Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Praktek Masak


__ADS_3

Setelah kejadian praktek pak Kimmy tadi, kini Aqila merasa menjadi sangat canggung sekali berada di kelas.


Ditambah Dante begitu tengil sekali, ia terlihat biasa saja tanpa ada rasa bersalah sekalipun.


"Bengong aja kenapa?" tanya Luna saat Aqila hanya diam tidak memperhatikan ucapan bu Sari.


"Lun lo percaya kan kalau gue tadi cuma jawab pertanyaan Dante?" tanya Aqila pada Luna.


"Yang mana?" tanya Luna menggoda Aqila.


"Ini lagi enggak ada bedanya sama Dante, sama- sama ngeselin. Pertanyaan yang tadi lohh," kata Aqila begitu keras hingga membuat semua menoleh dan bu Sari berhenti menjelaskan.


"Luna Aqila, bisa tunda dulu ngobrolnya?" kebiasaan bu Sari kala ada siswanya yang mengobrol saat beliau menjelaskan.


Luna dan Aqila langsung menghadap ke depan dan fokus pada praktek yang akan dilakukan.


"Sampai situ penjelasan ibu, ibu harap kalian bisa melakukan ujian praktek ini hingga akhir nanti," kata bu Sari berharap ujian praktek berjalan lancar.


"Ya bu," jawab mereka serempak.


"Dan kali ini ibu benar- benar minta maaf sama kalian semua. Mungkin ujian praktek ini akan sedikit berbeda dari sebelumnya, karena ibu sibuk untuk mempersiapkan acara kelulusan kalian juga study tour adik kelas kalian juga,"


"Jadi, ibu hanya minta kalian praktek memasak di rumah dengan catatan kalian harus merekam kegiatan awal kalian saat di dapur hingga waktu penyajian," seketika mereka semua begitu senang ketika praktek bahasa Indonesia tidak membaca puisi, menyanyi atau membuat karangan, melainkan memasak di rumah.


"Maaf bu, tapi bagaimana dengan kelompoknya? Kita milih sendiri atau diacak?" tanya Arka untuk memperjelas kembali.


"Untuk itu, ibu ingin kalian memilih kelompok sesuai dengan daerah kalian tinggal. Selain nanti kalian akan lama untuk praktek memasaknya, setidaknya kalian dekat dengan jalan pulang ke rumah," jelas bu Sari membuat Al diam- diam tersenyum lebar.


"Koko sehat? Kenapa senyum- senyum?" pergok Dante kala ia mengetahui kokonya tersenyum.


"Rumah Luna kan searah sama rumah kita," sahut El membuat Dante paham dan hanya ber oh ria.


"Lah Aqila sama Calista kan juga sama searah sama kita," kata Dante yang baru menyadarinya.


"Giliran Aqila aja lo cepet," ejek El membuat Dante hanya nyengir tanpa dosa.


"Ini yang pas banget satu kelompok Al El dan Dante," kata bu Sari membuat ketiganya menatap ke depan.


"Rumah kalian searah kan sama Luna Aqila dan Calista," sontak seisi kelas langsung mencuiti dan juga menggoda mereka.


"Emang takdir suka bercanda bu, apalagi dukung yang lagi bucin, buhh pasti didukung banget sama dunia," sorak Arka membuat seisi kelas tertawa.


"Tapi takdir bercandanya suka keterlaluan bu," celetuk Willy membuat semua menoleh ke belakang.


"Kenapa?" tanya Dante.


"Lah iya, masak kalian bertiga bisa dapet 3 cewek sekaligus, udah searah cantik- cantik pinter masak lagi, lah gue sekalinya jomblo praktek masak aja kagak ada cewek yang sekelompok sama gue," keluh Willy membuat bu Sari tertawa gamblang.


"Yaudah kamu mau sekelompok sama Al dan saudaranya ta Wil? Biar bisa barengan?" tanya bu Sari membuat Willy menggelengkan kepalanya tegas.


"Sebelumnya terima kasih bu, tapi lebih baik saya sendiri aja lebih aman. Daripada saya ikut mereka bertiga, baru mulai masak yang ada saya yang dimasak duluan sama pawangnya," sindir Willy pada Al dan kedua saudaranya.


