
Saat bel berbunyi, semua sontak langsung keluar kelas untuk berganti baju olahraga.
Al melihat Luna sedikit terburu, seperti sedang menghindarinya.
"Ko awas kepalanya dilindungi," kata Dante pada El yang sedang berganti baju olahraga.
"Iya nanti koko beli helm aja," jawab El setengah terkikik begitu juga Dante.
Al yang sudah selesai berganti baju langsung menoleh menatap kedua adiknya yang tengil.
"Kenapa kepalanya? Mau dibeliin helm juga?" tanyanya pada Dante dan El.
"Hehe enggak papa kok ko kepalanya, cuma butuh pelindung aja kayak Luna," kata Dante dengan nyengir.
Tak lama perempuan sudah kembali dari berganti baju olahraga.
Pritttt
Suara peluit pak Kimmy membuat semua siswa bergegas berlarian ke lapangan sebelum kena hukuman.
"Loh ko, celana Dante mana?" teriak Dante saat El dan Al keluar kelas.
"La tadi kamu taruh mana?" tanya El yang masih berdiri di ambang pintu.
"La masak Dante cuma bawa baju enggak bawa celana," katanya sembari mencari di dalam tas juga di bawah meja.
"Gimana sih kamu, pak Kimmy udah siap- siap noh," teriak El yang juga takut kena hukuman.
Pritttt
"El ayo ke lapangan," teriak pak Kimmy dari lapangan.
"Koko duluan ya Dan," teriak El yang langsung berlari ke lapangan.
"Lah Dante sendirian dong, aduhh kemana sihhh celananya," Dante mengeluarkan semua buku tulisnya di tas.
Dan tidak ada celananya.
Takkk
"Astagaaaa," teriak Dante terkejut saat pak Kimmy memukul meja dengan penggaris panjang.
"Dante lagi ngapain kamu, temennya pada baris juga malah di kelas," kata pak Kimmy sembari berkacak pinggang dan memilin kumisnya.
"Aduh bapak jangan marah- marah mulu, buruan bantu saya cari celana nih," kata Dante sembari melihat - lihat di bawah meja juga.
"Lah gimana bisa hilang?" tanya pak Kimmy yang langsung ikut mencarinya.
"Kalau saya tahu, saya enggak bakal nyari gini pak," kata Dante menahan kesal.
Setelah beberapa menit mereka mencari hingga siswa yang lain sudah selesai pemanasan, celana Dante belum juga ketemu.
"Bentar pak saya capek," kata Dante sembari duduk di lantai.
"Kamu pikir bapak enggak capek," katanya sembari duduk di samping Dante dan mengibaskan tangannya di depan muka.
Karena badan pak Kimmy gemuk, hal itu membuat beliau mudah capek.
Sebenarnya guru olahraganya bukan pak Kimmy, beliau hanya sebagai pengganti guru olahraga yang pindah beberapa bulan lalu.
"Coba Dan, kamu inget- inget lagi, kira- kira di mana kamu naruh celanannya," kata pak Kimmy membuat Dante langsung berdiri di depan pak Kimmy.
"Tadi kan ko El ganti, terus Dante ikutan. Kata ko Al disuruh pakai baju olahraganya dari rumah aja, terus dilapisi sama seragam abu- abu,"
"Nah Dante lepas tuh seragam abu- abunya, terus pas Dante mau cari celana olahraganya malah enggak ada," jelas Dante membuat pak Kimmy berpikir.
Ia menatap Dante dari atas hingga bawah, ia masih mengenakan celana abu- abunya bukan celana olahraga.
"Coba kamu buka celana abu- abunya," perintah pak Kimmy pada Dante.
"Ya ampun pak, saya masih suci," tanya Dante yang langsung mendapatkan pelototan dari pak Kimmy.
Dengan terpaksa, Dante melepaskan celana abu- abunya.
"Ya ampun pak Kimmy, celana saya ketemu," teriak Dante ketika ia menyadari jika sudah memakai celana olahraga.
Tak
"Astagaaa," teriak Dante terkejut saat pak Kimmy memukul meja dengan penggaris.
"Kamu ini, celana dipakai dicari, buat pusing orang aja. Buruan ke lapangan," kata pak Kimmy membuat Dante langsung berlari menuju lapangan.
"Dante- Dante, bisa- bisanya saya seorang guru disuruh bantu nyari celana, ada- ada aja kamu ini," gumamnya sembari keluar kelas.
"Dan, ketemu di mana celananya?" tanya El yang baris paling depan.
"Hehe Dante pakai ternyata," kata Dante sembari nyengir membuat yang lainnya tertawa.
"Dasar tolol, celana dipakai dicari," celetuk Aqila membuat Dante langsung kesal.
"Apaan sih mak lampir satu ini, nyaut aja," ketusnya kesal.
"Udah selesai pemanasannya?" tanya pak Kimmy sembari menatap satu persatu muridnya.
"Sudah," jawab mereka serempak kecuali Dante.
"Dante, kesini kamu," kata pak Kimmy membuat Dante maju ke depan.
"Kenapa pak?" tanya Dante sangat santai.
