Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Menikah Lagi?


__ADS_3

Sore hari tepatnya pukul 3 sore, Al baru saja mengantar Luna pulang setelah puas menonton bioskop juga merayakan ulang tahun Luna.


Luna turun dari atas motor Al.


"Makasih untuk kejutannya," Al hanya tersenyum dan menatap kalung yang tampak indah du leher jenjang Luna.


Al akui jika pilihan mamanya tidaklah salah.


"Kalau gitu, aku masuk dulu," Al menahan lengan Luna.


Luna tampak berbalik dan menatap Al.


"Nanti malam aku jemput jam 7, aku masih punya kejutan untukmu," Luna tampak tersipu malu mendengar hal itu.


"Jadi, tuan putri dandanlah yang sangat cantik, ok?" Luna menahan senyum di bibirnya dan mengangguk pelan.


Al mengecup sekilas punggung tangan Luna dan menyalakan motornya.


Setelah Luna masuk ke dalam rumah, ia baru meninggalkan pelataran rumah Luna.


Malam harinya Luna sudah dandan sangat cantik juga begitu rapi sekali.


Ia tengah duduk di ruang tamu sembari sesekali menatap ponselnya berharap Al mengirimkan pesan jika ia sudah berada di depan.


Namun, sekitar 15 menit Luna tak mendengar suara motor ninja Al di depan rumahnya.


Apa mungkin ia masih terjebak macet?


"Kakak mau pergi?" tanya Vino yang baru saja keluar dari kamar dengan headphone yang melingkar di lehernya.


Luna hanya mengangguk sembari menatap Vino yang pergi ke dapur.


"Vino kerjakan tugas sekolahmu baru bermain game," intruksinya yang hanya diangguki oleh Vino.


Vino lalu kembali masuk ke dalam kamar sembari membawa sepiring makanan dan sebotol air dingin.


Luna kembali memeriksa ponselnya, namun tak ada satupun notifikasi dari Al.


"Apa aku tunggu di luar aja ya?" gumamnya lalu Luna memutuskan untuk menunggu di luar rumah.


Luna berdiri di pinggir jalan sembari melihat kanan kiri jalan.


Ia takut meski hanya untuk menelpon Al.


Alhasil Luna memilih untuk menunggu.


Namun, hingga pukul 8 Al tak kunjung datang juga.


Entah kemana perginya? Yang pasti Luna sudah lelah menunggu sejak tadi.


Alhasil ia masuk ke dalam untuk berganti baju.


Ting


Luna yang tengah berganti baju, tampak mengabaikan suara notifikasi dalam ponselnya.


Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang dan meraih ponselnya.


Maaf aku lupa memberitahumu, aku sedang ada urusan mendadak.


Luna tak berniat membalas, ia meletakkan ponselnya dan berniat untuk tidur.


Ya sudah terlanjur kesal saat ini.


Kenapa Al tidak memberitahunya sejak tadi agar ia bisa berganti baju dan tidak menunggu lama seperti orang gila di depan rumah.


Sungguh menyebalkan, gumamnya dalam hati.


Perlahan Luna mulai pulas hingga ia benar- benar terlelap.


•••


Jika Luna bertabur kebahagiaan di hari ulang tahunnya, berbeda dengan Leyna yang seakan terus merasakan kesedihan di hari- harinya.


Yang ia lakukan hanyalah diam termenung di kursi setelah seharian ini ia mengerjakan tugas sebelum ujian akhir.


Leyna kembali teringat akan mamanya.


Dan ia juga memikirkan tentang bagaimana keadaan papanya sekarang?


Apa Adi juga merasakan hal yang sama seperti yang Leyna rasakan saat ini? Atau justru merasa bebas setelah kepergian Desi?


Ceklek


Leyna langsung menghapus sisa air matanya tadi.


"Kamu sudah bangun?" Leyna hanya mengangguk kala Damar meletakkan susu ibu hamil di depan Leyna.


Damar lalu menutup laptop Leyna lalu pergi mengambil sisir miliknya.


Dengan pelan Damar melepas ikatan rambut pada Leyna lalu menyisir pelan rambut panjang tersebut.

__ADS_1


"Besok pagi mau enggak kita lihat disney di taman kota?" tanya Damar sembari mengusap pelan rambut Leyna.


Leyna hanya diam tak merespon.


"Atau kita pergi nonton bioskop? Atau mungkin ke dufan?" Leyna masih diam tak bergeming sedikitpun.


Damar hanya tersenyum lalu mengepang rambut Leyna.


