
•••
Hari ini hari dimana paling bahagia untuk kelas 12, karena apa, karena hari ini terakhir mereka ujian praktek.
Ya meskipun minggu depan mereka masih ujian nasional, seenggaknya nanti malam mereka bisa menghabiskan malam minggu tanpa beban dan rintangan untuk memikirkan pelajaran.
KRINGGGGGG
"Yesssssss pulangggggg,"
Pak Kimmy menaikkan kacamatanya kala Dante berteriak dengan lantang.
"Kamu seneng bisa pulang?" Dante seketika lupa jika pak Kimmy masih duduk manis di kursinya.
"Hehe, maklum lah pak, namanya juga anak sekolah kalau denger bel pulang udah kayak denger bel surga untuk pulang ke rumah," jelasnya membuat seisi kelas menahan tawanya.
"Ohhh gitu, kalau denger bel masuk bagai apa?" tanya pak Kimmy balik.
"Bagai masuk neraka, apalagi pelajarannya matematika, udah sengsara luar dalamnya," gumam Dante yang masih bisa didengar oleh pak Kimmy.
"Dasar kamu ini, kalau libur minta sekolah, giliran udah sekolah pikirannya pulangggg mulu," dumel pak Kimmy sembari mengemasi bukunya.
"Ujian praktek sudah berakhir, kita akhiri sampai sini dan sampai berjumpa minggu depan untuk ujian nasional," pamit pak Kimmy lalu keluar dari kelas.
Seketika semua siswa laki- laki maju ke depan kelas dan langsung konser dengan berjoget ria.
"Buah nanas buah manggis," teriak Dante yang tiba- tiba pantun.
"Cakeppp,"
"Dimakan sampai ke teluk,"
"Lanjuttt,"
"Hei manis jalan yuk," jawabnya sembari melirik Aqila yang langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Dante tertawa bersama lainnya lalu berinisiatif untuk membuat konten tiktok.
Dengan sengaja ia menaruh ponselnya di atas meja bersandarkan botol minuman milik kokonya.
"Banyak sih yang suka sama aku, tapi aku maunya kamu," kata Dante sekali lagi dan kini tatapannya jelas sekali menatap Aqila.
"Eyy sorry nyanda barasa," sahut El yang langsung ikut bergabung maju ke depan.
"Nda takuti sampai di dada," kini Dante yang melanjutkan.
"Ngana kira tamo cemburu," Arka dengan cepat langsung menyahut.
"Deng ngana pe pasangan baru," lalu serempak menyanyi bersama- sama.
Dante tersenyum lebar sembari melirik Aqila yang kelihatan begitu sebal.
Aqila meraih tasnya dan berpamitan pada Luna untuk pulang lebih dulu.
"Dan- Dan, Aqila pulang noh," kata El memberitahu Dante.
"Mampus gue, ko Dante pulang duluan ya takut enggak dibukain pintu sama calon istri," teriak Dante yang buru- buru menyusul Aqila yang sudah nyelonong pulang.
"Ayo pulang," ajak Al sembari menatap Luna yang masih asyik duduk bersama Calista.
"Ta aku pulang duluan enggak papa?" tanya Luna pelan takut Calista marah.
"Ya enggak papalah Lun, habis ini aku juga pulang kok tenang aja," katanya sembari mengemasi buku paketnya.
"Kalau nanti kamu enggak repot, dateng aja ke rumah nanti aku jelasin lagi yang belum kamu pahami materi bu Sari," kata Luna membuat Al menggenggam lembut lengan Luna.
"Nanti malem kan kamu ada acara," katanya mengingatkan sedangkan Luna hanya mengangkat sebelah alisnya tak paham.
"Besok aja enggak papa Lun, lagian nanti malem aku mau ikut papa sama mama," Luna hanya mengangguk lalu berpamitan untuk pulang lebih dulu.
Calista selesai berkemas dan langsung pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku yang ia perlukan.
