Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Pergi Ke Mal


__ADS_3

Selesai belajar bersama di rumah Willy Al dan Luna berpamitan pada Willy.


"Wil kita pulang dulu ya," seperti biasa Luna yang selalu berpamitan pada Willy.


Sedangkan Al hanya diam saja dan sudah duduk siap di atas motor.


"Iya hati- hati ya Lun," kata Willy saat Luna naik ke atas motor.


Al melajukan motornya dan mereka pulang tepat pukul 4 sore.


Luna mengangkat alisnya saat Al melajukan motornya tidak menuju rumah melainkan entah kemana.


"Al kita mau kemana? Ini udah sore, entar dicariin sama mamamu," kata Luna sedikit berteriak agar Al mendengarnya.


"Udah ikut aja," kata Al sembari melajukan motornya standar untuk bisa menikmati suasana di senja hari.


Tak lama mereka sampai di mal terbesar di Kanada.



"Al kita ngapain di sini?" tanya Luna bingung sembari turun dari motor.


"Ayo," kata Al mengajak Luna masuk ke dalam mal milik ayahnya.


Al berjalan santai bersama Luna, beberapa pelayan yang kenal Al menundukkan kepalanya hormat.


"Kenapa semua nunduk waktu ketemu kamu?" tanya Luna bingung.


"Biar sopan sama pelanggan," jawab Al tidak mau memberitahu yang sebenarnya.


Al dan Luna masuk ke dalam lift, Luna yang enggak tahu kemana Al akan mengajaknya hanya diam saja dan mengikutinya.


Mereka telah sampai di lantai 12, di mana lantai ini khusus untuk beberapa kebutuhan perempuan dan laki- laki.


Al berjalan menuju stand yang menjual beberapa helm cantik dan terlihat mehong bagi Luna.


"Selamat datang tuan mud...," Al memberi isyarat pada pelayan itu agar tidak memanggilnya tuan muda.


"Maksud saya, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya pada Al dan Luna dengan sangat ramah.


"Lo pilih aja helm yang lo suka, gue tunggu sini," kata Al sembari duduk di sofa menunggu Luna.


"Al tapi aku enggak bawa uang, kita pulang aja ayoo," kata Luna yang kini merengek untuk pulang.


"Mari nona, saya bantu untuk memilihkannya," kata pelayan itu pada Luna.


"Al," kata Luna yang terlihat seperti dipisahkan dari Al padahal hanya disuruh milih helm.


"Udah sana, gue tunggu sini aja," kata Al sembari menahan senyumnya melihat wajah Luna.


Dengan terpaksa Luna akhirnya ikut bersama pelayan itu untuk memilihkan helmnya.


Terlihat Luna bingung untuk memilih helmnya.


Namun, setelah beberapa menit akhirnya ia membawa helm yang ia suka kepada Al.


"Al aku pilih ini aja," kata Luna sembari memperlihatkan helmnya.


Al menatap helm yang Luna pilih, terlihat cocok dengan Luna.



"Berapa ini?" tanya Al membuat pelayan itu bingung, pasalnya ini mall kan punya bapaknya Al, masak iya ini mau bayar.


Biasanya mereka hanya mengambil saja tanpa membayar karena diakhir nanti Bara yang akan membayar semuanya barang- barang yang ia ambil dari mall.


Al lagi- lagi memberi kode agar pelayan itu mengatakan harganya.


"520 tuan," kata pelayan itu dengan sedikit canggung.


"Hah? Semahal itu?" teriak Luna membuat para pengunjung langsung menatap Luna heran.


"Ehh itu kak, saya enggak jadi beli, ayo Al kita pulang," kata Luna mengembalikan helmnya pada pelayan lalu menarik tangan Al untuk pergi dari sana.


Al memberi kode pada pelayan itu untuk menyimpannya.


Sejak tadi Al menahan senyumnya melihat tingkah gemas Luna.


"Emang kenapa sih?" tanya Al saat mereka sampai di depan pintu lift.


