Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Kesedihan Leyna


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kamar apartemen Damar ada Leyna yang baru saja menyelesaikan ujiannya.


Ia dan Damar berada di kamar yang berbeda saat ujian berlangsung, jadi Leyna ingin mengirimkan pesan pada kekasihnya itu untuk bertanya.


Sudah beberapa hari ini Leyna tidak membuka ponsel karena Damar menahannya.


Jadi, banyak sekali pesan dan panggilan dari teman- temannya.


Ting


Turut berduka cita ya Na. Lo harus kuat.


- Ketua kelas


Leyna yang kaget dengan pesan yang dikirimkan tersebut langsung memeriksa grup SMA.


Ceklek


"Sayang, udah selesai belum ujiannya?" tanya Damar sembari membawa nampan yang berisi susu ibu hamil.


Leyna turun dari king size dan menatap Damar dengan mata yang sudah berkaca- kaca.


"Jelasin, jika ini enggak bener," kata Leyna sembari menunjukkan ponselnya yang berisi pesan turut berduka cita.


"Aku bisa jelasin...,"


PLAK


Leyna menampar Damar dengan napas yang terengah- engah.


"Kenapa kamu sembunyiin dari aku, hah?" bentak Leyna di depan wajah Damar.


"Iya aku tahu salah, sekarang ayo aku anter," kata Damar sembari meraih jaket bombernya dan memakaikannya pada Leyna.


Damar lalu langsung memeluk erat Leyna kala tangis perempuan yang ia cintai turun mengaliri pipi mulusnya.


Leyna terisak dalam pelukan Damar dan Damar berkali- kali mengecupi puncak kepala Leyna.


Leyna melepaskan pelukan Damar dan mengusap air matanya.


"Minum dulu ya susunya?" kata Damar sembari menangkup wajah cantik Leyna.


Leyna hanya mengangguk lalu duduk di tepi king size. Damar lalu memberikan segelas susu yang ia buat pada Leyna.


Setelah susunya habis, Damar berjongkok di depan Leyna sembari menggenggam erat tangannya.


"Kamu sudah siap?" tanya Damar saat mata Leyna sudah terlihat sembab.


Leyna tak sanggup meski hanya untuk menjawab iya.


Damar sedikit merunduk lalu mencium lama kening Leyna.


"Aku akan di sampingmu," kata Damar lalu meraih pinggang Leyna dan membawanya keluar untuk ke rumah Leyna.


.


.


Sesampainya di depan rumah Leyna, banyak sekali jejeran mobil dan motor teman- temannya.


Leyna turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.


"MAMA," teriak Leyna saat berdiri di ambang pintu dan melihat peti di tengah kerumunan orang- orang.


Semua menoleh dan menatap Leyna yang berlari ke peti mamanya.


Leyna memeluk peti kayu tersebut dan menangis histeris.


Adi yang tadinya duduk di samping peti langsung menghampiri Leyna.


"Sini kamu," bentak Adi sembari menyeret Leyna menjauh dari peti mamanya.

__ADS_1


Damar yang baru masuk ke dalam rumah melihat hal itu langsung menghampirinya.


PLAK


Semua terperangah akan sikap Adi pada Leyna.


Pak Budi yang melihat hal itu langsung menenangkan Leyna.


"Pak sekarang sedang berduka tolong tahan emosi bapak," kata pak Budi sembari menahan Adi agar tidak memarahi Leyna.


"Kamu enggak papa?" tanya Damar yang langsung membantu Leyna berdiri dan merengkuh ke dalam pelukannya.


"Anak macam apa kamu, hah? Mamamu lagi sakit, bisa- bisanya kamu di rumah laki- laki bajingan ini," teriak Adi keras hingga semua menatap sendu Leyna.


"Bahkan kau saja baru datang saat mayatnya sudah terbujur kaku, kemana saja kamu hah semalam?" bentak Adi dengan urat dan otot yang terlihat jelas di rahangnya.


Leyna hanya bisa menangis di pelukan Damar sedangkan pak Budi berusaha kuat menahan agar Adi tidak berlaku kasar pada Leyna.


"Om orang tua yang egois, arogan. Sikap om sendiri yang membuat keluarga om tersakiti dan tersiksa batin. Tapi anda tidak menyadari hal itu dan selalu menuduh Leyna, apa itu namanya orang tua?" tanya Damar yang terpancing emosinya.


BUGH


"Damar," teriak Leyna kala Adi memukul rahang Damar hingga terjerembab di lantai.


"Kau tahu apa hah? Kau hanya bajingan yang menghamili anakku," bentaknya keras.


Damar hanya diam saja sembari menatap Adi yang begitu emosi.


"Papa cukup!"


PLAK


Damar langsung menghampiri Leyna yang terdiam di tempatnya.


"Damar tolong bawa pergi Leyna," kata pak Budi pada Damar.


Damar langsung membawa Leyna pergi dengan Leyna yang sudah terisak.


.


.


"Ehh Lun, Al kok enggak ikut ke sini tadi?" tanya Dinda karena Al adalah ketua osisnya.


"Enggak...," jawab Luna terpotong.


"Gimana mau dateng, tadi aja dia ke uks karena Aretha katanya sakit terus gue disuruh manggilin Al," sahut anak osis yang terlihat kesal.


Luna bahkan tak tahu hal itu.


"Masak sih? Kan dia ketua osisnya harusnya urusin takziahnya dulu ngapain ngurusin Aretha," marah Aqila yang terlihat emosi.


"Yaudah Lun, ayo gue anter," kata Arka dan Willy bersamaan.


