
Eros sedang duduk di dekat jendela sembari menyesap sebatang rokok dan termenung cukup lama.
Asap itu seakan mengatakan jika banyak beban dalam dirinya.
Tinggal sebatang kara, tidak pernah merasakan kasih sayang, dan tidak pernah tahu siapa papanya.
Mamanya meninggal bunuh diri karena depresi kala ia duduk dibangku SD kelas 3.
Sekecil itu Eros harus ditinggal sendiri tanpa orang tua di sisinya.
Karena itu, Eros tidak pernah mendapatkan pelajaran ataupun etika baik pada orang lain.
Ia juga tak tahu bagaimana cara menghargai atau bersikap tulus dan membantu sesama manusia.
Karena Eros tidak pernah diajarkan hal itu oleh mamanya.
Setelah ia masuk SMP, disitulah Eros mencari artinya kebahagiaan dan keluarga.
Dan Eros merasakannya, disaat ia membentuk geng darkster.
"Leyna udah bahagia sama Damar, sedangkan gue harus tanggung jawab pada Bianca," Eros tersenyum miring.
"Enggak adil banget hidup gue,".
Eros membuang putung rokoknya lalu membuka botol alkohol itu dan menegaknya hingga setengah.
"Kapan gue bisa bahagia, kapan gue bisa ngerasain disayang sama papa mama, kapan? Kapan ya tuhan?" teriaknya dengan sangat frustasi.
Eros membanting keras botol alkohol itu pada dinding lalu detik kemudian ia menangis.
"Sudah cukup banyak beban yang gue tanggung sendiri, kapan gue bisa bebas," gumamnya dalam isak tangis yang terdengar memilukan.
Eros menatap kosong ke depan, ia ingin bermimpi yang begitu indah hingga ia lupa bagaimana caranya untuk bangun.
Ia selalu merasa jika dunia tidak pernah adil padanya.
Sayangnya ia tidak paham.
Jika, ia bisa bahagia hanya dengan menjalani kehidupannya dan tetap terus berjalan hingga ia tumbuh seperti semestinya, bukan dewasa karena waktu dan keadaan.
Karena Eros sudah melangkah sejauh ini.
Tanpa papa dan mama.
Jadi, sangat rugi. Jika ia menoleh ke belakang dan kembali bersedih.
♡♡♡
Aldebaran dan Sela sedang menunggu ketiga putranya.
Ting
Ketiga putra mereka keluar dari pintu lift.
"Pagi pa ma," sapa Dante begitu girang dan melakukan tos andalannya bersama Bara.
"Pagi pa ma," sapa El.
"Pagi sayang," jawabnya dengan sangat lembut.
Sedangkan Al hanya tersenyum manis pada papa dan mamanya.
"Oh ya sayang, gimana kabar Leyna sama Damar?" tanya Sela pada mereka bertiga.
"Mereka daring dari rumah ma buat bisa ngikutin ujian prakteknya, minggu depan baru masuk waktu ujian nasional," jawab Dante dengan mulut yang penuh roti lapis.
"Setelah kelulusan nanti mau liburan kemana rencananya?" tanya Bara yang merupakan moodboster bagi ketiga putranya itu.
"Emang boleh pa?" Bara mengangguk dengan tawa renyahnya.
"Boleh dong apalagi bawa pasangan masing- masing, pasti direstuin kok sama mama, ya kan ma?" Sela mengangguk antusias.
Seketika El dan Dante langsung merengut saat mendengar jika boleh membawa pasangan.
"Kenapa?" tanya Sela yang begitu peka.
"Ma kita kan enggak ada pasangan terus disuruh bawa siapa coba?" kata Dante yang membuat Sela meletakkan pisau selainya dan menyuapi putra bungsunya itu dengan roti lapis.
"Bawa bu Jesy boleh kok," sahut Al yang membuat Dante semakin cemberut.
"Bawa Aqila juga boleh kok," celetuk Sela membuat Dante merona merah dan begitu malu.
"Emang mereka jadian?" tanya El dan Al bersamaan.
Dante memberi kode pada mamanya agar tidak memberitahukan pada kokonya.
"Enggak sih, cuma masak koko enggak ngerasa gitu kalau ada something antara mereka," sindir Sela pelan membuat Dante mati- matian untuk tidak tersenyum.
Al dan El hanya saling memandang dan tersenyum lalu melahap roti lapisnya.
Bara yang melihat interaksi ketiga putra dan juga istri tercintanya hanya tersenyum bahagia.
Setelah selesai sarapan ketiganya langsung berangkat ke sekolah sedangkan Bara pergi ke kantor.
Seperti biasa, rutinitas Al adalah menjemput Luna.
Dan sekarang ia sedang menunggu di depan tangga rumah Luna.
__ADS_1
"Al," sapa Luna kaget saat tahu Al menjemputnya sepagi ini.
"Berangkat sekarang?" tanya Al lembut dengan wajah yang tetap datar namun begitu tulus dan sayang.
Luna hanya mengangguk namun sedetik kemudian Al menatap tajam Luna saat Luna melupakan sesuatu.