Gelak tawa terdengar seisi kelas mendengar ungkapan Willy.


"Yaudah terserah kamu. Oh ya bentar lagi bel pulang bunyi, jadi ibu pamit undur diri dulu dan ingat kata ibu!"


"Tolong hati- hati dan jaga diri baik- baik saat berada di dapur dan jangan main- main dengan yang namanya kompor. Kalian sudah besar, jadi harus lebih waspada dan jangan ceroboh," kata bu Sari mengingatkan pada mereka untuk hati- hati.


"Iya bu,"


"Lah yang punya pawang mah enak, kena cipratan minyak yang dimarahi minyaknya. Lah gue kena luka bakar siapa yang mau marahi coba," dumel Willy yang tak ada habis- habisnya.


"Yaudah nanti biar ibu yang marahi kompornya karena ngelukai kamu," mendadak kelas menjadi ramai karena ucapan bu Sari.


Bel pulang berbunyi membuat mereka semua langsung bergegas untuk pulang bersama kelompok mereka masing- masing dan menjalankan praktek bahasa Indonesia.


Dan kini tinggal tiga kembar bersaudara dan juga Luna beserta kedua sahabatnya.


"Jadi, mau masak di rumah siapa?" tanya Calista membuat mereka berlima menoleh.


"Di rumah gue aja," jawab Al singkat membuat Luna mendadak gugup dan takut.


"Ko kenapa enggak di apartemen aja, kan enak ada 3 dapur daripada di rumah," kata Dante menyarankan agar di apartemen.


"Bener juga, yaudah ayo," kata Al sembari menyampirkan tasnya di pundak dan menggandeng tangan Luna begitu saja keluar kelas tanpa memedulikan tatapan saudaranya dan juga Aqila serta Calista.


"Mereka pacaran?" tanya Aqila pada Dante dan El.


"Sejak kapan?" tambah Calista.


El dan Dante kompak menggelengkan kepalanya bersama.


Sesampainya di parkiran Aqila dan Calista saling menatap.


"Kita naik taksi aja ya?" kata Aqila membuat Dante langsung menyentil keningnya.


"Terus nih motor ada jok belakangnya buat apa?" ketusnya sembari melepaskan helmnya di jok belakang.


"Kayaknya gue aja La yang naik taksi," kata Calista ketika ia melihat El hanya diam saja tanpa menawarinya untuk memberikan tebengan.


El memakai helmnya lalu naik ke atas motor.


"Buruan naik," ketusnya pada Calista.

__ADS_1


"Seriusan?" tanya Calista tak percaya dengan apa yang El katakan barusan.


El menyalakan motornya dan tidak menggubris pertanyaan Calista.


Tanpa menunggu lama, Calista naik ke atas motornya dan memeluk El dari belakang begitu erat.


Kini giliran Aqila dan Dante yang rempong.


"Nih pake," kata Dante sembari memakaikan helm hitamnya pada Aqila.


"Tapi ini berat tolol, pusing kepala gue," marah Aqila kala ia dipasangkan helm besar itu di kepalanya.


"Gue enggak mau tanggung jawab ya, kalau di jalan ada apa- apa," ketus Dante sembari naik ke atas motornya.


Aqila menoleh melihat motor Al yang terdapat dua helm.


"Enak banget Luna punya helm sendiri," gumamnya lirih namun masih bisa didengar oleh Dante.


"Buruan naik," kata Dante membuat Aqila langsung memukul punggungnya.


BUGH


"Sabarlah," ketusnya sembari berpegangan pada pundak Dante dan naik.


Dengan jahilnya Dante menjalankan motornya tanpa aba- aba membuat Aqila reflek memeluk dirinya.


Dante tersenyum melihat Aqila yang duduk di belakang terus menggerutu sembari memeluk dirinya.


Sedangkan di lorong kelas masih ada Al dan Luna yang berjalan bersama sembari bergandengan tangan.


"Al," panggil Aretha kala ia baru keluar kelas.


Dengan cepat Luna melepaskan genggaman Al sebelum Aretha melihatnya.


