
Malamnya Bianca sedang menunggu mamanya tidur.
Kebetulan sekali malam ini papanya tidak pulang.
Alhasil, Bianca bisa keluar malam untuk hari ini.
Namun, sayangnya ia harus menunggu hingga mamanya tertidur.
"Duh mana udah pukul 9 nih," gumam Bianca sembari mondar- mandir di dalam kamarnya.
Ia sudah rapi dengan dress selutut warna hitam.
"Mungkin mama udah tidur kali ya," gumam Bianca sembari mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Bianca lewat jendela lalu pergi melewati taman yang berada di samping rumah.
Dia memang sengaja menaiki taksi agar mamanya tidak curiga begitu juga papanya nanti saat pulang.
"Huh leganya, akhirnya gue bisa pergi juga," gumam Bianca saat ia berhasil menaiki taksi dan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan mamanya.
"Kita mau kemana non?" tanya sopir taksi itu.
"Tolong antar saya ke club pak," kata Bianca yang diangguki oleh sopir taksinya.
Bianca kembali memperbaiki riasannya lalu memeriksa barang yang ia beli tadi.
"Untung gue bawa," gumamnya saat ia membawa barang tersebut.
Hanya 20 menit lamanya dan sekarang Bianca sudah sampai di club yang terlihat begitu ramai sekali.
"Makasih pak," kata Bianca sembari memberikan ongkosnya pada sopir taksi itu.
"Non uangnya kelebihan," teriak sopir taksi itu saat Bianca memberinya ongkos 300 ribu.
"Ambil aja buat bapak," teriak Bianca yang sudah terburu masuk ke dalam club.
"Astaga meski dia terlihat bukan perempuan yang baik, setidaknya ia memiliki hati yang tulus," gumam sopir taksi itu lalu meninggalkan dunia hiburan tersebut.
Bianca masuk ke dalam club dan langsung menuju bar.
"Hei Bi," sapa Riko yang merupakan teman club Bianca.
"Mana dia?" tanya Bianca.
"Noh di pojok. Udah habis 5 botol," kata Riko memberitahu Bianca.
Bianca lalu meraih sesuatu dari dalam tasnya.
"Nih lo kasih ke dia," Riko langsung menerima obat perangsang yang Bianca beri.
Dengan cepat Riko membuatkan alkohol kadar tinggi sembari mencampurinya dengan obat perangsang tersebut.
"Buruan kasih ke dia," kata Bianca yang tak sabaran.
Riko langsung pergi menuju meja sudut yang Eros tempati.
Terlihat Riko menyodorkan segelas alkohol yang baru ia buat kepada Eros.
Mungkin karena Eros sudah mabuk berat, membuat dirinya langsung mengambil alih gelas alkohol tersebut tanpa basa- basi.
Riko menunggu reaksi dari Eros untuk beberapa menit.
Dan tak butuh waktu lama, Eros sudah merasakan gerah dan panas disekujur tubuhnya.
"Bangsat, apa yang lo masukkin ke dalam minuman gue?" racau Eros tak begitu jelas saat ia menyadari alkoholnya bercampur dengan obat perangsang.
Eros melepaskan dua kancing kemeja atasnya sembari mengibaskan tangannya di depan muka.
"Ros ayo gue anter ke atas aja, bahaya kalau lo di sini," kata Riko sembari memapah Eros untuk ke lantai atas.
Bianca yang melihat Riko membawa Eros ke atas langsung mengikutinya.
"Semua udah beres," kata Riko saat ia sudah membawa Eros ke dalam kamar.
Bianca memberikan uang sebagai imbalannya pada Riko.
"Ok thank you," katanya lalu masuk ke dalam kamar.
Ceklek
Bianca mengunci kamarnya dan melihat Eros yang terbaring di king size sembari meracau tak jelas.
"Panas kenapa panas sekali," marah Eros sembari membuka semua kancing kemejanya.
Bianca hanya tersenyum sembari menatap Eros yang sibuk kepanasan dan melepaskan kemejanya.
"Bianca?" gumam Eros setengah sadar saat Bianca berdiri di depannya sembari tersenyum licik.
"Kalau gue enggak bisa dapetin lo, itu tandanya Leyna juga enggak bisa dapetin lo juga," kata Bianca sembari memainkan jarinya di dada Eros.
"Kau licik Bianca," kata Eros sembari mengibaskan tangannya di depan muka karena merasa kepanasan.
Bianca hanya tersenyum sinis dan memberikan rangsangan pada Eros dengan sentuhan- sentuhan kecil.
