Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Pernyataan Cinta?


__ADS_3

Luna dan Willy baru saja selesai mengurus beberapa berkas dari rumah bu Jesy.


"Lun lo langsung pulang atau mau kerja ke cafe?" tanya Willy saat mereka sudah selesai dari rumah bu Jesy.


"Hmm kayaknya aku ke cafe paman Hasan aja, udah lama juga aku enggak ke sana," kata Luna membuat Willy mengangguk.


"Yaudah ayo gue anter," kata Willy sembari membukakan pintu mobil untuk Luna.


Ting


"Bentar ya, ada pesan masuk," kata Luna pada Willy.


Luna melihat ada pesan dari Dante, ia langsung membukanya.


Tuan Dante tampan


Lun ditungguin koko di turnamen, lo mau kan dateng kesini?


Luna terdiam, lalu ia teringat akan pertanyaan Al kemarin saat di sekolah.


Jadi, hari ini turnamennya diadakan.


Pantas saja sejak kemarin Al ingin bicara dengannya.


"Kenapa Lun?" tanya Willy saat Luna terdiam.


"Hmm Wil, kamu duluan aja gih aku ada urusan jadi aku naik taksi aja ya," kata Luna yang terburu- buru sembari celingak- celinguk mencari taksi.


"Gue anter aja Lun," kata Willy yang ingin menahan Luna namun telat saat taksi sudah berhenti di depan Luna.


"Wil aku duluan ya, makasih," kata Luna yang pergi bersama taksi itu entah kemana.


Willy hanya bisa menghembuskan napas pelan saat ia tidak bisa berlama- lama dengan Luna.


Sedangkan di turnamen Al, sudah berjalan hingga babak ketiga.


Tim Al sudah tertinggal 3 skor membuat semua ketar- ketir dan juga cemas.


"Dek Luna kapan kesini?" tanya Sela saat turnamen tinggal satu babak.


"Bentar ma, Luna bilang masih di jalan," jawab Dante yang juga was- was.


Wasit memberikan waktu istirahat selama 5 menit.


Terlihat pak Chandra mengobrol berdua bersama Al.


Sela menggenggam erat tangan kekar Bara, itu tandanya ia begitu cemas dan khawatir.


"Tenanglah sayang, percayakan semua ini pada koko," kata Bara yang terus mencoba menenangkan suaminya.


Bara mencium puncak kepala Sela agar istrinya tidak terlalu cemas.


"Dante itu Luna kan?" teriak El saat ia melihat sosok bertopi hitam dan terus menunduk.


"Ehh iya bener," kata Dante yang juga ikut heboh.


"Mana- mana?"


"Itu ma yang pakai topi hitam kemeja putih," tunjuk Dante pada sosok di tepi lapangan.



Tanpa menunggu lama lagi, Sela langsung turun dari bangku penonton untuk menghampiri Luna.


"Itu mama gercep banget perasaan,"


"Paling bersemangat malahan,"


"Biasalah, sama calon menantu,"


Celetuk ketiga pria itu saat melihat Sela menghampiri Luna.


"Hei sayang," Luna mendongak saat seseorang memegang lembut lengannya.


"Iya tante ada yang bisa saya bantu?" tanya Luna begitu lembut dan ramah.


Sela dibuat jatuh cinta dengan Luna yang begitu cantik dan sopan juga ramah.


"Sayang, saya mamanya Al mari duduk bersama kami di sana," kata Sela sembari menunjuk bangkunya.


Luna mengikuti tatapan Sela, dan benar saja di sana ada Dante dan El yang melambaikan tangannya.


"Tidak tante saya di sini saja," kata Luna menolak halus tawaran Sela.


"Udah ayo duduk dengan kami, berdiri lama di sini akan membuat kakimu kram," kata Sela yang menarik pelan tangan Luna menuju bangku penonton.


"Wahh ini yang namanya Luna?" tanya Bara pada istrinya.


"Iya, dia cantik kan?" tanya Sela tentang pendapat Bara pada Luna.


"Iya cantik sama sepertimu," puji Bara membuat Luna menunduk malu dan tersenyum.


"Pa ma babak keempat dimulai," kata El saat wasit meniup peluitnya.


Luna melihat wajah Al begitu dingin dan serius.