Al sedikit kesal saat Luna begitu cepat melepaskan genggamannya.


"Nih buat kamu," kata Aretha sembari menyodorkan kartu kecil warna coklat emas pada Al.


"Apa?" tanya Al tanpa membaca kartu kecil itu.


"Besok sabtu ulang tahunku, aku harap kamu dateng ya," katanya sembari berlagak begitu manis di depan Al.


Al melirik Luna yang hanya diam saja sembari menatap arah lain.


"Luna mana?" tanya Al pada Aretha.


"Hmmm gue cuma ngundang lo aja, lagian kartunya juga udah habis, El sama Dante aja enggak gue undang," kata Aretha sembari menatap Luna tak enak hati.


"Enggak papa kan Lun?"


"Ini boleh bawa pasangan?" tanya Al sembari membuka kartu undangan itu.


"Boleh," katanya yang belum tahu jika Al dan Luna sudah jadian.


Aretha mengatur hanya mengundang Al tanpa Luna.


Dan ia bohong soal tidak mengundang El dan Dante.


Aretha hanya ingin Al datang sendiri, karena yang Aretha tahu Al masih sendiri.


Jadi, mustahil jika ia nanti datang ke party nya akan membawa pasangan.


Namun, ia belum tahu jika keduanya sudah memiliki hubungan yang manis tanpa banyak orang ketahui kecuali kelas Al dan Luna sendiri yang tahu hubungan mereka berdua.


"Yaudah ya, aku pulang dulu. Jangan lupa kadonya," kata Aretha sembari berlari menuju gerbang utama untuk pulang.


Al hanya diam tanpa merespon, ia memasukkan kartu itu di sakunya lalu kembali meraih tangan Luna dan menggenggamnya erat.


Luna menoleh, Al terlihat senyum begitu lebar.


"Kenapa senyum- senyum? Ohh aku tahu pasti kamu seneng kan bisa dateng ke acara Aretha?" Al berhenti berjalan dan menatap gemas Luna yang terlihat begitu cemburu.


"Kamu kalau cemburu gemesin banget sihhh," kata Al mencubit pipi tirus Luna dengan gemas.


"Al sakit," rintih Luna membuat Al langsung mengusap- usap lembut pipi Luna.


Cup


"Ayo pulang," kata Al setelah mencium sekilas pipi Luna dan menggandeng erat tangannya.


Bugh


"Kalau ada orang liat gimana?" marah Luna kala Al tidak tahu tempat kala menciumnya.


"Wah siang ini begitu cerah sekali," kata Al mengalihkan pembicaraannya.


Luna hanya bisa menunduk sembari menahan rasa malu dan panas di pipinya.


Pasti saat ini pipinya begitu merah sekali.


♡♡♡


Kini mereka berenam sudah memulai masak dengan dibagi 3 kelompok.

__ADS_1


Al dan Luna, Dante dan Aqila serta El dan Calista.


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, namun mereka belum ada penyajian satupun.


Kelompok Al dan Luna terlihat aman- aman saja, biasalah orang bucin seperti apa kala sedang berdua.


Sedangkan di dapur satunya ada El dan Calista yang hanya diam saja.


El cenderung diam dan lebih memilih untuk cepat bertindak.


Sedangkan Calista tidak suka dengan yang namanya kesepian, ia itu orangnya petakilan.


"Huhh El lo kok diem aja sih dari tadi, ngomong kek apa gitu," omel Calista pada El yang sedang melumuri daging segar itu dengan lada hitam.


Tidak ada respon sekalipun dari El, ia tetap sama, diam saja.


"Tahu gitu gue lebih milih sekelompok sama Willy aja tadi," gumamnya lirih sembari mencuci semua peralatan yang sudah selesai.


BRAKKK


Calista terjengkit kaget karena suara keras yang El timbulkan.


"Lo kenapa sih?" marah Calista saat melihat El memotong daging di depannya dengan begitu keras.


"Kalau enggak suka, lo bisa pergi aja," kata El membuat Calista tak percaya.


Calista mencoba mengatur napasnya, di satu sisi ia emang sedikit kesal dengan sikap El namun di satu sisi ia ingin sekali berada di dekat El setiap saat.


