Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Roti Bawah


__ADS_3

○○○


Aretha sedang berada di dalam kamarnya untuk maraton drakor.


Pranggg


Aretha terlonjak saat mendengar suara pecahan kaca.


Dengan cepat Aretha keluar dari kamarnya untuk memeriksa.


"Papa," gumamnya pelan saat melihat Bram mabuk dan tergeletak di lantai.


Aretha tidak berani menghampirinya, karena Bram selalu menyiksa Aretha disaat mabuk.


Bram sendiri adalah seorang dokter bedah yang sangat terkenal di Kanada.


Tapi semenjak istrinya selingkuh, dia menjadi pemabuk seperti ini.


"Arethaaa," teriaknya kencang membuat Aretha ketakutan dan langsung masuk kamar.


Ini adalah hal yang paling Aretha benci.


Cacian dan siksaan dari papanya adalah trauma yang sangat berat bagi Aretha.


Aretha mengunci kamarnya dan meringkuk sembari memeluk lututnya.


Terdengar isak tangis dan punggung yang bergemetar.


Brak


Bram menendang kamar Aretha membuat Aretha semakin takut dan gemetaran.


"Aretha buka," bentaknya sangat keras hingga bergema seisi rumah.


Hiks hiks hiks


Aretha semakin terisak di sudut kamarnya.


Ia sangat ketakutan saat mendengar suara teriakan papanya.


Brak


Bram kembali menendang pintu kamar Aretha.


"Keluar brengsek," teriak Bram membuat Aretha langsung mendorong meja riasnya agar pintunya tidak terbuka.


Aretha begitu panik dan ketakutan.


Karena ini dia menjadi pribadi yang arogan dan berjiwa psikopat.


Papanya sendiri yang membuat dirinya seperti ini.


Tidak ada lagi suara teriakan dari papanya.


Aretha perlahan menuju queen sizenya untuk tidur dan menenangkan pikirannya.


Prang


"Arghh," teriak Aretha terkejut saat Bram memecah kaca jendelanya.


"Dasar anak jalang, kesini kamu," teriak Bram dengan langkah sempoyongan menghampiri Aretha yang sangat ketakutan.


"Pa Aretha mohon, jangan pa," kata Aretha yang semakin keras suara tangisannya.


Bram mengikat kedua tangan Aretha dengan dasinya.


"Pa Aretha mohon jangan lakukan ini," kata Aretha yang terbaring tak berdaya di lantai dengan tangan terikat.


Cetes


Suara cambukan sabuk itu membuat Aretha sangat trauma dan ketakutan.


"Kenapa kamu tidak pernah nurut sama papa hah? Kamu sama jalang itu tidak ada bedanya," kata Bram sembari mencengkeram pipi Aretha.


Plak


Aretha menangis tanpa mengeluarkan suara.


Rasanya air mata ini tak lagi mau turun, sudah banyak sekali Aretha menangis.


Dan cambukan sabuk itu seakan mati rasa di tubuhnya karena hampir setiap hari Aretha merasakan hal ini.


Cetes


"Rugi punya anak kayak kamu, enggak ada yang bisa diandalkan atau dibanggakan," kata Bram yang tidak ada rasa iba sedikitpun pada putrinya yang sudah tak berdaya.


Cetes


"Papa enggak mau tahu, tahun ini kamu harus bisa masuk Universitas kedokteran terbaik bagaimanapun caranya," kata Bram dengan penuh penekanan sembari menatap tajam Aretha.


Bram melepaskan ikatan di tangan Aretha lalu menendang tanpa ada rasa manusiawi.


Aretha kembali menangis namun tidak setetes pun air matanya keluar.


"Jangan salahkan aku jika suatu saat aku menggila," gumam Aretha pelan sembari berusaha bangun dengan segala rasa sakit di tubuhnya.


Sudah hampir seminggu Aretha tidak masuk sekolah agar luka cambuknya tidak perih saat terkena air.


Tapi belum sempat sembuh luka yang kemarin, malam ini Aretha mendapatkan cambukan lagi.


Terpaksa Aretha besok harus masuk dengan keadaan seperti ini.


