Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2- Jebakan Bianca


__ADS_3

Malamnya Bianca dan Adi baru saja sampai di rumah setelah tadi bertemu dengan Antorio dan makan malam di luar.


"Sayang sepertinya aku harus pergi keluar, minggu depan aku ada perjalanan bisnis, jadi aku harus pergi ke kantor untuk menyiapkan surat kontrak, kamu enggak papa kan kutinggal sendiri di rumah?" tanyanya pada Bianca.


"Iya enggak papa, tapi buruan pulang ya, jangan lembur apalagi tidur di kantor," ujarnya dengan manja membuat Adi tersenyum dan menarik pinggang ramping Bianca.


"Aku tidak salah memilih istri sempurna sepertimu," ujarnya membuat Bianca tersenyum dan kembali merapikan dasi Adi.


Adi langsung memangut bibir manis Bianca dengan sedikit liar.


Bangsat, udah tua juga main nyosor aja, batin Bianca dalam hati.


Bianca mendorong dada bidang Adi untuk menghentikan ciumannya.


"Cepat berangkat sebelum terlambat, aku menunggumu di rumah," pesannya membuat Adi hanya mengangguk dan mengecup singkat kening Bianca sebelum ia pergi.


Setelah Adi benar-benar pergi, Bianca langsung naik ke lantai atas untuk membersihkan diri sebelum ia pergi ke apartemen Antorio.


Tak butuh waktu lama untuk Bianca dandan.


Kini ia sudah bersih dan terlihat segar setelah mandi, dan penampilannya juga baru di mana ia mengenakan dress dengan belahan dada yang lumayan terbuka begitu juga punggungnya.


Dengan cepat Bianca pergi dengan mobil yang ada di dalam garasi.


Bianca tampak tak sabar untuk bertemu dengan Antorio.


Tak hanya itu ia juga sudah tak sabar untuk melihat bagaimana raut wajah Damar kala melihat papanya nanti.


Tak butuh waktu lama untuk Bianca sampai di apartemen Antorio.


Dengan cepat ia segera masuk sesuai dengan pesan yang tadi Antorio kirimkan.


Bianca menekan belnya membuat Antorio yang baru saja mandi dan tengah mengeringkan rambutnya kini berjalan menuju ke pintu.


Ceklek


Bianca tersenyum lebar dan langsung mendorong Antorio ke dalam.


"Kamu, sedang apa di sini?" tanya Antorio membuat Bianca langsung memeluk pinggang Antorio yang mana kini ia hanya mengenakan handuk sebatas perut.


"Bercinta denganmu, apalagi?" tanya Bianca sembari menggiring Antorio ke ranjang.


Brugh


Bianca mendorong Antorio untuk duduk di tepi ranjang.


Lalu Bianca meletakkan tasnya di sofa, namun dibalik itu ia tengah melakukan hal picik untuk mengabadikan momen penting malam ini.


Ia sengaja meletakkan ponselnya di balik tasnya untuk merekam semua aksinya.


"Bagaimana jika Adi tahu? Kau akan habis olehnya," ujar Antorio membuat Bianca berbalik dan tersenyum ke arahnya.


"Tenang saja, ia sedang sibuk di kantor," jawabnya sembari menyugar rambut Antorio yang basah tersebut ke belakang.


Dengan berani Bianca duduk di atas paha Antorio dan menangkup wajah tampan itu dengan senyuman yang manis.


"Kita harus melanjutkan aksi kita di kamar mandi tadi, kau belum terpuaskan bukan?" tanya Bianca yang kini mencoba merayu dan menggoda Antorio.


"Kau yang memulai, kau juga yang menginginkannya, jadi jangan meminta pertanggung jawaban dariku," peringati Antorio membuat Bianca tersenyum tipis dan mengecup singkat bibir Antorio.


"Tenang saja, kita akan melakukannya dengan aman, kita bisa memakai pengaman," ujar Bianca mencoba membujuk Antorio.


"Kau sungguh pandai dalam memenangkan hati pria, tapi aku sangat penasaran denganmu di atas ranjang," ujar Antorio membuat Bianca tersenyum dan langsung ******* bibir seksi Antorio.


Antorio menekan pinggang ramping Bianca dan ciuman mereka benar-benar begitu liar dan dalam.


Bahkan kini Antorio mulai berani menjelajahi leher jenjang Bianca di mana sang empu hanya mendongakkan kepalanya ke atas dan terus bersuara.