Dan itu semua tidak terlewatkan dari pandangan El.
El lalu menyusul kemana Calista pergi dengan ransel hitam di punggungnya.
Ia tersenyum tipis kala mengetahui Calista masuk ke dalam perpustakaan.
Diam- diam El ikut masuk perpustakaan dan bersembunyi untuk bisa mengawasi Calista yang sedang memilih buku.
Sedangkan di parkiran Dante dan Aqila sedang debat hanya perkara pulang.
"Ayo buruan gue anter pulang," kata Dante yang terus memaksa untuk mengantar Aqila pulang.
"Gue bisa pulang sendiri," ketus Aqila sembari berkacak pinggang menatap sebal Dante.
"Apa susahnya sih tinggal naik, diem dah nyampe rumah. Kapan lagi kan lo bisa dibonceng most wanted kaya gue, gratis lagi," sombong Dante sembari menyugar rambut tebalnya ke belakang.
"Lo enggak tahu papa gue orangnya galak banget," kata Aqila memberitahu.
"Udah tenang aja, gue bisa atasi itu," jawabnya dengan santai.
"Enggak gue pulang sendiri aja," kata Aqila yang hendak pergi menuju gerbang.
"Kak Dante, boleh minta foto enggak?" Aqila sontak menoleh dan melihat dua adik kelasnya dengan genit dekat Dante sembari memegang ponsel untuk berfoto.
"Boleh," jawab Dante dengan santainya.
__ADS_1
Aqila kembali dan tiba- tiba saja naik ke atas motor Dante dan menatap sengit dua adik kelasnya.
"Kalian enggak lihat kita mau pulang?" Dante yang duduk di depan sekuat mungkin menahan agar bibirnya tidak tersenyum.
"C- cuman sebentar aja kok kak," kata mereka dengan gugup.
"Ayo buruan pulang sekarang," gertak Aqila pada Dante yang tak kunjung menyalakan motornya.
"Sorry ya dek, hari ini enggak buka jasa foto, pawangnya lagi ngambek," kata Dante lalu melajukan motornya keluar dari parkiran sekolah.
Aqila yang duduk di belakang sebisa mungkin menahan untuk tidak tersenyum dan menggampar kepala Dante.
Sepanjang jalan keduanya saling diam dan Dante sengaja melambatkan laju motornya.
"Dantee lo lelet banget sih bawa motornya, gue sampai ngantuk di belakang sini," gerutu Aqila membuat Dante menambah kelajuan motornya.
"Dante gilaaaaa," teriak Aqila sembari memeluk Dante saat kecepatan motornya berubah cepat.
Sesampainya di depan rumah, Aqila buru- buru turun dan memukuli Dante sepuasnya.
"Besok- besok kalau ngajak mati jangan ngajak gue," marahnya sembari berkacak pinggang.
"Tadi dibilang lelet giliran ngebut dibilang ngajak mati, perasaan gue bukan cuma salah di mata lo doang, di mata para malaikat gue kayaknya juga serba salah," dumel Dante yang tak terima dimarahi.
"Tau lah terserah lo," katanya marah sembari membuka gerbang rumahnya.
"Aqila," panggil Dante sekali lagi.
"Apaan sih?" dengan muka juteknya.
"Nanti malem lo dateng kan ke pesta Aretha?" tanyanya dengan sedikit kikuk.
"Ya kenapa?" Dante sudah tersenyum lebar mendengar jawaban Aqila.
"Entar gue jemput ya?" Aqila kembali membuka gerbang pagarnya.
"Enggak usah gue berangkat sendiri aja," katanya lalu kembali masuk dan mengabaikan Dante.
Dante menatap Aqila hingga masuk ke dalam rumah dengan selamat.