Setelah selesai, Damar meletakkan sisirnya di meja dan memegang pundak Leyna.


"Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?" Leyna perlahan menoleh menatap Damar.


Lama ia menatap Damar tanpa mengatakan sesuatu.


Hingga Leyna menunduk sekilas dan kembali memberanikan diri menatap Damar.


"Aku ingin ke makam mama besok, boleh?" tanyanya pelan membuat hati Damar benar- benar terasa sesak dan perih secara bersamaan.


Damar tersenyum dan mengangguk pelan.


"Boleh, besok aku temani," ucapnya sembari memeluk leher Leyna dari belakang.


"Enggak usah, aku ingin pergi sendiri, lagian kamu juga masih ada tugas yang belum dikumpulin," tolak Leyna kala Damar ingin mengantarnya ke makam mamanya.


Damar hanya mengangguk pelan dan tampak berpikir sejenak.


Kira- kira apa yang bakal dilakukan oleh Leyna besok?


Mungkin esok Damar akan mengikutinya secara diam- diam.


•••


Keesokan harinya, Damar hanya menatap Leyna yang tengah bersiap untuk pergi ke makam mamanya.


"Kamu yakin, sepagi ini ke makam mama? Aku antar ya?" Leyna menggelengkan kepalanya.


"Cuma bentar setelah itu aku pulang," ujarnya sembari memakai jaket.


"Aku pergi dulu ya?" pamitnya membuat Damar langsung beranjak dari tepi king size menghampiri Leyna.


Leyna terkesiap kala Damar tiba- tiba memeluk dirinya.


"Cepet pulang ya," Leyna hanya tersenyum samar sembari menganggukkan kepalanya.


Damar menguraikan pelukannya dan menatap Leyna.


"Udah?" tanya Leyna kala Damar tampak berat saat Leyna akan pergi.


"Ayo kuantar ke depan," ujarnya sembari menggenggam tangan Leyna keluar kamar.


Leyna hanya diam dan menurut meski dalam hatinya kini sedang membuncah.


Damar yang selalu bersikap tulus dan manis terhadapnya membuat Leyna seakan tidak bisa menolak.


Reaksi tubuhnya seperti spontan berjalan sendiri untuk merespon perlakuan Damar.


Sesampainya di depan, pengawal dengan sigap langsung membukakan pintu mobil untuk Leyna.


"Aku berangkat dulu ya?" Damar hanya mengangguk membuat Leyna langsung masuk ke dalam mobil.


Leyna membuka jendela mobil membuat Damar spontan langsung mendekat.


"Kenapa?" tanya Damar membuat Leyna menarik tangan Damar untuk lebih rendah darinya.


Cup


Leyna mengecup singkat pipi kiri Damar.


Damar tampak melihat kanan kiri dan tersenyum lebar sembari memegangi pipinya.


Leyna dengan cepat menutup jendelanya sebelum Damar menyerbu dirinya.


Mobilpun pergi membuat Damar tak bisa membalas perlakuan Leyna.


"Dia mulai berani," ujarnya lirih sembari masuk ke dalam rumah dengan tangan yang masih memegangi pipi kirinya dan senyum yang tak luntur dari bibirnya.


Sedangkan itu, Leyna yang berada di dalam mobil kini tampak sedang menguatkan dirinya sendiri.


Hari ini ia berangkat sepagi ini bukan untuk pergi ke makam mamanya melainkan untuk pulang ke rumah.


Leyna ingin belajar untuk bisa terbiasa tinggal kembali di rumah bersama papanya.


Ia tidak ingin terus- terusan merepotkan Damar apalagi terus berada di rumahnya, itu hanya akan membuat Damar merasa terbebani mengingat ia selalu menjaganya setiap saat.


"Pak kita pergi ke rumah saya dulu ya?" sopir itu hanya mengangguk dan langsung pergi ke rumah Leyna.


Dan selang beberapa waktu, Leyna telah tiba di rumahnya.


Terlihat mobil papanya masih berada di depan teras itu artinya Adi belum berangkat.


Leyna menguatkan hatinya, ia turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah untuk mencari papanya.

__ADS_1


Namun, yang ia dapatkan bukanlah papanya melainkan Bianca.


"Bianca?" kagetnya kala melihat Bianca tampak mengoles roti tawar di meja makan.


"Oh lo, baru pulang? Dari mana?" tanyanya dengan santai tanpa terkejut sedikitpun.


Leyna berjalan menghampiri Bianca di meja makan.


