
Eros dan gengnya berada di markas.
Setelah balapan tadi, mereka langsung ke markas sebelum ada polisi yang berpatroli.
"Akhirnya kita bisa menang dari gengnya Alex," sorak Damar yang begitu senang.
Eros hanya tersenyum miring, baginya mengalahkan Alex adalah hal yang sangat mudah sekali.
"Tapi untuk malam ini, kita jangan berkeliaran di luar, polisi melakukan patroli ketat setelah balap liar kemarin," peringati Eros pada gengnya.
Geng Darkster adalah geng balap motor yang dipimpin oleh Eros dengan anggota sebanyak 50 orang.
Mereka sudah berkali- kali ditangkap polisi namun tetap saja melakukan balap liar itu.
Bahkan Eros sendiri, sudah hampir 10 kali keluar masuk penjara hanya karena balap liar.
Namun, geng darkster tidak ada kata jera sedikitpun. Bahkan polisi sudah menyita motor balap mereka dan kini faktanya mereka masih melakukan balap liar.
Entah berapa motor balap yang mereka miliki.
Yang pasti, tindakan mereka harus ditindak lanjuti.
"Oh ya buat ngerayain kemenangan ini, kita harus berpesta, gimana?" usul Damar membuat Eros mengacungkan jempol ke arahnya.
"Silahkan, kalian mau pesta di mana, gue yang bayarin," kata Eros membuat anggotanya bersorak sorai.
"Eh Ros gue liat kemarin adiknya Luna kayaknya gabung deh sama gengnya Alex," kata Edo memberitahu Eros.
"Serius lo?" tanya Eros kaget.
"Iya kemarin Alex boceng adiknya Luna waktu pulang sekolah, papasan malah sama gue," Eros mengepalkan kedua tangannya.
"Besok ikut gue," kata Eros pada Edo dan Damar.
Mereka hanya mengangguk paham.
●●●
Luna sudah bangun sejak pukul 5 tadi. Ia kini sedang memasak untuk sarapan dia dan adiknya.
Setelah beberapa menit selesai, Luna membangunkan adiknya untuk mandi dan sarapan.
Ceklek
Terlihat Vino masih tertidur di bawah gulungan selimut.
Luna masuk ke dalam lalu langsung membuka jendela di kamar Vino.
Srek
"Vin buruan bangun, kakak udah masak buat sarapan," kata Luna sembari membereskan buku Vino yang berantakan di lantai.
Luna tidak melihat pergerakan dari Vino.
Perlahan ia menghampiri Vino.
"Vin," kata Luna sembari menepuk punggung Vino yang membelakanginya.
Vino menggigil hebat membuat Luna langsung memeriksa kening Vino.
"Astaga kamu demam," panik Luna yang langsung mengambil air dan baskom untuk mengompres Vino.
Luna kembali dengan air di baskom.
Dengan telaten Luna mengompres Vino, Luna melirik jam dinding pukul 6.
Ia melihat Vino yang menggigil dan terus meracau.
Vino memang selalu demam saat ia kelelahan.
Tapi Vino lelah kenapa, lagian Luna yang bekerja setiap harinya.
Mungkin hari ini Luna tidak akan masuk sekolah dan akan menunggu Vino hingga sembuh dari demamnya.
Untungnya Luna bilang pada Aqila untuk berangkat lebih dulu dengan alasan Luna ingin pergi ke minimarket lebih dulu untuk mengambil gajian.
Luna merasa tak enak hati saat setiap hari terus nebeng pada Aqila.
Memang benar rumah mereka searah, bukan searah lagi lebih tepatnya berdekatan.
Tapi tetap saja Luna tidak ingin terus merepotkan Aqila dan keluarganya.
Karena lelah menunggu Vino yang tak kunjung turun demannya, Luna ikut menidurkan kepalanya di tepi kasur.
Luna juga merasa lelah karena kemarin seharian bekerja setelah selesai membeli buku untuk persiapan ujian.
