
Damar kini telah sampai di apartemen papanya.
Ia menyusuri lorong dengan emosi yang menggebu.
Bayangan tentang mereka bermain di atas ranjang kini terus terngiang di dalam pikiran Damar.
Sedangkan Leyna baru saja sampai di basement parkiran apartemen.
Dengan cepat ia berlari untuk menyusul Damar mengingat ia begitu emosi tadi.
Siapa yang tidak tahu saat Damar marah, ia akan menghancurkan siapapun yang berada di depannya termasuk itu papanya sendiri.
Damar membuka pintu kamar papanya dengan emosi yang meletup letup.
Brak
Terlihat Bianca dan Antorio masih terlelap di atas ranjang dan saling berpelukan satu sama lain.
Tak lama Leyna masuk ke dalam kamar Antorio dan sudah berdiri di belakang Damar.
"Bianca," gumamnya tak percaya begitu juga dengan Damar.
"PAPA!" pekiknya dengan keras yang mana hal itu mampu membuat Bianca dan Antorio langsung terbangun dengan gelagapan dan bingung.
"Dam-Damar," gumam Antorio yang kaget kala melihat Damar dan Leyna di apartemennya.
Damar langsung menyeret tangan Bianca untuk turun dari atas ranjang.
Untungnya dia sudah mengenakan pakaian, yah meski itu kemeja Antorio.
Plak
"Damar," tekan Antorio kala Damar menampar Bianca.
"Kenapa, papa mau belain dia?" tekan Damar dengan mata yang memerah dan menahan emosinya untuk tidak membentak papanya.
Antorio memakai celananya lalu menghampiri Damar.
"Papa bisa jelasin, jangan menghajarnya dengan caramu," ujar Antorio mencoba menarik tangan Damar untuk menjauh dari Bianca.
Damar menghempaskan tangan Antorio lalu mendekati Bianca dan kembali menamparnya untuk kedua kalinya.
"Damar hentikan," teriak Antorio membuat Damar mendorong tubuh Bianca ke dinding dan mencengkram leher jenjangnya.
"Damar apa yang kamu lakukan? Lepaskan dia, dia bisa mati jika kau begini," ujar Antorio mencoba melepas tangan Damar dari leher jenjang Bianca namun tak bisa karena cengkramannya begitu kuat.
"Bagaimana bisa papa bermain di atas ranjang bersamanya? Apa papa tahu siapa dia?" tanya Damar dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Antorio terdiam kala melihat Damar yang berkaca- kaca saat ini.
"Dia Bianca, putri dari Putra, orang bejat yang telah menggilir Leyna dengan anak buahnya, dia adalah putri dari orang yang papa penjarakan, dia juga yang telah merebut om Adi dari Leyna, bahkan mereka hendak menikah setelah kepergian mamanya Leyna, lalu bagaimana bisa papa dekat dengan wanita ular ini?" tanyanya dengan penuh penekanan sembari mencengkram kuat leher Bianca.
Bianca kini berusaha dengan kuat untuk melepas tangan kekar Damar dari lehernya sebelum ia mati di tangan orang yang ia cintai.
Antorio tampak terkejut, ia terhuyung ke belakang dan tampak tertegun dengan apa yang barusan ia dengar.
Pantas saja Antorio merasa aneh saat Adi dekat dengan Bianca setelah kematian istrinya.
Ternyata perempuan itu adalah Bianca, putri dari Putra.
Leyna yang melihat Bianca kini tampak kesulitan bernapas lantas mendekati Damar.
"Damar tolong lepaskan Bianca," pintanya dengan pelan sembari berdiri di belakang Damar.
Damar menatap tajam Bianca dengan cengkraman di leher yang begitu kuat.
Hingga cengkraman itu semakin memudar kala Leyna memegang lengan kirinya sembari berbisik pelan.
"Tolong lepaskan, ia bisa mati tanpa merasakan hukuman dari kita, biarkan ia hidup agar kita bisa melakukan balas dendam atas apa yang sudah ia lakukan, jangan buat ia mati dengan cepat dan mudah," bisik Leyna membuat Damar langsung melepaskan cengkeramannya.
Bianca sontak langsung terbatuk dan menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Maafin papa Damar, Leyna. Papa benar-benar tidak tahu," ujar Antorio menyesali perbuatannya.
Damar masih diam di tempatnya untuk mencoba meredam emosinya.
Sedangkan Leyna kini menatap Bianca dengan tatapan tajamnya.
"Kau sudah mengambil papaku dan juga papanya Damar, esok siapa lagi yang akan kau ambil dari kami?" tanya Leyna dengan nada yang terdengar sinis.
Bianca tersenyum ke arah Leyna membuat Damar ingin sekali mencakar wajah licik itu.
"Damar, aku akan merebutnya darimu," jawabnya dengan gamblang membuat Damar sontak memicingkan matanya.
Leyna tersenyum miring hingga ia menggenggam erat baju Damar.
"Ambil saja, jika kau bisa," tantangnya membuat Damar tak percaya dengan jawaban Leyna.
__ADS_1
"Baik, jangan menyesal jika aku bisa mendapatkannya," ujar Bianca dengan angkuh.