"Apa?" tanya Luna yang bingung.
"Hoodienya mana? Di jual?" tanya Al sengit sembari melepas hoodie creamnya.
"Apaan sih, orang baru dicuci kemarin," jawabnya dengan setengah jengkel.
"Baru juga seminggu enggak berangkat bareng, udah enggak dipakai," gerutu Al yang masih bisa didengar oleh Luna.
"Enak aja kalau bilang, tiap hari aku pakai ya meskipun berangkat sama kamu atau enggak, kalau enggak percaya tanya aja sama sopir busnya, pasti tahu kalau hoodienya enggak pernah ganti," ketus Luna yang ngedumel begitu panjang.
Al tersenyum lebar melihat Luna mendumel begitu panjang dengan muka yang begitu menggemaskan.
"Udah selesai?" tanya Al yang terdengar begitu menyebalkan sekali.
Luna hanya menghentakkan kakinya kesal dan hendak naik motor namun Al menahan lengannya.
"Enggak usah marah, pakai dulu hoodienya," kata Al sembari memakaikan hoodienya pada Luna.
"Udah aku bisa sendiri," kata Luna sembari memakai hoodienya sendiri dan langsung naik ke atas motor.
Al kembali tersenyum kini begitu lebar namun sayangnya Luna tidak bisa melihat senyum indah itu.
Al melihat tangan Luna yang ragu- ragu untuk memeluk perutnya setelah seminggu ini mereka tidak berangkat bersama.
"Pegangan aja, biasanya juga meluk dari belakang," guman Al sembari menyalakan motornya.
Luna yang duduk di belakang menatap arah lain karena merasa malu dan panas di area pipinya.
Al melajukan motornya menuju sekolah dengan Luna yang memeluknya dari belakang.
Entah Al sengaja memperlambat laju motornya atau memang ia ingin menikmati waktu dengan Luna.
Tapi yang pasti keduanya terlihat menikmati waktu di pagi hari ini.
Sekitar 25 menit mereka baru sampai dan itu tepat kurang 5 menit gerbang akan ditutup.
Astagaaaa.
Apa orang- orang selalu seperti ini saat dimabuk cinta.
"Ayo Al buruan, entar keburu telat," kata Luna yang sudah turun dari motor.
"Sabarlah," kata Al sembari melepas helmnya lalu mengikat helm Luna di jok belakang.
Keduanya lalu jalan bersama menuju kelas dengan beberapa lorong sudah sepi.
Tepat keduanya masuk kelas bersama bel masuk berbunyi.
"Astaga Al Lunaaaaa," teriak Aqila yang sedang duduk bersama Calista dan langsung teriak histeris saat mengetahui keduanya berangkat bersama.
"Emang ya kalau udah bucin, dunia aja ngedukung, bel masuk aja nunggu kalian berdua masuk," kata Dinda yang tak kalah hebohnya.
Al dan Luna hanya diam saja tanpa merespon atau menjawab godaan mereka.
Tak lama bu Sari datang tanpa membawa buku atau tas yang selalu beliau tenteng kemanapun pergi.
"Selamat pagi semua," sapanya sembari berdiri di celah bangku tengah dengan senyum merekah.
"Pagi buuu," jawab mereka serentak.
"Pasti kalian sudah tahu, kalau ibu tidak membawa tas dan buku itu artinya tidak ada jam pelajaran," sontak seisi kelas begitu ramai dan sorak sorai.
Seketika langsung diam saat Luna menatap datar teman- temannya.
"Meski jam kosong, kalian tidak boleh menyia- nyiakan waktu luang seperti ini, perdalam materi untuk ujian nasional minggu depan," kata bu Sari mengingatkan pada mereka semua agar tidak menyia- nyiakan waktu yang ada.
"Luna tolong jaga teman- teman kamu agar tetap di dalam kelas ya, ibu harus menyerahkan proposal study tour agar cepat di acc," kata bu Sari sebelum meninggalkan kelas.
"Baik bu," jawab Luna dengan sangat ramah dan sopan.
Setelah bu Sari keluar kelas seketika kelas menjadi begitu heboh dan ramai.
Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing- masing.
Mulai dari ghibah, mabar, makan, tidur ataupun drakor.
Berbeda dengan tiga cewek yang hanya diam di bangku mereka.
"Ta lo kenapa? Lo kurang tidur?" tanya Aqila ketika melihat Calista merebahkan kepalanya di meja dengan mata seperti panda.
Luna ikut menatap Calista cemas.
"Pasti begadang buat bisa jadi pacarnya El ya kan?" goda Luna membuat Calista tersenyum tipis.
"Kayaknya gue nyerah deh, gue enggak terbiasa begadang dan terus bertatapan dengan yang namanya buku, gue capek gue pengin seperti biasanya tanpa ada tuntutan," gumam Calista membuat kedua sahabatnya langsung paham keadaannya.
"Oh jadi lo mau nyerah nih buat bisa dapetin El? Berarti lo biarin cewek kelas lain buat dapetin El dong," kompor Aqila membuat Calista sontak bangun.
