
Fara sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.
Fara melihat putra turun dari tangga sembari menenteng tas kerjanya.
"Pa ayo sarapan dulu," kata Fara sembari menyiapkan piring untuk Putra.
"Aku sarapan di kantor aja," kata Putra yang langsung keluar begitu saja.
Fara menatap kepergian Putra dengan rasa kecewa.
Ia bangun pagi- pagi hanya untuk membuatkan sarapan untuknya.
Tapi Putra tidak pernah mau sarapan di rumah.
Dan hal itu terjadi tidak hanya sekali tapi setiap hari.
"Ma, papa mana?" tanya Bianca membuat Fara langsung merubah ekspresinya.
"Papamu buru- buru sayang, karena itu dia tidak sempat sarapan," bohong Fara agar Bianca tidak merasa curiga.
"Hampir tiap hari papa enggak pernah sarapan di rumah," gumam Bianca sembari mengolesi roti lapisnya.
"Tapi kalau waktu makan siang mama selalu nganterin makan kok sayang ke kantor papa," kata Fara sembari menyodorkan segelas susu coklat pada Bianca.
"Yaudah, ayo sarapan ma," kata Bianca yang terlihat percaya saja dengan semua ucapan Fara.
Fara tersenyum manis, ia merasa menjadi ibu yang gagal.
Dia tidak bisa mengurus rumah tangga yang baik dan juga tidak bisa mengurus suami.
Lantas apa peran Fara dalam keluarga?
Fara merasa jika suaminya berubah seakan ada sesuatu yang sedang Putra sembunyikan.
Aku harus menyelidikinya sendiri, batin Fara sembari makan menemani Bianca.
○○○
Jika Bianca sedang sarapan dengan mamanya, beda dengan keluarga Bara.
Mereka sedang sarapan bersama- sama, ditambah ada Rendy dan Laura yang baru pulang dari luar negeri karena pekerjaan.
"Mama Sela, koko mana?" tanya Adam saat tidak melihat kokonya di ruang makan.
"Bentar sayang, koko masih siap- siap," jawab Sela sembari menyajikan makanan untuk mereka semua dibantu oleh Laura.
"Ko adik mana?" tanya Laura saat Agam belum turun juga.
"Bentar ma, Agam masih cari kaos kakinya," kata Adam sembari menahan tawanya.
"Ko jangan usilin adek, balikin kaos kakinya," marah Laura yang tahu kebiasaan jahil Adam.
"Iya ma, ini koko balikin," kata Adam yang langsung naik ke lantai atas.
Sela tertawa melihat sikap Adam yanh menurutnya begitu menggemaskan.
"Hei sayang," sapa Bara yang langsung memeluk Sela dari belakang dan menciumi tengkuk lehernya.
"Bara aku lagi masak," kata Sela yang risih saat Bara mengganggunya.
"Hadehh perasaan kalian ini bukan pengantin baru dehh," sindir Laura membuat Sela hanya nyengir.
"Laura sayang," teriak Rendy sembari merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Laura.
"Enggak usah peluk- peluk," ketus Laura membuat Rendy langsung cemberut sedangkan Bara dan Sela menahan tawanya.
"Ya tuhan sayang, aku kan pengin kayak Bara meluk Sela gitu," adu Rendy sembari berjalan mendekat ke arah Laura.
"Pagi pa pagi ma," teriak Dante yang sudah bersiap.
"Pagi sayang," jawab mereka serempak.
Tak lama Adam Agam juga Daffa ikut turun bersama mereka.
"Mama Laura kapan pulang?" tanya El saat baru tahu Laura dan Rendy sudah pulang.
"Tadi malam ko," jawab Laura sembari melepas celemeknya.
Rendy yang tak ingin melepaskan kesempatan ini langsung memeluk Laura dari belakang.
Pasalnya Laura tidak akan marah saat di depan putra- putranya.
"Papa Rendy mau pamer kemesraan ini," sindir Dante sembari memakan roti yang Sela suapi.
"Ditelan dulu dek baru bicara," kata Sela sembari menyodorkan susu pada Dante.
"Gimana sekolahnya ko, kapan ujian?" pertanyaan yang selalu Bara ajukan disaat sarapan bersama.
"Minggu depan pa," jawab Al sembari mengolesi roti tawarnya.
