Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Tembak


__ADS_3

"Mama," teriak Leyna membuat Damar yang tidur di sofa terbangun.


Damar langsung menghampiri Leyna yang terlihat bermimpi buruk.


"Ada apa, hmm?" tanya Damar sembari membantu Leyna untuk minum.


Leyna menatap Damar sembari menggenggam erat gelasnya.


"Aku rindu mama," kata Leyna yang mampu membuat kaki dan jantung Damar seakan lemah mendengar ucapan tersebut.


Damar meraih gelas Leyna dan meletakkanya di atas nakas.


Serasa tak sanggup meski hanya untuk membuka suara, Damar meraih Leyna ke dalam pelukannya.


Hati yang sesak, napas yang tersekat, seakan bersamaan terjadi pada Damar.


"Dam," panggil lirih Leyna karena Damar sedari tadi hanya diam.


"Hmm?" jawabnya sembari menunduk melihat wajah cantik Leyna.


"Apa sesuatu telah terjadi?" tanya Leyna yang mencurigai sikap Damar.


Cup


"Nanti pulang sekolah ke rumah mama ya, sekarang tidur dulu. Masih jam 5," kata Damar sembari ikut berbaring bersama menemani Leyna.


Leyna hanya diam dan menurut saja, dengan sangat nyaman ia kembali tertidur dengan memeluk pinggang Damar.


Perlahan Damar merasakan hembusan nafas teratur, ia menunduk melihat Leyna yang kembali tertidur.


Cup


Damar mencium kening Leyna lalu merapatkan pelukannya dengan mata yang sudah berkaca- kaca.


Apa yang harus kukatakan, saat ia pulang ke rumah dan melihat mamanya terbujur kaku, batin Damar yang kini menahan tangisannya.


○○○


Sedangkan di tempat lain ada seseorang yang sejak tadi duduk manis di atas motornya hanya demi menunggu seseorang.


Ya, siapa lagi jika bukan Dante.


Ia sejak pukul 6 tadi sudah bertengger di depan gerbang rumah Aqila.


Padahal, pak satpam sudah menyuruh Dante untuk masuk namun ia menolaknya dan memilih untuk menunggu di depan gerbang.


DRETTTTT


Pintu gerbang dibuka terlihat Aqila menuntun motor vespanya diikuti mamanya dari belakang.


"Dante?" kaget Aqila saat melihat Dante sudah berada di depan rumahnya.


"Loh temannya Aqila kok enggak disuruh masuk pak?" tanya Mila pada pak satpam.


"Maaf nyonya, tapi den muda tidak mau untuk masuk dan memilih menunggu di sini," kata pak satpam yang diangguki oleh Dante.


"Pagi tan, saya teman sekolahnya Aqila, Dante," kata Dante yang langsung memperkenalkan dirinya pada Mila.


"Mau jemput Aqila ya?" tanya Mila membuat Aqila melotot.


"Hehe iya tan, tapi Aqilanya malah bawa motor sendiri padahal kemarin malam udah janjian," kata Dante yang mampu membuat Aqila membelalakkan matanya.


Janjian? Tadi malam?


Kapan? Aqila aja enggak pernah chatan sama Dante.


"Oh ya tuhan, maafin putrinya tante ya sayang, dia emang bandel gitu," kata Mila sembari menoel dan memelototi Aqila.


"Pak Dadang, tolong bawa masuk kembali motor Aqila," perintah Mila membuat Aqila hanya hah hoh.


"Tapi ma...," Mila langsung memelototi Aqila.


"Kalau gitu kita berangkat dulu ya tan," pamit Dante dan bersalaman pada Mila.


Sedangkan Aqila saat ini seakan sedang mengibarkan bendera perang untuk Dante.


"Udah sana, tunggu apalagi," kata Mila sembari memelototi putri semata wayangnya.


Aqila akhirnya terpaksa berangkat bersama Dante.


Padahal niat Dante ke rumah Aqila hanyalah sebuah perintah dari kokonya juga untuk mencari kesempatan.

__ADS_1


Dan bener aja dong, dia dapet kesempatan terbaik itu dengan berangkat ke sekolah bersama Aqila.


Sepanjang jalan keduanya hanya diam karena saling menikmati udara segar nan sejuk kala di pagi hari.