Sedangkan di SMA kini bel masuk sudah berbunyi.
Membuat Aqila sejak tadi merasa gelisah dan terus mencemaskan Luna.
Aqila menyesal saat ia tadi menuruti perkataan Luna untuk berangkat lebih dulu.
Pak Budi sudah masuk ke dalam kelas untuk memulai ulangan hariannya.
"Selamat pagi anak- anak," sapa pak Budi pada semua siswa.
"Pagi pak," jawab mereka serempak dengan penuh semangat.
"Gimana, udah siap ujiannya?" tanya pak Budi sembari meneliti jumlah siswanya.
"Loh Luna kemana Aqila?" tanya pak Budi saat bangku di sebelah Aqila kosong.
Semua mata menatap bangku di sebelah Aqila dan baru menyadari saat Luna tidak ada.
"Ko Luna kemana, kok enggak masuk?" tanya Dante menggoda Al yang hanya diam saja meski pikirannya bertanya- tanya.
"Enggak tahu," jawab Al dingin membuat Dante yang duduk di belakangnya tersenyum ke arah El.
"Jawaban koko emang enggak tahu Dan, tapi pikirannya terus melayang- layang tentang Luna," kata El yang ikut menggoda kokonya.
"Itu pak saya lupa bawa surat Luna, ia izin enggak masuk karena ada urusan penting," kata Aqila berbohong demi Luna.
__ADS_1
"Yaudah, besok suruh menghadap ke pak Budi ya buat ulangan susulan," kata pak Budi pada Aqila.
"Baik pak," jawab Aqila yang juga mencemaskan di mana Luna sekarang.
Ulangan harian pun di mulai dengan tertib dan disiplin.
Tapi tidak dengan bangku belakang yang berisi Dante dan El.
"Ko apa jawabannya? A atau B yang bener?" tanya Dante yang gaduh sendiri karena lupa materinya.
"Bentarlah Dan, koko lagi ngitung ini," kesal El yang terus diganggu oleh Dante.
"Kan salah ngitung, lo sih Dan, nanya mulu," gerutu El membuat Al yang fokus kini terganggu.
"Bisa diem enggak?" kata Al sembari menggertakkan giginya.
Mereka diam dan terpaksa mengerjakan sebisanya.
"Ok mungkin ini waktunya cap cip cup disaat penyontekkan pertama tidak didapatkan," gumam Dante yang duduk di belakang sendiri.
Selama 90 menit ulangan sudah berakhir dan tepat saat itu bel istirahat berbunyi.
Semua siswa langsung berhamburan keluar kelas untuk menyerbu kantin.
"Lunaa," pekik Aqila membuat ketiga kembar yang duduk di belakang menatap ambang pintu.
"Lo dari mana aja sihhh?" kesal Aqila yang langsung memarahi Luna saat meletakkan tasnya di bangku.
"Vino sakit, makanya aku enggak bisa tinggalin dia sendiri," kata Luna mengambil peralatan tulisnya untuk ulangan susulan di ruang guru.
"Ayo gue anter ke ruang guru buat ulangan susulan," kata Aqila sembari menarik tangan Luna keluar kelas.
"Duh ada yang kebakar nih hatinya," gumam El sembari fokus main game.
"Mana Luna nyebut namanya jelas banget lagi. Vino sakit," ejek Dante yang membuat Al langsung pergi keluar kelas.
"Wah kayaknya hati koko panas banget sampai keluar kelas buat cari udara segar," gumam Dante sembari menatap kepergian kokonya.
"Siap- siap ya nak, buat babak belur di rumah," kata El sembari menepuk bahu Dante lalu pergi keluar kelas entah kemana.
"Wah gawat, pulang bisa- bisa bonyok muka gue," gumam Dante yang memikirkan bagaimana nasibnya pulang sekolah nanti.
Sedangkan Luna di ruang guru sedang mengerjakan ulangan harian dari pak Budi.
Luna memegang perutnya yang berbunyi.