Calista terdiam lalu menoleh ke belakang melihat El yang asyik mabar.
"Ya enggaklah, gue udah usaha sejauh ini masak mau mundur," katanya membuat Aqila dan Luna tersenyum penuh arti dan mendukung Calista.
"Belajar sewajarnya aja, jangan karna pengin dapetin El kamu lupa tujuan awalmu tentang impian yang harus kamu gapai," kata Luna memberikan semangat pada Calista
__ADS_1
"Uhhh sayang- sayang," kata Calista yang langsung memeluk Luna erat.
Sedangkan di bangku belakang Willy yang duduk di bangku Al tak sengaja melihat sekilas ponsel Al yang dipasangi foto Luna di wallpapernya.
Sontak pikiran jahil itu muncul di pikiran Willy.
"Al entar lo ada urusan enggak?" tanyanya sembari mencolek bahu Al.
"Ada," jawabnya singkat dan sekilas tanpa menoleh ke belakang.
"Ohh, tadinya gue mau ngajak lo, tapi karena lo sibuk jadi gue sama Luna aja kalau gitu..,"
RITTT
Al langsung menoleh ke belakang hingga kursinya berderit.
"Kemana?" Willy mencoba menahan agar bibirnya tidak terbuka lebar.
Ia sedikit memajukan wajahnya lalu melihat kanan kiri.
"Lo sama Luna udah jadian?" tanya Willy membuat Al mendengus sebal dan kembali menghadap ke depan.
"Huhh dasar manusia es, ditanya aja jawabnya abad depan," gerutu Willy yang kesal saat berhadapan dengan Al.
Seketika ada pikiran yang muncul begitu saja dipikiran Willy.
"Belum jadian aja udah posesif banget, diambil orang baru tahu rasa lo," dumel Willy yang sengaja ia dekatkan ditelinga Al lalu pergi keluar kelas entah kemana.
Al hanya menghela napas kasar lalu menatap Luna yang masih setia bercerita dengan dua sahabatnya.
Tak lama Willy datang dengan coklat ditangannya.
Al tak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari Willy.
Willy menghampiri bangku Luna dan terlihat ia memberikan coklat itu pada Luna.
"Semuanya, sekarang ikut gue ke lapangan basket," teriak Willy yang mampu membuat semua teman- temannya menatap dirinya.
Willy berjalan lebih dulu ke lapangan basket yang tak lain adalah di depan kelasnya.
Seakan mendapatkan hipnotis dan dorongan entah dari mana mereka semua keluar kelas sesuai permintaan Willy.
Luna dan Al terkejut dengan sikap aneh Willy.
Dan kini di kelas hanya menyisakan Al dan Luna.
Luna menoleh ke belakang hanya ada dirinya dan Al.
"Cek cek," kata Willy memeriksa mikrofonnya.
"Buat kalian semua yang ada di lapangan, gue mau kasih tahu kalian sesuatu hari ini," katanya dengan begitu lantang hingga membuat penjuru sekolah mendengar hal itu.
Al sesekali melirik Luna yang terlihat was- was dengan tangan yang menggenggam coklat dari Willy.
"Hari ini gue mau nembak cewek," kata Willy membuat semua temannya yang menonton di lapangan bersorak sorai.
Al kembali menatap Luna.
"Dan gue mau kalian tahu siapa cewek itu. Tapi gue disini juga udah siapin mental seandainya nanti gue ditolak kalian enggak perlu kecewa, cukup liat dia bahagia dengan pilihannya," ucapan Willy seakan merujuk pada seseorang.
Luna semakin menggenggam erat coklat dalam tangannya sedangkan Al begitu was- was mendengar lanjutan Willy.
"Luna,"
Deg
Al dan Luna saling bertatapan namun hanya sekilas.
Sedangkan di lapangan basket semakin ramai dan begitu heboh.
"Mungkin dulu gue enggak sempet terima cinta lo, tapi kini. Gue mau buka hati lagi buat nerima cinta lo,"
Al mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau lo mau kembali mencintai gue, tolong terima coklat yang gue kasih tadi. Tapi kalau lo mau stuck disini aja hubungan kita,"
Willy tidak melanjutkan ucapannya.
"Lo boleh balikin atau buang coklatnya,"
Beberapa saat keadaan hening dan tak ada suara apapun.
Luna yang tak ingin memperpanjang masalah ini dengan Willy hendak menghampirinya di lapangan.
HAPPP
Al menahan lengan Luna saat ia hendak keluar kelas.
"Lo mau balik lagi sama Willy?" tanya Al dengan nada sedikit rendah dengan genggaman ditangan Luna yang semakin terasa berkeringat.
Luna terdiam ia menatap Al sedikit lama.
"Aku mau...,"
"Lun," potong Al membuat Luna tak lagi melanjutkan ucapannya.
Keduanya saling menatap seakan membiarkan angin yang tahu bagaimana deru nafas mereka saat ini.
"Tolong cintai gue balik,"
__ADS_1