□■□■


Hari ini para osis dan guru sibuk untuk mempersiapkan persami hari sabtu nanti.


Jadi, kebanyakan dari mereka banyak yang jam kosong karena tidak ada guru.

__ADS_1


Sama sudah seperti kelas XII IPA 1 ini yang sedang mabar dengan kelas sebelah.


Ditambah ketua rusuhnya Dante dan adik- adiknya.


Udah percaya aja, kalian bakal pusing kalau mereka udah bikin ulah.


Sedangkan Al dan Luna keluar dari kelas sejak pelajaran kedua tadi untuk segala persiapan persami.


Sedangkan Calista dan Aqila bersama cewek lainnya sibuk ghibah di dalam kelas meski keadaan kelas sangat heboh hanya karena sedang mabar.


Sejak tadi Aqila menahan diri untuk tidak menendang mulut Dante yang tertawa sangat keras dan paling heboh.


Tapi lama kelamaan Aqila tidak lagi tahan saat acara ghibahnya merasa terganggu dengan suara tawa Dante.


"Kalian bisa diemm enggakkkkkk," teriak Aqila dengan sangat keras hingga membuat seisi kelas hening dan menatap Aqila takut.


"Lo apaan sih teriak- teriak, lo kira ini hutan," kesal Dante saat Aqila marah dan meneriaki dirinya dan yang lain.


"Lo bisa diem enggak, panas telinga gue denger lo teriak- teriak," ketus Aqila membuat Dante menghampirinya.


"Lo kalau ke ganggu, mending keluar aja cari tempat lain," kata Dante membuat Aqila beranjak dari duduknya.


Aqila karena sudah sangat nyaman di kursinya, jadi ia enggan untuk pindah tempat.


Dante merasa merinding saat melihat Aqila tersenyum ke arahnya.


"Dante sayang, tolong dong jangan ramai, Aqila mau ghibah time," kata Aqila dengan sangat pelan.


Dante menggigit bibirnya untuk tidak tersenyum saat Aqila memanggilnya 'Sayang'.


"Ayo semuanya kita pindah tempat," teriak Dante pada gengnya dan mereka langsung mengikuti Dante keluar kelas.


Prok prok prok


"Wih keren, hanya dengan bilang Dante sayang langsung nurut tuh anak," kata Calista bertepuk tangan saat Aqila bisa membuat Dante nurut.


"Kesel gue sama tuh anak," kata Aqila kembali duduk dan ghibah time yang diketuai Aqila kembali berjalan.


"Al sayangggg," Aqila memejamkan matanya menahan kesal.


Dante yang berisik baru aja diusir, mak lampir dateng.


Leyna dan Bianca datang ke kelas untuk mencari Al.


"Kalian tahu Al di mana?" tanya Leyna sembari duduk di atas meja dan menatap Aqila dan Calista.


"Lo enggak liat dia enggak ada," kata Aqila membuat Bianca mendekatinya.


"Aduh si bibir panas ini sewot banget sih kayaknya, kenapa ada masalah ya kita cari Al?" kata Bianca sembari mengusap kepala Aqila.


Brak


Leyna dan Bianca sontak terkejut karena Aqila yang menggebrak meja bahkan seisi kelas pun juga kaget.


"Lo bisa diem enggak jangan berisik mulu tanya- tanya Al, sebel gue liat muka lo," kata Aqila membuat Leyna lebih baik keluar saja daripada diterkam sama dia.


"Wiuh enggak tahu, sebel aja gue kalau ada orang rese' kayak dia," kata Aqila kembali duduk dan menyandarkan punggungnya di kursi.


Sedangkan di tempat lain, para osis sedang mengumpulkan semua peralatan kemah sembari memeriksa apakah ada yang kurang.


Masing- masing anggota sangat sibuk dengan tugasnya masing- masing.


Seperti Luna yang sejak tadi mondar- mandir untuk fotocopy atau ngeprint, minta tanda tangan juga surat izin.


Mau bagaimana lagi, dia sekretaris osisnya, alhasil semua surat dia yang bertanggung jawab.


