Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Jalan Berdua


__ADS_3

Leyna seharian penuh di dalam kamar.


Semenjak kejadian di club bersama Damar, Leyna terus mengurung diri.


Bahkan sudah 3 hari ini Leyna tidak masuk sekolah.


Waktu pagi itu, Leyna terbangun dan merasakan kepalanya begitu pening.


Leyna terkejut saat Damar ikut tidur bersamanya.


Setelah itu Leyna pulang dan tidak masuk sekolah sampai sekarang.


Leyna takut jika papanya nanti tahu.


Pasti dia akan menghajar Leyna tanpa ampun.


Tok tok tok


Leyna langsung pura- pura tidur.


"Leyna sayang," panggil mamanya yang langsung masuk ke dalam kamar.


"Leyna," panggil mamanya sekali lagi sembari menepuk pelan bahunya.


"Mama," kata Leyna serak karena kebanyakan menangis selama beberapa hari ini.


"Sayang, apa kamu sakit?" tanya Desi sembari memeriksa kening Leyna.


"Leyna enggak enak badan ma," kata Leyna sembari bersandar di queen sizenya.


"Bagaimana jika kita ke dokter aja, kamu udah 4 hari ini lho enggak masuk sekolah," kata Desi sangat mencemaskan Leyna.


"Enggak ma, enggak perlu nanti juga sembuh sendiri. Leyna cuma butuh istirahat," bohong Leyna yang panik saat Desi mengajaknya ke dokter.


"Tapi sayang, kalau papamu tahu kamu enggak masuk sekolah, pasti dia akan marah. Apalagi kamu kelas 12 sebentar lagi ujian," kata Desi sembari membelai pipi Leyna.


"Besok kan senin Leyna masuk sekolah kok ma,Leyna mau istirahat," kata Leyna beralasan karena ia belum siap bertemu Damar.


"Yasudah, sekarang istirahatlah. Besok kalau kamu belum sembuh juga, mama akan bawa kamu ke rumah sakit," kata Desi sembari membantu Leyna berbaring.


"Iya ma," Desi lalu keluar setelah selesai memeriksa Leyna.


Leyna menatap kepergian mamanya dengan nanar.


Bagaimana jika nanti mama tahu, apa yang telah terjadi sama aku?


Leyna kembali meneteskan air matanya.


Meski Leyna di SMA terkenal ratu bully dan sangat kejam, tapi percayalah, Leyna juga punya sisi lembutnya.


Dia juga ingin seperti anak- anak lain ingin membahagiakan orang tua mereka, meski Leyna tahu keadaan keluarganya tidak baik- baik saja.


Sedangkan di tempat lain, Damar sedang berada di ring tinju.


Damar terus memukul samsak di depannya.


Pikirannyan hanya dipenuhi oleh Leyna Leyna dan Leyna.


"Kenapa 3 hari ini lo enggak masuk?" gumam Damar sembari duduk di lantai dengan napas ngos- ngosan.


Damar mencoba kembali mengingat bagaimana malam itu.


Tapi ia tidak ingat juga, ia hanya ingat saat bangun sudah berada di sebuah kamar dan menemukan high heels Leyna.


"Arghhhh," teriak Damar merasa sangat gila akan ini.


"Kenapa gue enggak inget apapun," gumam Damar sembari menarik rambut tebalnya merasa sangat kesal.


"Gue harus dateng ke rumah Leyna," gumam Damar sembari membuang ke sembarang arah sarung tinjunya.


♡♡♡


Al menatap dirinya di pantulan cermin.



It's perfect.


Tidak lupa Al menyemprotkan parfum dari ujung kepala sampai kaki.


Setelah selesai Al langsung keluar untuk sarapan terlebih dulu.


Ting


Al keluar dari lift dan terlihat mamanya sedang menyiapkan sarapan.


"Mama," peluk Al dari belakang dengan sangat manja.


"Ko mama kaget tahu," kata Sela sembari memegangi dadanya karena terkejut.


Al tertawa pelan lalu mencium pipi mamanya.


"Papa mana ma?" tanya Al saat tidak menemukan siapapun di meja makan.


"Bentar ada telpon dari kantor tadi," kata Sela sembari memberikan segelas susu pada Al.


"Mama koko," teriak Dante yang terlihat bersemangat.


"Wihh hari minggu gini udah cakep aja ko, mau kemana?" kata El saat melihat Al sudah rapi dan terlihat siap untuk berkencan.


"Jemput Luna dong ko," sahut Dante yang tepat sasaran.


"Ohh ceritanya mau kencan nih?" tanya Sela menggoda Al.


"Apaan sih ma," kata Al menutupi rasa malunya.


"Siapa nih yang mau kencan?" tanya Bara saat keluar dari lift.


"Koko pa," jawab El dan Dante bersamaan.