Namun, ada sesuatu yang mampu membuat Dante begitu bahagia pagi ini selain bisa berangkat bersama Aqila.


Yaitu Aqila yang melingkarkan tangannya di perut Dante tanpa Dante minta.


Kan vibesnya udah kayak suami istri jadinya, hehe.


Sesampainya di SMA Aqila langsung turun dan memberikan helmnya pada Dante.


"Besok lagi enggak usah jemput gue, gue enggak terima ojek," ketus Aqila yang langsung pergi meninggalkan Dante sendiri di parkiran.


"Aqila tunggu," teriak Dante yang mengejar langkah Aqila.


Sedangkan di dalam kelas ada Luna yang sedang belajar tentang beberapa bahasa asing untuk menambah kosakatanya.


Luna menoleh kala mendengar derap kaki.


Dan ternyata itu Al.


Luna tersenyum ke arah Al namun seperti ada sesuatu yang aneh.


Ada apa dengannya?


Al langsung duduk di bangkunya tanpa melakukan rutinitas setiap datang dengan duduk di bangku Luna.


Tak hanya Luna yang merasa jika Al bersikap aneh, tapi juga teman sekelasnya pun merasakan.


"Aqila dengerin gue dulu," kata Dante yang baru datang dan mengikuti langkah Aqila.


"Diem atau gue pukul?" mendadak Dante terdiam tak berkicau seperti tadi.


Bahkan semua seakan terperangah dengan kekuatan magic Aqila yang mampu menyihir Dante yang pecicilan menjadi pendiam.


Aqila yang hendak duduk di bangkunya sedikit terheran kala Al dan Luna sama- sama diam.


"Lo kenapa dah pagi- pagi udah galau?" tanya Aqila yang dijawab gelengan kepala oleh Luna.


"Tumben tuh pak negara enggak ngusir gue dari bangku, biasanya baru dateng tengil banget," gerutu Aqila yang sedang kesal.


Luna hanya diam dan tak lama bel berbunyi tanda ujian akan dimulai dengan pengawas yang mulai masuk ke ruangan.


Dan hari ini adalah hari terakhir mereka ujian.


So, mereka pasti sangat senang sekali.


"Yessss akhirnyaaaaa bentar lagi gue lulus," teriak Dante yang langsung mendapatkan tatapan sengit Aqila.


Tok tok tok


Semua menoleh ke ambang pintu kala bu Sari mengetuk pintu.


"Selamat siang anak- anak, maaf ibu menunda waktu kalian sebentar," kata bu Sari yang kini matanya terlihat sedikit sembab.


"Tapi hari ini, ada kabar duka dari teman kalian," sontak suasana menjadi hening dan sendu.


Bu Sari terlihat menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


"Tepatnya kemarin malam, mama dari Leyna kelas XII IPS 1 telah meninggal dunia dan hari ini bapak ibu guru harap kalian semua bisa meluangkan waktu untuk pergi takziah ke rumahnya," sontak mereka saling berbisik karena merasa sangat terkejut akan berita ini.


"Sekian dari ibu, terima kasih," kata bu Sari yang tak tahan untuk tidak menangis dan pergi keluar kelas.


"Ya ampun, kasihan banget ya Leyna," kata Aqila pada Luna.


Luna beranjak berdiri hendak memberitahu Al untuk menggalang dana pada siswa.


Namun, terlambat kala Al sudah menyambar ransel hitamnya dan pergi keluar kelas tanpa mengatakan sepatah katapun pada Luna.


"Lo berantem sama Al?" tanya Aqila yang berdiri di belakang Luna. Luna hanya menggelengkan kepalanya.


"Tunggu aku dulu ya bentar, nanti ke rumah Leyna nya barengan," Aqila hanya mengangguk.


Sedangkan Luna pergi keluar kelas untuk mengoordinasi pada siswa untuk penggalangan dana.


Aqila yang bosen menunggu Luna di dalam kelas berniat pindah untuk menunggunya di rooftop sekolah saja.


Di sana pasti udaranya dingin, karena itu Aqila pergi ke sana.


Siapa yang tahu jika sedari tadi Dante memperhatikan Aqila hingga ia menyusul Aqila ke rooftop.

