Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Ketulusan Damar


__ADS_3

Kini mereka sedang duduk di ruang tamu bersama- sama.


Al dan Luna merasa mereka saat ini seperti sedang digrebek oleh saudaranya sendiri.


Al menoleh ke samping, terlihat Luna terus menunduk karena malu, padahal ini terjadi karena ulah Al sendiri.



"Kalian jangan salah paham, kita tadi cuma...,"


"Kalian ngapain ke sini sih?" ketus Al pada adik- adiknya yang kini menatapnya serius.


"Kalau kita enggak kesini, Dante pastiin koko bakal ketiduran sampai entar malem, ya kan?" El langsung menepuk paha Dante.


"Koko kok enggak masuk sekolah tadi?" tanya El pada Al.


"Maaf ini salahku, tadi Al...,"


"Luna sakit, makanya koko jaga dia," jawab Al yang memotong pembicaraan Luna.


"Koko kok enggak chat kita, kita kan jadi khawatir," kata Dante yang mengungkapkan kekesalannya.


Al menatap Dante yang memang terlihat begitu cemas.


"Iya maafin koko," gumam Al sembari menunduk mengakui kesalahannya.


Semua terdiam namun dibalik itu Dante begitu penasaran dengan sesuatu.


"Ko," panggil Dante disaat semua orang diam.


"Emang tadi gimana awalnya kok bisa tidur bareng?" tanya Dante membuat Luna mendadak merah pipinya.


Sedangkan Al menatap Dante seakan ingin menerkamnya.


Al teringat bagaimana ia tadi bisa tidur bersama Luna.


.


.


FLASHBACK ON


Al melepaskan pelukannya pada Luna dan menatap Luna yang hanya diam saja.


Sepertinya Al melakukan kesalahan pada Luna.


"Lo marah?" tanya Al karena Luna hanya diam saja.


Luna perlahan mendongak dan menatap mata Al sekilas.


"Enggak. Kamu enggak masuk sekolah entar dicariin sama yang lain," kata Luna mencemaskan Al yang tidak masuk sekolah karena dirinya.


"Enggak usah khawatir," kata Al sembari merapikan rambut Luna yang sedikit berantakan.


Luna terdiam membeku melihat perlakuan Al padanya.


Rasanya seperti mimpi namun terasa nyata.


"Lo mau sarapan apa?" tanya Al sembari menatap Luna.


"Aku belum sempat masak tadi," kata Luna sembari menatap Al.


"Sini biar gue yang masak, lo pengin makan apa?" tanya Al kembali sembari melepaskan seragamnya dan kini hanya memakai kaos.


Luna mengangkat alisnya tak percaya.


Masak iya seorang Al Gibran bisa masak?


"Emang kamu bisa masak?" tanya Luna membuat Al merunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan Luna.


"Bisalah, emang cuma lo doang," katanya lalu pergi ke dapur untuk masak.


Luna tersenyum samar lalu ikut Al ke dapur untuk mengawasinya, jangan sampai rumah kontrakannya kebakar gara- gara Al masak.


Bisa gawat kan.


Sedangkan Al sudah mengambil alih dapur Luna untuk memasak.


Terlihat Al begitu jago dalam hal di dapur.


Pasti cewek yang dapat Al akan seberuntung itu, batin Luna sembari menatap Al yang sedang masak.


Tak lama masakan pun jadi, Al membuatkan egg drop soup untuk Luna.


Al melepaskan celemeknya dan menyajikan makanan itu di meja makan.


"Coba lo cicipi," kata Al sembari duduk di depan Luna.


Luna menatap Al yang langsung mencicipi sup buatannya sendiri dengan sangat lahap.


Sedangkan Luna hanya menatap sup di depannya dengan ragu.



"Enggak gue masukin racun, makan aja," kata Al saat menatap Luna hanya diam saja.


Perlahan Luna mengambil sendok lalu mencicipi sup buatan Al.


Srrrrrr


Suapan pertama masuk ke dalam mulut Luna, benar- benar sangat lezat untuk lidah Luna.


Al menatap Luna yang mencicipi sup buatannya, terlihat begitu menggemaskan.



"Gimana?" tanya Al saat Luna terlihat lahap makan sup buatannya.


"Enak banget," jujur Luna sembari tersenyum ke arah Al.


Al tersenyum samar, ia berdiri dan mengambil ikat rambut yang berada di samping Luna.


Luna terdiam saat Al menguncirkan rambutnya.


"Kalau makan biar rapi," gumam Al saat melihat Luna terdiam.