"Yakali Al beli helm semahal itu, mana harganya udah sama kayak gaji aku kerja satu bulan lagi," gerutu Luna kesal.


"Lah emang kenapa, kan gue yang beli bukan lo," kata Al membuat Luna tambah kesal.


"Kamu ngeselin banget sih jadi orang," kata Luna kesal sembari masuk ke dalam lift saat lift terbuka.


Al tersenyum tipis lalu ikut masuk ke dalam lift.


Sepanjang jalan mau keluar dari mal, Luna hanya diam saja dan jalan lebih dulu meninggalkan Al.


"Lun tunggu," panggil Al saat Luna terus jalan dan hanya diam saja mencuekkan dirinya.


Luna masih terus berjalan tanpa menghiraukan Al.


"Luna Ceysa Auristella," teriak Al membuat semua orang menatapnya dan tersenyum malu- malu.


Luna yang malu sendiri langsung berbalik dan menghampiri Al yang berdiri di tempatnya.


"Kamu ngapain sih teriak- teriak di mal, diliat banyak orang tahu," kata Luna sembari menahan rasa malu saat semua orang menatapnya.


"Makanya jalan disamping gue," kata Al sembari menarik tas Luna agar sejajar di sampingnya dan berjalan bersama.


Hal manis itu membuat beberapa orang memberikan cuitan menggoda pada Al dan Luna.

__ADS_1


Luna menunduk karena merasa malu digoda oleh semua pelanggan mal.


Sesampainya di parkiran, Luna langsung memukul punggung Al.


Bugh


"Aww kok lo mukul gue?" kata Al sembari mengusap- usap punggungnya.


"Lagian kamu ngeselin banget jadi orang," kata Luna sembari berkacak pinggang dan menatap kesal Al.


"Lo PMS ya, perasaan dari tadi marah- marah mulu," kata Al semakin membuat Luna geram.


"Ayoo pulang sekarang, udah malem ini," kata Luna membuat Al tertawa pelan.


"Tunggu kamu tadi ketawa kan?" tanya Luna saat menyadari jika Al baru saja tertawa.


"Enggak," jawabnya dingin dengan muka datar sembari memakai helmnya.


"Hih dasar sikutub," gumamnya pelan sembari memegang tangan Al yang membantunya untuk naik ke atas motor.


"Pegangan," peringati Al saat ia menyalakan motornya.


"Iya- iya bawel banget," gerutu Luna kesal.


Al tersenyum manis dibalik helm full facenya.


Pukul 5 sore akhirnya mereka pulang dari mal tanpa membeli apapun.


Tapi tenang, Al sudah menyiapkannya untuk Luna.


Tepat pukul setengah 6 Al sudah sampai di depan rumah Luna.


"Kan malem nyampenya gara- gara kamu," kata Luna yang kembali memarahi Al.


"Perasaan dari tadi gue salah mulu," kata Al yang merasa sejak tadi terus salah.


"Udah sana pulang, udah malem," kata Luna sembari menaiki tangga tanpa memedulikan jawaban Al.


"Makasih ya Al udah nganterin sampai rumah," sindir Al saat Luna sudah sampai setengah tangga.


Luna berbalik dan menatap jengah Al.


"Tuan muda Al, terima kasih banyak atas tumpangannya," kata Luna dengan sangat ramah lalu beberapa detik kembali menjadi galak.


"Udah sana pulang," kata Luna ketus sembari melanjutkan untuk ke tangga paling atas.


Tanpa Luna sadari, Al terkekeh karena kelakuan Luna yang moodnya berubah- ubah hari ini.


Setelah Al memastikan Luna masuk rumah, ia baru menyalakan motornya untuk pulang.


Kini Al bukannya pulang menuju rumah melainkan putar balik menuju mal.


Sekitar pukul 7 malam Al baru sampai di rumah dan langsung mendapatkan tatapan marah dari papa dan mamanya.


"Ko sini," kata Sela yang duduk di ruang tamu bersama Bara.


"Koko dari mana? Kenapa baru pulang?" tanya Sela dengan nada sedikit tinggi membuat Bara langsung merengkuh pinggangnya agar Sela tidak emosi.