"Ngapain lo di sini?" teriaknya membuat Bianca meletakkan rotinya.


"Kenapa kau marah sayang, duduklah," ujarnya membuat Leyna ingin sekali memukul pipi Bianca saat ini.


"Leyna, kapan kamu datang?" Leyna menoleh dan terlihat Adi tampak rapi dengan setelan jasnya berjalan menghampiri keduanya.


"Pa, kenapa Bianca ada di sini? Apa papa yang suruh dia?" tanyanya dengan emosi yang benar- benar ia tahan saat ini.


"Iya, kenapa?" tanya balik Adi membuat Leyna benar- benar merasa tak masuk akal dengan ini.


"Sungguh papa yang memintanya kemari?" Adi tampak menghembuskan napasnya gusar.


"Iya Leyna. Lagian kebetulan banget kamu datang, besok papa dan Bianca akan menikah jadi kamu harus datang begitu juga laki- lakimu itu," seluruh tulang kaki Leyna seakan menjadi lemas setelah mendengar hal itu.


"Menikah? Sama Bianca pa?" Bianca mengangguk dengan senyuman yang mengejek.


PLAK


"LEYNAAA," teriak Adi kala Leyna menampar Bianca.


"Asal papa tahu ya, dia itu perusak rumah tangga papa dan mama, dan sekarang papa mau menikahinya? Apa papa masih waras? Mama baru saja meninggal pa, bahkan belum ada 1 bulan, kenapa papa begitu tega?" tangisnya membuat Adi semakin emosi dan langsung menghampiri Leyna.


PLAK


PLAK


Bianca membungkam mulutnya kala Adi tampak menampar Leyna beberapa kali.


"Jika kamu tidak suka, pergi dari sini. Lagian papa juga masih ingin memiliki istri lagi, memangnya kenapa?" Leyna memegangi pipinya dengan tangis yang sudah semakin deras membasahi pipinya.


Bianca yang masih memiliki rasa kasihan pada Leyna sontak membujuk Adi untuk kembali sarapan.


"Udah sayang, ayo kita sarapan. Nanti kamu bisa terlambat jika hanya mengurusnya," Leyna benar- benar jijik dengan Bianca saat ini.


Bagaimana bisa ia mau menikah dengan papanya?


Di mana akal sehatnya?


Leyna lalu pergi meninggalkan meja makan dan naik ke lantai atas untuk melihat kamar mamanya.


Leyna membuka walk in closet di mana kini semua almari mamanya berisi pakaian Bianca.


Lalu di mana baju mamanya?


"Kenapa, cari baju mama lo?" Leyna menoleh kala Bianca menyusulnya ke kamar.


"Kemarin sama papa lo dibakar di depan," Leyna menggenggam erat tangannya.


"Aww," rintih Bianca kala Leyna menabrak bahunya begitu kasar.


Leyna beralih pada meja rias yang biasanya digunakan oleh mamanya.


Kini semua sudah berganti dengan alat make up milik Bianca.


Tanpa ragu Leyna membuang semua alat make up itu hingga berserakan di lantai.


"Leyna gila, hentikan itu," teriak Bianca yang langsung memunguti semua make upnya.


Leyna lalu meraih tongkat bisball di sudut ruangan.


"Leyna apa yang lo lakukan," teriak Bianca kala Leyna membawa tongkat bisball ke arahnya.


"Lebih baik kuhancurkan semua barang- barang ini daripada lo pakai," ujarnya yang langsung memukuli brutal meja rias mamanya.


Bianca benar- benar takut dengan Leyna yang tampak begitu emosi.


Dengan cepat ia turun ke lantai bawah untuk memanggil Adi.


"Mas, cepetan ke sini," teriaknya sembari menuruni tangga.


"Ada apa sayang?" tanya Adi yang tampak panik dan menghampiri Bianca.


"Putrimu merusak kamar kita," ujarnya sembari menarik tangan Adi ke lantai atas.


Bianca melebarkan kedua matanya kala tak melihat Leyna di kamar.


Adi lalu berjalan menuju meja rias yang sudah hancur tersebut.


"Apa Leyna yang menghancurkan semua ini?" Bianca mengangguk pelan.


"Baguslah, aku sangat muak dengan barang- barang ini. Nanti akan kubelikan yang baru untukmu sayang," ujarnya membuat Bianca benar- benar terkejut dengan respon Adi.


Ia bahkan tidak marah sedikitpun melihat kekacauan yang dilakukan Leyna.

__ADS_1


__ADS_2