Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Menjaga Dari Mantan


__ADS_3

Sedangkan di sisi lain ada Leyna yang berdiam diri di kelas.


Leyna akhir- akhir ini sangat malas sekali untuk makan atau sekedar pergi jajan.


Apa semua ini karena janin dalam kandungannya.


Leyna menatap perut ratanya, dia berharap semoga saja perutnya tidak membesar sebelum ujian dimulai.


Jika perut Leyna membesar sebelum ujian kelulusan dimulai, bisa- bisa dirinya di keluarkan oleh pihak sekolah.


Leyna masih ingin mendapatkan ijazah SMA meski ia melakukan pelanggaran besar.


Yaitu hamil diluar nikah.


Leyna tidak menyangka jika dirinya bisa hamil anak Damar.


Malam itu Leyna bangun dan bajunya masih lengkap begitu juga Damar.


Tapi kenapa saat Leyna pergi ke dokter dan memeriksa lewat tespack hasilnya positif.


Leyna merasa seakan ada sesuatu yang janggal.


Apa mungkin ini semua rencana Damar? Atau siapa?


Leyna harusnya bersyukur Damar masih mau bertanggung jawab dan menerima pukulan papanya saat datang ke rumah.


Tapi Leyna masih acuh tak acuh pada Damar yang selalu perhatian dengannya.


Karena Leyna cintanya sama Eros bukan Damar.


Leyna memendam perasaannya karena ia tahu jika Bianca juga menyukai Eros.


"Leyna," lamunan Leyna bubar saat Damar masuk ke dalam kelas.


"Ini ada salad sama susu kedelai, tadi pagi mama yang buat," kata Damar sembari meletakkan kotak bekal yang berisi salad dan sebotol susu kedelai.


Leyna hanya menatap sekilas bekal dan susu di depannya itu.



Leyna menyibukkan diri dengan bermain ponselnya.


"Jangan lupa makan. Gue mau kekelas dulu," kata Damar lalu pergi keluar kelas setelah memberikan salad dan susunya pada Leyna.


Leyna menatap salad dan susu di depannya.


Sepertinya itu sangat manis sekali, Leyna mendadak ingin sekali mencicipinya.


Leyna memastikan Damar tidak ada di depan kelasnya lalu buru- buru ia membuka saladnya.


"Emmm, sumpah enak banget ini," gumam Leyna senang saat salad itu masuk ke dalam mulutnya.


Saking enaknya, Leyna hampir menghabiskan sekotak salad itu.


Nyatanya Damar diam- diam mengamati Leyna yang memakan saladnya.


Damar tersenyum melihat wajah Leyna yang begitu menikmatinya.


"Manis banget," gumam Damar lalu pergi ke kantin untuk membeli makan.


Bianca yang selesai dari kantin melihat Leyna sedang makan sesuatu.


"Wih tumben lo bawa bekal ke sekolah," kata Bianca sembari duduk di samping Leyna.


"Lagi malas aja ke kantin," jawab Leyna yang hanya diangguki oleh Bianca.


《♡♡♡》


Sedangkan di kelas XII IPA 1 Luna baru saja masuk ke kelas setelah menemui Willy di taman tadi.


Sekilas Luna melihat Al sedang memainkan ponselnya.


"Dari mana aja sih lo?" tanya Calista kesal sembari makan jajanannya.


"Dari toilet tadi," bohong Luna sembari salah tingkah takut jika Al mendengarnya.


"Nih makan," kata Aqila sembari menyodorkan roti isi dan milkshake yang ia beli untuk Luna.


"Makasih sayang," kata Luna sembari memeluk lengan Aqila.

__ADS_1


Aqila hanya mengangguk sedangkan Calista menatap mereka heran.


"Gimana sama Willy?" tanya Aqila membuat Luna tersedak.


Uhuk uhuk


"Pelan- pelan napa sih?" marah Calista sembari membukakan milkshakenya.


"Gaya lo, ditanya mantan aja sampai kesedak," sindir Aqila membuat Luna meletakkan roti isinya dan meminum hingga tandas milkshakenya.


"Kenapa semua pada bilang mantan sih, pacaran aja enggak pernah," kesal Luna membuat Aqila dan Calista saling menatap heran.


"Semua? Emang siapa aja?" Luna mendadak bingung saat baru menyadari ucapannya.


