
Eros terbangun dari tidurnya, kepala begitu pusing sekali.
Ia terbangun saat sinar matahari menembus kaca jendelanya.
Dengan sedikit sakit Eros bangun dan menyandarkan punggungnya di sandaran king size.
Ia menatap dirinya sendiri yang tidak memakai baju lalu menatap sekeliling.
Kenapa sangat berantakan sekali kamarnya?
Eros hendak turun ke lantai bawah, namun ia terkejut saat mengetahui jika dirinya telanjang bulat.
"****," umpatnya sembari berjalan menuju walk in closet untuk mencari celana.
Eros kembali lalu memeriksa spreinya.
Bercak darah yang tertinggal di sprei membuat Eros semakin marah.
"Sial, pasti ****** itu," umpatnya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sekitar pukul 6 Eros sudah siap dengan seragamnya meski tidak lengkap dengan atribut dan baju di keluarkan.
Hari ini hari senin, hari yang begitu menyebalkan bagi mereka para siswa yang malas diperintah untuk mengikuti upacara.
Termasuk Eros.
Biasanya ia akan berangkat jam 7 atau jam 8.
Tapi karena ulah Bianca, ia harus bangun pagi dan pergi ke sekolah hanya untuk memberikan pelajaran padanya.
"****** satu ini sangat merepotkan," gerutu Eros sembari menyalakan motor ninjanya dan pergi ke sekolah.
Entah apa yang akan mereka pikirkan tentang Eros si ketua geng motor darkster berangkat ke sekolah sepagi ini di hari senin.
Sedangkan di tempat lain Al sedang menunggu Luna di depan rumah.
Ceklek
Terdengar suara pintu dibuka membuat Al menoleh, ternyata Vino.
"Kak Al," sapa Vino dengan ramah.
"Kak Luna udah berangkat dari tadi, kakak nunggu siapa?" kata Vino membuat Al mengernyit bingung.
"Iya tadi kak Luna di jemput sama mantannya itu, siapa dah namanya oh kak Willy," jelas Vino membuat Al langsung memakai helmnya dan melajukan motornya menuju sekolah.
Vino menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini perasaan drama rumah tangganya belum selesai dari kemarin," gumamnya heran dengan sikap orang dewasa kala cemburu.
Al mempercepat laju motornya, dengan hati yang sedikit panas.
Apa Luna masih belum mengerti dengan ucapannya kemarin?
"Willy sialan," umpat Al sembari menambah laju motornya.
Brum brum brum
Al sudah sampai di sekolah dan memarkirkan motornya.
Ia tidak melihat ada motor Willy di deretan motor siswa lainnya saat di parkiran.
Kemana Willy mengajak Luna pergi?
Brum brum brum
Al menoleh, terlihat Willy menurunkan Luna di depan pos satpam.
Luna menunduk lesu dengan wajah sedikit pucat sembari menenteng hoodie milik Al.
Tanpa menunggu lama Al langsung menghampiri Luna untuk bertanya dan berpapasan dengan Willy yang memarkirkan motornya.
"Al," gumam Luna lirih saat Al berjalan kearahnya.
"Ayo ikut gue," katanya sembari menarik tangan Luna menuju rooftop atas tanpa memedulikan Willy.
"Al lepasin, kamu kenapa sih?" kata Luna saat Al berjalan cepat sembari menarik tangannya.
Sesampainya di rooftop atas Al melepaskan genggaman tangannya dan menatap datar Luna.
"Kenapa lo berangkat sama Willy?"
"Karena bu Jessy minta aku buat ambil beberapa berkas," jawab Luna sembari memegangi pergelangan tangannya yang sedikit sakit karena genggaman Al.
"Kan bisa nunggu gue, enggak harus berangkat sama Willy," ketus Al membuat Luna mendongak dan memicingkan matanya.
"Sudah aku bilang, aku sama Willy ada urusan," ketus Luna yang sedikit sensitif hari ini.
Al melangkah maju mendekati Luna dan menatap mata lentiknya.
"Emang susah banget ya kasih tahu gue apa urusannya?" tanya Al mencoba ingin tahu.
Luna terdiam, seakan begitu berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
Luna memalingkan wajahnya, lalu menghembuskan napasnya pelan.
"Aku mau ke kelas dulu," kata Luna yang pergi begitu saja meninggalkan Al.
"Arghh," teriak Al merasa putus asa.
Kringggggg
Tepat pukul 7 bel berbunyi di mana menandakan jika upacara akan segera dimulai.
