Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Rencana Persami


__ADS_3

Leyna sedang menatap pantulan dirinya di cermin.


Dia melirik jam, pukul 6 malam. Leyna akan segera berangkat.


Ia sudah rapi dengan dress hitam yang terlihat simple namun begitu pas di lekuk tubuh dirinya.


Leyna kembali menatap dirinya di pantulan cermin, seperti ada yang kurang.


Leyna kembali menambahkan lipstik di bibir tipisnya.


Setelah semua selesai dan rapi, Leyna meraih tas selempangnya dan pergi melalui pintu belakang.


Jika tidak lewat belakang, mamanya pasti akan melarangnya untuk pergi keluar.


Leyna lewat halaman belakang dan langsung pergi dengan naik taksi yang sudah ia pesan sejak tadi.


Leyna butuh uang, jadi ia harus keluar untuk malam ini.


Make up, baju dan juga uang jajannya sudah sangat menipis, saatnya Leyna untuk shopping.


Meski Leyna terlahir dari keluarga kaya raya, tapi ingat papanya adalah orang yang sangat pelit.


Bukan lagi pelit, semenjak pelakor itu hadir dalam keluarga Leyna, papanya tidak lagi memberinya uang jajan lebih.


Bahkan fasilitas saja kini Leyna sangat dibatasi oleh papanya.


Terpaksa, karena mamanya tidak bisa memberikan fasilitas seperti papanya, Leyna harus mencari uang dari luar.


"Kita sudah sampai nona," kata sopir taksi itu membuat Leyna tersadar dari lamunannya.


"Oh ya pak, tolong tunggu saya di sini, nanti akan saya berikan ongkos lebih, jadi jangan pergi kemana- mana," pesan Leyna sebelum turun dari taksi.


"Baik non," jawab sopir taksi itu lalu Leyna turun dari taksi.


Leyna melihat kanan kiri, setelah dirasa tidak ada yang tahu dirinya di club, Leyna langsung masuk ke dalam.


Seperti biasa, Leyna langsung menuju bar untuk memesan minuman.


Malam ini Leyna harus mencari mangsa yang pas.


Tidak hanya itu, Leyna juga harus mempunyai atm berjalan yang lancar untuk membantu memenuhi kebutuhannya.


"Hey cewek," Leyna menoleh, ada pria brewok yang seumuran papanya sedang tersenyum manis ke arah Leyna.


"Hei om, sendiri aja nih," kata Leyna yang langsung bergelayut manja di lengan pria tua itu.


"Sekarang enggak nih, kan udah ditemeni sama kamu," kata pria itu sembari menciumi telinga Leyna.


Dasar tua bangka, udah mau mati aja masih jadi hidung belang, mana enggak tahu diri banget, batin Leyna sembari memutar bola matanya malas.


Kalau aja gue enggak butuh uang, ogah banget gue ngelayani ni om- om, batin Leyna sembari melihat para perempuan sebayanya sedang berjoget ria.


"Gimana kalau kita langsung ke kamar aja?" tanya pria itu membuat Leyna melebarkan mata namun sebisa mungkin ia langsung merubah ekspresinya.


"Kenapa buru- buru sih om, kita di sini aja dulu," kata Leyna mencoba membujuk pria beristri itu untuk tidak langsung mengajaknya ke kamar.


"Yaudah kita cari tempat nyaman," pria itu langsung menarik Leyna untuk mencari tempat aman.


Mereka duduk di sofa sudut club sembari menikmati minumannya.


Ingin sekali Leyna kabur dari samping pria tua ini namun apalah dayanya, ia sangat membutuhkan uang itu.


Leyna memalingkan wajahnya, samar- samar ia melihat wajah papanya bersama seorang wanita.


"Sayang, tunggu sini ya aku mau ke kamar mandi," kata Leyna pamit pada pria paruh baya itu.


"Iya," jawabnya setengah mabuk.


Leyna langsung mengikuti langkah papanya bersama wanita penggoda itu.


Leyna harus tahu siapa wanita yang telah merusak rumah tangga papanya.


Terlihat papanya masuk ke dalam kamar bersama wanita itu.


"Dasar jalang ini benar- benar harus diberi pelajaran," gumam Leyna lalu membuka perlahan pintu kamar club untuk mengintip, agar Leyna tahu siapa wanita itu.


"What? Wanita itu sangat jelek sekali, bahkan lebih cantik mamaku," pekik Leyna pelan saat tahu wajah wanita itu.


Leyna langsung meraih ponselnya untuk memotret perlakuan papanya.


Setelah selesai, Leyna kembali melihat jelas wanita itu.


Wanita yang telah menghancurkan keluarganya dan juga yang membuat mamanya menderita.


