Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Gimana Hasilnya?


__ADS_3

Klik


Lampu kembali menyala membuat Luna buru- buru melepaskan tangannya dari leher Al.


Al tampak berdecak kesal dan menatap arah lain agar teman- temannya tak curiga.


"Ok semua, sekarang kalian nikmati hidangannya dengan suasana pantai di malam hari.


Seketika semua langsung mencicipi hidangan manis yang ada.


"Aku kesana dulu ya?" pamit Al pada Luna.


Luna hanya mengangguk membuat Dinda yang berdiri di sampingnya harus berpura- pura tuli dan tidak melihat apapun.


"Lun tadi berangkat sama Al?" Luna nampak bingung dan mendadak linglung.


"Hmm tadi dia mampir terus kita berangkat bareng," Dinda hanya ber oh ria membuat Luna seakan bisa bernafas lega.


"Hei Lun," Luna menoleh dan terkejut saat Aretha menghampirinya.


"Hei Tha," sapa balik Luna dengan sedikit gugup.


"Din, aku bawa Luna dulu ya?" Dinda mengangguk dengan sangat berat hati.


"Ayo Lun," ajak Aretha entah kemana namun diikuti oleh Luna.


Sedangkan di satu sisi ada Dante yang terus mencari keberadaan Aqila sejak tadi.


"Tuh cewek kemana sih?" gerutunya kesal dan uring- uringan sendiri.


"Dan- Dan itu Aqila kan?" kata Arka menepuk punggung Dante.


"Mana?" tanyanya membuat Arka geram dan langsung menunjuk Aqila yang baru datang.



"Ya tuhan calon istri gue," gumam Dante membuat Arka langsung menggampar kepalanya.


"Kalau suka buruan tembak, entar diembat orang nangis," ejeknya pada Dante.


Aqila yang sedang mencari keberadaan Luna tak sengaja bertatapan dengan mata elang Dante.



"Ya tuhan dari segala banyak cowok kenapa mesti dia yang gue lihat," gerutu Aqila yang langsung pergi entah kemana agar tidak melihat wajah Dante.


"Bentar ya Ar, gue mau jemput pawang gue dulu," kata Dante yang langsung mengejar Aqila.


"Huhh dasar buaya, suka tuh bilang jangan suka kasih harapan," dumel Arka yang kesal karena ditinggal sendiri.


Sedangkan Luna dan Aretha kini sedang berdiri di bibir pantai sembari menikmati minumannya.


"Hebat ya lo, enggak diundang bisa dateng kesini," kata Aretha pelan membuat Luna menoleh sekilas lalu kembali menatap ke depan sembari tersenyum tipis.


"Aku diajak Al sama yang lainnya. Lagian El sama Dante juga dateng meski katamu enggak dikasih undangan," sindir Luna membuat Aretha mengeratkan pegangannya pada gelas winenya.


Aretha menghadap Luna menatap penampilannya dari atas hingga bawah.


"Lo tuh enggak cantik- cantik amat, tapi bisa- bisanya lo dapet Al apalagi dapet perhatian adik- adiknya," kata Aretha dengan pelan tanpa marah- marah.


Luna hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


"Jadi tahu kan, secantik dan semenarik apapun kamu, kalau dia sukanya sama orang lain, itu enggak akan mempan buat dia berpaling sama kamu," kata Luna halus tanpa membalas dengan kemarahan.


Aretha begitu geram sekali dengan perkataan Luna barusan.


Rasanya seperti disayat belati.


"Yang kau maksud orang lain itu adalah dirimu?" tanya Aretha membuat Luna terdiam.


Ia seakan merutuki perkataannya barusan.


Aretha hanya tersenyum tipis seakan mengejek Luna.


Aretha melangkah mendekati Luna.


"Kalau gue enggak bisa dapetin Al itu artinya, mau lo ataupun orang lain, juga enggak akan bisa dapetin Al," katanya dengan penuh penekanan.


Byurr


"Aretha," teriak Al marah saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kala Aretha menyiramkan winenya pada gaun Luna.


Al langsung menghampiri Luna dan menyampirkan jas hitamnya.


"Al ini bukan seperti yang kamu lihat," kata Aretha mencoba menjelaskannya.


Al merengkuh bahu Luna ke pelukannya dan Aretha melihat jelas hal itu.


"Mulai sekarang, jangan pernah menyentuh atau mencoba untuk menyakitinya, gue enggak akan segan- segan buat nyakiti lo meski lo seorang perempuan," marah Al dengan menggebu- gebu.