"Pantes, pakai parfumnya sampai ke kamar papa baunya," kata Bara sembari duduk dihadapan Bara.


Lalu disusul Sela di samping Bara dan El juga Dante.


Astaga, hanya karena Al mau keluar dandan rapi aja yang kepo satu rumah astaga.


"Kenapa koko kayak mau disidang gini?" tanya Al saat mereka berempat duduk di hadapan Al dan menatapnya lekat seakan ingin mengintrogasi.


"Emang mau kencan kemana ko?" tanya Sela pertama.


"Luna nya bawa sini dong ko papa sama mama biar tahu," kata Bara yang terlihat sangat antusias.


"Nanti Dante fotoin pa Luna nya waktu sekolah," kata Dante sangat bersemangat.


Bugh


"Ko jangan gitu," lerai Sela saat Al menggampar tangan Dante dengan kunci mobil.

__ADS_1


"Ko tumben banget keluarnya bawa mobil, biasanya kalau sama kita mesti naik motor," kata El yang sangat julid sekali, persis banget kayak detektif.


"Ya biar enggak kepanasan lah ko Luna nya," sahut Dante yang tidak takut saat Al menatapnya.


"Udahlah koko mau berangkat dulu," kata Al yang langsung menyambar kunci mobilnya dan pergi meninggalkan ruang makan.


Semua tergelak melihat tingkah gemas Al yang malu saat terus digoda tentang Luna.


"Sayang, koko kalau di sekolah deket banget enggak sih sama Luna?" tanya Sela yang penasaran.


"Jangankan deket ma, duduk aja jarak tiga bangku. Ngomong aja cuma singkat- singkat kayak orang enggak punya kosakata," kata Dante yang menjelaskan pada mamanya.


"Tapi ma, koko tuh tanggep banget kalau Luna kenapa- napa. Buktinya kemarin waktu Luna disiram jus sama Eros, koko langsung bawa Luna pergi sambil nutupi seragam Luna pakai jaketnya," jelas El membuat Sela tersenyum.


"Berarti koko tipe yang cuek tapi pedulinya sama Luna sangat besar," kata Sela membuat Bara tersenyum.


"Persis kayak aku ya kan sayang," celetuk Bara membuat Sela menahan malu di depan kedua putranya.


"Masak sih pa? Dulu sulit banget enggak pa buat dapetin mama?" tanya Dante membuat Bara tersenyum.


"Sulit, sulit banget. Sampai harus pisah 2 tahun baru bisa dapet mamamu," kata Bara sembari pergi menjauh sebelum Sela menendangnya.


Dante dan El tertawa melihat papanya berlari saat Sela beranjak dari duduknya.


Sedangkan Al melajukan mobilnya menuju rumah Luna.


Sebelumnya Al sudah memberitahu pak Budi jika ia dan Luna berangkat bersama dan mereka tidak perlu menunggu untuk kumpul di sekolah.


Sepanjang jalan Al seakan sedang menahan senyumnya.


Ada rasa senang dan sedikit gugup untuk datang ke rumah Luna.


Selain ini adalah perdana, Al tidak pernah dekat dengan cewek sejak duduk di bangku SMP.


Al semakin mempercepat laju mobilnya untuk sampai di rumah Luna.


Sekitar 20 menitan Al sudah sampai di depan rusun yang menjadi tempat tinggal Luna.



"Semoga aja gue enggak salah ketuk rumah orang," gumam Al yang langsung menaiki tangga untuk mencari rumah Luna.


Karena malam itu Al hanya mengikuti Luna sampai di depan rusun dan tidak tahu ia tinggal di lantai berapa.


Al sudah mengetuk 5 pintu rumah yang salah.


"Capek juga naik tangga," gumam Al yang sudah ngos- ngosan.


"Al," panggil Luna saat ingin turun dan melihat ada Al di tangga.


Al menoleh dan ia bersyukur Luna sudah keluar rumah, kalau tidak mungkin ia akan seharian berada di sini sembari mengetuk pintu satu persatu.


"Untung lo cepet keluar, capek banget gue naik tangga," keluh Al yang duduk di tangga karena merasa capek.


Luna mengeluarkan sebotol air mineral dan menyerahkan pada Al.


"Nih minum dulu," kata Luna dengan pikiran yang dipenuhi oleh 1001 pertanyaan saat Al berada di lingkungan ia tinggal.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Luna membuat Al menelan minumnya dulu lalu menatap Luna sekilas.


"Jemput lo lah," Luna ingin sekali lompat dari tangga ini sekarang juga.


Seorang Al Gibran bisa- bisanya jemput cewek, di rumah susun kayak gini lagi.


"Rumah lo sebelah mana sih?" tanya Al yang terlihat kesal saat tidak bisa menemukan rumah Luna.