Sadar atau tidak, Leyna meneteskan air matanya jika mengingat bagaimana perlakuan papanya pada mama.


Bahkan sekarang, wanita itu juga telah merubah seluruh kehidupan keluarganya.


Leyna kembali menutup pintunya dan mengusap air matanya.


"Bahkan papa tidak tahu bagaimana mama setiap harinya selalu menunggu papa dengan setia, sedangkan papa di sini pesta dengan wanita," gumam Leyna membuat hatinya terasa teriris.


Leyna lalu kembali ke ruang diskotik untuk melampiaskan emosinya ketika ia mengetahui fakta bahwa papanya benar- benar sedang berselingkuh.


Tadinya Leyna ingin sekali melabrak wanita itu, tapi Leyna ingat jika lelaki yang sedang bersamanya adalah papanya.


Daripada Leyna malu karena kelakuan papanya, lebih baik ia diam dan meredam semuanya sendiri.


Leyna duduk di depan bar dan memesan alkohol kadar tinggi.


Pikirannya terus dibayangi wanita jalang itu membuat Leyna ingin sekali menendang wajahnya.


Tanpa sadar Leyna sudah menghabiskan 3 botol alkohol dengan kadar tinggi.


"Hey," Leyna menoleh saat ada seseorang duduk di sampingnya.


Sayup- sayup Leyna melihat dengan pencahayaan yang remang- remang Damar berdiri di depannya.


"Damar," gumam Leyna sembari menidurkan kepalanya di atas bar karena sudah tidak tahan lagi.


Damar yang sudah mabuk, juga menidurkan kepalanya di atas meja berhadapan dengan Leyna.


"Lo ngapain di sini?" tanya Damar sembari menepuk punggung Leyna.


"Gue banyak masalah, makanya gue kesini," jujur Leyna sembari menepis tangan Damar.


"Yaudah gue temeni," gumam Damar sembari mengusap kepala Leyna yang sudah tepar di atas bar.

__ADS_1


□■■□


Jika Leyna tadi di club untuk pesta, beda sama si kembar yang rusuh di dapur mamanya.


Ya siapa lagi kalau bukan cucunya Bradsiton.


Karena mama dan papa mereka pergi keluar untuk menghadiri pesta tuan Clay, jadi mereka membuat acara masak memasak.


Bukan lebih tepatnya membuat rusuh di dapur mamanya.


"Ko ambilin ikannya di kulkas," kata Dante pada El sembari memotong sayuran.


"Ko wortelnya dipotong dadu apa kotak- kotak?" tanya Agam membuat Dante menghela napas.


"Dadu sama kotak- kotak apa bedanya Agamm," kesal Dante membuat Agam tertawa.


"Nih ikannya," kata El sembari meletakkan ikannya di wastafel.


"Daf lo sibuk enggak? Tolong bersihin ikannya," kata Dante meminta tolong Daffa.


"Iya ko," Daffa langsung membersihkan ikannya.


"Ko kepalanya dimutilasi enggak?" tanya Daffa membuat El tertawa.


"Iya Daf, kalau perlu ekornya taruh di taman kepalanya taruh di halaman," gemas Dante dengan perkataan Daffa.


Tinggal bilang dipotong aja pakai acara bilang mutilasi.


Dikira mutilasi orang apa?


"Koko mau keluar, kalian nitip enggak?" tanya Al yang sejak tadi diam di ruang tamu.


"Ko Dante titip soda dingin," teriak Dante yang langsung memesan.


"Sama ko," teriak mereka semua ikutan Dante.


Al hanya mengangguk lalu menyambar jaket yang ada di sofa dan pergi keluar.


Entah kenapa ia ingin sekali minum coffe.


Al langsung melajukan mobilnya menuju cafe langganannya.


Hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di cafe.


Al langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam.


Ia kaget saat melihat salah satu pegawai cafe langganannya.



Yaps, Luna.


Al langsung merubah ekpresi terkejutnya dan berjalan santai menghampiri Bartender.


Bukannya apa, hanya saja Al takut Luna merasa malu saat bertemu dengannya.


Jadi, Al langsung menuju bartender untuk pesan.


Al lalu duduk di sisi sudut cafe sembari diam- diam melihat Luna yang sedang membersihkan meja.


Al melirik jam tangannya, pukul 8 malam.


Bukankah besok masih sekolah.


"Al ini kopimu," kata Hasan pemilik cafe itu memberikan pesanannya pada Al.


"Oh makasih paman," kata Al menerima kopi pesanannya.


"Kamu sendirian aja, dimana adikmu?" tanya Hasan saat melihat Al datang sendirian.