Tadi karena buru- buru, Luna tidak sempat sarapan dan langsung berangkat ke sekolah.
"Ada apa Aqila?" tanya bu Sari saat Aqila masuk ke dalam ruang guru.
"Maaf bu saya cuma mau nganter obat Luna sama roti," kata Aqila yang pandai sekali drama sekaligus bohong.
"Oh ya silahkan, tapi selesai makan dibersihkan ya," kata bu Sari memperingati Luna.
"Iya bu," jawab Luna yang merasa bersalah karena berbohong.
"Nih buruan makan," gertak Aqila sembari melotot ke arah Luna lalu buru- buru keluar dari ruang guru.
Luna mengerjakan ulangannya sembari makan roti yang dibelikan oleh Aqila.
Setelah beberapa menit kemudian Luna telah menyelesaikan ulangan hariannya.
Luna berniat untuk kembali ke kelas namun bu Sari menghentikan langkahnya.
"Luna tunggu," kata bu Sari sembari menghampiri Luna.
"Iya bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Luna sopan dan ramah pada bu Sari.
"Lun ibu minta tolong letakkan proposal persami ini di ruang osis untuk rapat besok siang, ibu tidak sempat untuk mengantarkan ke sana karena dipanggil pak kepsek," kata bu Sari sembari memberikan proposal itu pada Luna.
"Baik bu akan saya letakkan di ruang osis," kata Luna sembari menerima proposal yang diberikan bu Sari.
Luna berbalik arah tidak jadi pergi ke kelas melainkan ke ruang osis.
Dengan cepat Luna naik ke lantai atas untuk meletakkan proposalnya.
Ceklek
Luna masuk ke dalam ruangan lalu meletakkan proposalnya di dalam lokernya.
Brak
Luna terkejut saat pintu tertutup dengan sendirinya.
Dengan cepat Luna langsung bergegas untuk memeriksanya.
Ceklek ceklek
"Hah kok kekunci sihh, gimana ini," panik Luna saat pintunya terkunci dari luar.
Luna panik dan ketakutan saat mengetahui ia sendiri di dalam sana.
"Tolongg, siapapun tolong bukakan pintunya," teriak Luna sembari menggedor pintunya.
Luna melihat sekeliling ruangan osis, terlihat sepi sekali dan sunyi.
"Aqila tolongggg," teriak Luna berusaha untuk mencari bantuan.
Kenapa ruang osis tidak ada jendela untuk keadaan darurat seperti ini.
Ia menyesali disaat seperti ini.
"Tolong, siapapun di luar tolong bukakan pintunya," teriak Luna masih berusaha untuk meminta tolong.
Bagaimana bisa ada yang mendengarnya, semua siswa sudah masuk kelas sedangkan ruang osis berada di lantai atas.
Luna berbalik dan kembali menatap ruang osis yang sepi dan sunyi.
Perlahan Luna teringsut di lantai dan meringkuk sembari memeluk erat lututnya.
Terdengar suara isak tangis dari Luna yang tertahan.
__ADS_1
Tap tap
Suara sepatu yang berhenti di depan Luna.
Perlahan Luna mendongak untuk melihat sosok di depannya.
Al Gibran
Luna spontan berdiri dan memeluk Al dengan erat.
"Hiks hiks kamu dari mana aja sih, aku takut sendirian di sini," kata Luna sembari terisak di dalam pelukan Al.
Al mengepalkan kedua tangannya sembari memalingkan wajah untuk menahan diri saat Luna memeluk dirinya erat.
"Udah enggak usah nangis," kata Al mencoba untuk melepaskan pelukan Luna agar tidak ada yang salah paham tentang mereka.
Luna menunduk malu sembari mengusap air matanya saat ia
"Gitu aja nangis," kata Al sembari duduk di lantai membuat Luna menatapnya kesal.
Bugh
"Ngeselin banget sih jadi orang," ketus Luna sembari menendang kaki Al.