"Kau harus berhadapan denganku lebih dulu untuk mendapatkannya," lanjut Leyna membuat Damar kini hatinya terasa bagai di pukul stik drum dan bergetar tak karuan.
Leyna lalu menarik lengan Damar untuk pergi dari sana membuat Bianca memicingkan matanya.
Sesampainya di lorong Leyna langsung melepaskan genggamannya di lengan Damar.
Damar menoleh dan menatap wajah sendu Leyna.
"Dari mana kamu belajar mengatakan hal manis itu?" tanyanya membuat Leyna menoleh.
"Tentu darimu, dari mana lagi," ketusnya membuat Damar tertawa.
Leyna yang melihat hal itu sontak langsung menendang kaki Damar.
Dugh
"Aww," ringisnya.
"Bagaimana bisa kau masih bercanda disituasi seperti ini," marahnya dengan kesal membuat Damar hanya tersenyum.
"Bagaimana tidak bercanda jika hatiku kini berdebar begitu cepat setelah mendengarkan ucapan manismu tadi. Kau harus berhadapan denganku lebih dulu untuk mendapatkannya," ejek Damar yang menirukan logat Leyna tadi saat berbicara dengan Bianca.
Leyna yang melihat hal itu kini tak bisa menyembunyikan senyumnya dan rona merah di pipi.
"Yaaa, aku akan membunuhmu jika kau terus berbicara," ancam Leyna membuat Damar langsung berlari dan terus menirukan ucapan Leyna tadi.
Leyna dengan cepat langsung berlari mengejar Damar untuk membungkam mulutnya tersebut.
Leyna juga merutuki dirinya sendiri tadi saat mengatakan hal itu tanpa ia sadari.
Rasanya ia sangat malu saat ini apalagi Damar terus mengejeknya.
Damar sengaja menutupi kekecewaannya pada papanya dengan candaan seperti ini agar Leyna tak kembali merasakan kekecewaan pada papanya mengingat Adi yang akan menikah dengan Bianca.
Damar hanya ingin melihat Leyna bahagia tanpa merasa kecewa dengan orang yang ia sayangi yang telah pergi meninggalkan dirinya seorang diri.
Damar hanya ingin Leyna tidak merasa sendiri.
Karena itu Damar berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depannya agar ia lebih kuat untuk menghadapi kerasnya hidup.
Terlebih papanya saat ini tidak sedang berada di pihaknya.
Karena itu Damar yang akan mendukungnya sepenuh hati.
Sedangkan itu, di tempat lain ada Al yang kini sibuk menatap dirinya di depan cermin, bahkan sudah 5 menit berlalu ia masih tetap stay di depan cermin.
Bukan untuk menata rambut atau sekedar merapikan dasi, melainkan sedang berlatih untuk menyapa Luna setelah 2 hari tidak bertemu.
Setelah kejadian di bioskop kemarin, Al memilih untuk menghindar sebentar, selain Al tak siap untuk bertemu Luna, jantungnya juga tak bisa diajak kompromi ketika bertemu Luna.
"Arghhh enggak adil banget sih, masak cuma gue yang gugup dan salting setelah kejadian kemarin, masak Luna biasa aja," ujarnya yang uring-uringan sendiri.
"Tapi kalau enggak gerak cepat yang ada Willy deketin Luna lagi nanti, yakali kalah sama sipirang," dumelnya membuat Al menendang meja belajarnya.
Saat Al berbalik, terlihat El dan Dante tampak berdiri di ambang pintu sembari menggelengkan kepalanya.
"Ckckck, udah jadian masih aja salting, gimana kalau Luna didapetin sama si pirang mungkin Koko bakal sleding, ya kan?" ejek Dante membuat Al berdecak dan menyambar tasnya.
"Apaan sih enggak jelas," ketusnya sembari melenggang pergi begitu saja.
Dante menatap El dengan hembusan napas panjang.
"Bentar lagi kita bakal liburan enggak sih? Tinggal nunggu Koko bucin," tanya Dante pada El.
"Mending pikirin aja gimana nasib kamu berangkat sekolah setelah ini," jawab El lalu melenggang pergi.
"Emang kenapa? Kan dibonceng sama ko Al," gumam Dante bingung.
Selesai sarapan mereka bertiga segera pamit untuk berangkat sekolah.
Sesampainya di depan teras, Al tampak mengaitkan helm warna silver di belakang joknya.
"Lah ko, kok bawa helm lagi, kan Dante udah pakai," tanyanya dengan amat polosnya.
"Buat Luna," jawabnya sembari memakai jaket hitamnya.
Dante hanya mengangguk pelan belum sadar dengan apa yang barusan Al katakan.
"Lah? Kita boncengan bertiga? Mana muat?" tanya Dante yang baru ngeh membuat El tertawa kecil sembari memakai sarung tangan hitamnya.
"Siapa bilang Koko mau bonceng kamu? Bawa motor sendiri," jawabnya lalu melenggang pergi begitu saja meninggalkan Dante.
Dante mengerucutkan bibirnya ke depan.
Kini tatapannya beralih pada El.