"Pantes lo enggak cepet tinggi, tiap hari naik turun tangga," gumam Al sembari memalingkan wajahnya.


"Apa?" tanya Luna karena tidak mendengarnya.


"Enggak ada. Ayo berangkat pak Budi udah nunggu," kata Al yang sudah turun duluan.


"Dasar beruang kutub, enggak jelas banget tiba- tiba datang," gerutu Luna sembari menyusul Al.


"Kita naik mobil?" tanya Luna saat tahu Al membawa mobil.


"Iyalah, lo mau naik apa?" tanya Al sembari menatap Luna.


"Aku naik bus aja deh, enggak enak sama yang lain masak naik mobil sendiri," kata Luna yang membuat Al merasa jika dia adalah perempuan yang unik.


"Terus apa gunanya gue jemput lo, lo kira enggak jauh apa kesini belum naik tangga lagi," Luna melebarkan kedua matanya lalu berkacak pinggang.


"Yang suruh kamu jemput siapa emang?" Al terdiam mencoba meredam emosinya.


"Udah masuk pak Budi udah nunggu sama yang lain di sekolah," kata Al pelan tidak lagi kesal.


Luna terpaksa masuk dengan perasaan sedikit kesal.


Al menghembuskan napasnya, ia mencoba untuk tidak gugup saat semobil sama Luna.


"Santai Al," gumamnya pelan lalu masuk ke dalam mobil.


"Nih jaketnya udah aku cuci," kata Luna memberikan jaketnya Al yang ia taruh dalam tas.


"Pakai aja, di hutan dingin," kata Al tidak menerima jaket yang Luna berikan.


Luna meletakkan jaket Al di jok belakang.


"Nanti enggak lama kan survei di hutannya?" tanya Luna saat Al mulai melajukan mobilnya.


"Enggak tahu," jawab Al singkat membuat Luna melihat keluar jendela.


Rasanya seperti pasangan kekasih yang sedang berkencan.


Luna tidak pernah pergi sejauh ini, hari- harinya hanya ia isi dengan kerja belajar kerja belajar.


Rutinitas yang sangat membosankan memang.


Tapi Luna senang menjalani ini semua.


Al melirik sekilas Luna yang asik memandang keluar jendela.


Tidak terasa mereka sudah sampai di depan SMA.


Terlihat mobil pak Budi terparkir epic di depan sekolah.


Luna hendak turun dari mobil namun terhenti saat Al memanggilnya.


"Pakai jaketnya," perintah Al membuat Luna mengangkat sebelah alisnya.


"Entar di sana dingin," kata Al yang langsung keluar agar Luna memakai jaketnya.


"Ini orang aneh banget, dari tadi perasaan maksa banget suruh pakai jaket," dumel Luna sembari memakai jaket Al dengan kesal.


Lalu Luna menyusul Al yang masuk ke dalam sekolah untuk menemui pak Budi.


"Dinda," panggil Luna saat melihat Dinda keluar dari ruangan osis.

__ADS_1


"Luna, berangkat sama siapa?" tanya Dinda karena ia tahu rumah Luna lumayan jauh dari sekolah.


"Emm eh iya kapan berangkatnya?" tanya Luna mengalihkan pertanyaan Dinda.


"Nih mau berangkat, pak Budi ngambil beberapa alat buat tanda nanti sama surat izin survei tempat kemah," kata Dinda memberitahu Luna.


"Ohh gitu," kata Luna beroh ria.


Tak lama pak Budi Al dan Arka keluar dari ruang osis dan menguncinya.


"Ayo berangkat sekarang, keburu siang," kata pak Budi pada mereka semua.


Lalu mereka turun ke lantai bawah untuk segera berangkat.


"Bentar- bentar, kok kayaknya tuh baju couplean sama Al? Jangan- jangan kalian berdua?" tebak Dinda yang sangat julid sekali apalagi tentang Al.



Luna yang tadinya sibuk bermain ponsel seketika melihat jaket Al yang ia pakai.


"Enggak kok," jawab Luna sembari memalingkan wajahnya membuat Dinda semakin menggodanya.


Luna merutuki dirinya sendiri, kenapa dia tadi mau- mau saja saat diminta Al untuk memakai jaketnya.


.


.


.


Mereka sudah sampai di hutan yang akan dijadikan perkemahan minggu depan.


Setelah berputar- putar melihat tempat yang strategis akhirnya mereka menemukannya.


"Ini tempat yang sangat strategis untuk kemah nanti," kata pak Budi senang saat menemukan tempat yang cocok.


"Iya pak, juga akan mempermudah kita semua," kata Arka sembari menatap sekitar.


"Yaudah, karena sudah sore juga. Ayo kita pulang dan istirahat. Besok masih ada banyak tugas untuk persiapan kemah nantinya," kata pak Budi mengakhiri kegiatan ini.