Antorio yang merasa miliknya sudah sesak karena ditimpa oleh pantat sintal Bianca sontak langsung merobek dress transparan tersebut hanya dengan sekali hentakan.


"Kau juga menikmatinya bukan?" tanya Bianca tatkala Antorio menatap liar benda kenyalnya.

__ADS_1


Antorio langsung meremas benda kenyal yang masih dilindungi oleh kacamata warna hitam tersebut dengan begitu kuatnya hingga membuat Bianca melenguh sembari meremas rambut Antorio.


Dengan sedikit kasar Antorio membanting tubuh Bianca ke atas ranjang hingga ia terlentang.


Antorio menarik handuk yang melindungi bagian perut ke bawahnya lalu membuangnya ke lantai.


Dengan cepat Antorio naik ke atas tubuh Bianca yang sudah hampir telanjang.


Antorio melepas kacamata hitam itu dari tempatnya agar ia bisa dengan leluasa meremas squisy Bianca.


"Akhh," desah Bianca tatkala Antorio meremas dan menghisap kuat benda kenyalnya.


Antorio terlihat begitu kehausan hingga ia menyesap kuat benda kenyal tersebut hingga memerah.


Tangan kekar yang sejak tadi sibuk meremas kini beralih ke bawah untuk memberikan pemanasan pada milik Bianca.


"Enghhmpp," erang Bianca tatkala jemari Antorio mengobrak abrik area sensitifnya.


Tak ingin menunggu lama Antorio langsung mengarahkan batang miliknya ke arah senggama Bianca.


"Aku akan melakukannya, apa kamu siap?" tanya Antorio yang hanya diangguki oleh Bianca dengan mata sayunya.


"Akhhh," pekik Bianca tatkala lubang tebalnya kembali dimasuki oleh benda besar nan keras itu dengan sekali hentakan.


Terakhir kali ia melakukannya bersama dengan Eros dan saat ini bersama dengan Antorio.


Namun tujuan awalnya ialah ia bisa melakukannya bersama dengan Damar.


Ya itulah tujuan Bianca.


Antorio terus menghentakkan pinggulnya begitu keras ke dalam sana membuat Bianca meremas kuat sprei putih itu dengan mata yang terpejam dan mulut yang terus bersuara.


Bianca akui jika kekuatan Antorio dalam bercinta sungguh memabukkan dan memuaskan.


Rasanya bagai melambung tinggi tatkala cairan hangat keluar di dalam senggamanya.


Dan Bianca tak lagi peduli ia hamil nanti, baginya ia akan melakukan segalanya demi menghancurkan Leyna.


Sekalipun ia harus mengandung dan menggugurkannya, Bianca akan melakukanya.


"Akhhh hmmppl enghh," desah Bianca tak tertahankan kala Antorio menggila dalam menghentakkan pinggulnya.


Antorio tampak kalap hingga ia tak memberikan jeda dalam permainannya.


Ia mengangkat kedua kaki Bianca ke atas pundaknya lalu kembali menghujamnya hingga suara derit ranjangnya terdengar begitu keras.


Selang 10 menit kini Antorio tepar di atas tubuh Bianca di mana penyatuannya tak lepas di bawah sana.


Begitu juga dengan Bianca yang kini memeluk erat tubuh Antorio dan memejamkan matanya karena merasa lelah setelah bergelut di atas ranjang dalam waktu yang lama dan panjang.


Kini tubuh Bianca terasa remuk dan hancur berkeping keping pasalnya Antorio menghajarnya habis-habisan.


Tapi inilah yang Bianca inginkan, mendekati Antorio untuk bisa mendapatkan Damar dan menghancurkan Leyna.


***


Sedangkan di tempat lain ada Leyna yang sudah hampir 1 jaman ia menghajar samsak di depannya hingga tangannya memerah berdarah.


Dengan mata yang memerah dan emosi yang memuncak, Leyna terus membayangkan jika samsak di depannya ialah Bianca.


Bayangan Bianca yang masuk ke dalam rumahnya, duduk di meja rias mamanya dan menggandeng tangan papanya membuat Leyna tak bisa berhenti untuk tidak memukul samsak di depannya.


Ia bahkan tak menghiraukan tangannya yang terluka.


Ia hanya ingin melampiaskan amarahnya saat ini.


Leyna terhenti tatkala samsak di depannya berhenti bergoyang.