Ingin sekali Al tertawa keras saat ini melihat mata Luna yang sembab dan hidung yang memerah ditambah bibir yang manyun ke depan.
"Ini gimana terus keluarnya, apalagi sekarang waktunya bu Sari," kata Luna mencoba untuk mencari cara agar bisa keluar.
Al hanya diam dan duduk santai tanpa berusaha untuk keluar dari sana.
Luna beralih menatap Al yang terlihat biasa saja.
"Al bantuin kek, emang kamu enggak pengin apa keluar dari sini terus ke kelas," seru Luna sembari menghentakkan kakinya kesal.
"Enggak," jawab Al singkat membuat Luna melebarkan kedua matanya.
"Huaaa Al kamu ngeselin banget sih jadi orang. Seenggaknya sekali ini aja, jangan dingin- dingin jadi orang," teriak Luna kesal pada Al yang hanya diam dan duduk santai.
"Berisik tahu enggak. Udah duduk sini," kata Al dengan suara yang datar namun tegas tak terbantahkan.
Luna yang sudah lelah uring- uringan sendiri terpaksa duduk di dekat pintu sembari menatap Al tajam.
Sesekali Al melirik ke arah Luna yang ternyata memejamkan matanya.
Bisa- bisanya dia tidur di saat keadaan seperti ini.
Al tidak mengira jika Luna adalah perempuan yang unik.
Beberapa menit yang lalu ia uring- uringan ingin keluar sekarang malah tidur tanpa ada rasa was- was atau cemas saat ia berada di ruangan bersama laki- laki.
Untung yang di dalem ruangan Al Gibran, coba kalau Eros.
Udah bakal ada trending topic besoknya di SMA.
Diam- diam entah tanpa sadar atau tidak, Al memperhatikan Luna yang tertidur dengan posisi duduk.
Sangat menggemaskan saat ia diam dan tertidur.
Tidak seperti beberapa menit yang lalu.
.
.
Luna membuka kedua matanya dan melihat langit- langit warna putih.
Tunggu sebentar.
Dia di mana sekarang?
"Lun lo udah sadar?" tanya Aqila sembari menatap cemas Luna.
Tunggu- tunggu, kenapa dia bisa di uks, bukankah tadi dia terkunci di ruang osis bersama Al.
"Al aku kenapa?" tanya Luna pada Aqila.
Aqila mengernyitkan keningnya lalu memeriksa kening Luna.
"Lo pingsan tadi, lo enggak inget?" tanya Aqila dan kini ganti Luna yang mengernyitkan keningnya.
Pingsan?
"Al tadi yang bawa lo ke sini, dia bilang lo pingsan di ruang osis," kata Aqila yang membuat Luna tak habis pikir.
Jelas- jelas jika Luna tadi tertidur saat di ruang osis setelah menangis.
Masak iya sih dia pingsan?
Terus gimana caranya Al keluar dari ruang osis?
Wah kayaknya ada yang enggak beres sama tuh cowok.
"Gimana, lo udah baikan? Kita pulang sekarang ya, biar lo bisa istirahat," kata Aqila sembari membawakan tas Luna dan memapahnya pelan keluar dari uks.
Sedangkan di balik dinding ada Al yang bersembunyi.
Setelah Luna dan Aqila pulang, Al baru pergi menuju kelas untuk mengambil tasnya.
"Ko," teriak Dante yang berada di depan kelas sembari membawa tasnya.
"Koko dari mana? Kenapa tadi enggak masuk kelas?" tanya Dante yang penasaran.
"Tidur di perpus," bohong Al lalu berjalan menuju gerbang untuk segera pulang.
"Enak banget koko tidur di perpus," gumam El yang berjalan di belakang Al.
"Tapi kok bisa samaan ya sama Luna yang juga enggak di kelas tadi," kata Dante pada El.
El hanya mengendikkan kedua bahunya tanda tak tahu.
Sedangkan Al yang berjalan di depan hanya tersenyum samar mendengar ucapan kedua adiknya.
__ADS_1