"Karena kamu tidak ikutan pemanasan, kamu bapak hukum. Ambil bola basket di gudang, buruan," perintah pak Kimmy.
__ADS_1
"Sekarang pak?" tanya Dante membuat temannya menahan tawa.
"Jangan tahun depan aja. Ya sekarang," teriak pak Kimmy membuat Dante langsung berlari menuju gudang.
Seketika tawa mereka meledak melihat sikap Dante.
"Kenapa tertawa," semua langsung terdiam dan menunduk.
Pak Kimmy langsung berjalan menatap satu- persatu untuk melakukan pemeriksaan sebelum olahraga dimulai.
"Aqila kenapa kamu pakai sepatu fantofel?" tanya pak Kimmy saat melihat Aqila satu- satunya yang memakai sepatu fantofel.
"Hehe maaf pak, sepatu saya ketinggalan," katanya sembari nyengir membuat Luna yang berdiri di sampingnya menahan tawa.
Bagi Luna, Aqila hanya takut pada pak Kimmy, dan itu hal paling lucu menurut Luna.
"Kamu ini, buruan bantu Dante ambil bola basket," katanya pada Aqila.
"Ya ampun pak, enggak ada hukuman selain sama Dante apa?" tawarnya membuat pak Kimmy tersenyum.
"Ada. Bersihin toilet mau?" tanya pak Kimmy membuat Aqila langsung berangkat menyusul Dante.
"Semuanya duduk dulu, sembari menunggu Dante sama Aqila mengambil bola," perintahnya pada semua siswa.
Semua langsung duduk di tengah lapangan.
Al melirik sekilas Luna, terlihat ia hanya diam saja.
Sedangkan di gudang, Dante dan Aqila sedang berantem untuk mengambil bola basketnya.
"Ayolah Dan, lo yang naik, gue enggak sampai nih," kata Aqila saat ia tidak bisa mengambil bola basket yang berada di atas almari.
"Makanya cepetan tinggi, nih naik ke kursi," serunya membuat Aqila berdecak kesal.
"Huhh ngeselin banget sih lo," ketusnya lalu naik juga ke atas kursi untuk mengambil bola basketnya.
Aqila dengan sedikit kesusahan meraih bola itu.
"Dante awas," teriak Aqila saat ada dus yang akan menjatuhi dirinya.
Aqila mencoba melindungi Dante yang menjaganya di bawah agar tidak terkena timpaan dus.
*Bugh
Cup*
Bibir mereka bertemu, keduanya terdiam cukup lama.
Dante menatap mata Aqila yang sangat cantik saat ditatap dari dekat.
"Ihhh Danteeeee," teriak Aqila yang langsung bangun dari atas tubuh Dante.
Dante hanya nyengir sembari bangun dan menatap wajah kesal Aqila.
"Lah kan lo yang jatuh dari atas, bukan gue yang cium lo," kata Dante membuat Aqila tambah kesal.
"Hihhh tetep aja lo ngeselin. Bawa aja tuh bolanya sendiri," ketus Aqila yang langsung keluar dari gudang meninggalkan Dante.
Dante hanya tertawa pelan sembari berdiri.
"Manis juga bibirnya," gumam Dante pelan sembari memegangi bibirnya sekilas lalu mengangkat keranjang bola basket.
.
.
.
Pukul 9 olahraga telah berakhir dan kini mereka sibuk untuk berganti baju.
Seperti biasa, yang perempuan berganti di kamar mandi dan yang laki- laki berganti di kelas.
Al sudah selesai berganti, ia melipat baju olahraganya sembari memikirkan tentang celetukan beberapa temannya tadi yang menggoda Luna.
Memang Luna hanya diam saja saat semua teman kelas menggodanya.
Tapi Al rasa mereka sangat berlebihan, karena membuat Luna merasa tak nyaman.
"Ayo Lun," teriak Aqila membuat Al menoleh dan menatap ke arah ambang pintu.
"La, aku nitip bajuku, aku mau ke toilet," kata Luna memberikan baju olahraganya lalu kembali ke toilet.
"Luna kenapa?" tanya Calista saat baru saja masuk kelas.
"Enggak tahu, ke kamar mandi katanya," jawab Aqila sembari berjalan menuju bangkunya.
Sekitar 10 menit lamanya, Luna tak kunjung kembali hingga pelajaran dimulai.
Al yang merasa khawatir langsung izin ke bu Sari untuk ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Al tidak menemukan keberadaan Luna.
Al langsung berpikir jika Luna istirahat di uks, ia langsung pergi ke sana.
Ceklek
Al membuka pintu uks lalu membuka tirai yang tergerai.
Srekk
Dan benar saja dong, Luna lagi tidur untuk istirahat.
__ADS_1
Dengan sangat pelan, Al menepuk bahu Luna.
"Lun," panggilnya pelan agar Luna bangun.
Dengan perlahan Luna bangun dan terkejut saat di depannya ia melihat Al.
"Al, ngapain kamu di sini?" tanya Luna yang langsung duduk dan merapikan penampilannya.