Luna mencoba mengajak Al untuk pergi dari sana agar Aretha tidak malu karena hal sepele ini.


"Jadi, lo lebih milih dia ketimbang gue?" tanya Aretha dengan sangat bodohnya.


Al tersenyum miring tak habis pikir dengan apa yang Aretha pikirkan.


"Kenapa? Lo enggak percaya?" tanya balik Al membuat Aretha diam.


Al meraih tengkuk Luna dan ******* lembut bibir pink rasa chery tersebut dengan sangat- sangat romantis.


Aretha meneteskan air matanya melihat Al melakukan hal itu di depan matanya.


"Gimana, lo udah percaya sekarang? Jadi, perlu lo ingat! Jangan sentuh atau mencoba menyakiti milik gue," kata Al lalu membawa pergi Luna untuk pulang.


"Arghhhhh," teriak Aretha sembari melemparkan gelasnya.


Al membukakan pintu untuk Luna lalu memutari mobilnya dan langsung melajukan mobilnya untuk mengantarnya pulang.


Di dalam mobil keadaan mendadak canggung dan awkward.


Luna yang malu dan juga takut ketika Al tadi marah- marah.


Ditambah adegan sekilas tadi yang membuat jantung hati pokok organ dalam Luna mendadak luluh lantah, semakin membuat Luna malu.

__ADS_1


"Al," panggil Luna lirih namun tidak juga digubris olehnya.


Luna tidak lagi memanggil, ia menatap keluar jendela membiarkan emosi Al reda lebih dulu.


Luna menoleh kala Al menggenggam erat tangannya tanpa berkata apapun.


Sepanjang jalan mereka berdua hanya diam dengan tangan kiri Al yang terus menggenggam tangan Luna.


"Kamu mau makan apa?" tanya Al setelah sedari tadi diam.


"Enggak perlu langsung pulang aja," kata Luna yang memang dia sudah lelah.


Al melepas genggamannya lalu memesan go food untuk memesan makanan agar Luna bisa makan.


"Kamu pesan buat siapa?" tanya Luna agar tidak mubazir makanannya.


"Buat kamu," jawabnya singkat setelah memesan 10 menu tanpa berpikir ataupun melihat harga.


"Apa 1 juta?" pekik Luna kaget kala Al mentransfer biayanya.


"Kamu buat apa pesen sebanyak ini?" Al menatap Luna dan tersenyum lebar.


"Pesta," jawabnya membuat Luna mengerutkan dahinya.


Sesampainya di depan rumah Luna, Luna mengerutkan keningnya kala melihat dua mobil sport warna hitam dan 3 motor kurir.


Luna turun dari mobil dan mendadak linglung karena semua ini.


"Lunaaaaa," teriak Aqila Dante dan El ehh tak lupa juga tukang kurir yang ikut berteriak sembari melambaikan tangannya.


Luna tertawa pelan melihat hal sesederhana itu, ia menoleh menatap Al.


"Tunggu apalagi, ayo pesta," kata Al sembari menggandeng Luna menaiki tangga.


"Kalian kapan sampai?" tanya Luna pada mereka bertiga.


"Udah jangan banyak tanya, gue laper," kata Aqila yang langsung menarik Luna untuk duduk di balkon di mana sudah mereka siapkan dengan berbagai menu makanan yang telah Al pesan dengan beralaskan tikar.


"Den Al makasih ya malam- malam gini udah order sebanyak ini," ucap bapak kurir tersebut.


"Iya pak sama- sama," jawab Al ramah.


"Bapak enggak mau ikut kita pesta?" bapak kurir tersebut menggelengkan kepalanya.


"Sebelumnya terima kasih den, tapi kita mau pulang untuk bertemu sama anak istri kita," Dante hanya mengangguk paham.


"Kalau begitu cepatlah pulang pak, mereka pasti udah nunggu," kata Al membuat ketiga bapak kurir itu langsung beranjak pulang.


"Kayaknya di sini yang bakal jadi obat nyamuk, cuma gue deh," kata El yang hendak pergi.


"Koko mau kemana? Ayo pesta bareng," kata Dante menahan lengan kokonya.


"Lo yakin gue enggak bakal jadi obat nyamuk?" Al dan Dante serentak mengangguk bersamaan.


Dan bergabunglah El bersama mereka untuk makan bersama yang mereka sebut pesta.


Makan- makan makan, sampai tiba saatnya El dicuekkan, mendadak jadi orang asing, merasa sendirian atau lebih tepatnya jadi obat nyamuk mereka berdua.


