Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - I Love You?


__ADS_3

Bianca membuka matanya dan ia melihat sekitar.


Bianca begitu kaget dan terbelalak saat ia menyadari jika ia sudah berada di kamarnya.


Dan hari juga sudah malam, jam dinding itu menunjukkan pukul 7 malam.


"Sudah bangun?"


Bianca langsung bangkit bangun dan menoleh ke samping kanan.


Papanya, Putra.


"Papa," gumamnya lirih, lalu ia melihat mamanya yang duduk dengan mata sembab.


PLAK


"Pa jangan pa," kata Fara menahan agar Putra tidak kasar pada Bianca.


BUGH


"Mama," teriak Bianca kala Putra menghempaskan Fara hingga kepalanya terbentur lantai.


"Lihat! Ini hasil didikkanmu, hamil di luar nikah entah dengan bajingan mana," kata Putra sembari menjambak rambut Fara begitu kuat.


Bianca turun dari ranjangnya dan mendorong Putra untuk melepaskan tarikan di rambut mamanya.


"Jangan sakiti mama," bentaknya pada Putra.


Putra melonggarkan dasinya dan berkacak pinggang sembari menatap keduanya yang duduk di lantai.


"Sekarang katakan, bajingan mana yang telah membuatmu hamil?" tanyanya sembari berjongkok di depan Bianca.


Bianca hanya diam dan menatap papanya tajam dengan mata yang berkaca- kaca.


"Itu kemauan Bianca sendiri,"


PLAK


PLAK


"Pa udah pa," bentak Fara sembari merangkul Bianca dari pukulan Putra.


Putra mencengkeram kedua pipi Bianca dengan sangat kuat.


"Leyna bilang, kamu berselingkuh dengan papanya apa itu benar?" Fara begitu kaget dengan ucapan Putra.


"Iya, memang kenapa?" tanya balik Bianca seakan menantang Putra.


Putra menghempaskan pipi Bianca dengan kasar lalu berdiri.


"Sini kamu," katanya sembari menyeret Fara untuk keluar dari kamar Bianca lalu ia mengunci pintunya.


Terlihat Putra melepaskan sabuk hitam besarnya dan menatap tajam Bianca.


Bianca menggelengkan kepalanya sembari berjalan mundur.


CETESS


CETESS


CETESS


.


.


.


Di tempat lain dengan waktu yang sama ada Al yang sedang bersiap untuk pergi.


"Pa ma koko keluar bentar ya?" izinnya pada Bara dan Sela.


"Loh kemana ko, besok ujian praktek lho, enggak belajar?" tanya Sela ketika melihat Al begitu rapi.


"Mau apel ma," celetuk Dante membuat Al langsung menatap dirinya.


"Ini Dante hapalin bahasa inggrisnya buah- buahan buat besok," kata Dante sebelum Al salah paham.


"Cuma bentar kok ma, habis ini pulang," kata Al sembari mencium pipi Sela.


"Ke rumah Luna ta ko?" tanya Bara dengan senyuman menggodanya.


"Yes sir," kini El yang ganti menyeletuk.


"Ahh bahasa inggris ini membuatku begitu pusing," dumel El sembari menutup kamusnya.


"Kayaknya kita perlu ke kamar ko, sebelum wajah tampan ini babak belur," gumam Dante sembari berjalan menuju kamar lalu diikuti El.


Bara yang tahu maksud kedua putranya itu hanya tertawa renyah.


"Kalau mau kencan jangan malem- malem, besok masih ujian praktek," peringati Bara pada Al.


"Luna bawain makan gitu lho ko," kata Sela sembari mencolek dagu Al.


"Martabak manis, pizza atau spagheti," teriak El membuat Al mendengus sebal.


"Ko enggak boleh nyebutin makanannya orang bucin, kita jomblo makannya mochi aja,"


Sela dan Bara tertawa bersama saat El dan Dante terus menggoda kokonya.


"Koko berangkat dulu ya pa ma,"


"Hati- hati ya sayang, jangan malem- malem pulangnya besok masih sekolah," kata Sela.


"Iya ma," jawab Al.


"Ko bahasa inggrisnya menginap di rumah orang apa?" teriak Dante yang sengaja dikeraskan suaranya.


"Enggak tahu," jawab El lalu diiringi gelak tawa mereka.


Al hanya bisa diam dan keluar rumah dengan sedikit sebal dengan kelakuan kedua adiknya.


Dengan sedikit cepat ia mengendarai motornya menuju rumah Luna.


Tak lama Al sudah sampai di depan rumahnya.