"Terus jadian sama Luna kapan ko?" tanya Dante yang ikutan gaya Bara.
Mendadak semua menatap Al dengan tatapan menggoda.
"Bentar- bentar, Luna itu siapa?" tanya Laura yang tidak tahu.
"Gebetannya koko ma, otw mau jadi kekasih," jawab Dante yang begitu bersemangat.
Laura dan Rendy tersenyum menggoda Al.
"Ajak main sinilah ko Lunanya, biar kita tahu," kata Rendy yang diangguki oleh Bara dan Sela.
"Kemarin koko habis beliin Luna helm pa ma. Padahal Dante dari dulu naik motor sama koko enggak pernah tuh disuruh pakai helm," kata Dante yang mengungkapkan kekesalannya.
"Kamu kan udah besar Danteee, apa perlu koko yang pasangin helmnya ke kamu," kata Al yang begitu geram dengan Dante.
"Luna kan juga udah besar ko," kata Dante membuat Al terdiam.
Sedangkan semua menahan senyumnya agar tidak tertawa.
"Kan beda Dante, kamu udah besar kalau Luna selalu kecil di mata Al makanya harus diperhatiin baik- baik," kata Rendy sembari menyeruput kopinya.
"Udah pa ma, koko berangkat sekolah dulu," pamit Al yang langsung salaman pada Bara dan Sela juga Laura dan Rendy.
"Loh adek belum selesai sarapan lho ko," kata Laura yang mendadak ikutan panik.
"Koko jemput Luna dulu ma," jawab putra- putra mereka dengan kompak dan serempak membuat Bara dan Sela kini tak tahan untuk tidak tertawa.
.
.
__ADS_1
.
Al sudah sampai di depan rumah Luna.
Seperti biasa ia akan menunggu Luna sampai keluar.
Tapi entah kenapa, hampir 15 menit Al menunggu Luna tak kunjung keluar juga.
"Kayaknya gue jemput seperti jam biasanya," gumam Al sembari menatap jam tangannya.
Karena merasa gelisah dan cemas karena kemarin Luna sakit.
Alhasil Al turun dari motor dan berniat untuk melihat Luna di rumahnya.
Sesampainya di depan rumah Luna, Al sedikit ragu untuk mengetuk pintu rumahnya.
Tok tok tok
Al mengetuk pintunya hingga seseorang membuka pintunya.
"Kamu temennya kak Luna kan?" tanya Vino pada Al.
"Iya, apa kakak...,"
"Kakak lagi sakit," kata Vino membuat Al langsung menerobos masuk untuk melihat keadaan Luna.
Terlihat Luna masih tertidur pulas di bawah gulungan selimut tebalnya.
"Kakak demam, karena itu aku ingin pergi ke apotek," kata Vino saat Al duduk di samping Luna dan memeriksa keningnya.
Al menoleh dan melihat Vino sudah siap dengan seragam SMP nya.
"Kamu berangkat sekolah aja, biar aku yang menjaganya," kata Al pada Vino.
"Tapi kakak enggak pergi ke sekolah?" tanya Vino yang melihat Al juga udah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Enggak. Berangkatlah sebelum terlambat," kata Al yang diangguki oleh Vino.
"Makasih kak," Vino langsung bergegas berangkat sebelum dirinya terlambat karena hari ini ia ujian.
Al kembali menatap Luna yang masih tertidur dengan wajah yang pucat dan tubuh yang menggigil.
Al meletakkan tasnya di sofa dekat nakas lalu ia pergi ke dapur untuk mengambil air dan kain untuk mengompres Luna.
Tidak lama Al kembali dari dapur dan langsung mengompres Luna.
Ia menatap lekat Luna yang masih enggan untuk membuka matanya.
Perlahan Luna membuka matanya saat merasakan dingin di keningnya.
"Mana yang sakit?" tanya Al saat Luna membuka matanya.
"Al," kaget Luna saat ia melihat Al duduk di sampingnya dan menatap lekat.
"Kamu kenapa masih di sini? Kamu terlambat Al," kata Luna yang langsung heboh saat melihat jam dinding pukul 8.
Al hanya diam saja tak menghiraukan ucapan Luna.
"Lo bisa enggak sekali aja jangan buat gue khawatir," gumam Al sembari memegang kedua bahu Luna.