"Emm itu maksudku, kamu dan Calista," kata Luna kikuk sembari kembali makan roti isinya.


Kringg kringg


Bel masuk sudah berbunyi, jam pelajaran kedua sudah dimulai.


Pelajaran pun dimulai dengan pelajaran pak Kimmy, yaitu bahasa inggris.


Tok tok tok


"Permisi pak," kata Arka yang kemudian masuk ke dalam kelas dan berbicara pada pak Kimmy.


"Luna Willy, kalian dipanggil bu Sari di ruang guru," kata pak Kimmy membuat Luna menatap Aqila.


"Udah lo tenang aja, semua bakal baik- baik aja kok," kata Aqila sembari mengusap punggungnya pelan.


Luna lalu berdiri disusul Willy dan meminta izin untuk menemui bu Sari.


"Hekm, Luna sama Willy dipanggil sama bu Sari, kira- kira mereka ngapain ya ko?" tanya Dante pada Al yang diam saja sejak tadi.


"Kalau cuma dipanggil ke ruang guru mah enggak papa, kalau udah dipanggil pendeta buat ke altar baru kenapa," kata El yang langsung ditatap oleh Al.


"El enggak ngomong apa- apa kok ko," kata El yang langsung menghadap ke depan untuk mendengarkan penjelasan pak Kimmy.


Sedangkan Dante cekikikan karena melihat kokonya.


"Siapa sekretarisnya?" tanya pak Kimmy dan Aqila langsung angkat tangan.


"Bapak ada urusan, tolong kalian catat beberapa materi tambahan yang akan Aqila tulis di papan tulis," kata pak Kimmy sebelum meninggalkan kelas.


Mereka bersorak senang saat pak Kimmh keluar kelas.


"Diemm, buruan nyatet," kata Aqila dengan mode galaknya membuat semua mendadak diam.


"Galak banget buk," gerutu Dante yang tidak tahan dengan teriakan Aqila layaknya toa.


Aqila mulai menyatat di papan tulis sedangkan bangku paling belakang sedang mabar.


"Eh ayo mabar," ajak Dante pada teman- teman bangku belakang.


"Jangan entar kena marah sama Aqila Dan," tolak temannya itu sembari berbisik.


"Enggak bakal enggak," kata Dante dengan sombongnya tanpa takut Aqila tahu.


"Danteee jangan berisik bisa enggak?" bentak Aqila yang geram sejak tadi mendengar Dante berbisik- bisik mengompori temannya untuk mabar.


"Heii, semuanya nulis, bini gue lagi nyatet tuh di depan," kata Dante yang langsung pura- pura mencatat.


"Cieeee Dante," teriak mereka memberikan cuitan saat Dante bilang jika Aqila adalah istrinya.


Aqila berjalan menuju bangku Dante.


Brak


"Nih sekarang giliran lo yang nyatet, capek gue," kata Aqila sembari memberikan buku paketnya dan spidol lalu duduk di bangkunya untuk mencatat.


"Perasaan bukan gue sekretarisnya, kenapa jadi gue yang disuruh nulis," gerutu Dante sembari berjalan ke depan untuk menggantikan Aqila.


"Tadi aja lo ribut ngajakin mabar, giliran kena bentak Aqila langsung nurut lo," ejek El membuat semua tertawa.


Terpaksa dengan tulisan yang sangat rapi sampai enggak bisa dibaca, Dante menulis di papan tulis.


Bahkan tulisannya seperti pegunungan yang naik turun.


"Dantee kenapa tulisan lo kayak naik ke puncak naik turun gitu bingung gue bacanya," marah Aqila pada Dante.

__ADS_1


"Dan mata gue udah minus, lihat tulisan lo malah kabur pandangan gue,"


"Besarin dikit napa Dan tulisannya, gue duduk paling belakang nihh,"


Kata mereka semua protes saat Dante yang mencatat di papan tulis.


"Perasaan salah mulu gue, kalau gitu lo semua maju sini nulis di papan tulis sendiri- sendiri, kesel gue," kata Dante sembari mengambil kursi untuk naik agar bisa menulis dari paling atas.


Lalu dengan segala keterpaksaan mereka akhirnya nurut saja dengan apa yang Dante tulis di depan.


Sedangkan di ruang guru, suasana mendadak hening.