"Sudah kuberitahu, Leyna dan Damar mempunyai sesuatu yang lo sama Leyna enggak punya. Jadi, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama seperti mereka berdua?" Eros menghempaskan tangan Bianca yang membelai wajahnya.
"Gue enggak sudi," tolak keras Eros membuat Bianca hanya tersenyum.
"Oh ya, kalau begitu kita lihat seberapa kuat lo nahan rangsangan itu," kata Bianca sembari tersenyum licik.
Eros sudah mabuk kepayang karena obat perangsang itu.
Tapi Eros tak sudi melakukannya dengan Bianca, wanita licik dan biadab ini.
"Arghhh panas," teriak Eros saat ia tak mampu menahan gejolak dalam dirinya untuk dipuaskan.
Bianca berjalan mundur dan menjauhi Eros.
"Bianca tolong gue, berikan obat penawarnya," mohon Eros pada Bianca.
"Oh lo mau obat penawarnya?" tanya Bianca yang langsung diangguki oleh Eros.
"Boleh aja, asal lo mau jadi pacar gue," kata Bianca sembari berjalan pelan menghampiri Eros.
Eros menggelengkan kepalanya kuat menolak tawaran Bianca.
Eros mencoba untuk menahan dirinya dengan mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Kenapa? Katanya tadi mau minta obat penawar?" tanya Bianca yang mendekati Eros.
"Pergi jauh- jauh dari gue," bentak Eros keras membuat Bianca tak gencar sedikitpun.
Bianca menatap Eros intens, tanpa aba- aba ia langsung meraup bibir seksi Eros.
Di mana Bianca membuat Eros semakin terangsang dan ingin dipuaskan lebih dari sekedar itu.
__ADS_1
Bianca sengaja melepaskan ciumannya dan berjalan menjauh dari Eros.
"Bianca tolong puaskan gue, gue enggak tahan," mohon Eros sembari memejamkan mata karena menahan sesuatu yang tak terkendali.
"Gue enggak bisa," Eros langsung menarik Bianca hingga menabrak dada bidangnya.
Dengan sangat rakus dan menuntut Eros meraup bibir Bianca tanpa ampun bahkan Eros tidak memberi Bianca kesempatan bernafas.
Srek
Eros merobek dress hitam Bianca tanpa pikir panjang.
"Apa lo yakin akan melakukan ini?" tanya Bianca saat Eros melepaskan ciumannya.
Eros tak menjawab, ia membanting Bianca ke king size.
Dengan cepat Eros melepaskan semua pakainnya hingga tak tersisa satupun.
Bianca terlihat begitu bahagia melihat betapa gilanya Eros saat ini.
Eros kembali menyerang Bianca tanpa ampun dengan memberikan tanda kepemilikan di sekujur tubuh mulus dan putih Bianca.
Srek
Srek
Eros merobek semua dalaman Bianca tanpa sisa.
Kini keduanya sudah sama- sama tidak memakai sehelai kain.
Eros yang begitu menggebu mencumbui Bianca.
Dan Bianca yang terlihat begitu menikmati permainan Eros yang sangat seksual.
Eros beralih pada bagian bawah, tanpa menunggu lama lagi Eros memasukkan organnya tanpa berpikir panjang.
Jleb
"Ahhhh," teriak Bianca kesakitan saat Eros memasukkan keseluruhan organnya.
Eros diam sejenak lalu memulai permainan panas ini dengan sangat brutal juga kasar.
Malam itu begitu panas dengan permainan yang dipimpin oleh Eros.
Bahkan Eros melakukannya hingga beberapa kali karena kuatnya obat perangsang tersebut.
.
.
Keesokan paginya Eros terbangun dan merasakan pening yang begitu hebat di kepalanya.
Eros bangun dan melihat sekeliling kamar.
Bukan kamarnya.
Eros melihat beberapa pakaian tercecer di lantai.
Lalu ia menoleh ke samping dan mendapati Bianca yang masih tertidur.
"Enggak mungkin," gumam Eros yang langsung menyingkap selimut.
Ia begitu terkejut saat dirinya dan Bianca sama- sama telanjang bulat ditambah ada bercak darah di sprei putih itu.
"Eros," sapa Bianca yang baru bangun dan memeluk Eros dari samping.
"Enggak- enggak mungkin, kita semalem enggak mungkin melakukannya kan?" tanya Eros yang mendapat seringaian dari Bianca.
"Apa kau lupa, kamu yang merobek pakaian ku dan," Bianca membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan memperlihatkan betapa banyaknya tanda merah di sana.
"Kamu yang melakukan semua ini," kata Bianca dengan senangnya.