"Ya tuhan gini amat nasib gue enggak punya pasangan, sampai- sampai nyamuk aja enggak mau deketin," gumamnya lirih dengan tangan yang kembali meraih pizzanya.


Keesokan paginya di apartemen Damar sedang merapikan penampilannya.


Ya, hari ini ia masuk ke sekolah karena ada Ujian Nasional jadi bu Jessy memperbolehkan mereka untuk mengikutinya di sekolah bukan lagi di rumah.


Selesai bersiap Damar memeriksa ponselnya lalu mengirimkan pesan pada calon istrinya.


Setelah selesai Damar langsung berangkat ke sekolah karena Leyna diantar oleh sopirnya.


Sedangkan Leyna yang baru saja tiba di sekolah berniat untuk menunggu Damar di depan gerbang sekolah.


Tak lama setelah mobilnya pergi beberapa detik kemudian datanglah mobil hitam dan berhenti tepat di depannya.


"Ayo ikut kita," katanya sembari menyeret Leyna ke dalam mobil.


"Enggak mau tolongggggg Damaarrr tolonggg tolongg," teriak Leyna sekeras mungkin namun para preman itu langsung membius Leyna dan membawanya pergi.


Mereka lalu langsung melajukan mobilnya sebelum seseorang mengetahuinya.


Mungkin 5 menit setelahnya Damar baru sampai di sekolah.


Setelah memarkirkan motornya tepat saat itu juga bel masuk berbunyi.


Damar pikir Leyna sudah berada di kelas jadi ia langsung masuk ke dalam sekolah untuk segera mengikuti Ujian Nasionalnya.


Sedangkan di kelas Al, mereka sedang duduk manis untuk menunggu pengawas juga waktu ujian dimulai.


Dan mereka terlihat begitu tertib dan disiplin tanpa ada yang mengacau, karena biang Dantenya lagi insaf untuk sementara waktu ini.


Al sejak tadi hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Entah apa yang sedang ia pikirkan yang jelas itu benar- benar mengganggu dirinya.


Tatapan Al tak sengaja melihat Luna yang terus saja menunduk dan diam.


Ia berinisiatif untuk menghampirinya.


"La pindah bentar dong," kata Al pada Aqila.


Aqila hanya mengangguk lalu beralih untuk duduk di bangku Al.


"Sayang, duduk sini," kata Dante sembari menepuk sebelah bangkunya yang jelas- jelas di sana ada Willy.


"Lo enggak liat gue lagi duduk?" tanya Willy geram.


"Ya seenggaknya lo peka dikit napa temen lo mau pdkt," tekan Dante lirih.


"Enggak sudi gue," ketus Aqila yang berakhir duduk bersama El.


"Bilang dari awal tahu gitu kan gue pindah," kata Willy yang membuat Dante menahan emosinya.


"Telat," katanya marah sembari memalingkan muka kesal.


Luna menatap Al yang kini sedang menopang dagunya sembari menatap Luna.

__ADS_1


"Apa?" tanya Luna lirih membuat Al menggelengkan kepalanya.


Al melihat kanan kirinya, depan belakangnya, teman- temannya sedang sibuk belajar.


Al meraih tangan Luna dan membawanya ke bawah meja, ia menggenggam erat tangan Luna tersebut.


"Al lepasin enggak?" kata Luna yang memberontak untuk melepaskan tangan Al.


Al hanya tersenyum melihat wajah panik Luna yang takut ketahuan teman- temannya.


"Kamu cantik banget hari ini," pujinya membuat Luna melotot tak percaya saat beberapa dari mereka menoleh karena suara Al.


"Pergi enggak?" ancamnya pada Al sembari memelototinya.


"Cium," rengek Al dengan suara sangat pelan dan wajah yang begitu menggemaskan.


"Hekmmm, tenggorokan gue tiba- tiba kering,"


"Ahh kenapa gue gerah,"


"Mendadak kuping hati gue panas,"


"Organ dalem gue kayaknya pindah tempat semua, jantung gue pindah ke perut,"


"Tiba- tiba gue tuli,"


Kira- kira begitulah celetukan para teman cewek cowok mereka setelah mendengar ucapan Al barusan.


Luna langsung menutupi wajahnya karena merasa malu mendengar dumelan teman- temannya yang entah itu untuk dirinya atau memang mereka sedang mengomel karena ujian akan dimulai.


"Semangat ya ujiannya, biar bisa lulus bareng," bisik Al pelan lalu kembali pindah ke bangkunya.


"Astagaaaaa dia kira yang sekolah cuma mereka berdua apa? Kita juga mau lulus dodol, tapi sayang enggak ada yang ngasih semangat kayak Luna," celetuk salah satu teman cewek yang duduk di depan Luna.