Al yang sibuk mereview semua data perkemahan, melirik sekilas Luna yang sejak tadi berkutat di depan komputer di temani oleh Dinda.


Tok tok tok


Semua menoleh dan mendapati Aretha berdiri di ambang pintu.


"Al nih susu sama roti buat kamu," kata Aretha memberikannya pada Al membuat semua anggota osis memberikan cuitan.


"Enggak perlu, gue udah makan," kata Al sembari mengembalikan susu dan juga rotinya.


"Yaudah kamu simpen aja buat nanti, pasti kamu sibuk jadi enggak sempet makan," kata Aretha sambil malu- malu di depan Al.


Al hanya diam dan menatap kertas di depannya.


"Yaudah aku ke kelas dulu ya," pamit Aretha yang langsung keluar karena anggota osis terus meledekinya.


Al menatap susu dan roti di depannya.


"Ar lo laper enggak?" Arka mengangguk antusias lalu Al menggeser susu dan roti itu ke meja Arka.


"Nih buat lo aja, gue udah kenyang," kata Al membuat Arka tersenyum kegirangan.


Al kembali melirik Luna yang masih fokus mengerjakan surat- surat yang diminta bu Sari.


Sedangkan di kelas XII IPA 1, Aqila uring- uringan sendiri entah apa sebabnya.


Calista sudah beberapa kali tanya dan mencoba membujuk Aqila untuk ke uks enggak mau.


Aqila duduk di bangkunya sembari memegangi perutnya.


"Ayo pulang aja La, biar enak kita bisa bolos," kata Calista yang membujuk Aqila.


"Bolos pala lo tuh, Luna entar gimana? Gue enggak pengin ngapa- ngapain, gue cuma pengin perut gue jangan sakit ginii," kata Aqila sambil menidurkan kepalanya di atas meja.


"Daripada lo di sini, marah- marah enggak jelas. Masak satu kelas lo marahi semua gara- gara mereka berisik, bahkan kelas sebelah juga lo marahi. Entar lo disangka gila sama mereka kan berabe urusannya," kata Calista membuat Aqila moodnya berubah lagi.


"Lo kalau enggak suka enggak usah deket gue, kesel gue sama lo," ketus Aqila yang pergi keluar kelas setelah memarahi Calista.


"Lah baru juga gue ngomong, dah kena semprot. Gue yakin nih anak lagi pms," tebak Calista yang langsung mengikuti kemana Aqila pergi.


Sedangkan Aqila pergi menuju kamar mandi untuk memeriksa apakah ia pms atau enggak.

__ADS_1


"Sakit banget ya tuhan perutku," gumam Aqila sembari menatap garang para lelaki yang menggodanya sepanjang lorong.


Hap


Aqila terkejut saat ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


Dante


"Hihhh apa- apaan sih lo?" kata Aqila mencoba memberontak namun Dante malah mengikatkan jaket di perut Aqila.


"Diem lo, merah noh rok lo," kata Dante sembari mengantar Aqila ke kamar mandi.


Sedangkan Aqila langsung mengeratkan jaket Dante yang diikatkan di pinggangnya untuk menutupi noda merah itu.


Aqila menahan malu sekali di dekat Dante.


"Udah lo tunggu sini aja jangan masuk," ketus Aqila saat sudah sampai di kamar mandi.


"Siapa juga yang mau masuk, dasar mak lampir," gumamnya saat Aqila masuk ke dalam kamar mandi untuk memeriksanya.


Tidak berapa lama, Aqila kembali keluar dan menatap Dante dengan perut yang pelilitan.


"Dante, gue minta tolong boleh enggak?" Dante memalingkan wajah seakan tidak mendengar ucapan Aqila.


"Dante dengerin gue," teriak Aqila membuat Dante langsung menggosok telinganya.


"Lo bisa enggak sih jangan teriak- teriak," kata Dante sebal jika Aqila sudah berteriak, rasanya gendang telinga Dante seperti putus.


"Beliin gue roti bawah tolong," Dante melebarkan kedua matanya.


"Enggak lah, emang gue cowok apaan. Ya kali gue beli, bisa- bisa ilfeel semua cewek sama gue," kata Dante yang hendak pergi namun Aqila menarik tangannya.