"Pasti lo kan yang ngrencanain semua ini?" bentak keras Eros sembari memakai celana juga kemejanya.
"Oh tentu saja, bukankah sudah kubilang, jika aku tidak bisa mendapatkanmu Leyna pun juga sama tidak akan bisa mendapatkanmu," kata Bianca membuat Eros semakin emosi.
"Lo bener- bener licik Bianca," kata Eros dengan penuh penekanan.
"Memangnya kenapa? Kita melakukan hal yang sama seperti Leyna dan Damar. Kita melakukan yang Leyna dan Damar lakukan malam itu," Eros sontak langsung melotot dan mencengkeram kedua pipi Bianca.
"Maksud lo, Damar menghamili Leyna?" tanya Eros sembari menatap tajam Bianca.
"Ya dan kamu menghamiliku," jawab Bianca tanpa rasa takut pada Eros.
Eros menghempaskan pipi Bianca lalu buru- buru ia pergi dari tempat terkutuk itu.
Bianca hanya menatap sinis kepergian Eros.
《♡♡♡》
Leyna dan Damar sudah sampai di sekolah.
Tadinya Damar masih menahan agar Leyna tak masuk terlebih dulu ke sekolah.
Namun, yang namanya Leyna itu keras kepala.
Alhasil Damar hanya menurutinya saja.
"Turunnya pelan- pelan," peringati Damar saat Leyna turun dari motor.
"Iya bawel," kata Leyna sembari memukul punggung Damar.
Damar melepaskan helm Leyna lalu turun dari motor.
"Ayo ke kelas," kata Damar sembari menggenggam erat tangan Leyna.
"Issh diliatin temen- temen taukk," kata Leyna yang langsung melepaskan genggaman tangan Damar.
"Emang kenapa sih? Lagian setelah kelulusan nanti kita juga bakalan nikah," jawab Damar santai membuat Leyna memutarkan kedua matanya malas.
"Bukan gitu, enggak enak aja diliatin mereka," kata Leyna sembari melihat area parkiran yang sedikit sepi.
"Bodo amat sama pikiran mereka," kata Damar yang langsung menggenggam erat tangan Leyna menuju kelas.
Leyna yang berjalan di belakang Damar menahan senyumnya dan menundukkan kepala.
Saat Leyna melewati lorong, entah hanya perasaan dia atau bagaimana.
Yang pasti semua menatap benci dan sinis pada Leyna.
Padahal biasanya Leyna adalah ratu bully yang ditakuti oleh semua siswa.
Sesampainya di kelas, beberapa siswa berkerumun di meja Bianca.
"Ada apaan nih?" tanya Damar saat mereka asyik berkerumun.
__ADS_1
Salah satu dari mereka mendekat kearah Damar.
"Ini lo sama Leyna?" tanya temannya itu sembari menunjukkan foto di mana mereka berdua berada di club malam itu.
Damar bisa merasakan tangan Leyna mendadak dingin dan semakin mempererat genggaman di tangannya.
"Damar!" semua sontak langsung menoleh kaget karena mendengar teriakan Eros.
"Sini lo," bentak Eros sembari menarik seragam Damar keluar kelas.
"Leyna lo beneran hamil?"
"Itu anak siapa?"
"Lo sering banget ya keluar masuk club?"
"Maksud kalian apa?" bentak Leyna membuat Bianca tersenyum sinis lalu melangkah maju mendekati Leyna.
"Sstt jangan marah, kan emang kenyataannya gitu," kata Bianca pelan diiringi dengan senyum miringnya.
Plak
"Lo kasih tahu apa mereka tentang gue?" bentak keras Leyna membuat Bianca hanya tersenyum dan mengusap pipinya.
"Kenapa, kan emang kenyataannya kalau lo hamil," kata Bianca dengan entengnya.
Leyna terkejut saat Bianca mengetahui tentang kehamilannya.
Dari mana ia tahu?
"Dari mana lo tahu?" gumam Leyna pelan sembari menatap tajam Bianca.
Bianca hanya tersenyum miring lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Leyna.
"Dia bukan anak Damar," bisik Bianca membuat Leyna langsung menoleh dan menatap nyalang Bianca.
"Apa maksud lo?" tanya Leyna sembari mencengkeram kuat pergelangan tangan Bianca.
Bianca tak menjawab, ia hanya tersenyum miring.
"Bianca jawab, apa maksud lo?" bentak Leyna dengan sangat keras hingga membuat beberapa dari mereka terkejut.
"Gue paling benci dibentak," kata Bianca penuh penekanan sembari mencengkeram lengan Leyna.