Terlihat Damar memegangi samsaknya dengan sorot mata yang tajam.


"Sudah puas sekarang?" tanya Damar dengan suara yang terdengar dingin.

__ADS_1


Leyna langsung meninggalkan Damar untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


Damar berjalan menghampiri Leyna yang tengah minum.


Dengan manisnya Damar menarik pelan tangan Leyna untuk duduk di kursi tepi ring.


Damar lalu berjongkok di depan Leyna dan meraih tangan yang sudah berdarah tersebut.


"Bagaimana kamu bisa tahu jika aku di sini?" tanya Leyna untuk mengalihkan rasa gugupnya saat ini.


Damar mendongak sekilas menatap wajah Leyna yang sedikit berkeringat lalu fokus mengobati punggung tangan yang berdarah tersebut.


"Aku tahu kemanapun kamu pergi, jadi jangan coba-coba untuk pergi dari hidupku, kamu paham?" ujarnya dengan begitu bangganya.


Leyna berdecih mendengar ucapan Damar.


"Apa kau cenayang?" ketus Leyna kesal membuat Damar tersenyum tipis sembari membalut tangan Leyna dengan perban.


"Bukan, lebih tepatnya suami kamu," jawabnya dengan enteng yang mana hal itu membuat jantung Leyna hampir lepas dari tempatnya.


Leyna segera menarik tangannya karena hatinya berdegub kencang dan tangannya sedikit terasa gemetar kala bersentuhan dengan Damar.


Damar tersenyum sembari melihat Leyna.


"Gugup ya? Santai aja kali, biar nanti pas nikah terbiasa dengan rayuanku, apalagi kita bakal seatap kan?" goda Damar membuat Leyna membulatkan kedua matanya dan langsung menendang kaki Damar hingga ia terduduk di lantai.


"Siapa juga yang mau nikah sama kamu?" ketusnya membuat Damar lagi-lagi tersenyum dan langsung beranjak dari lantai.


Damar sedikit merunduk untuk bisa mensejajarkan wajahnya dengan wajah Leyna.


"Padahal aku berharap banget kamu tersipu malu dengan rayuanku, tapi tetap saja, sigengsi selalu malu untuk mengungkapkannya," ledeknya membuat Leyna tersenyum tipis.


Damar yang melihat Leyna tersenyum kini ikut tersenyum.


"Jangan sakiti dirimu lagi ya? Aku akan tetap di sini bersamamu, kamu harus sehat dan tetap hidup bahagia, kamu paham?" ujar Damar berpesan pada Leyna.


Leyna yang mendengar hal itu kini tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


Damar lalu berdiri tegak dan menyodorkan tangannya pada Leyna.


Leyna menatap tangan kekar tersebut dengan sedikit ragu.


Namun akhirnya ia meraih tangan itu dan digenggam erat oleh Damar.


"Ayo kita pulang, aku sudah memasak untukmu," ujarnya membuat Leyna tersenyum tipis dan mengangguk.


Ting


Damar berhenti sejenak, tanpa melepas genggaman tangannya pada tangan Leyna, Damar merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.


Bianca.


Damar menatap sekilas Leyna seakan tatapan itu menyiratkan sebuah permohonan izin.


Leyna hanya mengangguk membuat Damar langsung membuka pesan yang Bianca kirimkan.


Tak mau melihat hal itu, Leyna memalingkan mukanya membuat Damar diam-diam tersenyum dan dengan jahilnya ia merangkul bahu Leyna dengan ponsel yang ia hadapkan di wajah Leyna.


"Biar calon istriku enggak cemburu," gumamnya sembari membuka password ponselnya.


Leyna yang mendapati hal itu kini menelan salivanya dan sesekali melirik ke arah ponsel Damar.


Damar yang melihat hal itu kini tersenyum tipis dan membuka pesan dari Bianca.


Ternyata sebuah Vidio.


Damar langsung memutarnya dan mereka langsung disuguhi dengan adegan ranjang.


Dengan cepat Damar melepaskan rangkulannya di bahu Leyna dan melihat rekaman tersebut.


"Papa," gumamnya tak percaya membuat Leyna menatap Damar dari samping dengan sendu.

__ADS_1


Dengan cepat Damar berlari dan meninggalkan Leyna sendiri di sana.


Sepertinya Damar terlihat begitu marah sekali membuat Leyna langsung menyusulnya.


__ADS_2