Luna juga melihat papan skor jika SMA nya tertinggal jauh dengan SMA sebelah.


"Ayo kita beri semangat koko," kata Sela sembari meneriaki nama Al.


"Koko semangat," teriak Sela dan juga Bara.


"Koko ayo semangat," teriak El sembari melambaikan tangannya heboh.


"Ko semangat, Luna nya udah dateng nih," teriak Dante begitu keras hingga membuat Al menoleh.



Keduanya saling menatap, lalu Luna menyunggingkan senyum manisnya membuat Al ikut tersenyum.


Seakan ada gelora dan semangat yang begitu penuh dalam diri Al.


Al kembali bermain dengan sangat gesit saat mengetahui kedatangan Luna yang sedang menontonnya bersama keluarganya.


Dia harus menunjukkan yang terbaik pada orang terkasihnya.


Dan benar saja dong, kini tim Al sudah bisa mengejar ketinggalan skor SMA sebelah.


Tepat saat menit terakhir Al kembali mencetak skor 3 sekaligus hingga mengalahkan lawannya.

__ADS_1


"Yeeeeay koko menangggg," teriak El dan Dante yang begitu gembira dan saling berpelukan.


"Sayang Al menang," kata Sela yang langsung memeluk Luna tanpa ragu dan sungkan.


Luna sedikit kikuk namun Bara yang berdiri di samping istrinya ikut tersenyum lebar membuat Luna menjadi rileks.


Terlihat Al dan para anggotanya mengangkat piala kemenangan itu dengan sangat gembira.


Para siswi juga ikut bersorak sorai saat mengetahui Al telah memenangkan turnamen untuk terakhir kalinya.


Al berjalan untuk menghampiri keluarganya.


Bara langsung memeluk bangga Al lalu diikuti Sela.


Luna sedikit mundur untuk memberikan ruang bagi mereka.


Dante dan El ikut memeluk bangga kokonya.


"Koko harus terima kasih sama Dante, karena yang datengin Luna kesini adalah Dante," ucapnya membuat Al tersenyum manis tanpa diketahui Luna.


"Oh ya sayang, sepertinya kita harus pergi untuk cari udara segar dan makan siang," kata Sela sembari memberikan kode pada El dan Dante untuk pergi.


"Oh iya kita kan belum makan siang," kata El yang langsung gercep untuk meninggalkan kokonya dengan Luna.


"Lah kita kan barusan makan ma, masak makan lagi," kata Dante membuat Sela memelototinya.


"Loh iya dong sayang, sekarang saatnya kita makan siang," kata Sela sembari menarik Dante untuk meninggalkan mereka berdua.


"Ko papa tinggal dulu ya. Lun om pergi dulu," kata Bara sebelum menyusul istri dan kedua putranya yang sudah digiring pergi oleh Sela.


"Iya om,"


"Iya pa,"


Bara pergi dan kini menyisakan Al dan Luna di tengah keramaian mereka memeriahkan kemenangan turnamen ini.


"Emang enggak sibuk?" tanya Al membuka obrolannya.


"Udah selesai tadi," jawab Luna sedikit malu.


Al melirik tas yang sedari tadi dipegang Luna.


"Lo bawa apaan?" tanya Al membuat Luna hampir lupa memberikannya.


"Oh itu ini hanya jus yang aku beli di toko kecil dan juga salad," kata Luna yang malu untuk memberikannya.


"Buat gue?" tanya Al sembari menatap Luna.


"Emang kamu mau?" tanya balik Luna yang diangguki Al.


Keduanya lalu duduk di bangku penonton, Luna mengeluarkan sebotol jus yang ia beli tadi dan juga salad buah yang begitu dingin.


"Nih," kata Luna memberikan sebotol jus stroberi yang ia beli tadi.




Lalu membukakan salad buahnya juga.


"Titip bentar gue mau makan," kata Al sembari mengalungkan medalinya pada Luna.


Nyatanya bukan hanya Luna yang syok akan perlakuan Al tapi juga para siswi yang melihat hal itu juga ikut bersorak sorai.


"Enak enggak?" tanya Luna untuk mencairkan suasana.


"Enak," jawab Al yang makan begitu lahap salad buah dari Luna.


Beberapa menit Luna menunggu hingga Al selesai makan.


"Makasih," ucap Al singkat namun begitu manis bagi siapapun yang mendengarnya.