"Dah," kata Al saat ia berhasil menguncir rambut Luna.


Luna kembali makan dengan lahap membuat Al begitu senang.


"Gue keluar bentar ya," kata Al sembari memakai hoodienya.


"Kemana?" tanya Luna yang terlihat menggemaskan dimata Al.


"Bentar doang," katanya langsung keluar begitu saja membuat Luna bertanya- tanya.


Luna melihat tas Al masih di dalam kamarnya, lalu kemana itu bocah pergi.


Selesai makan Luna memutuskan untuk menunggu Al di ruang tamu sembari nonton TV.


Sekitar 15 menit Al kembali dari apotek untuk membelikan obat Luna.


Ceklek


Terlihat sangat sepi, kemana Luna pergi.


Al melihat TV nya nyala, ia berjalan menuju ruang tamu.


Luna tertidur di sofa.


Al meletakkan obatnya di atas meja, lalu berjongkok di depan Luna.


Al berinisiatif untuk mengambilkan selimut di kamar Luna.

__ADS_1


Namun, entah ide dari mana tiba- tiba Al ikut berbaring di sofa yang tidak begitu besar itu.


Dengan pelan ia menyelusupkan tangannya di bawah leher Luna dan berbaring di sampingnya sembari memeluk Luna.


Ini terlihat sangat manis, seperti sepasang kekasih, batin Al sembari menatap Luna yang tak bangun sama sekali.


FLASHBACK OFF


.


.


"Jadi, gimana ko ceritanya?" tanya Dante sekali lagi membuat Al membuyarkan lamunannya.


"Udah- udah ayo pulang," kata Al yang langsung menyampirkan tasnya dan beranjak berdiri.


"Lah tapi kita kan belum selesai introgasinya," kata Dante yang masih penasaran.


"Gue pulang dulu ya," pamit Al pada Luna sembari mendorong adik- adiknya agar keluar dari rumah Luna.


"Iya. Makasih," kata Luna sembari mengantar mereka ke depan.


"Lun coba lo cek cctv, siapa tahu gitu koko tadi ngapain," teriak Dante saat Al terus mendorong mereka agar cepat pulang.


"Coba diinget- inget Lun, lo tadi makai baju apa, berubah enggak sekarang atau ada yang aneh gitu," gini giliran El yang berteriak.


"Cepet pulang," teriak Al membuat mereka terdiam dan langsung nurut menuruni tangga untuk pulang.


Luna menahan tawanya melihat betapa takutnya mereka pada Al.


.


.


Sedangkan Leyna baru bangun tidur setelah pulang sekolah tadi, ia memeriksa ponselnya.


Pukul 6 malam.


Leyna bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selama hamil ini Leyna menjadi sangat malas sekali untuk bergerak.


Ia lebih suka tidur makan dan juga nonton film.


Setelah selesai, Leyna langsung berganti dengan baju yang lebih hangat.


Prangggg


"Apa itu," gumam Leyna terkejut saat mendengar suara pecahan.


Leyna langsung keluar dari kamar dan memeriksa kamar mamanya.


Ceklek


"Mama," pekik Leyna saat mamanya terjatuh di lantai dan beberapa pecahan gelas berserakan di lantai.


Leyna berusaha untuk membantu mamanya berdiri.


"Mama mau ngapain?" tanya Leyna sembari membantu mamanya untuk berbaring.


"Mama haus," gumam Desi membuat Leyna langsung bergegas menuju dapur untuk mengambilkan air minum.


Leyna kembali dengan segelas air dan membantu mamanya untuk minum.


"Mama kan bisa panggil Leyna, kenapa mama lakuin sendiri," marah Leyna membuat Desi hanya tersenyum samar.


Desi sudah satu minggu ini sakit dan Adi tidak pernah bertanya ataupun memperhatikannya sama sekali.


"Papamu sudah pulang?" tanya Desi dan Leyna hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Kemana papamu pergi, sudah 2 hari mama tidak melihatnya," Leyna mendadak langsung sendu.


Sebenarnya bukan 2 hari Adi tak pulang melainkan satu minggu ini papanya tidak pulang.


Leyna hanya berbohong jika papanya pulang dan tidur di kamar tamu agar mamanya tidak cemas berlebihan.


"Kamu istirahat aja sayang, kasihan bayimu," kata Desi sembari membelai pipi Leyna.


"Enggak papa ma, udah mama istirahat ya, Leyna mau nunggu papa dulu," kata Leyna lalu keluar dari kamar mamanya.


Leyna menutup pintu kamar mamanya, tak terasa air matanya membasahi pipi mulusnya.