Luna tersentak dengan perkataan Al, ia merasa lidahnya kaku untuk membuka suara.
Grepp
Luna melebarkan kedua matanya saat Al memeluknya.
MEMELUKNYA.
Oh my good, seorang Al Gibran yang terkenal dingin dan cuek, bisa luluh hanya karena Luna.
"Mulai saat ini jangan buat gue khawatir," bisik Al sembari mempererat pelukannya.
Luna mencoba menetralkan detak jantungnya dan mencoba untuk berpikir jernih.
Tindakan sekaligus ucapan Al membuat Luna menjadi bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.
.
.
Sedangkan Dante dan El yang sudah masuk kelas cemas memikirkan kokonya.
"Koko kemana sih?" gerutu Dante yang sangat cemas saat ia tidak melihat kokonya.
Dante itu paling enggak bisa jauh- jauh sama Al.
Jadi, maklum aja kalau Al enggak ada di sampingnya, rasanya kayak ada yang hilang.
Bukannya pilih kasih, Dante juga sayang sama El, cuma Dante lebih dekat dengan Al yang selalu bersikap dingin namun selalu perhatian.
"Coba lo tanya Aqila, Luna kenapa juga enggak masuk," kata El menyuruh agar Dante bertanya pada Aqila.
Dante langsung menghampiri bangku Aqila yang duduk seorang diri.
"La, Luna kenapa enggak masuk?" tanyanya sembari langsung duduk di samping Aqila.
"Kan biasanya Luna berangkat sama koko lo, kenapa tanya gue," kata Aqila sedikit sewot dan terlihat menghindari Dante.
"Koko juga belum dateng dari tadi, makanya gue tanya lo," kata Dante yang geram dengan Aqila.
Aqila tiba- tiba saja berdiri dan pergi keluar kelas.
"Lah kenapa dah tuh bocah," gumam Dante yang langsung mengikuti Aqila.
"Aqila tunggu," teriak Dante di sepanjang lorong yang lumayan sepi karena beberapa kelas sudah masuk.
Aqila terus berlari entah kemana untuk menghindari Dante.
Dante yang cerdik langsung mengambil lorong pintas untuk bisa menangkap Aqila.
Happ
"Kena kan lo," kata Dante menarik tangan Aqila masuk ke dalam ruang musik.
"Danteee lepasin enggak," marah Aqila sembari menghempaskan tangan Dante.
"Lo kenapa sih lari- lari gitu hindari gue?" tanya Dante membuat Aqila memalingkan wajahnya.
Dante tiba- tiba teringat akan sesuatu di gudang kemarin.
__ADS_1
"Oh lo malu karena hmpp," Aqila berjinjit dan membungkam mulut Dante untuk tidak meneruskan ucapannya.
"Udah diem, jangan ngomong apa- apa," ancam Aqila membuat Dante tersenyum.
Dante melepaskan tangan Aqila dari mulutnya dan menarik Aqila hingga jarak mereka begitu dekat.
Aqila dapat merasakan hembusan nafas Dante begitupun sebaliknya.
"Lo jangan macem- macem atau gue bakal teriak," gumam Aqila sembari menatap ketus Dante.
Dante hanya tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Aqila.
"Bakal gue inget kalau lo yang ambil first kiss gue," bisik Dante lalu keluar dari ruang musik begitu saja meninggalkan Aqila sendiri.
Aqila sedikit merunduk dan memegangi dadanya.
Ia mencoba untuk bernafas dengan normal dan menetralkan detak jantungnya.
"Gila, Dante bener- bener gila," gumam Aqila lalu memperbaiki penampilannya dan berusaha untuk bersikap biasa saja.
Aqila keluar dari ruang musik dan kembali menuju kelas.
Sesampainya di kelas, ia melirik Dante yang kini sedang tersenyum menggoda ke arahnya.
Tak lama pak Kimmy datang dan pelajaran dimulai tanpa kehadiran Al dan Luna yang tidak diketahui keberadaannya.
Jika di kelas IPA 1 tadi pelajaran beda sama kelas IPS 1.
Di mana itu kelas geng Eros dan Bianca juga Leyna.
Eros dan Edo sedang mabar di pojok kelas bersama beberapa teman lainnya.