Hingga tiba saatnya, ujian nasional dimulai dengan sangat ketat dan dijaga oleh tiga pengawas tanpa celah sedikitpun.


Rasanya mereka kini sedang berada di dalam neraka hanya dengan melihat kumis panjang dan tebal para pengawas juga penggaris panjangnya.


Apalagi pak Kimmy yang berjaga selalu memegangi gunting guna untuk memotong rambut mereka yang ketahuan mencontek.


Tepat 2 jam lamanya ujian nasional untuk hari ini telah selesai.


Dan mereka akhirnya bisa bernafas lega dengan segala unek- unek yang ada.


"Akhirnyaaaaa selesai juga," teriak Dante yang langsung menyandarkan punggungnya di kursi.


"Sedari tadi gue nahan kepala biar enggak kebiasaan tengok kanan kiri, akhirnya kepala gue kaku gini," gerutu Arka yang kepalanya kesemutan.


Sedangkan Al hanya tersenyum dan bernafas lega sembari melihat tambatan hatinya yang sedang mengemas bukunya.


Al hendak menghampiri Luna untuk mengajaknya pulang namun terlambat kala Luna sudah keluar kelas duluan.


"La Luna mau kemana? Kenapa buru- buru?" tanya Al pada Aqila.


Aqila sontak menoleh dengan wajah lesu dan lemas juga sedikit pucat.


"Lo lupa, hari ini pengumuman beasiswa kedokteran Standford, setelah kemarin pengumuman tes masuk akmil," kata Aqila membuat Al seketika langsung berlari menyusul Luna.


Aqila kembali merebahkan kepalanya karena ia juga ketar- ketir akan hasil pengumuman Luna.


Memang sih, Luna dan Aqila sama- sama mendaftar di Universitas Standford di jurusan kedokteran.


Namun, sayangnya Luna masuk jalur prestasi juga beasiswa sedangkan Aqila masuk jalur tes nilai.


Aqila takut jika dirinya ditinggal oleh Luna sendiri di sini dan tidak lolos masuk di Universitas impiannya itu.


Bagaimana impiannya untuk membahagiakan kedua orang tuanya juga meraih impiannya bersama Luna?


"Hey," Aqila mendongak dan menoleh ke samping di mana Dante tersenyum lebar.


"Lo mau enggak ngajak gue keluar, gue pengin jalan- jalan," kata Aqila pelan membuat Dante menatap kedua mata cantik gadis yang akhir- akhir ini memenuhi pikirannya.


Sedangkan di tempat lain, Al sedang bersembunyi di balik dinding dan mengawasi pintu ruang BK.


Ceklek


Terlihat Luna keluar dari ruang BK dengan wajah yang tak bisa Al deskripsikan.


Luna kembali menatap kertas di tangannya dengan lekat.


Al menghembuskan nafasnya dan memalingkan muka berharap ia tak meneteskan air mata kala mendengar hasilnya nanti.


"Hey, gimana hasilnya?" Luna mendongak menatap wajah Al dengan tatapan sendu takut ragu juga bimbang.


Terlihat Luna sulit untuk mengatakan kebenarannya.


Al tersenyum sembari mengusap- usap puncak kepala Luna lalu dengan sedikit merunduk Al menatap wajah Luna.


"Cantik, gimana hasilnya?" tanya Al sekali lagi membuat Luna tersadar dari lamunannya.


Luna mencoba untuk tetap tenang dan santai.


"Aku lolos,"


DEG


Kau tahu rasanya ditimpa durian besar tanpa permisi.


Ya rasanya begitu perih.


Al secepat mungkin merubah ekspresinya dan tersenyum lebar.


Al merentangkan kedua tangannya tanda ia ingin dipeluk.


Luna memeluk Al dengan setengah hati takut ketahuan teman- temannya.


"Selamat ya cantik kamu lolos," ucap Al membuat Luna bukannya senang malah merasa bersalah.


Sedangkan di balik adegan manis itu semua, ada teman- teman sekelas Al dan Luna yang sedang mengintip.


"Ya ampun kapal gue baru aja mau berlayar udah??? ldr,"


"Kenapa gue nyesek banget denger obrolan mereka,"

__ADS_1


"Kebayang enggak sih kalau mereka sampai beneran ldr? Secara Al udah sebucin itu sama Luna,"


"Gue cuma berharap hal yang terbaik buat mereka berdua," ketiganya langsung mengangguk lalu pergi setelah selesai menonton adegane romantis barusan.


__ADS_2