"Aku akan mencari papa," gumam Leyna masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil jaket.


"Maaf ma, Leyna harus cari papa," gumam Leyna lalu pergi dengan diantar sopir.


Leyna bingung, kemana ia harus mencari papanya.


Apa mungkin papanya jam segini masih di kantor.


"Pa antar ke kantor papa aja," suruhnya pada sopir.


"Baik non,".


Mobil melaju menuju perusahaan Adi, ada rasa takut dan juga was- was dalam diri Leyna.


Ia takut jika papanya nanti begitu marah dan bersikap kasar padanya.


Leyna sampai di kantor dengan cepat ia bertanya pada sekretarisnya.


Ternyata papanya sudah 2 hari tidak masuk kantor, lalu kemana papanya pergi.


Leyna kembali masuk ke dalam mobil dan mencari papanya.


Apa mungkin papanya pergi ke club?


Ya bisa jadi papanya pergi ke sana.


"Pak kita ke club sekarang," perintah Leyna membuat sang sopir sedikit ragu.


"Nanti kalau nyonya tahu bagaimana non?" tanya sopir itu takut.


"Udah pak antar saja saya ke sana, asal jangan bicara sama mama," kata Leyna yang sudah geram.


Alhasil sopir itu mau mengantar Leyna ke club.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di club.


"Bapak tunggu sini aja, saya cuma sebentar," kata Leyna lalu turun dari mobil.


Leyna sangat marah saat tahu mobil papanya terparkir bersama jejeran mobil lainnya.


Dengan cepat ia masuk ke dalam club untuk mencari papanya.


Suara musik dan lampu yang temparam membuat Leyna sedikit kesusahan untuk mencari papanya.


Leyna malah menemukan Bianca yang berpenampilan sangat seksi.


Tadinya Leyna ingin bertanya pada Bianca namun ia malah naik ke lantai atas.


Mau tak mau Leyna langsung mengikuti Bianca ke atas.


Deg


Leyna terhenti di tempatnya saat mengetahui Bianca disambut oleh seseorang yang membuka pintu kamar itu.


Papanya.


Leyna mengusap kasar air matanya, ia menghembuskan napasnya dengan sangat berat.


Dengan keberanian yang Leyna punya ia berjalan menuju kamar tersebut.


Brakk

__ADS_1


Leyna mendorong pintu itu dengan kakinya.


Leyna menatap nyalang ke arah Bianca juga papanya.



"Leyna," gumam Bianca terkejut saat tahu siapa yang datang.


"Anak kurang ajar, ngapain kamu di sini?" teriak Adi yang begitu marah saat Leyna datang ke club.


"Jadi, selama ini perusak rumah tangga mama gue itu lo?" kata Leyna sembari berjalan menuju Bianca.


Plak


"Leyna," pekik Adi yang langsung melindungi Bianca dari Leyna.


"Kenapa lo lakuin ini sama gue Bi," teriak Leyna keras sembari meneteskan air matanya.


Plak


Adi menampar Leyna dengan sangat keras.


"Siapa yang suruh kamu ikut campur dalam urusan ini, hah?" bentak Adi sembari menjambak rambut Leyna dengan kasar.


"Papa ini pemimpin rumah tangga seperti apa, mama lagi sakit, bisa- bisanya papa di sini sama ****** sepertinya," teriak Leyna sembari menatap tajam Bianca.


Plak


"Cukup, jangan campuri urusan papa, lebih baik kamu pulang dan urus saja mamamu," bentak Adi sembari mendorong Leyna hingga terhuyung mundur.


Untungnya ada Damar yang menangkap tubuh Leyna dengan sigap.


"Damar," gumam Leyna sembari menatap Damar.


"Bukankah om sudah berjanji untuk tidak menyakiti Leyna?" tanya Damar akan janji Adi.


"Halahh saya enggak peduli, bawa saja dia pergi bersamamu. Aku tidak ingin melihat wajahnya," kata Adi sembari menatap nyalang Damar.


"Anda ini ayah macam apa, disaat putri anda membutuhkan perlindungan dari ayahnya,"


"Anda malah menjadi orang yang membuatnya tersakiti," kata Damar membuat Adi terdiam.


"Dan lo, lo temen yang paling brengsek dan enggak ada bedanya sama sampah, sama- sama busuk," kata Damar tajam pada Bianca.


Damar lalu membawa pergi Leyna agar ia tidak stress melihat semua ini.


Sejak tadi Damar memang berada di club, hanya saja ia tidak tahu jika Leyna ada di sana.