Leyna tersenyum miring sembari menatap wajah Bianca.
"Ya gue emang hamil, kenapa? Kalian kaget?" kata Leyna mengakuinya sembari menatap teman- temannya yang kini hanya diam dan menatap dirinya iba.
"Tapi meski begitu, setelah kelulusan nanti, gue sama Damar bakal nikah," Bianca tersenyum miring mendengar ucapan Leyna.
"Oh ya, tapi bagaimana jika Damar nanti tahu jika itu bukan anaknya?" tanya Bianca dengan nada sedikit ditinggikan.
"Siapa yang peduli," kata Leyna dengan berani.
Leyna mendekati Bianca hingga Bianca mundur untuk menghindarinya.
"Lo sendiri gimana? Udah hamil belum? Kan lo simpenannya om- om," kata Leyna sembari tersenyum menang bisa melawan Bianca.
Semua langsung berbisik saat mengetahui jika Bianca tak kalah bedanya sama Leyna.
"Dan lo juga simpenan papa gue kan?" semua membungkam mulutnya masing- masing karena terkejut dengan pernyataan Leyna.
Bianca langsung menatap mereka yang berbisik- bisik tentang dirinya.
"Lo ya bener- bener...,"
"Leyna," semua menoleh dan mendapati Luna di ambang pintu.
Luna masuk ke dalam kelas dan menatap Leyna.
"Dipanggil bu Jessy," kata Luna memberitahukan Leyna.
Bianca terlihat begitu senang saat Leyna mendapatkan masalah seperti ini.
"Ada apa gue disuruh ke sana?" tanya Leyna karena bu Jessy sendiri adalah guru BK kelas 12.
Luna menoleh dan menatap Bianca yang kini sedang tersenyum kemenangan.
"Mau cari pelaku yang udah sebarin aib sekolah," sindir Luna sembari menatap datar Bianca.
Bianca berkacak pinggang dan udah bersiap untuk marah.
Namun, kalah cepat saat Luna sudah menggandeng Leyna keluar dari kelas menuju ruang BK.
"Sialan, awas aja lo," umpat Bianca kesal dengan Luna.
Sedangkan di depan ruang BK Leyna terdiam begitu saja enggan masuk.
"Ayo aku temeni," kata Luna yang langsung membuka pintu ruang BK.
Ceklek
"Permisi bu, ini Leyna," kata Luna sembari duduk di hadapan bu Jessy agar Leyna tidak takut.
"Leyna duduklah," kata bu Jessy sembari melepaskan kacamatanya.
Leyna duduk di hadapan bu Jessy sembari menunduk.
"Bisa tolong jelaskan ini pada ibu?" tanya bu Jessy sembari menyodorkan foto Leyna dan Damar yang berada di club malam itu.
Cukup lama Leyna diam membuat Luna menggenggam tangan Leyna agar berani mengakuinya.
"Iya bu saya memang melakukannya," terdengar helaan napas bu Jessy.
"Sudah berapa bulan?" tanya bu Jessy yang dimengerti oleh Leyna.
"2 bulan," jawab Leyna pelan dan terus menunduk.
"Kamu tahukan, minggu depan sudah ujian dan waktu kelulusan juga sebentar lagi. Pihak sekolah baru selesai rapat bersama untuk memutuskan tentang kamu dan Damar dan hasilnya kalian berdua terpaksa dikeluarkan," jelas bu Jessy yang merasa iba juga kasihan dengan Leyna.
Leyna terdiam dan hanya menunduk saja. Ia tak tahu harus berkata bagaimana.
"Maaf bu menyela sebentar. Karena ujian sudah dekat dan kelulusan juga sebentar lagi, kenapa tidak kembali mempertimbangkan tentang keputusan tersebut. Dan usia kehamilannya juga baru menginjak 2 bulan, perut Leyna belum terlalu besar juga," saran Luna pada bu Jessy.
"Iya Lun, ibu tahu dan sepemikiran sama kamu. Tapi ini keputusan dari kepala sekolah langsung, lalu ibu bisa apa?" kata bu Jessy yang juga merasa keputusan ini sedikit kurang pas.
"Saya terima bu jika harus dikeluarkan, selain ini adalah kesalahan yang sangat fatal juga mencemari nama baik SMA," kata Leyna membuat Luna dan bu Jessy menatap sendu Leyna.
**Nih ya buat visual Eros & Damar nya biar makin semangat bacanya, hehe
Jangan lupa ya buat vote like dan komen, author tunggu.
ERO STEVENILO**
__ADS_1
DAMAR ANTORIO