Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2- Siasat Buruk Aretha


__ADS_3

Kini El baru saja tiba di sekolah di mana ia tadi sengaja lewat di depan rumah Calista untuk melihat apakah ia sudah berangkat atau belum.


Ternyata kata satpam penjaga rumahnya sudah.


Alhasil El langsung bergegas untuk pergi ke sekolah.


El dengan malas menyusuri lorong di mana banyak siswi yang menyapanya.


Sesampainya di kelas El tidak melihat keberadaan Calista.


Apa ia belum datang?


El yang berdiri di ambang pintu lantas kembali keluar kelas dan kini kembali berjalan menuju ke pintu gerbang sekolah.


Karena Calista selalu diantar oleh sopirnya alhasil El tidak bisa memeriksa motor di parkiran.


Biasanya ia berangkat dengan Aqila, namun melihat ia belum datang membuat El bertanya-tanya tentang kemana ia pergi.


Tepat pukul 7 pintu gerbang di tutup, El tidak melihat tanda-tanda Calista datang.


Apa ia tidak masuk? Lalu kemana ia pergi?


Tapi kata satpamnya tadi ia sudah berangkat sejak tadi.


El menghembuskan napas gusar lalu kembali berjalan menuju kelasnya.


Pikirannya terus bertanya-tanya perihal di mana Calista sekarang.


Hingga tatapan El tak sengaja melihat Calista tampak berjalan dari ujung lorong bersama dengan Willy, di mana Calista sesekali tersenyum atau tertawa.


Tatapan El dengan spontan tampak tajam dan serius, dan itu sungguh menakutkan.

__ADS_1


Keduanya masuk ke kelas bersama membuat El baru melanjutkan langkahnya.


Dengan malas ia masuk ke dalam kelas dan menatap Willy dan Calista yang tampaknya sangat asyik belajar.


El menarik kursinya dengan keras lalu sedikit membanting tasnya hingga hal itu menarik perhatian teman sekelasnya termasuk Calista dan Willy.


Dante yang menyadari apa yang tengah terjadi pada kokonya tersebut sontak langsung membuat lawakan guna mengalihkan perhatian teman-temannya.


"Maaf di sini lagi panas, maklum habis dari kantin manggang steak," celetuk Dante yang mana hal itu sukses membuat teman-temannya tertawa.


Dante lalu menarik kursinya agar lebih dekat dengan El.


"Ko kenapa? Bukannya tadi yang manggang steaknya mama ya? Kok yang kepanasan Koko? Ini gerah bodi apa gerah hati?" guraunya untuk menghibur El.


El hanya menatap datar Dante lalu merebahkan kepalanya di atas meja bersiap untuk tidur.


Dante menghela napas kala melihat hal itu.


Lalu Dante tak sengaja melihat Al yang tengah duduk bersama dengan Luna di mana kokonya itu menggenggam erat tangan Luna yang tengah asyik membaca buku.


"Gini amat hidup gue, perasaan cuma jadi penonton mereka para sibucin. Tuh pegangan erat emang mau kemana sih? Enggak bakalan hilang juga Lunanya, heran banget gue sama mereka kalau udah bucin," dumelnya yang merasa hanya dirinya yang jomblo dan sendirian, padahal ada El yang saat ini berada di perasaan yang abu-abu.


***


Sedangkan itu di kelas lain ada Aretha yang kini tengah sibuk menatap Eros.


Selagi ia menatap Eros, ada sesuatu yang tengah Aretha pikirkan.


Setelah mendengar berita dari kelas sebelah jika kemarin Al membooking satu bioskop guna untuk memberikan kejutan pada Luna, hal itu sontak membuat Aretha merasa marah dan jengkel.


Ia tak akan membiarkan Al dengan Luna, Al hanya miliknya, sampai kapanpun.

__ADS_1


Jika ia tak bisa mendapatkan Al, begitu juga dengan Luna, Aretha akan berusaha sekeras apapun untuk memisahkan keduanya.


Apapun itu.


Aretha langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri meja Eros yang tengah sibuk mengobrol bersama dengan Edo dan lainnya.


"Eros, aku ingin bicara denganmu sebentar," ucapnya lalu pergi membuat obrolan Eros dan teman-temannya terhenti dan menatap Aretha yang keluar kelas.


Eros langsung beranjak dan menyusul Aretha keluar kelas.


Kini keduanya berada di rooftop di mana tak ada orang lain selain mereka.


"Ada apa?" tanya Eros tanpa basa-basi.


"Aku ingin kau bunuh Luna," perintahnya membuat Eros langsung menoleh menatap Aretha tak percaya.


"Kau gila?" Aretha mengangguk mengakuinya.


Aretha menghembuskan napas panjang lalu berdeham sekilas.


"Jika aku tidak bisa mendapatkan Al, begitu juga dengan Luna. Kau ingin minta imbalan apa aku akan memberimu, asal bunuh dia," perintahnya dengan yakin tanpa ada rasa ragu atau takut dalam dirinya.


Eros tertawa sekilas hingga ia terdiam sejenak.


"Kau sungguh gila," oloknya sembari manggut-manggut pelan.


Eros lalu menyunggingkan senyum sumringahnya kala ia terpikirkan suatu ide yang begitu hebat.


"Kau ingin membunuh Luna kan?" Aretha mengangguk dengan wajah yang sedikit bingung sembari melihat Eros yang tampak sangat bersemangat sekali.


Eros langsung mendekati Aretha dan membisikkan sesuatu padanya.

__ADS_1


Keduanya tampak tersenyum kala terpikirkan akan rencana tersebut.


__ADS_2