__ADS_1


"Hah, segarnya," kata Dante membuat Aqila yang tadi duduk di bangku sembari memejamkan mata kini membuka matanya dan menoleh menatap Dante.


"Ngapain lo kemari?" tanya Aqila dengan ketus.


"Ngamen, ya cari angin lah pakai tanya," ketus balik Dante sembari berdiri di dekat tepi pagar rooftop.


Aqila hanya diam saja dan kembali memejamkan matanya untuk menikmati udara di siang hari ini.


Perlahan Aqila membuka matanya kala merasa teduh.


Dante berdiri di depannya guna menghalangi sinar matahari agar tidak terkena wajahnya.


"Dante lo ganggu tahu enggak, minggir sana," ketus Aqila sembari memalingkan muka guna mengalihkan detak jantungnya yang beberapa menit lalu berdetak tak karuan hanya menatap wajah Dante.


"Lo tahu enggak sih, setiap lo marah lo tambah cantik," kata Dante sembari menghadap ke depan membelakangi Aqila.


Aqila diam- diam tersenyum simpul.


"Apaan sih lo," kata Aqila yang hendak pergi.


"Gue ikut," kata Dante yang hendak mengikuti Aqila.


Aqila berbalik dan menatap garang Dante.


"Ngapain sih lo ikut gue mulu, temen laki lo kan banyak," kata Aqila sebal.


"Emang kenapa, gue maunya ikut lo," jawab Dante santai namun tidak dengan detak jantung Aqila saat ini.


Aqila memalingkan mukanya lalu kembali menatap Dante.


"Ya seenggaknya lo jaga jarak dikit gitu sama gue. Mereka pasti nganggepnya kita punya hubungan," kata Aqila dengan setengah terbata.


"Emang kalau punya kenapa?" tanya Dante balik membuat Aqila sedikit membelalakkan matanya.


"Apa lo enggak ngerti sama apa yang gue ucapin?" Aqila nampak mengerutkan dahinya.


Dante berjalan mendekati Aqila dengan jarak yang bisa dibilang sangat dekat.


"Aqila," panggil Dante lirih membuat Aqila sedikit mendongak karena tubuh tinggi Dante.


"Gue suka sama lo,"


Deg


Apaan nih?


Gue diprank? Apa ada kamera di sini? batin Aqila kaget.


"Enggak usah bercanda deh Dan, enggak lucu," kata Aqila mencoba untuk mengalihkan pembicaraan yang menurutnya konyol.


"Gue serius La,"


Aqila menatap wajah tampan Dante untuk mencari kebenarannya.


Dan semua matanya mengatakan hal itu dengan tulus.


"Tapi lo bakalan ilfeel kalau tahu hobi gue," Dante mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Di luaran sana, udah banyak cowok yang ngejauh dari gue karena tahu hobiku," kata Aqila memberitahu sesuatu fakta penting pada Dante.


"Memang apa hobimu?" tanya Dante penasaran.


"Gue seorang army, dan lo pasti tahukan hal itu berbau dengan korea dan penuh kehaluan," Aqila nampak berhenti untuk menjelaskan.


"Lalu di mana masalahnya?" tanya Dante.


"Banyak cowok bilang, mereka cewek yang mengagumi k- pop adalah hal yang gila dan tabu, padahal enggak ada yang salah dengan itu. Dan mereka bilang jika kami para army selalu memandang fisik kala memilih pasangan, faktanya bukan begitu," jelas Aqila yang membuat Dante mulai paham.


Dante hanya diam dan mendengarkan penjelasan Aqila.


"Jadi, gue udah biasa dijauhi oleh mereka para cowok setelah mengetahui hobiku dan pergi begitu saja," kata Aqila pelan.


Aqila berbalik hendak menemui Luna yang mugkin saat ini sedang menunggu dirinya.


"Tapi gue bukan salah satu dari para cowok itu," teriak Dante membuat langkah Aqila terhenti di tempat.


Keduanya sama- sama terdiam cukup lama.


"Dan gue bakal buktiin," lanjut Dante yang berjalan melewati Aqila begitu saja meninggalkan rooftop.


Aqila hanya menatap kepergian Dante dari hadapannya.

__ADS_1


"Gue harap juga begitu," gumam lirih Aqila.???-


__ADS_2