Saat hendak pulang, Damar tak sengaja melihat sopir Leyna yang sedang menunggunya.


Alhasil Damar kembali masuk dan mencari Leyna.


Damar membawa Leyna ke dalam mobilnya dan memberitahu sopirnya untuk pulang lebih dulu.


Damar lalu kembali ke mobilnya dan melihat Leyna menangis tersedu- sedu.


Ia semakin tak tega melihat Leyna seperti ini.


Damar lalu melajukan mobilnya menuju apartemen.


.


.


Damar telah sampai di apartemennya, ia langsung mengajak Leyna masuk ke dalam.



Damar mendudukkan Leyna di ruang tamu lalu mengambilkan teh hangat untuk Leyna.


Sedangkan Leyna masih terus menangis tanpa henti meski kini air matanya sudah habis.


Damar kembali dari dapur dengan segelas teh hangat dan baskom yang berisi air hangat, ia lalu berjongkok di depan Leyna.


"Nih minum dulu," kata Damar sembari menyodorkan teh hangat ke tangan Leyna.


Dengan mata sembab Leyna menatap Damar yang begitu perhatian padanya dan sangat tulus.


Damar lalu mengompres pipi Leyna yang terlihat memar karena tamparan papanya.


"Dam," panggil Leyna pelan namun Damar tak menggubrisnya dan fokus mengompres pipi Leyna.


"Kenapa tamparan papa sakit banget," gumam lirih Leyna sembari meneteskan air matanya.


Damar berhenti mengompres dan menatap Leyna yang kini menangis.


Damar langsung memeluk Leyna yang terlihat begitu terluka akan kejadian barusan.


Tangisan Leyna semakin pecah di dalam pelukan Damar.


"Gue kan udah bilang, jangan terlalu dekat dengan Bianca, lo bandel kan dibilangin," kata Damar pelan sembari mengusap- usap punggung Leyna yang bergetar hebat.


Damar memang sudah mengetahui sejak beberapa minggu yang lalu tentang Adi dan Bianca.


Karena itu Damar hanya mengatakan agar Leyna tidak berteman dekat dengan Bianca.


Namun, namanya juga Leyna tetap saja keras kepala.


Leyna melepaskan pelukan Damar dan menatapnya.


"Berarti lo udah tahu lebih dulu dari gue?" tanya Leyna membuat Damar langsung menghapus air mata Leyna.


"Udah jangan nangis, lo jelek banget kalau nangis," kata Damar mencoba menghibur Leyna.


"Lo jahat banget sih Dam," gumam lirih Leyna membuat Damar kembali merengkuhnya dalam pelukan.


Damar semakin tidak tega jika melihat Leyna menangis seperti ini.


Lebih baik Damar melihat Leyna yang suka marah- marah padanya dan selalu manja untuk dituruti semua kemauannya.


Damar tak lagi mendengar suara tangis ataupun pergerakan dari Leyna.


Ia menatap ke bawah dan benar saja, Leyna tertidur karena menangis.


"Kamu terlihat sangat cantik saat tertidur," gumam Damar yang langsung mengangkat Leyna ke kamarnya.


Dengan sangat pelan dan lembut, Damar membaringkan Leyna di king sizenya.


Tak lupa ia juga menyelimuti Leyna dan memasang penghangat ruangan.


Damar langsung menelpon dokter keluarganya untuk memeriksa keadaan Leyna.


Tak lama dokter datang dan memeriksa Leyna.


Karena kondisi Leyna yang lemah dan kurang istirahat, dokter memasang infus untuk Leyna.


"Tolong jangan biarkan dia stress atau banyak tekanan, itu akan menganggu janinnya," kata dokter Reza pada Damar.


"Baik dokter terima kasih banyak," kata Damar lalu mengantar dokter Reza ke depan.


Damar kembali ke kamarnya dan menatap Leyna.


Wanita yang mampu memikat hati seorang Damar.


Ternyata dibalik sikapnya yang jutek dan kasar, wanita di depannya ini memiliki banyak masalah dan tekanan.


Cup


"Jangan nangis terus ya, entar cantiknya hilang," bisik Damar lalu kembali mencium kening Leyna sedikit lama.


Damar lalu berjalan menuju sofa dan tidur di sana untuk menjaga Leyna.


Ia menatap Leyna yang tertidur karena lelah menangis.

__ADS_1


"Gue bakal selalu lindungi lo, meski lo belum bisa mencintai gue sepenuhnya," gumam Damar sebelum ia memejamkan matanya.



__ADS_2