"Mereka di rumah," jawab Al ramah sembari senyum manis pada Hasan.


"Yaudah paman tinggal dulu ke belakang ya," kata Hasan yang langsung pergi ke belakang saat ada pelanggan masuk.


Al yang sudah menerima kopinya langsung pergi keluar saat melihat Luna pergi ke belakang karena Hasan memanggilnya.


Entah kenapa pikiran Al terus tertuju pada Luna.


Al langsung masuk ke dalam mobil, tapi anehnya ia tidak juga melajukan mobilnya.


Lama sekali Al diam di dalam mobil sembari menatap Luna dari luar.


Tidak terasa Al berada di dalam mobil sekitar 15 menitan hanya untuk menunggu Luna keluar.


Al melihat jam tangannya, pukul 9 malam.


Ini sangat malam sekali untuk perempuan masih di luar rumah.


Terlihat Luna berjalan menuju halte yang tidak jauh dari cafe.


Dan tidak lama bus kota datang dengan membawa penumpang yang tidak begitu banyak.


Bus meninggalkan halte untuk mengantarkan mereka ke tujuan.


Al langsung mengikuti bus kota itu yang membawa Luna pulang ke rumah.


.


.


Kini mereka sedang sarapan sebelum berangkat ke sekolah.


Begitu juga dengan Bara yang sebelum berangkat ke kantor.


"Ko semalem kok lama banget sih beli sodanya, sampe ketiduran kita nunggunya," kata Dante membuat Sela menatap Al.


"Atau koko masih mampir lagi ke rumahnya Luna?" tebak El membuat Al menatapnya jengah.


Bara terkekeh melihat wajah kesal putra sulungnya itu.


"Jalannya macet," jawab singkat Al lalu memakai hoodie hitamnya setelah selesai sarapan.


"Tumben ko pakai hoodie, biasanya pakai jaket?" tanya Sela sembari memakan roti lapisnya.


"Hekm jaket koko di rumahnya Luna ma," jawab Dante sembari menunduk takut Al menatapnya.


"Oh di rumahnya Luna, yaudah enggak papa," goda Sela membuat Al menghela napas.

__ADS_1


"Mana enggak diminta lagi jaketnya di Luna, sengaja banget ya ko biar disimpen sama Luna?" kata Dante yang terus menggoda Al.


"Koko berangkat ma," pamit Al setelah mencium pipi mamanya dan langsung berangkat.


"Kalian berdua jangan godain koko mulu, kalau marah serem itu," peringati Bara saat Dante mencium keningnya.


"Dante udah biasa pa jadi sasaran empuk koko," Bara tertawa mendengar ucapan Dante.


"Tenang pa, koko yang jadi pelindung Dante," kata El sembari memakai jaket hitamnya.


"Hilih, baru juga ditatap sama koko udah balik kanan, gimana mau ngelindungin Dante coba," kata Dante mengejek El.


"Udah- udah buruan berangkat, koko udah nunggu tuh," kata Sela sembari memberikan tasnya El.


"Agam Adam Daffa, koko berangkat duluan ya," teriak Dante sebelum keluar.


"Iya ko," jawab mereka serempak.


Pasalnya Al pagi ini akan ada rapat osis tentang persami minggu depan.


Jadi, ia harus berangkat pagi, sedangkan Dante dan El emang enggak bisa jauh dari kokonya jadi mereka ikut berangkat pagi.


Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di SMA.


Al melirik jam tangannya, pukul setengah 7.


"Ko kita ke kelas dulu ya," pamit Dante pada Al.


"Iya, jangan keluyuran atau buat rusuh," peringati Al pada kedua adiknya yang suka ceroboh.


"Siap ko," jawab mereka serempak dan bergegas menuju kelas.


Meski Al tidak begitu percaya mereka beneran ke kelas atau tidak, mau bagaimana lagi, dia juga sedang sibuk untuk rapat osis.


Al berjalan menuju ruang osis sebelum pembina osis datang.


Ceklek


Semua sudah duduk rapi seakan menunggu kedatangan Al.


Al duduk di samping Luna karena dia adalah sekretarisnya.


"Jam berapa rapat akan dimulai?" tanya Al pada Luna.


"Sebentar lagi, nunggu bu Sari sama pak Budi ngambil SOP di ruang kepsek," kata Luna yang terdengar sangat lemas.


Al melirik Luna yang duduk di sampingnya, terlihat sangat lelah sekali.


Al jadi penasaran soal kemarin malam.


Masak iya Luna tinggal sendirian, kenapa rumahnya sepi banget.


Terus Vino itu siapa?


Al menggelengkan kepalanya untuk tidak terus memikirkan Luna.