"Koko baru pulang?" tanya Dante dari dapur sembari membawa beberapa coklat dingin.


"Koko sepulang dari rumah Willy mampir dulu ma ke mal," kata Al jujur membuat Bara mengangguk percaya.


"Sama Luna ko?" tanya Dante sembari asyik makan coklatnya.


"Adek diem," kata Bara memberi isyarat agar Dante diam.


"Koko tahu ini jam berapa? Enggak seharusnya anak sekolah jam segini masih keluyuran di luar sana," marah Sela yang bagi siapapun akan melakukan hal yang sama seperti Sela.


"Iya ma, koko minta maaf," kata Al pelan sembari menundukkan kepalanya.


"Udah ko sana mandi habis itu makan," kata Bara agar Sela tidak terus memarahi Al.


"Iya pa," kata Al yang langsung beranjak dari duduknya.


"Itu koko beli apa?" tanya Sela saat Al membawa sesuatu yang dibungkus.


"Helm ma," jawab Al yang langsung membuat Dante meletakkan coklatnya di atas meja.


"Helmnya koko kan masih baru, kenapa beli lagi?" kata Sela heran pada Al.


"Buat Luna ma," seketika wajah marah Sela berganti menjadi tatapan menggoda dan tersenyum manis.


"Bentar- bentar ko, jadi koko pulang telat cuma beliin Luna helm?" tanya Sela mencoba menganalisis keterlambatan Al pulang.


"Tadinya koko sama Luna udah ke mal buat beli helm, cuma Luna nolak karena harganya mahal. Terus koko balik lagi deh ke mal buat ambil helm yang Luna pilih," kata Al jujur membuat El yang baru datang langsung menggoda kokonya.


"Utututu so sweet," kata El sembari memeluk Dante.


"Pantesan Dante disuruh pulang duluan sama ko El, sekarang pulangnya sama Luna mulu," kata Dante menyindir Al.


"Wahh jagoan papa sekarang udah pinter nih ya buat luluhin hatinya Luna," goda Bara membuat Al harus menahan tatapan mereka yang menggodanya.


"Koko ke atas dulu ya pa ma," kata Al yang langsung naik lift untuk ke lantai atas.


"Perasaan Dante tiap naik motor sama koko enggak pakai helm enggak pernah nih koko beliin Dante helm, giliran Luna naik motor sama koko baru 3 hari udah langsung dibeliin helm," gerutu Dante yang masih bisa di dengar oleh Al.


"Danteee," kata Al dengan sedikit penekanan.


"Enggak kok ko, lagi hapalin rumus," kata Dante yang takut jika Al memarahinya.


Sontak Bara dan Sela tertawa melihat sikap Dante yang takut pada Al.


.

__ADS_1


.


.


Di sisi lain tepatnya di markas Eros, mereka sedang makan- makan dan menonton TV.


"Ros jadi gimana, kapan kita nyerang gengnya Alex?" tanya Edo sembari memakan kacangnya.


"Bentar, gue belum ada rencana. Nanti gue pikirin," kata Eros sembari fokus menatap layar ponselnya.


"Bisa- bisanya geng Alex enggak tahu kalau malam itu gue bonceng Luna buat mancing mereka," kata Eros heran pada geng Alex.


"Mungkin mereka kurang jelas atau gimana gitu Ros," kata Edo pada Eros.


"Tapi kan seenggaknya mereka harusnya tahu, kalau gue bonceng cewek berarti dia cewek gue, masak mereka tahu Luna cuma buat pancingan?" Eros masih heran dengan geng Alex.


"Tapi lo kenapa jadiin Luna sebagai pancingannya Ros?" tanya Damar sembari memainkan gamenya.


Eros tersenyum miring lalu membayangkan wajah Luna.


"Karena cewek yang paling gue benci adalah Luna, selain dia selalu ikut campur urusan gue, adiknya juga seorang pengkhianat," kata Eros sembari mengepalkan tangan kanannya.