"Ya tuhan bantu Dante ya buat bisa dapetin Aqila, kalau enggak bisa buat Dante, jangan temukan Aqila sama jodohnya, dia harus jodoh sama Dante pokoknya," doanya lalu kembali melajukan motornya untuk pulang ke rumah.
Sedangkan di dalam rumah, Aqila mengintip dari balik jendela rumahnya.
"Tuh anak ngapain coba komat- kamit di depan rumah gue, enggak jelas banget," gerutunya kesal.
♡♡♡
Malam telah tiba dan di kediaman Bara dan Sela putra mereka sedang sibuk berpenampilan rapi dengan gaya yang wahh.
"Produk unggul siapa dulu," sahut Bara membuat Sela merona merah.
"Kalian berdua duluan aja, koko mau jemput Luna," kata Al yang langsung menyambar kunci mobilnya.
"Dante mau jemput Aqila," kata Dante yang juga ikut menyambar kunci mobilnya.
Lalu tatapan Sela dan Bara beralih pada El yang hanya diam saja.
"Terus ko El jemput siapa?" tanya Sela penasaran.
Dante yang baru ngeh langsung menatap El.
"Oh iya, kan pasangannya masih sibuk belajar buat jadi juara 3 UN," celetuk Dante yang langsung mendapatkan pelototan dari El.
"Belajar? Juara 3?" tanya Sela yang tak paham.
"Enggak kok ma, yaudah pa ma, kita berangkat dulu," kata Al yang langsung menarik kedua adiknya menuju garasi.
"Pulangnya jangan malem- malem," teriak Sela pada ketiga putranya.
"Baik bunda sayang," jawab mereka serempak dengan nada yang sangat sopan dan lembut.
Di mana itu artinya mereka sedang merayu Sela untuk bisa pulang malam.
Setelah dirasa putranya sudah berangkat Bara beralih menatap Sela.
"Sekarang putra kita udah berangkat, ayo buat adik," ajak Bara dengan wajah yang benar- benar sangat menggemaskan.
"Apaan sih," kata Sela sembari beranjak dari duduknya.
"Awww Baraaa," teriak Sela kala Bara mengangkat dirinya tiba- tiba.
.
.
Al sudah sampai di depan rumah Luna untuk menunggu kekasihnya selesai dandan.
Ceklek
Al dibuat terpesona akan kecantikan Luna malam ini.
Sedangkan Luna menatap Al yang kini menatap dirinya tanpa berkedip.
__ADS_1
"Kenapa? Jelek ya?" tanya Luna membuat Al mengalihkan tatapannya dan kembali menatap Luna.
"Siapa yang bilang sini biar gue bantai," katanya sengit membuat Luna malah salah tingkah.
"Apaan sih, ayo berangkat sekarang," ajak Luna untuk menutupi rasa malunya.
Al membukakan pintu mobil untuk Luna lalu memutari mobilnya dan langsung menuju pesta Aretha yang diadakan di pantai dekat apartemen papanya.
Dalam hati Al tidak henti- hentinya memuji kecantikan Luna dan mencoba menetralkan detak jantungnya.
Rasanya seperti naik roll coaster tanpa henti.
Hanya menempuh waktu 15 menit kini Al sudah sampai di pantai tepatnya di pesta Aretha.
Al membukakan pintu untuk Luna lalu menatap pesta yang terlihat elegan tersebut.
"Al aku balik aja ya, aku kan enggak diundang," kata Luna yang sudah memegang knop pintu mobil Al.
"Ehh ngapain sih pulang, udah sampai juga. Lagian kan kamu pasangan aku," kata Al membuat hati Luna seakan ingin lepas.
Al menggandeng tangan Luna untuk bergabung bersama teman- teman lainnya.
"Al enggak usah gandengan, banyak yang liat," kata Luna yang langsung melepaskan genggaman tangan Al.
"Emang kenapa sih?" kesal Al karena ia ingin menikmati waktu layaknya pasangan dengan Luna.