Al langsung turun ke lantai bawah untuk segera mengikuti upacara.
Dan benar saja, beberapa dari mereka sudah bersiap baris di lapangan sebelum pak Kimmy keliling sembari membawa penggaris panjang.
Al meletakkan tasnya di atas meja lalu keluar kelas sembari membawa topi.
Terlihat kelasnya sudah berbaris rapi, tatapannya tak sengaja bertemu dengan Luna.
Namun, hanya sekilas karena Luna terburu menunduk.
Al yang berbaris di belakang El sontak bertukar tempat agar Al bisa berdiri di samping Luna.
"Sabar El, harus ngalah sama yang bucin," gumam El saat ia berpindah tempat di belakang dan tidak bisa menenduh di belakang punggung Willy.
Luna hanya diam saja saat Al berdiri di sampingnya.
Upacara sudah berjalan selama 30 menit dan Al merasa jika Luna sedang tidak baik- baik saja.
__ADS_1
Ia terus menunduk dan mengeluarkan keringat dingin.
"Ayo ke belakang gue anter," kata Al sembari menggenggam tangan Luna.
Luna melepaskan pelan tangan Al sembari menggelengkan kepalanya.
"Gue nyesel berada di belakang Luna sama Al," gumam Dinda yang diangguki oleh El.
Aqila yang berada di samping Luna juga merasa cemas akan keadaan sahabatnya.
"Lun ayo gue anter ke belakang," bisiknya pelan saat Luna sedari tadi menggenggam tangan Aqila.
Luna mengangguk pasrah dan berbalik kanan.
BRUGH
Luna jatuh pingsan dan berutungnya Al begitu siagap menangkap tubuh Luna sebelum terjerembab ke paving.
Al langsung membopong Luna ke belakang.
"Gue bopong sendiri aja," katanya saat anggota PMR laki- laki ingin membantunya.
Dinda Calista dan Aqila yang mendengar ucapan Al merasa ingin terbang saat itu juga.
Sayangnya mereka masih upacara.
"Al manis banget kalau sama Luna," gumam Dinda.
"Mana tuh cowok posesif banget lagi meski belum jadian," kata Calista heran.
"Apalagi jadi suaminya Luna ya, enggak bisa bayangin gue," Aqila menggelengkan kepalanya.
"Heh buk ibuk rempong jangan pada gosip lo di belakang, gue kepanasan nih di depan, tukeran sini," kata Dante yang baris paling depan dan sedikit menoleh ke belakang.
"Bodo amat, emang gue pikirin," ejek Aqila sembari menjulurkan lidahnya.
Dante hanya bisa menahan dirinya untuk tidak mengacak- acak rambut Aqila saat upacara masih berlangsung.
Sedangkan di uks, Al begitu cemas dengan Luna.
Luna masih diperiksa oleh anggota PMR cewek.
"Gimana keadaannya?" tanya Al saat anggota PMR itu selesai memeriksa Luna.
"Kak Luna kayaknya kecapekan kak sama kurang tidur," Al mengangkat alisnya heran.
Setahu Al Luna beberapa minggu ini sudah jarang kerja karena memang sengaja ia ajak keluar jalan- jalan setelah belajar kelompok bersama Willy.
Apa ini ada urusannya sama Willy, akhir- akhir ini mereka berdua sibuk keluar masuk ruang BK.
Al menarik kursinya untuk lebih dekat ke brankar Luna.
Ia menatap dari dekat wajah cantik Luna.
"Urusan apa sih yang buat lo sampek kayak gini, heran gue," gumamnya pelan sembari menggenggam erat tangan Luna yang berkeringat dingin.
Luna perlahan membuka matanya lalu melihat di sampingnya Al sedang duduk dan menatapnya manis.
"Anggota lo bilang, lo kurang tidur sama kecapekan,"
"Emang lo begadang ngapain sih sampek kecapekan?" ketus Al yang memarahi Luna.
Luna yang baru sadar jika Al menggenggam tangannya hendak melepaskannya.
"Al lepasin," bentak pelan Luna namun tidak membuat Al takut.
"Gue cuma mau minta sama lo,"
Luna menoleh menatap Al yang kini berubah menjadi sangat serius.
"Jangan terlalu deket sama Willy," lanjutnya membuat Luna memalingkan tatapannya.
"Aku enggak bisa melakukannya, lagian kamu enggak berhak buat atur aku harus berteman dengan siapa. Semua sama Al, mereka teman aku," kata Luna membuat Al tersenyum samar.