Sedangkan Damar sedang merebahkan kepalanya di atas meja.
Srek
Damar merasa ada seseorang yang duduk di sampingnya.
"Damar, perut gue mual- mual," bisik Leyna di samping telinga Damar.
Damar tersenyum saat tahu Leyna yang duduk di sampingnya.
Dengan jahilnya Damar masih pura- pura tidur dan tidak menghiraukan Leyna.
"Ihhh Damar, lo ngeselin banget sihh," kesel Leyna saat Damar mencuekkan dirinya dan tak peduli.
Damar masih tetap di posisinya yaitu tidur di atas meja.
"Damar, gue pengin makan mangga, siang- siang gini ada mangga di mana ya," gumam Leyna sembari mengusap perutnya yang masih rata.
Leyna menoleh dan Damar tak kunjung juga bangun.
"Hihh ngeselin banget sih jadi cowok, ini kan juga anak lo seenggaknya perhatian gitu kek," ketus Leyna yang beranjak dari samping Damar.
Damar mendongak dan melihat Leyna cemberut sembari keluar kelas.
Damar terkekeh pelan lalu mengikuti Leyna yang entah pergi kemana.
Sedangkan Leyna yang marah pada Damar langsung pergi ke balkon sekolah.
Di sana udaranya begitu sejuk dan suasananya sangat damai, karena itu Leyna sangat suka sekali diam dan duduk di atas sana.
"Nih," Leyna menoleh dan mendapati semangkok mangga yang terlihat begitu segar.
Leyna mendongak dan mendapati Damar tersenyum ke arahnya.
"Enggak mau," kata Leyna sembari memalingkan mukanya.
Damar hanya tersenyum lebar dan duduk di samping Leyna.
"Emang mau dedek bayinya entar ileran?" tanya Damar menggoda Leyna dengan memakan buah mangganya.
"Ihh kok lo makan sih, kan yang pengin gue," kata Leyna yang langsung merebut mangkok berisi mangga tersebut.
Damar tersenyum lebar saat melihat mood Leyna berubah ceria saat makan mangga.
"Kamu gemesin banget sih," kata Damar sembari mengusap- usap puncak kepala Leyna.
Sontak Leyna terdiam dan menatap Damar.
Tatapannya begitu tulus sekali pada Leyna.
"Udah makan gue enggak akan minta," kata Damar membuyarkan lamunan Leyna yang menatap dirinya.
Damar memalingkan muka dan tersenyum saat mengetahui jika calon istrinya itu sedang tersipu malu.
○○○
Sedangkan di depan rumah Luna, kini sudah ada Dante, El, Adam, Agam dan Daffa.
"Ini motor koko," ucap Dante saat motor Al terparkir di depan tangga menuju rumah Luna.
"Kira- kira rumah Luna yang mana ya ko?" tanya Adam karena Luna tinggal di rusun.
"Enggak tahu coba kita tanya sama orang di sana," kata El yang berjalan di depan memimpin yang lainnya.
Setelah bertanya akhirnya mereka menemukan rumah Luna.
El langsung mengetuk pintu rumah Luna.
Ketiga kalinya El mengetuk tak kunjung ada jawaban juga.
"Coba ko, langsung masuk aja," kata Dante yang tak sabaran.
El mencoba membuka pintunya dan ternyata tidak dikunci.
Mereka berlima langsung masuk ke dalam rumah Luna.
"Astaga," pekik Daffa membuat El dan Dante seketika langsung menutup mata mereka saat melihat Al dan Luna.
"Ko kayaknya kita salah masuk rumah dehh," gumam Dante yang begitu gemas melihat kokonya tidur bersama Luna.
"Dan, ini enggak mimpi kan. Itu yang tidur sama Luna, koko?" tanya El yang tak percaya.
"Yaiya ko masak pak Budi," jawab Dante geram dan merasa ingin melompat sekarang juga.
Adam Agam dan Daffa perlahan membuka mata mereka.
"Wahh mereka sudah persis seperti suami istri ya," gumam Daffa yang diangguki oleh keempat saudaranya.
__ADS_1
"Kita di sekolah cemasin mereka, ehh enggak tahunya yang dicemasin malah bobok manis berdua di sini," gumam Dante sembari berjalan dan mencari tempat yang baik untuk mengabadikan momen ini.