"Apa dia sudah tidur," gumamnya pelan kala begitu sepi sekali.


Sembari menenteng martabak keju kesukaan Luna dan susu pisang, Al berjalan menaiki tangga.


Tok tok


Al mengetuk pintunya pelan.

__ADS_1


Ceklek


"Ya siap...Al?" kaget Luna saat malam- malam begini Al datang.



"Nih martabak keju sama susu pisang kesukaan kamu," kata Al sembari memberikannya pada Luna.


Luna tersenyum lebar saat mendengar martabak keju dan susu pisang kesukaannya.


"Ngebon dulu ya, kelulusan nanti baru dibayar," celetuk Luna membuat Al tertawa renyah.


Al terpesona dengan penampilan Luna kala di rumah begini, ternyata begitu cantik sekali meski tanpa make up.



"Vino mana?" tanya Al sembari celingak- celinguk ke dalam.


"Lagi keluar sama temennya," jawab Luna membuat Al seketika tersenyum lebar.


"Kenapa senyum- senyum?"


"Di luar enggak enak di liat tetangga, dingin pula kayaknya di dalem rumah..,"


"Ehhh enggak kita ke atas aja," kata Luna yang langsung menutup pintunya dan berjalan naik ke atas.


Terdengar helaan napas kasar Al dan terpaksa mengikuti Luna.



Di sinilah mereka sekarang, di balkon kontrakan Luna.


Luna duduk di bangku sembari meletakkan martabak manis itu di sampingnya.


"Eh," kaget Luna saat jaket hitam milik Al menutupi tubuhnya.


"Udah belajar?" tanya Al yang ikut duduk di samping Luna.


"Udah," jawabnya sembari menerima susu pisang yang Al bukakan.


Keduanya sama- sama terdiam dengan tatapan fokus ke depan.


"Kata bu Jesy kapan hasilnya keluar?" mendadak Luna berhenti meminum susu pisangnya.


"Dua hari lagi hasilnya baru keluar," jawab Luna pelan dan menunduk lesu.


Jika mengingat akan hal itu entah kenapa Luna sedikit sensitif.


Al hanya menganggukkan kepalanya.


Tak lama Luna mendongak dan menatap dari samping wajah tampan Al.


"Setelah kelulusan nanti, kamu mau lanjut kemana?" tanya Luna membuat Al menoleh dan menatap intens mata cantik pacarnya saat ini.


Lama ia menatap Luna, lalu Al melepaskan sandalnya dan beralih posisi menjadi tidur di pangkuan Luna.


"Ehh," kaget Luna saat Al tanpa sungkan atau ragu langsung tidur di atas pangkuannya.


Al meraih tangan Luna dan meletakkannya di atas dadanya sembari menggenggamnya erat.


"Kita liat aja nanti," jawab Al sembari memandangi langit malam yang bertabur bintang juga wajah Luna yang terlihat begitu cantik sekali.


Luna meletakkan susu pisangnya di bawah lalu membelai rambut tebal Al.


"Hahh," suara hela napas dari Luna.


Belaiannya juga begitu lembut dan sangat menenangkan Al.


"Beranjak dewasa ternyata tidak semanis yang kita bayangkan," gumam Luna membuat Al membuka matanya dan menatap wajah Luna.


"Bahkan disaat aku sekarang di sampingmu?" tanya Al membuat Luna tersenyum manis.


"Lebih manis," kata Luna membuat Al merasakan terbang tanpa sayap dan geli tanpa digelitik.


Luna langsung mengalihkan pandangannya saat merasa panas di pipinya.


Lama mereka mengobrol hingga waktu berjalan begitu cepat.


Al pamit pulang ketika Vino sudah pulang beberapa menit yang lalu.


Ia memang sengaja menemani Luna hingga Vino pulang, ia cemas sesuatu terjadi padanya.


"Aku pulang dulu ya," pamitnya sembari mengusap pipi tirus Luna.


"Hati- hati ya," kata Luna mencemaskan Al yang pulang begitu malam.


Al bukannya menjawab malah mencium sekilas kening Luna.


"Jangan lupa kunci pintunya," katanya lalu membukakan pintu agar Luna tidak mengantarnya ke bawah karena hari sudah malam.


Luna hanya mengangguk sembari menahan agar pipinya tidak bersemu merah karena ciuman Al di keningnya.


Luna lalu menutup dan tak lupa mengunci pintunya.


Sedangkan Al tersenyum lebar dan menuruni tangga untuk segera pulang.


"Bisa enggak besok- besok kalau bucin jangan di depan anak SMP?" Luna terkejut saat Vino duduk di ruang tamu dan memandangnya sebal.