Al semakin memajukan kursinya hingga ia bisa melihat sangat dekat sekali wajah Luna.
Bahkan hembusan keduanya pun saling terasa.
"Kayaknya lo enggak paham sama ucapan gue kemarin," gumam Al pelan membuat Luna mencoba untuk menetralkan detak jantung juga hembusan napasnya.
"Jadi, gue akan kasih tahu satu langkah yang gue maksud untuk merubah hubungan kita," kata Al sembari menatap Luna begitu lama dan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah Luna.
Luna yang terlalu gugup dan gemetar reflek memejamkan matanya.
Al yang melihat wajah menggemaskan Luna tersenyum lebar.
Luna yang tak kunjung merasakan apapun, membuka matanya perlahan.
Cup
Al mencium lembut dan lama kening Luna.
Lalu Al kembali merapikan rambut Luna lebih tepatnya bekas kecupannya di kening.
"Udah tidur lagi, gue jaga di sini," kata Al sembari menggenggam tangan Luna dan merebahkan kepalanya di samping lengan Luna.
Luna mencoba untuk mengatur detak jantungnya dan rasa panas di pipinya.
Al barusan cium dia?
Ini enggak mimpi kan?
Siapa yang tahu, jika sejak tadi di uks ternyata ada anggota PMR yang berjaga.
"Ya tuhan, saya enggak liat apa- apa,"
"Saya dari tadi merem ya tuhan, enggak denger apa- apa,"
"Bisa- bisanya kita dari tadi di balik tirai denger obrolan mereka, mana liat Al cium Luna lagi, kan iri gue,"
Ketiga anggota PMR itu hanya bisa diam di balik tirai setelah mendengar juga melihat perlakuan Al yang begitu manis pada Luna.
Sedangkan di gudang, ada Eros dan Bianca.
BRAKKKKK
Eros mendorong Bianca hingga tersungkur di lantai.
"Eros apa lo gila," bentak Bianca saat Eros bermain kasar padanya.
"Lo tahu, lo enggak lebih dari ****** tapi juga murahan,"
Plak
__ADS_1
Bianca berdiri dan menampar Eros dengan sekuat tenaga.
"Apa lo lupa, lo sendiri yang melakukannya, bukan gue," teriak Bianca dengan mata yang memanas.
"Kalau bukan karena lo yang campur obat perangsang ke minuman gue, itu enggak bakal terjadi," kata Eros dengan mengetatkan giginya dan mencengkeram kuat kedua pipi Bianca.
Eros menghempaskan wajah Bianca dengan kasar.
"Jangan bilang kalau lo juga yang maksa gue kemarin siang buat nyetubuhi lo," kata Eros menebak apa yang terjadi kemarin siang.
Bianca hanya tersenyum miring lalu mendekati Eros.
"Di rumah lo ada cctv enggak? Coba periksa, siapa yang terobsesi dengan tubuh gue,"
"Hentikan omong kosong sampahmu," kata Eros kembali mencengkeram lengan Bianca.
"Sampai kapanpun, gue enggak bakal tanggung jawab dengan apa yang lo buat sendiri, karena hati gue cuma buat Leyna bukan lo, camkan baik- baik," kata Eros dengan memicingkan matanya pada Bianca.
Eros lalu pergi begitu saja meninggalkan Bianca di dalam gudang.
"Akhhhhh," teriak Bianca kesal dengan sikap kasar dan gila Eros.
"Oke, kalau lo lebih milih Leyna dibanding gue," gumam Bianca sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Gue sendiri yang bakal habisi Leyna," tekannya lalu pergi keluar dari gudang dan menyusul Eros ke dalam kelas.
Sedangkan di kelas XII IPA 1 para cowok yang dipimpin oleh Dante sedang asyik mabar.
Sedangkan Aqila dan Calista, sedang mengobrol tentang hal yang serius.
"APAAAA???? Lo seriusan?" teriak Aqila keras hingga membuat teman cowoknya terkejut bukan main termasuk Dante.
"Ya ampun La, gue masih beruntung enggak dikasih tuli sekelas sama lo,"
"Gue selalu berharap lo menjadi kalem dalam sehari aja La,"
"Heh mak lampir, bisa enggak itu mulut direm dikit," ketus Dante yang kesal dengan Aqila karena suara teriakannya yang hampir seperti toa.
"Emang kenapa, masalah buat lo," kata Aqila yang tak memedulikan omelan teman cowoknya.
"Terus, sekarang lo mau nembak dia gitu?" tanya Aqila yang sudah terlalu kepo dengan misi Calista.