"Al Lun, kita pulang dulu ya," pamit Dinda sembari mengedipkan sebelah matanya pada Luna.


"Kalian hati- hati ya," peringati pak Budi pada mereka berdua karena tidak semobil dengan pak Budi.


Luna hanya mengangguk kikuk saat melihat tatapan mereka yang menggodanya.


"Al langsung anter pulang ya, enggak usah belok kemana- mana," goda Arka membuat pak Budi dan Dinda tertawa.


Mereka berpisah dan pulang ke rumah masing- masing.


Dan kini tinggal mereka berdua.


"Ayo," kata Al pada Luna sedikit agak canggung.


"Al tolong anterin ke cafe deket SMA ya, sekarang waktunya aku kerja," kata Luna sedikit takut merepotkan Al.


"Hmm," jawab Al sembari menjalankan mobilnya.


Menurut Al, Luna bukanlah tipe pemalu atau gengsi.


Buktinya disaat semua wanita menjaga imagenya, entah tentang pekerjaan atau hal kehidupan lainnya.


Luna malah berbicara terang- terangan tentang kerjaannya bahkan saat Al datang ke rumahnya tadi Luna juga tidak malu menunjukkan rumahnya.


Sekitar 15 menit Al belok arah dan parkir di depan restoran yang tidak jauh dari tempat hutan tadi.


"Loh Al kita ngapain di sini?" tanya Luna panik karena sekarang waktunya ia kerja.



"Gue laper dari pagi belum makan," jawab Al yang langsung turun dari mobil dan meninggalkan Luna.


Luna langsung turun dari mobil dan mengejar langkah Al.


"Tapi Al anter dulu aku ke cafe baru kamu makan. Sekarang waktunya aku kerja," kata Luna memohon agar Al mau mengantarnya ke cafe dia kerja.


"Gue kalau laper enggak bisa fokus nyetir, kalau lo mau bawa aja mobil gue," kata Al sembari memanggil waiters untuk memesan.


"Hihh ngeselin banget sih jadi orang," omel Luna membuat para pengunjung menatapnya.


"Yaudah aku mau naik bus aja," kata Luna yang dijawab oleh seorang pelayan yang sedang berdiri mencatat pesanan Al.


"Maaf nona, jam segini tidak ada bus lewat, mungkin sekitar pukul 6 nanti baru ada," Luna merasa malu di depan Al.


Terpaksa Luna duduk di depan Al untuk makan terlebih dulu baru bisa pulang.


Tidak lama pesanan datang dan kalian tahu menunya bukan hanya satu tapi berbagai macam hingga memenuhi meja.


"Ya tuhan menunya banyak banget. Siapa yang bakal habisin sebanyak ini?" tanya Luna kaget sembari menatap makanannya.


"Kan bisa dibungkus," jawab Al santai sambil memakan dagingnya.


"Al aku enggak bawa uang, berapa harga semuanya?" tanya Luna yang terlihat sangat menggemaskan.


"Makanlah nanti akan aku beritahu," kata Al membuat Luna menatap sinis Al lalu memakannya.


Al melirik Luna yang makan dengan lahap tanpa jaim atau merasa malu di depannya.


Setelah selesai makan Al langsung mengantar Luna pulang bukan ke cafe.


Bahkan sepanjang jalan Luna terus mengomel dan memarahi Al karena tidak mengantarnya ke cafe melainkan pulang.


Mobil Al berhenti tepat di depan rusun Luna.


"Kan gara- gara kamu aku enggak jadi kerja," ketus Luna sembari memukul lengan Al dengan sangat kuat.


"Udah keluar, gue mau pulang," kata Al yang terdengar seperti mengusir Luna.


"Dasar beruang kutub," gerutunya sembari turun dari mobil Al.


Al tersenyum tipis melihat Luna sejak tadi uring- uringan sendiri.


Tok tok tok


Al langsung merubah ekspresinya saat Luna mengetuk kaca jendelanya.


Al menurunkan kacanya dan Luna sedikit merunduk menatap Al tajam.


"Makasih tumpangannya dan jangan pernah lagi jemput aku, yang ada bukannya hemat malah melarat diporotin sama kamu," ketus Luna lalu naik ke tangga untuk sampai di lantai 4.


Al tersenyum samar melihat Luna yang marah dengan muka juteknya.


Dia memang sengaja mengulur waktu agar Luna tidak bekerja.


Dan Al bukan tipe orang yang suka makan begitu banyak, dia hanya ingin membelikan makanan untuk dimakan Luna nanti di rumah.


Al menatap lantai 4 yang paling atas, lampu menyala artinya Luna sudah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Setelah dirasa aman, Al langsung pulang karena hari sudah malam.


__ADS_2