Luna seketika langsung merubah ekspresinya menjadi datar dan berjalan menuju kamarnya.


♡♡♡


Paginya di tempat yang berbeda ada Aqila yang sibuk membawa kamusnya ke mana- mana.


"Sayang, masukkan dulu kamusmu itu. Mama pusing meski hanya melihatnya saja," kata Mila yang melihat Aqila sedikit kerepotan karena kamus bahasa inggrisnya.


"Ma nanti Aqila praktek bahasa inggris dan seharian penuh ini bicaranya harus pakai bahasa inggris, makanya Aqila selalu bawa kamus," jawabnya dengan sedikit kesal.


"Iya- iya anak mama nanti mau ujian, yaudah dimakan dulu sarapannya," kata Mila sembari menyodorkan nasi goreng seafood kesukaannya.


"Ma papa kapan pulang?" tanya Aqila yang merindukan sosok pahlawannya itu.


"Mungkin minggu depan sayang, kenapa?" tanya balik Mila.


"Enggak ada cuma kangen aja sama papa," gumamnya pelan membuat Mila sedikit iba melihat putri kesayangannya ini.


"Papa kan lagi bertugas sayang buat menjaga negara kita ini, jadi doain aja ya semoga papa bisa pulang dengan selamat," kata Mila memberitahu Aqila.


Aqila menatap wajah mamanya yang menyiratkan rasa rindu yang sama seperti dirinya.


"Iya ma," jawabnya sembari tersenyum lebar.


Selesai sarapan Aqila langsung berangkat diantar oleh sopirnya.

__ADS_1


Hanya butuh 10 menit untuk sampai di sekolah.


Dengan cepat Aqila langsung bergegas menuju kelasnya.


Dan lihat saja, semua orang kini sedang sibuk membawa kesana kemari kamus bahasa inggris itu.


Aqila berjalan lesu menuju bangkunya dan melihat Luna yang juga sedang memperbanyak kosakata yang ia baca.


"Lun, boleh enggak sih gue bolos sehari aja?" tanyanya membuat Luna tersenyum lebar lalu mencubit pipi tirus Aqila.


"Boleh," jawab Luna membuat Aqila tersenyum lebar.


"Tapi jangan harap kamu lulus," seketika Aqila langsung cemberut mendengar lanjutan ucapan Luna.


Aqila menoleh ke belakang di mana Calista juga sibuk membaca kamusnya.


"Calista aja yang anti sama belajar mendadak bukunya lengket sama dia," celetuknya heran sembari dengan malas membuka kembali kamus bahasa inggrisnya.


Tak lama bel masuk berbunyi itu tandanya ujian praktek akan segera dimulai.


Dan benar saja pak Kimmy datang begitu cepat.


"Baik semua hari ini awal ujian praktek, dan bapak punya 2 tes untuk melihat kemampuan bahasa inggris kalian. Yang pertama kalian maju satu persatu untuk memperkenalkan diri kalian dan kedua kalian hanya perlu berbicara dengan teman sekelas kalian menggunakan bahasa inggris," jelas pak Kimmy membuat semua langsung bersiap.


Ujian pun dimulai dengan mereka yang maju satu persatu untuk memperkenalkan diri.


Setelah hampir 45 menit akhirnya tes yang pertama selesai dan kini giliran tes yang kedua.


"Baik tes yang kedua cukup mudah bukan, kalian hanya perlu mengobrol biasa bersama teman kalian menggunakan bahasa inggris, tidak harus teman sebangku kalian boleh memilih teman yang mungkin akan mudah untuk membantu kalian," kata pak Kimmy membuat semua tersenyum lebar dan langsung menyebar untuk memilih teman yang bisa mudah mereka ajak ngobrol.


"Lun ajarin gue dong," kata Dinda membuat Luna mengangguk dan berjalan menuju bangku Dinda.


"Aduhh Luna pakai acara ke bangku Dinda segala lagi," dumelnya saat Luna duduk bersama Dinda.


Aqila menoleh ke belakang, ia kembali mendengus sebal kala Calista mengobrol bersama Willy.


"Ya tuhannnn kenapa cuma gue coba yang sendiri, terus gue disuruh ngobrol sama hantu gitu," omelnya sembari merebahkan kepalanya di atas meja.


Sret


"Gue duduk sini ya," kata Dante membuat Aqila memutar kedua matanya malas.


"Dari sekian banyak orang, ya tuhan kenapa kau datangkan makhluk astral kayak dia," gerutunya sembari membuka kamusnya dengan sedikit malas.