Luna hanya mengangguk lalu merapatkan topi hitamnya.


"Ehh," kata Luna saat Al membuka topi hitam Luna.


"Enggak usah pakai topi," kata Al sembari meletakkan topinya di sebelah Luna.


"Malu tahu, kalau entar ada fans kamu bisa diserbu aku," kata Luna yang hendak memakai topinya kembali namun Al mengambilnya lebih cepat.


"Justru mereka biar tahu," ceplos Al membuat Luna tertegun begitupun Al juga terdiam karena keceplosan.


"Maksudnya?" tanya Luna ingin tahu.


"Pulang sekarang?" tanya Al sembari beranjak dari duduknya.


Luna hanya mengangguk lalu meminta topi hitam yang dipegang Al.


"Mana topinya?"


"Enggak usah dipakai, ayo," kata Al sembari berjalan lebih dulu dengan membawa topi Luna.


"Itu orang aneh banget sih," gerutu Luna kesal sembari berjalan menunduk untuk menghindari para fans Al.


Setibanya di parkiran, Al terheran saat menemukan motor hitamnya.


Bukannya tadi dia berangkat naik mobil bersama keluarganya, lalu siapa yang mengantarkan motornya.


Al tersenyum manis, itu artinya dia tidak boleh melewatkan kesempatan ini.


"Enak bener perasaan punya orang tua peka, tau aja anaknya mau kencan," gumam Al sembari berganti baju secepat mungkin agar tidak bau saat membonceng Luna.


"Al aku pulang sendiri aja, aku mau bantu paman Hasan hari ini mumpung ada waktu luang," kata Luna membuat Al menggerutu kesal dalam hati.


"Enggak usah, gue mau ngajak lo pergi," kata Al yang langsung memakai jaket hitamnya dan naik ke atas motor.


"Kamu egois banget sih jadi orang, lagian kamu kan baru selesai turnamen emang enggak capek?" marah Luna sembari berkacak pinggang.


"Enggak. Lagian dari kemarin lo pergi sama Willy gue juga enggak protes," Luna mengangkat alisnya heran, kenapa sekarang ganti Al yang marah.


"Aku sama Willy kan ada urusan," kata Luna membela diri.


"Bodo amat, cepet naik," kata Al yang mulai menyalakan motornya.


Luna menghembuskan napasnya pasrah.


Mau tak mau ia naik ke atas motor membuat Al diam- diam tersenyum.


Luna yang masih marah dengan Al berpegangan di bahu bukan seperti biasanya melingkarkan tangannya di perut.

__ADS_1


"Lo kira gue gojek pakai pegangan di bahu," ketus Al membuat Luna ingin sekali menggampar kepalanya.


"Udah jalan bawel banget jadi orang," ketus Luna yang perlahan menurunkan tangannya dari bahu Al.


Al tak kunjung melajukan motornya saat Luna juga tak kunjung melingkarkan tangannya di perut Al.


"Mending- mending naik mobil Willy daripada dibonceng kamu," gerutu Luna lirih sembari melingkarkan tangannya di perut Al.


"Oh jadi lo pernah semobil sama Willy. Gue kasih tahu ya, di mana- mana pemimpin keluarga tuh di depan bukan di samping," kata Al yang sedikit naik nada bicaranya.


"Terus apa hubungannya sama naik mobil Willy?" tanya Luna membuat Al terdiam.


"Susah ngomong sama cewek," gumamnya pelan sembari melajukan motornya entah pergi kemana.


Sedangkan di balik perdebatan mereka berdua, nyatanya ada empat orang yang sejak tadi mengintip.


"Ya ampun sejak kapan koko belajar kode- kodean kayak gitu," kata Dante.


"Mana Luna enggak peka banget lagi," kata El.


"Astaga putraku sekarang sudah besar," heran Bara.


"Dan sikapnya enggak jauh beda dari kamu," gumam Sela yang juga terheran.


"Gini nih karma orang jomblo ngintipin orang pdkt," gerutu Dante sembari pergi begitu saja.


"Lah itu bocah sejak kapan jadi melow gitu," heran El pada adiknya.


.


.



Al dan Luna sudah sampai di salah satu restoran milik Bara yang sengaja di bangun di dekat pantai.


Karena Sela sangat menyukai sesuatu hal yang berbau pantai.