"Rencananya sih gitu, cuma kan lo tahu El orangnya dingin banget," kata Calista sembari melirik ke arah El yang asyik mabar bersama yang lainnya.
"Ya tuhan Ta gue enggak nyangka kalau lo diem- diem suka sama El, mana tuh cowok mukanya datar lagi," kata Aqila sembari melirik ke arah El.
"Emang lo udah pernah chattingan gitu sama El?" Calista mengangguk.
"Dia bales?" Calista menggelengkan kepalanya.
Aqila menghembuskan napasnya kasar dan menonyor kepala Calista.
"Pesan lo aja diabaikan apalagi perasaan lo," ejek Aqila membuat Calista mengerucutkan bibirnya.
"La lo kok gitu sih, bukannya dukung gue malah ngejekin, mending gue curhat sama Luna aja tadi, nyesel gue," dumel Calista yang tidak mendapatkan apapun curhat pada Aqila.
"Lah terus gue harus ngapain dodol, jungkir balik gitu biar lo tahu kalau El enggak mau buka hati buat siapapun. Pesan aja enggak dibuka apalagi hatinya," kata Aqila yang memang ada benarnya juga.
"Tapi gue maunya nembak El sekarang," rengek Calista yang seakan takut jika El diambil orang.
"Terserah lo, gue capek ngomong sama lo," kata Aqila yang mencuekkan Calista dan bermain ponselnya.
Calista menghembuskan napasnya pasrah, lalu ia menoleh ke belakang, El masih fokus dengan gamenya.
"Gue pasti bisa," kata Calista yang berdiri dan maju ke depan.
"Lah tuh bocah beneran mau nembak?" kaget Aqila saat Calista bulat dengan keputusannya untuk menembak El di depan kelas dan disaksikan oleh semua temannya.
"Perhatian buat kalian semua, gue mau minta waktu kalian sebentar," kata Calista membuat beberapa dari mereka menatap Calista sekilas lalu kembali asyik dengan obrolannya sendiri.
Aqila memberikan kode pada Calista agar dia kembali duduk dan mengurungkan niatnya untuk menembak El.
Namun, Calista malah menggelengkan kepalanya dan menatap seluruh penjuru kelas yang tidak ada memperhatikan dirinya sama sekali di depan.
Calista menarik napas lalu membuangnya.
"EL NINO BRADSITON ARGANTA, GUE SUKA SAMA LO. LO MAU ENGGAK JADI PACAR GUE?"
sontak semua terdiam dengan aktivitasnya setelah mendengar teriakan Calista.
Begitupun Al dan Luna yang baru saja masuk ke dalam kelas, kaget dengan teriakan yang diungkapkan Calista barusan.
Dengan kompak mereka menoleh ke depan di mana Calista berdiri.
Lalu mereka menoleh ke belakang untuk melihat bagaimana reaksi El.
El hanya diam dan menatap datar Calista.
Kelas mendadak sunyi dan diam tak bergeming.
Seakan terhipnotis dengan teriakan Calista barusan.
El berdiri dan menatap tanpa ekspresi pada Calista.
Ia berjalan maju ke depan membuat Calista tersenyum lebar.
Mereka para siswi membungkam mulutnya agar tidak berteriak dan bersiap- siap melihat balasan dari El.
Bahkan mereka para siswi juga menahan diri untuk tidak melompat kegirangan saat melihat El berjalan ke depan.
El berhenti tepat di depan Calista, ekspresinya masih sama, datar.
"Belajar dulu yang bener, dapet peringkat 3 besar satu sekolah waktu ujian nasional, baru bisa jadi pacar gue, itu syaratnya," kata El lalu pergi keluar kelas begitu saja.
Mereka semua melongo mendengar jawaban dari El.
Siapa sih yang enggak tahu Calista, cewek chubby yang malas sekali dengan hal yang berbau dengan buku.
Dikasih syarat buat dapetin juara 3 satu sekolah di ujian nasional minggu depan.
Wah El Gila.
Mana mungkin dodol, itu Calista aja waktu matematika selalu gosip, waktu sejarah selalu tidur dan waktu ujian selalu nyontek.
Malah ditantang buat jadi juara 3.
Emang belajar model gimana bisa tiba- tiba jadi juara dalam waktu satu minggu.
Ibarat kata kayak nunggu upin ipin naik kelas SD, spongebob berubah bentuk jadi lonjong, air laut berubah jadi manis dan bang jarwo temennya bukan sopo.
__ADS_1
Semua itu enggak mungkin.