"Lo ngobrol sama gue aja ya," kata Dante yang terdengar sedikit memaksa.


"Aqila sama Dante kenapa kalian ngobrol pakai bahasa Indonesia?" teriak pak Kimmy membuat keduanya langsung panik dan berpura- pura mengobrol.


"Kan apa gue bilang, kalau gue deket lo pasti yang ada kena sial," marah Aqila pada Dante.


"Oh ya, harusnya lo bersyukur gue di sini nemenin lo ngobrol, coba liat semua udah nemu pasangannya sendiri- sendiri," kata Dante membuat Aqila melihat teman- temannya.


Di mana hanya ada Al dan El yang tersisa tanpa ada pasangan mengobrol.


"Iya udah ayo buruan ngobrol," ketus Aqila membuat Dante berkali- kali menghela napas.


Keduanya lalu mengobrol meski dengan kosakata yang sedikit belopotan tapi lumayan lah dengan bantuan kamus.


Sedangkan di belakang, Willy dan Calista terlihat lihai dalam mengobrol menggunakan bahasa inggris.


Karena Willy asli blasteran luar, jadi tidak sulit untuk dia mengobrol menggunakan bahasa kesehariannya ketika ujian praktek ini.


Ia hanya perlu membantu Calista untuk memperbanyak kosakatanya dalam berbicara.


"Minggir lo, gue mau duduk," Calista menoleh dan mendapati El berdiri di samping bangku Willy.


"Bentar lah El, gue lagi ngobrol sama Willy, kan lo udah ngobrol sama Al," kata Calista yang tidak ingin beranjak dari duduknya dengan wajah menggemaskannya.


"Gue pengin ngobrol sama Willy, kan banyak temen perempuan enggak harus Willy," Calista menoleh kala El sedikit meninggikan suaranya.


"Kok lo marah sih?" kata Willy pada El.


"Udah- udah jangan berantem, gue ngobrol sama Luna aja nanti," kata Calista yang beranjak dari bangku Willy.


El lalu duduk berhadapan bersama Willy.


Lama mereka hanya diam saja tanpa mengobrol.


"Lo sengaja kan?" tanya Willy saat El malah membuka ponselnya dan bermain game.


"Bilang aja kali kalau lo cemburu Calista deket gue," celetuk Willy membuat El hanya diam saja tanpa menggubrisnya.


Willy lalu beranjak dari duduknya hendak menghampiri Calista yang duduk sendiri.


"Duduk lo, jangan ngobrol atau duduk sama Calista," ancam El membuat Willy tersenyum menggoda.


"Nah kan ketahuan lo kalau cemburu," El langsung menarik Willy untuk kembali duduk di bangkunya.


Willy lalu hanya bisa pasrah dan duduk diam bersama El di bangku belakang.


Lalu sekitar 7 menit Aqila sudah mengeluh untuk berhenti mengobrol kala ia melihat pak Kimmy sibuk menelpon.


"Bentar Dan, lidah gue kayak keseleo ngomong inggris sama lo," keluhnya sembari merebahkan kepalanya di atas meja.


"Hadehhh kalau kayak gini kapan lancarnya coba," ejek Dante sembari membuka kamusnya untuk kembali memperbanyak kosakatanya.


Aqila tidak menggubris ucapan Dante, ia malah memejamkan matanya.


Dante yang tadinya sibuk membaca kamusnya beralih menatap wajah Aqila.


"I love you,"


Aqila kembali membuka matanya ketika ia mendengar ucapan Dante.


Keduanya saling menatap, bahkan tatapan saat ini tak seperti biasanya.


Aqila merasa dadanya mendadak berdetak begitu cepat tanpa irama yang tepat.


"Apa artinya?" tanya Dante membuat tenggorokan Aqila menjadi sangat serak dan lidahnya begitu kelu.


Aqila bangkit dari merebahkan kepalanya di atas meja dan mencoba menetralkan detak jantungnya.


"Masak lo gitu aja enggak bisa sih?" ketus Aqila dengan suara yang terdengar gugup.


"Lah kan gue cuma nanya kenapa lo marah? Bilang aja kalau enggak tahu artinya," pancing Dante membuat Aqila ingin sekali menendang pantatnya.


"Mending gue tanya Dinda aja tahu gitu," gumam Dante yang hendak beranjak dari duduknya.


"Aku cinta kamu,"


DEG


Semua mata tertuju pada Aqila.

__ADS_1


Suasana kelas mendadak hening dan menjadi awkward.


Dante menatap Aqila dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


__ADS_2