Al menghembuskan napas lega lalu duduk di samping brankar.
"Gue kira lo kenapa- napa, enggak tahunya tidur di sini," kata Al membuat Luna mengangkat alisnya.
"Kepalaku pusing dan perutku juga sakit, karena itu aku berniat istirahat sebentar di sini," kata Luna membuat Al menatapnya kesal.
"Kan lo bisa bilang sama gue atau Aqila kalau lo sakit, jadi gue enggak khawatir," marahnya pada Luna.
Luna merasa aneh dengan Al yang marah padanya.
"Yaudah kenapa kamu marah- marah," Al langsung memalingkan mukanya.
"Yaudah lo tidur aja, gue mau balik ke kelas," kata Al yang beranjak dari duduknya.
"Al," Luna menahan lengan Al, Al menatap tangan Luna seketika Luna langsung melepaskannya.
"Apa?" tanyanya pelan seakan sedang bertanya pada kekasihnya.
"Nanti aku boleh minta izin enggak, hari ini libur dulu ya belajar kelompoknya, kepalaku sakit banget soalnya," gumam Luna sembari menunduk.
Al menatap Luna lalu beralih menatap lainnya.
"Hmm," jawab Al lalu keluar dari uks membuat Luna menyumpah serapahi Al yang begitu dingin sikapnya.
"Dasar manusia kutub, ganteng sih tapi aneh. Tadi marah- marah enggak jelas giliran sekarang dimintai bantuan cuek bebek gitu aja," dumel Luna saat Al keluar dari uks.
Al yang masih berdiri di depan pintu uks hanya bisa nyengir lebar mendengar gerutuan Luna.
Sayang sekali, omelan sekaligus pujian dari Luna tidak ia rekam di ponselnya.
Al kembali ke kelas karena sebentar lagi bel pulang juga akan berbunyi.
Dan benar saja baru ia duduk di bangkunya sekitar 15 menit bel pulang berbunyi.
Dengan segera ia mengemas semua buku- bukunya.
"Koko hari ini belajar kelompok sama Willy lagi?" tanya El saat melihat Al buru- buru.
"Enggak Luna lagi sakit," jawabnya sembari melirik Aqila yang membawakan tasnya Luna ke uks.
"Jadi, Dante bisa dong pulang sama koko," sorak Dante senang.
"Enggak," jawab Al tegas dan singkat membuat Dante langsung merubah ekspresi wajahnya.
"Al," panggil Willy yang masuk ke dalam kelas dan menghampiri Al.
"Hari ini libur dulu aja ya, Luna lagi sakit," kata Al yang hendak pergi namun Willy menahannya.
"Loh ya enggak bisa gitu dong, gue kan udah bayar Luna sesuai permintaan lo, enak banget libur apalagi minggu depan udah ujian harusnya ia harus bisa mengutamakannya," Al tersulut emosinya mendengar ucapan Willy.
Dengan emosi Al membuang tasnya dan meraih kerah Willy.
"Gue bakal balikin uang lo kalau perlu gue tambahin, yang butuh Luna lo jadi kesehatan dia hal yang utama saat ini, paham?" kata Al sembari mendorong Willy lalu Al keluar kelas menuju uks.
"Wihh koko keren ya," puji Dante yang diangguki oleh El.
"Makanya, jangan macem- macem sama pawangnya," kata El mengingatkan pada Willy.
"Entar diterkam baru rasa lo," kata Dante sembari bergaya menerkam Willy.
.
.
.
Sesampainya di rumah Willy melihat ada mobil papanya.
"Papa pulang?" gumamnya pelan lalu masuk ke dalam rumah.
Ceklek
"Papa," sapa Willy saat melihat papanya duduk di ruang tamu.
"Sini kamu," katanya dengan suara bariton.
"Ada apa pa?" tanya Willy sembari duduk di hadapan papanya.
Bugh
"Apa- apaan itu, kenapa nilai kamu awal masuk sangat jelek dan begitu rendah?" teriak Delion sembari melemparkan lembaran kertas yang ia temukan di kamar Willy.
"Kamu bilang kalau pindah sekolah ke sini bakal memperbaiki nilai kamu, tapi lihat apa yang terjadi nilai kamu lebih jeblok dari biasanya saat kamu sekolah di London," marah Delion saat mengetahui jika nilai Willy begitu rendah.
"Maafin Willy pa, tapi akhir- akhir ini Willy kerja kelompok kok pa sama temen sekelas yang juara berturut- turut, pasti nanti nilai Willy bakal lebih baik lagi," kata Willy sembari menunduk merasa bersalah pada Delion.
"Awas saja kamu, jika saat kelulusan nanti kamu tidak bisa masuk Universitas Hardvard kedokteran, papa akan pindahkan kamu lagi ke London," ancam Delion lalu pergi begitu saja meninggalkan Willy.
Willy kembali menunduk dalam, hidupnya penuh dengan banyak tekanan dan juga kekangan.
Menjadi putra tunggal Delion ternyata begitu menyulitkan bagi Willy.
__ADS_1
Ia dipaksa untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan papanya bukan seperti mimpinya.