__ADS_1
"Apa? Koko mau jemput Calista," ujarnya lebih dulu sebelum Dante meminta izin untuk nebeng bersamanya.
El langsung melenggang pergi dan kini hanya menyisakan Dante seorang diri.
"Mentang-mentang pada bucin aja semua naik sendiri-sendiri, giliran dulu masih jomblo aja berebut suruh gue naik di jok belakangnya, dasar si tua-tua," dumelnya sembari memakai jaket hitamnya serta sarung tangannya.
"Loh dek, belum berangkat?" Dante menoleh dan terlihat Bara dan Sela tampak berjalan ke arahnya.
"Apanya, Koko pada berangkat sendiri-sendiri mau jemput pawangnya, Dante ditinggal sendiri," jawabnya dengan bibir yang mengerucut ke depan membuat Bara dan Sela tertawa.
Sela langsung menghampiri Dante untuk merapikan kerah jaketnya.
"Makanya Aqila dijemput dong biar sama kayak Koko," suruh Sela membuat Dante menghela napas berat.
"Sitoa itu ma punya motor sendiri, yah meski Vespa tapi dia selalu berangkat dengan kuda besinya itu, mana mau dibonceng sama Dante, yang ada kita bisa bergulat di atas motor mengingat kita kurang akur," jawabnya dengan menggerutu membuat Sela ingin sekali menguncir bibir Dante.
"Awas lho dek, awalnya kurang akur, nanti jadi bucin lho," goda Sela membuat Dante menghela napas lagi.
"Udah adek mau berangkat," pamitnya sembari mencium sekilas pipi Sela dan memakai helmnya.
"Loh boy, papa belum dapat kiss pagi ini," teriak Bara menggoda Dante yang tengah kesal.
"Minta kiss aja sama mama," ketusnya sembari melenggang pergi begitu saja.
Bara hanya tertawa lalu mendekati Sela dan memeluknya dari belakang.
"Kata Dante disuruh minta kiss sama kamu, mau di sini atau di dalem?" goda Bara yang mana hal itu langsung mendapatkan pukulan dari Sela.
"Aww sayang sakit," ringisnya kala Sela memukul tangannya begitu keras.
"Minta kiss aja sama dinding," ketusnya yang langsung masuk ke dalam.
Bara hanya tertawa lalu segera berangkat ke kantor.
***
Sesampainya di sekolah, Dante langsung memarkirkan motornya.
"Arghhhh Danteee," teriak mereka membuat Dante yang baru saja melepas helmnya terjengkit kaget dan helm yang ia pegang hampir saja jatuh.
"Astaga, ada apa dengan mereka," gumam Dante yang bingung kala mereka berteriak histeris sembari memandang dirinya.
Dante menoleh kala mendengar suara motor di sampingnya.
"Aqila," gumamnya kaget kala ia melihat Aqila baru datang.
Aqila menatap Dante sekilas lalu melepas helmnya.
"Arghhh Dante, kenapa kau tampan sekali," teriak para siswi itu dengan begitu kompaknya.
"Kenapa enggak dari dulu naik motor sendiri, damagenya bukan main," teriak siswi satunya.
"Dante nanti pulang sekolah nebeng ya? Sendiri kan?" tanya siswi berambut bondol tersebut dengan berani.
"Cih, manusia modelan gini aja diidolain," dumel Aqila sembari menyimpan jaketnya di dalam jok lalu melenggang pergi begitu saja.
"Aqila tunggu," teriaknya yang segera turun dari motor dan menyusul Aqila.
"Lo enggak berangkat sama Luna? Atau Calista?" tanya Dante yang entah kenapa ia seakan tak punya pertanyaan lain.
"Menurut Lo?" ketus Aqila membuat Dante langsung diam dan teringat akan dua kokonya.
"Gimana kalau besok Lo gue jemput?" Aqila mendelik kesal ke arah Dante.
"Ogah, gue masih pengin ke Busan, Lo kalau mau ketemu sama Tuhan jangan ngajak gue, pergi aja sendiri," ketusnya sembari fokus dengan ponselnya.
"Ya kan biar romantis ketemu Tuhannya berdua sama Lo," goda Dante membuat Aqila berdecak dan menendang kaki kiri Dante.
Dugh
"Lo kasar banget sih jadi cewek," dumelnya sembari mengusap kakinya.
Aqila terus mendumel tanpa memperhatikan jalannya.
"Aqila awas," teriak Dante yang langsung sigap menarik tangan Aqila.
Brugh
Aqila menabrak dada bidang Dante dan terhindar dari dinding di depannya.
"Untung cepat, kalau enggak benjol tuh kening Lo," ujarnya sembari merapikan rambut Aqila.
Aqila langsung mundur ke belakang dan berdeham sekilas karena rasa gugup dalam hatinya.
"Makanya kalau jalan tuh jangan main hp," marah Dante membuat Aqila menatapnya sinis untuk menutupi rasa berdebarnya saat ini.
"Apaan sih," ketusnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Dante.
__ADS_1
Dante yang melihat Aqila tampak blushing sontak tak bisa berhenti tertawa saat ini.