"Ya gue yang salah," kata Calista sembari mencuci tangannya dan pergi ke kamar mandi.


El melirik kepergian Calista yang menunduk lesu.


Bukan itu yang El maksud, ahh tapi sudahlah, El lebih gengsi untuk mengutarakan isi hatinya.


Sedangkan di dapur ketiga ada Dante dan Aqila yang sibuk menggoreng.


"Dan gue takut kalau minyaknya kena wajah cantik gue," keluh Aqila yang sudah was- was kala Dante menyalakan kompornya untuk menggoreng.


"Percaya sama gue, enggak bakalan minyaknya nyipratin lo. Entar gue bakar kompornya kalau sampai ngenain muka lo," kata Dante sembari melumuri ikannya, sedangkan Aqila yang berdiri di belakang Dante mencoba untuk tidak pingsan atau terbang keluar rumah.


Aqila mencoba menetralkan detak jantungnya.


"Nih buruan lo goreng, ngapain lo ngumpet di belakang gue," kata Dante sembari berkacak pinggang dan menatap Aqila.


"Dan mending lo aja ya yang goreng ikannya, gue bagian akhirnya aja, gimana?" Dante menggelengkan kepalanya.


"Gue tahu gimana caranya biar muka lo enggak kena minyak," kata Dante yang langsung pergi keluar rumah.


"Kena perasaan gue tiba- tiba enggak enak ya," gumam Aqila sembari menatap ikan lalu ganti menatap wajan yang berisi minyak panas.


"Nih La pakai ini," teriak Dante sembari membawa helm besarnya pada Aqila.


"Nih pakai helm gue aja dijamin aman 100% tanpa bisa ngelukai lo," kata Dante sembari memasangkan helmnya tanpa meminta izin pada Aqila.


"Gih buruan goreng, gue jaga belakang lo," kata Dante sembari menepuk pelan helmnya.


"Ya tuhan, sehari aja sama dia gue udah ngerasa gila, gimana kalau sampai berminggu- minggu, mungkin gue udah masuk rumah sakit jiwa," gumamnya lirih sembari perlahan memasukkan ikannya ke dalam wajan panas.


Tepat pukul 5 mereka telah selesai dengan praktek masaknya tinggal mengedit vidio mereka dan disetorkan pada bu Sari.


Al sudah pergi sejak 5 menit yang lalu untuk mengantar Luna.


Kini tinggal El dan Dante yang belum mengantarkan Aqila juga Calista.


"La gue pulang duluan ya," pamit Calista pada Aqila.


"Sama El kan?" Calista menggelengkan kepalanya.


"Naik taksi," katanya lalu berjalan menuju gerbang apartemen untuk mencari taksi.


"Dan gue pulang sama Calista aja, kasian dia sendiri," kata Aqila yang hendak mengejar Calista namun Dante menahan tangannya.


"Nanti ko El yang ngurus, ayo gue anter pulang," katanya sembari memakaikan helmnya pada Aqila.


"Tapi kan..,"


"Calista mana?" tanya El yang baru saja keluar sembari menenteng jaket hitam tebal.


"Lo apain sahabat gue, hah?" bentak Aqila pada El yang terlihat biasa saja.


"Ko Calista tadi pamit pulang katanya, coba liat ke depan katanya mau nyari taksi," kata Dante memberitahu kokonya.


El langsung keluar gerbang untuk mencari Calista.


Namun, terlambat Calista sudah pulang lebih dulu dengan taksi.


Dante dan Aqila melihat El kembali ke dalam dengan wajah lesunya.


Bukannya mengejar El malah masuk ke dalam apartemennya.


"Gimana sih koko lo, bukannya mastiin Calista sudah sampai rumah atau belum malah masuk ke rumah," marah Aqila yang tak ada habisnya pada El.


"Udah ayo gue anter pulang, entar biar gue yang pastiin Calista udah di rumah atau belum," kata Dante sembari menaiki motornya lalu diikuti Aqila.

__ADS_1


Dante langsung melajukan motornya untuk mengantar Aqila pulang sebelum hari malam.


__ADS_2