"Jadi bagaimana, apa kamu bisa Lun?" tanya bu Sari pada Luna yang hanya diam saja.


"Emm bu saya...,"


"Hanya 2 minggu kok Lun, sampai waktu ujian tiba. Ibu percaya kamu bisa membantu Willy, lagian kamu salah satu siswa teladan juga selain Al," kata bu Sari membuat Luna merasa tak enak hati untuk menolak.


"Kalau Luna tidak bisa, tidak papa bu. Saya akan meminta bantuan pada yang lainnya saja," kata Willy membuat bu Sari menggelengkan kepalanya.


"Luna lebih mudah Wil buat bantu kamu belajar, Luna menjadi salah satu siswa yang pernah memenangkan olimpiade tingkat nasional 2 tahun berturut- turut," kata bu Sari memberitahukan pada Willy.


Tok tok tok


Semua menoleh saat Al berdiri di ambang pintu ruang guru.


"Al ada apa?" tanya bu Sari membuat Al masuk ke dalam dan duduk di dekat Willy.


"Maaf saya tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu, saya kira saya juga bisa membantu Willy untuk mengejar beberapa materi yang tertinggal," kata Al menawarkan diri membuat bu Sari tersenyum lebar.


"Wahhh bagus dong, dengan begitu Willy bisa belajar dengan lebih cepat karena dibantu kalian berdua, gimana Wil kamu mau kan belajar sama Luna dan Al?" tanya bu Sari pada Willy.


"Iya bu saya mau," jawab Willy terdengar lemas tidak begitu bersemangat.


"Ya sudah, nanti kalian atur jadwal belajarnya sendiri ya. Minggu depan ujian praktek akan dimulai lalu minggu selanjutnya sudah ujian tulis. Jadi, ibu yakin kalian bisa mengatur waktunya," kata bu Sari yang diangguki Al dan Luna.


"Ya sudah kalian bisa kembali ke kelas," kata bu Sari membuat mereka satu persatu keluar dari ruangannya.


"Al," panggil Luna saat mereka sudah keluar kelas. Sedangkan Willy sudah berjalan lebih dulu untuk kembali ke kelas.


"Kamu beneran mau ngajarin Willy?" tanya Luna ragu pada Al yang terlihat dingin bisa- bisanya menawarkan diri untuk membantu.


"Kenapa? Lo keberatan?" tanya Al balik membuat Luna menghela napas kesal.


"Bukan gitu, maksudnya...,"


"Lo takut gue ganggu waktu kalian berdua?" tanya Al membuat Luna mendelik kesal.


Bugh


"Enak aja kalau ngomong," kata Luna yang terlihat sangat kesal.


"Lo yang buat jadwalnya, entar kasih ke gue," kata Al dengan wajah datarnya.


"Di rumahmu?" tanya Luna membuat Al yang kini melotot.


"Enak aja, yang belajar siapa? Ngapain di rumah gue, di rumah mantan lo lah," kata Al menyebutkan kata sensitif yang membuat Luna jengkel.


Bugh


"Bisa enggak sih jangan sebut dia mantan, panas dengernya," ketus Luna lalu pergi meninggalkan Al di lorong.


Al hanya menatap kepergian Luna dan tersenyum samar sangat samar sekali.


Sedangkan Eros yang berada di markas karena tidak ada jam pelajaran, sibuk untuk merokok dan bermain game.


"Ros jadi gimana, kapan kita bakal mancing gengnya Alex?" tanya Edo membuat Eros mempause gamenya.


"Besok," jawab Eros santai namun tidak dengan anggotanya.


"Seriusan bos?" tanya anggota lainnya sedangkan Eros hanya mengangguk lalu melanjutkan gamenya.


"Besok kita ikut semua atau separuh aja?" tanya Edo dengan tatapan yang masih fokus pada ponselnya.


"Separuh aja, cuma buat mancing mereka keluar," kata Eros yang hanya diangguki oleh semua anggotanya.


Geng Eros terkenal cukup banyak, anggotanya bahkan campuran dari kelas 1 dan 2, sekitar 45 orang.


Sudah beberapa kali sekolah menyita motor mereka, menahan mereka dipenjara bahkan memanggil orang tuanya.

__ADS_1


Namun hal itu tidak membuat mereka jera sedikitpun.


__ADS_2