dengan santai.
"Enggak mau, aku cuma pengin nememin kamu di kantor," sontak terdengar suara tawa dari seberang.
"Baiklah- baiklah, kemarilah tapi dengan sopir ya jangan nyetir sendiri,"
"Siap bos," jawabnya membuat Adi kembali tertawa lalu mematikan teleponnya.
"Di mana Leyna? Kenapa tidak ada?" Bianca berdiri sembari meraih tasnya dengan senyum iblisnya.
__ADS_1
"Memang siapa yang mau menampung anak durhaka dan merugikan sepertinya," ujarnya sembari berjalan keluar.
Damar mengepalkan tangannya lalu menelpon Leyna.
Kini ponselnya malah tidak aktif membuat Damar semakin dibuat gila.
"Di mana kamu?" gumamnya sembari mengacak- acak rambutnya.
Sontak Damar terpikirkan dengan makam Desi.
"Apa mungkin dia ke sana?" sontak Damar langsung berlari keluar untuk pergi ke makam mencari Leyna.
•••
Sesampainya di sana Damar berhenti di tempatnya kala melihat perempuan berbaju serba hitam sedang merungkuk di depan makam yang mana tanahnya masih basah dengan suara isak tangis yang memilukan.
Perlahan Damar melangkah untuk mendekati sosok yang rapuh tersebut.
"Hei," sapa Damar lembut sembari mengusap pelan pundak Leyna dari belakang.
Tangis itu semakin pecah membuat Damar hanya bisa memeluk Leyna dari belakang.
Lama Damar memeluk Leyna hingga isak tangis itu mulai mereda.
Leyna berdiri lalu berbalik menatap Damar.
"Kenapa kemari?" Damar menatap datar Leyna.
"Kenapa berbohong?" Leyna langsuny diam.
"Tadi hanya sekedar mampir," Damar tersenyum remeh sembari menatap ke arah lain.
"Lalu apa yang kamu dapatkan?" Leyna diam hingga air mata itu terjun bebas membasahi pipinya.
Damar langsung memeluk Leyna erat dan mengusap lembut punggung yang bergetar itu.
"Pa- papa mau menikah dengan Bianca," adunya dengan terbata- bata membuat Damar memejamkan matanya dan mencium sekilas puncak kepala Leyna.
"Tenang aja, aku bisa mengatasi hal ini," ucapnya sembari mengusap pelan cairan bening itu yang mana kini kedua mata Leyna sudah sangat sembab.
"Aku ingin tinggal di rumah mama aja, rasanya sedikit sungkan jika aku terus berada di apartemenmu," sontak tatapan manis tadi kini berubah sangat tajam.
"Apa kamu sadar dengan ucapanmu? Apa kamu akan hidup tenang di sana dengan melihat Bianca dan om Adi?," Leyna menunduk sekilas dan berusaha tersenyum.
"Aku bisa mengatasinya," Damar berdecak dan melepas genggaman tangannya pada tangan Leyna.
"Aku tidak mengizinkanmu," tolaknya membuat Leyna mencoba membujuk namun tidak mempan.
"Apa ini caramu membalasku?"Leyna menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu Dam...,"
__ADS_1
"Maka dari itu tetaplah tinggal denganku, siapa yang membuatmu sungkan untuk tinggal di apartemenku sendiri, lagian kelak kita juga akan tinggal bersama," ujarnya sembari menarik tangan Leyna lembut menuju mobilnya.
Leyna yang baru menyadari ucapan Damar barusan tampak memalingkan muka ke arah lain demi menetralkan rasa panas di pipinya.