"Gue aja," kata Willy.


"Enggak usah sama gue aja," kata Arka sembari menatap tajam Willy.


"Gue paling berani ngadepi pawangnya jadi Luna lebih aman sama gue," kata Arka bangga.


"Enggak. Luna lebih aman sama gue," kata Arka yang tak mau mengalah.


Dinda dan Aqila langsung menarik Luna dari rumah Leyna untuk meninggalkan dua laki- laki yang saling berebut tersebut.


Dante yang melihat itu langsung menyusul Aqila.


"Aqila lo pulang sama gue," teriak Dante membuat Aqila berhenti dan berbalik menatap Dante ketus.


"Apaan sih?" kata Aqila ketus saat Dante langsung memakaikan helmnya pada Aqila.


"Din, Aqila pulang sama gue," teriak Dante pada Dinda.

__ADS_1


Dinda hanya mengacungkan jempolnya dan masuk ke dalam mobil untuk mengantarkan Luna pulang.


"Danteeee gue kan pengin pulang bareng sama mereka," rengek Aqila sembari menghentakkan kakinya.


"Udah enggak usah bandel, buruan naik," kata Dante sembari memegangi tangan Aqila untuk naik ke atas motor.


Aqila akhirnya terpaksa naik ke jok belakang dengan Dante yang merasa kesenangan.


Sepanjang jalan keduanya hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.


Seakan sedang menikmati perjalanan pulang di sore hari.


Mereka telah sampai di depan gerbang rumah Aqila.


"Makasih," kata Aqila yang langsung masuk ke dalam gerbang tanpa menunggu respon Dante.


"Lah tuh anak kenapa dah, tiba- tiba ngambek," gumam Dante bingung sembari menatap helm Aqila yang diberikan padanya.


"Emang dasar cewek ya, kalau ngambek enggak tahu situasi. Lah inikan helmnya dia, kenapa dikasih ke gue?" tanya Dante pada dirinya sendiri.


"Ini antara gue yang bego apa Aqila yang oon?" gumamnya sembari membawa pulang helm Aqila.


Sesampainya di dalam rumah, Aqila berjalan lesu dan duduk di ruang keluarga.


Mila yang dari dapur mengambil camilan keringnya, melihat putrinya baru saja pulang dan terlihat lesu.


"Sayangnya mama udah pulang?" tanyanya sembari duduk di samping Aqila.


Mila menatap Aqila yang terdiam cukup lama.


"Ada apa hah? Cerita sini sama mama?" katanya sembari meraih Aqila agar berbaring di pangkuannya.


"Ma," gumamnya lirih.


"Iya sayang?" tanya Mila sembari mengusap kepala Aqila.


"Hari ini mamanya Leyna meninggal," Mila nampak terkejut.


"Astaga, benarkah?" Aqila hanya mengangguk lemah.


"Tahu enggak ma, Leyna sebenarnya sedang mengandung anak Damar karena kesalahan satu malam. Lalu minggu kemarin, Leyna ramai- ramai digilir oleh anak buah Bianca beserta papanya Bianca sendiri," Mila beberapa kali dikejutkan oleh ucapan Aqila.


"Dan papanya enggak tahu hal itu karena Damar merahasiakannya agar Leyna tidak dikerasi oleh papanya," tanpa disadari air mata Aqila jatuh begitu saja.


"Dan sekarang ia ditinggal pergi oleh mamanya setelah semua masalah yang ia terima," isak Aqila membuat Mila mengusap- usap bahu Aqila.


"Ya tuhan, seberat itu masalah Leyna," gumam Mila yang merasa kasihan mendengar cerita Leyna.


"Dan yang buat Aqila kagum sama Damar, ia begitu melindungi Leyna layaknya seorang yang sudah pantas menjadi suami. Bahkan setelah Damar mengetahui semuanya yang terjadi sama Leyna ia tetap di samping Leyna," kata Aqila yang merasa iri dengan Leyna.


"Itulah laki- laki yang pantas untuk dipertahankan sayang, ia bertanggung jawab atas kesalahan yang ia perbuat," kata Mila memberitahu.


"Ma, kira- kira Aqila bisa enggak ya dapet suami kayak Damar yang bertanggung jawab gitu?" tanya Aqila membuat Mila tersenyum tipis.


"Bisa sayang, asal kamu harus bisa memilah dari sekian banyak pria untuk menjadi pasangan hidup kamu nanti. Mungkin di masa SMA ini, kamu bisa melihat teman cowok kamu yang sedang mencoba dekat sama kamu misalnya, lihat saja bagaimana cara ia memperlakukan kamu, bagaimana cara ia bisa mendapatkan cintamu, dan bagaimana caranya ia bisa menghargai segala kekurangan kamu," jelas Mila yang membuat Aqila langsung berpikir pada seseorang.


Dante.


Aqila kembali mengingat bagaimana perlakuan Dante pada dirinya.


Bagaimana cara Dante membuat dirinya bisa tersenyum.


Semua seakan berbeda dan unik dengan cara Dante sendiri.


Aqila tersenyum tipis mengingat bagaimana Dante yang selalu memaksa dirinya untuk pulang bersama.


"Lagi mikirin Dante kan?" tanya Mila sembari melihat Aqila yang tersenyum sendiri.


"Apaan sih ma," kata Aqila yang langsung pergi ke kamarnya karena malu.


Mila hanya bisa tersenyum melihat hal itu.

__ADS_1


Mila bangga dengan putrinya, di mana Aqila yang sangat tulus hatinya dan mudah sensitif akan hal yang menurutnya menyentuh hati.


__ADS_2