"Bener juga sih, selama ini yang selalu laporin kita ke pak Budi sama pak Kimmy adalah Luna, karena itu beberapa polisi selalu berpatroli malam untuk melihat apakah kita melakukan balap liar," kata Edo yang baru menyadarinya.


"Terus langkah selanjutnya lo mau gimana?" tanya Damar pada Eros.


"Gue punya rencana yang bagus," katanya sembari tersenyum licik ke arah para anggotanya.


《♡♡♡》


Paginya tepat pukul 6 Al sudah on time di depan tangga rumah Luna.


Pas saat Luna keluar dari rumah pukul 6.05


"Al," sapa Luna sembari menuruni tangga dan belum menyadari sesuatu.


"Kamu lama nunggunya?" tanya Luna cemas jika Al menunggu dirinya lama.


"Barusan," jawab Al lalu tak lama Vino keluar dari rumah Luna membuat Al bertanya- tanya.


"Kak Vino berangkat dulu ya," pamitnya pada Luna sembari menatap Al.


"Iya hati- hati," kata Luna sembari menatap penampilan adiknya sudah rapi dan lengkap.


"Dia siapa kak?" tanya Vino pada Luna.


"Temen kakak," Vino hanya ber oh ria lalu pergi menuju halte.


"Dia siapa?" tanya Al sembari menatap kepergian Vino.


"Adikku," jawab Luna membuat Al bernapas lega seakan Al baru memenangkan banyak lotre.


"Ayo berangkat," kata Luna pada Al.


Al lalu melepaskan ikatan helm yang berada di jok belakang.


"Nih pakai," kata Al menyodorkan helmnya pada Luna.


"Loh ini kan? Kamu membelinya?" tanya Luna kesal saat Al memberikan helmnya.


Al tak banyak bicara, ia langsung memakaikan helmnya pada Luna dengan pelan.


Jarak mereka yang dekat membuat satu sama lain bisa saling merasakan hembusan nafasnya.


Klik


Kunci helmnya sudah terpasang, Al menunduk dan tatapannya bertemu dengan mata Luna.


Keduanya saling menatap satu sama lain dengan sangat lama.


"Jangan jauh- jauh," gumam Al yang spontan keluar dari mulutnya.


Luna mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.


"Maksudnya?" tanya Luna pada Al.


"Ayo berangkat sekarang, keburu telat," kata Al yang langsung memasang helmnya dan naik ke atas motor.


"Dasar sikutub, ngomong enggak jelas banget," gerutu Luna sembari naik ke atas motor.


"Pegangan yang bener," kata Al sembari menyalakan motornya.


"Iya- iya bawel," ketus Luna dengan canggung melingkarkan tangannya ke perut Al.


Al lalu melajukan motornya menuju sekolah dengan sangat santai dan menikmati udara pagi.


Luna pun juga menikmati udara pagi ini dengan sangat nyaman.


Sesampainya di sekolah, sontak kedua orang ini menjadi sorotan banyak siswa yang memang sedang mengantri di dekat gerbang menunggu Al.


"Al kok rame banget," bisik Luna yang tidak suka menjadi sorotan banyak siswa dan langsung melepaskan pelukannya di perut Al sebelum Luna dikeroyok penggemar Al.


Al memarkirkan motornya lalu Luna turun dari motor dengan pelan.


Tadinya Al ingin melepaskan helm Luna ternyata Luna sudah melepasnya sendiri.


"Al aku ke kelas duluan ya," kata Luna yang hendak lari menuju kelas dan meninggalkan Al sendiri di parkiran.


Al menahan tangan Luna lalu turun dari motor.


"Enggak usah lari- lari gitu, kita ke kelas bareng," kata Al pada Luna.


Luna melepaskan genggaman tangan Al.

__ADS_1


"Kamu kayak enggak tahu mereka aja, udah aku mau ke kelas duluan," kata Luna yang langsung berlari meninggalkan Al sendiri di parkiran.


Al lalu menghela napas dan berjalan menuju kelas.


__ADS_2