"Dante plissss kali ini ajaaa ya, beliin gue, keburu bocor nanti ini," rengek Aqila memelas di depan Dante agar luluh.


"Tapi masak iya gue yang beli Laaa," kata Dante yang ingin sekali rasanya kabur dari sini.


"Iyalah siapa lagi, buruan Dante beliin," kata Aqila sembari meremas lengan Dante karena rasa sakit di perutnya.


Dante yang tipe orang tidak tegaan langsung mengiyakan.


"Iyaudah, lo tunggu sini gue beliin," Dante langsung pergi menuju kopsis untuk membelikan roti bawah Aqila.


Dante masuk ke dalam kopsis dan sialnya banyak sekali siswi yang sedang beli jajanan.


Dante berinisiatif untuk mencarinya sendiri, tapi ia tidak menemukan juga.


Karena banyaknya siswi yang masuk ke dalam kopsis karena melihat dirinya, otomatis kopsis full dan berdesak- desakkan.


Dante pergi menuju pak Ahmad yang menjadi kasirnya.


"Pak, ada roti bawah enggak?" tanya Dante yang seketika membuat suasana kopsis mendadak hening dan menatapnya.


Dante mencoba menormalkan ekspresinya untuk terlihat biasa saja.


"Ada, mau beli berapa?" tanya pak Ahmad sembari menahan senyumnya.


"Satu aja," kata Dante sembari memalingkan wajah agar tidak ada yang melihat jika dia sangat malu saat ini.


"Mau yang sayap atau yang biasa?" tanya pak Ahmad membuat alis Dante terangkat.


"Coba liat yang sayap sama yang biasa?" tanya Dante pada pak Ahmad.


"Ya kali Dante masak mau bapak buka di sini," semua siswi tertawa sembari menatap Dante malu- malu.


"Yaudah deh pak masing- masing satu kalau gitu," kata Dante membuat pak Ahmad langsung membungkusnya.


"Buat siapa sih Dan, pacar kamu ya?" tanya pak Ahmad kepo.


"Bukan," jawab Dante ketus karena malu.


"Terus?" tanya pak Ahmad yang masih julid.


"Buat ikan saya," seketika semua tertawa karena jawaban Dante.


"Oh ya kalau gitu, jangan lupa beliin cewek kamu teh hangat sekalian, biasanya perut mereka bakal sakit banget kalau lagi pms gini, apalagi hari pertama," saran pak Ahmad membuat Dante langsung pergi.


"Astaga bisa- bisanya seorang Dante Bradsiton Arganta disuruh beli ginian," gumamnya sembari berlari ke kamar mandi untuk memberikannya pada Aqila.


"Nih," kata Dante memberikannya pada Aqila yang jongkok di depan kamar mandi.


"Lama banget sih," ketus Aqila sembari mengambil roti bawahnya.


"Udah nyuruh nyolot lagi," ketus Dante yang langsung pergi entah kemana.


Setelah selesai Aqila keluar dari kamar mandi dan tidak menemukan Dante.


"Kemana tuh anak?" gumamnya lalu berjalan untuk kembali ke kelas.


Aqila masuk kelas dan hanya ada beberapa siswi yang udah molor ada juga yang ngedrakor.


Aqila langsung menidurkan kepalanya di atas meja.


"Nih," Aqila mendongak dan mendapati Dante membawa teh hangat.


Dante meletakkannya di atas meja.


"Tumben lo baik," Dante melebarkan matanya tak percaya dengan ucapan Aqila.


"Wahhh gila lo, kalau enggak baik ngapain gue mau beliin lo rot..," Aqila langsung membungkam mulut Dante yang ember itu.


"Diem enggak usah keras- keras ngomongnya," kata Aqila sembari melototi Dante.


"Bau pete tangan lo bego," kata Dante melepaskan tangan Aqila yang membungkamnya.


Dante lalu pergi keluar kelas setelah membelikan Aqila teh hangat.


Aqila menatap teh yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Dia racuni gue enggak ya, kok gue takut yang mau minum," gumam Aqila sembari menatap segelas teh hangat itu.


__ADS_2