"Duduk di sana bentar, gue mau mesan menunya," kata Al pada Luna yang sedari tadi hanya diam saja.


"Dasar manusia kutub, udah egois dingin lagi," dumel Luna yang masih kesal dengan Al yang mengantarnya pulang dan memaksa untuk ganti baju dan membawanya kemari.


Al kembali dengan wajah datarnya.


"Kita ngapain sih Al di sini, buang- buang waktu tahu enggak," kesal Luna membuat Al terlihat biasa saja.


Tak lama waiters datang dan membawakan menu yang Al pesan.


"Wahh kue mochi," kata Luna yang berubah drastis kala melihat kue mochi yang berwarna- warni lucu.


Al dan waiters itu menahan senyumnya melihat tingkah menggemaskan Luna yang dalam beberapa detik bisa mengubah ekspresinya.


"Buat lo semua, entar kalau kurang gue pesenin," kata Al sembari menyodorkan dua piring kue mochi itu pada Luna.


Luna tidak menggubris, ia langsung memakannya tanpa sungkan ataupun jaim.


Al tidak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari Luna.


"Kamu enggak makan?" tanya Luna dengan mulut yang masih penuh.


"Gue kenyang liat mulut lo penuh mochi," kata Al gelagapan saat ia ketahuan menatap Luna tanpa kedip.


"Yaudah," katanya melanjutkan aksinya untuk makan kue mochinya.


Setelah selesai, Al mengajak Luna untuk jalan- jalan di pantai.


Pemandangan di sore hari membuat siapapun ingin sekali menikmati angin pantai dan menunggu tenggelamnya matahari.


Al mengajak Luna menaiki tangga untuk melihat pantai dari atas yang disediakan tempat sendiri untuk melihat sunset nantinya.


"Ahhhhh segarnyaaa," kata Luna begitu senang saat ia bisa melihat pantai dari atas.


"Lo suka?" tanya Al yang diangguki oleh Luna.


Al bisa melihat senyum Luna begitu lepas tanpa beban.



Al hanya menatap Luna yang terus tersenyum menikmati angin pantai di sore hari.


Sesaat ia terpikirkan oleh sesuatu yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.


"Lo sama Willy kemarin sibuk ngapain?" tanya Al membuka suara setelah mereka sampai di atas.


Luna terdiam, ia seakan berat untuk mengatakan sejujurnya.


"Tidak ada," jawab Luna sembari memalingkan muka dan menatap orang- orang yang berjalan di tepi pantai.


Al terdiam, ia mencoba untuk mencari tahu hubungan mereka berdua.


"Lo balikan sama Willy?" Luna langsung menoleh menatap Al sekilas lalu menatap ke depan.


"Enggak, cuma temenan," jawab Luna singkat.


Al hanya mengangguk paham, namun dalam hatinya ia begitu senang.


"Tapi enggak ada cewek bisa berteman dengan laki- laki, itu hal yang mustahil," perkataan Al membuat Luna tertarik dan menatapnya.


"Kenapa bisa?" tanya Luna karena ingin tahu.


"Karena mereka selalu berbohong untuk bisa berteman dengan perempuan, entah dia sedang diam- diam mencintaimu atau dia menyimpanmu sebagai teman agar tidak kehilanganmu," Luna terdiam tak berkutik mendengar ucapan Al.


"Tapi aku sama Willy benar- benar hanya berteman, lagian urusan dulu juga sudah selesai dan aku yakin Willy tidak memiliki niatan itu," kata Luna mencoba untuk menyakinkan dirinya dan Luna.


Al menatap Luna dalam, ia sangat menyukai mata cantiknya yang hampir mirip seperti milik mamanya.


"Tapi sangat mudah, dari teman berubah menjadi pacar hanya dengan satu langkah," kata Al membuat Luna tak paham.


"Satu langkah itu cukup untuk mengubah hubungan mereka berdua, contohnya seperti ini,"


Al melangkah maju mendekati Luna dan berdiri tegak di depannya.


Keduanya saling menatap begitu lama dan intens.


Seakan hanya angin pantai yang tahu bagaimana perasaan mereka saat ini.


Luna tidak pernah menatap Al lebih dekat seperti ini.


Rasanya seperti mimpi.

__ADS_1


__ADS_2