"Kenapa, kepalamu pusing?" tanya Luna saat melihat Al menggelengkan kepalanya.


"Enggak," jawab singkat Al membuat Luna menghela napas kasar.


"Gue rasa dia enggak ada kosakata lain selain kata enggak," gumam Luna yang bisa didengar oleh Al.


"Selamat pagi," sapa bu Sari yang baru datang bersama pak Budi.


"Pagi bu," jawab mereka serempak, pak Budi dan bu Sari langsung memulai rapat osisnya sebelum pelajaran dimulai.


"Untuk persami minggu depan kita semua sudah setuju dengan hasil votingnya, jika persami akan diadakan di hutan bukan dipuncak. Selain di puncak resikonya tinggi, itu akan memakan waktu lama hanya untuk mendaki, apalagi tidak semua siswa memiliki daya tahan tubuh yang baik,"


"Jadi, kami para pembina osis telah memilih hutan Sign Post Forest sebagai tempat kita semua nanti melangsungkan persami," kata bu Sari sembari menunjukkan gambaran hutan yang dipilih untuk persami.



"Ini gambaran kecil untuk hutan yang kita jadikan tempat kemah nantinya. Selain di sini bersih, mata air juga tidak begitu jauh, mata air ini mengalir sepanjang jalan menuju air terjun, jadi kalian tidak perlu jauh- jauh hanya untuk mengambil air. Selain itu hutan ini juga menyediakan 6 kamar mandi yang biasanya digunakan oleh para wisatawan,"


"Jadi, bagaimana menurut kalian? Apa kalian cocok dengan tempatnya?" tanya bu Sari pada semua anggota.


Semua saling tatap dan mengangguk artinya mereka semua setuju.


"Kami setuju bu," jawab Al mewakili semua anggotanya.


"Baik, kini tinggal memesan beberapa peralatan yang kurang dan saya akan membagi beberapa kelompok untuk membagi tugas," kata bu Sari akan membacakan beberapa kelompok.


"Sekbid 1 kalian bertugas untuk mengumpulkan bahan pokok masak semua siswa agar saat berangkat nanti, mereka tinggal berangkat tanpa perlu membawa barang banyak. Sekbid 2 kalian bertugas untuk membuat surat perwakilan eskul PMR dan pramuka, serta setiap kelas kalian minta sukarelawan untuk ikut partisipasi persami ini, lebih banyak orang akan lebih mudah untuk membagi tugas,"


"Sekbid 3 kalian bertugas untuk memeriksa barang keperluan kemah jangan ada satu barangpun yang tertinggal. Sekbid 4 kalian edarkan surat izin orang tua untuk persami kelas 1 dan juga surat untuk pembina pramuka dan PMR," kata bu Sari menjelaskan.


"Sedangkan untuk pengurus inti, Al Luna Arka dan Dinda, tolong kalian survei tempat kemah dan akan didampingi oleh pak Budi juga pembina pramuka nanti. Kalian hanya perlu mencari tempat yang strategis setidaknya kita tidak perlu jauh- jauh dari tempat kemah, apa kalian paham?" tanya bu Sari pada semua anggota osis.


"Paham bu," jawab mereka semua serentak.


"Ibu minta kalian semua hati- hati dan jaga diri baik- baik untuk persiapan persami ini. Semangat untuk kita semua dalam persiapan kemah ini," sorak bu Sari memberi semangat anak- anaknya.


Kringgggg


Tepat sekali, rapat selesai dan bel masuk berbunyi.


Mereka langsung bergegas untuk masuk kelas.


Sedangkan Luna menidurkan kepalanya di atas meja.


Terlihat sekali ia begitu lelah dan mengantuk, ada lingkaran hitam dibawah matanya.


"Lo enggak ke kelas?" tanya Al sembari membereskan bukunya.


"Aku ngantuk banget Al," gumam Luna lirih yang sepertinya sudah terlelap karena rasa kantuk yang tidak bisa ia tahan.


Al melihat jam tangannya, pukul 7 tepat.


Sekarang waktunya pak Junaidi, tidak begitu ketat.


Al melihat ke samping, Luna sudah pulas tertidur di atas meja.


Dengan pelan Al berdiri dan melepaskan hoodie hitamnya.


Al menutupi tubuh Luna dengan hoodie hitamnya agar merasa hangat karena AC di ruangan osis sangat dingin sekali.


Seakan salah tingkah sendiri Al berdeham, melirik cctv yang berada di sudut ruangan.

__ADS_1


"Seenggaknya gue enggak ngelakuin apapun," gumam Al sembari duduk sedikit jauh dari Luna.


Daripada diam, Al membaca buku yang kemarin ia beli.


__ADS_2