"Udah ah kamu kesana duluan aku mau nyamperin Dinda," kata Luna yang langsung ngibrit menghampiri Dinda.
Al berdecak kesal lalu mau tak mau ia menghampiri Aretha yang asyik mengobrol bersama teman lainnya.
"Ehh Al, kamu dateng juga," kata Aretha terlihat begitu senang.
"Selamat ulang tahun ya, nih kadonya," kata Al sembari menyodorkan kadonya pada Aretha.
"Makasih," kata Aretha yang begitu berbinar saat menerima kado dari Al.
"Aretha ayo kita mulai," teriak bibinya pada Aretha.
"Ayo Al aku kenalin sama bibi dan pamanku," katanya yang langsung menarik Al untuk menghampiri Hasan dan Santi.
"Wahh ini siapa?" tanya Santi.
"Saya Al bu, teman sekolah Aretha," jawab Al sangat sopan dan ramah.
"Ayo Tha kita mulai sekarang pestanya," kata Hasan dan diangguki oleh Aretha.
Al hendak kembali untuk menemui Luna namun Aretha menarik tangannya.
"Di sini aja bentar, habis ini mulai," kata Aretha lalu memanggil semua teman- temannya untuk mendekat karena acara akan dimulai.
Mata Al terus mencari sosok kekasihnya.
Tap
Mata Al dan Luna bertemu, Al hendak menghampiri Luna namun lagi- lagi Aretha menarik tangannya dan Luna juga begitu menyebalkan, ia malah memberi isyarat agar Al tetap berdiri di sana saja.
Tiup lilin sudah selesai kini saatnya memotong kue.
Suapan pertama tentu Aretha berikan pada paman dan bibinya.
Lalu suapan kedua ia berikan pada Al di mana sorak sorai, cuitan dan juga teriakan mulai mengisi keheningan pantai di malam hari ini.
Al kembali melirik Luna sekali lagi, di mana Luna malah menganggukkan kepalanya membuat Al mau tak mau menerima suapan Aretha.
Semua berteriak senang dan bergembira melihat pertunjukan romance tersebut.
Sedangkan El dan Dante sedang siap siaga di belakang Luna untuk menjaga pawang kokonya itu dari bahaya sekecil apapun, seperti bahaya karena rasa cemburu.
"Gue mau ke sana dulu ya," kata Al yang sudah tak suka berada di depan berdiri di samping Aretha dan disaksikan oleh Luna.
"Bentar Al," kata Aretha yang lagi- lagi menahan lengan Al.
"Sekarang saatnya kita dansa," teriak Hasan membuat musik langsung diputar dan lampu berubah menjadi kemerlip.
"Gue enggak bisa dansa sama lo," kata Al saat lampu berubah menjadi remang- remang dan ia pergi begitu saja meninggalkan Aretha sendiri tanpa pasangan dansa.
Mata Aretha menangkap sosok yang Al hampiri saat itu juga.
"Luna?" gumamnya sengit dan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Brengsek," umpatnya lalu pergi ke belakang tanpa teman- temannya tahu.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Luna yang panik saat Al menghampiri dirinya.
"Emang kenapa, pasanganku kan kamu, masak iya aku dansa sama dia," ketus Al sembari memegang kedua pinggang ramping Luna.
"Al nanti kalau ada yang lihat gimana?" kata Luna lirih sembari melepaskan tangan Al dari lingkaran pinggangnya.
Al menarik pinggang Luna hingga tubuh mereka begitu dekat sekali.
"Emang kenapa? Aku hanya ingin berdansa denganmu," bisik Al sembari menuntun tangan Luna untuk melingkar di lehernya dan tangan Al memegang pinggang ramping Luna.
Dengan cahaya yang remang- remang membuat teman- teman mereka tidak begitu kentara mengenali Al dan Luna.
Tapi tidak dengan Aretha yang sedari tadi memantau keduanya yang begitu menikmati dansanya.
__ADS_1