
Sedangkan di balkon atas, Eros sedang menghajar habis- habisan Damar.
"Lo sialan Damar," teriak Eros yang terduduk di lantai sembari mengatur napasnya yang ngos- ngosan.
Sedangkan Damar yang tergeletak setelah dipukuli Eros, hanya diam dan menatap langit yang begitu cerah hari ini.
"Gue sendiri enggak ngerasa ngelakuin sama Leyna Ros, tapi posisi waktu itu, gue sama Leyna tidur bareng di club," mendengar penjelasan Damar Eros kembali bangun dan mencengkeram kerah Damar.
"Lalu siapa bangsat yang hamilin Leyna?" teriak Eros dengan mata memerah.
"Gue sendiri juga enggak tahu, waktu itu pakaian kita masih lengkap enggak ada yang kurang satupun," jawab Damar setengah berteriak pada Eros.
Eros melepaskan cengkaramannya dan bangun dari atas tubuh Damar.
Terlihat Eros menyugar rambutnya ke belakang dan mengusap wajahnya kasar.
"Terus kenapa lo mau tanggung jawab?" tanya Eros yang membuat dirinya penasaran.
Damar bangun dengan tubuhnya yang merasa remuk.
"Lo enggak tahu, seberat apa masalah Leyna dengan keluarganya," kata Damar sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Eros mengatur napasnya dan seketika ia teringat akan Bianca.
Ia dan Bianca juga melakukan hal yang sama seperti Damar dan Leyna.
"Sekarang lo udah tahu semuanya, apa lo bakal jauhi Leyna?" tanya Damar pada Eros yang termenung.
"Itu enggak akan," jawab Eros dengan penuh penekanan lalu pergi begitu saja meninggalkan Damar di balkon.
Damar terdiam di balkon sembari berpikir tentang Leyna.
"Damar," panggil Leyna membuat Damar menoleh.
Happ
Leyna memeluk Damar membuat dia terkejut juga bingung.
"Hey kenapa?" tanya Damar sembari menepuk- nepuk pelan punggung Leyna.
Terdengar suara sesegukan Leyna yang menangis.
"Dam, gue enggak mau dikeluarin dari sekolah. Gue takut papa akan kembali menghajarku," gumam Leyna dalam pelukan Damar.
Damar terdiam, ia juga memikirkan hal itu sejak kemarin.
Padahal minggu depan mereka sudah ujian nasional dan kelulusan juga sebentar lagi.
"Udah jangan nangis, kasihan bayiku di dalam sana," celetuk Damar membuat Leyna melepaskan pelukannya dan menatap tajam Damar.
"Lagi serius juga malah bercanda," ketus Leyna yang marah pada Damar.
Damar terkekeh melihat mood Leyna yang berubah- ubah.
"Udah jangan nangis, lo jelek banget kalau nangis," kata Damar sembari mengusap air mata Leyna.
"Enggak usah deket- deket kalau gitu," marah Leyna sembari duduk sedikit jauh dari Damar.
"Berasa banget kayak dimarahi istri," celetuk Damar membuat Leyna memalingkan wajahnya.
Damar lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Leyna sembari menatap langit yang begitu cerah juga wajah cantik Leyna.
Leyna sedikit kaget ia juga begitu gugup melihat sikap Damar seperti ini.
"Enggak usah gugup, anggep aja kita lagi latihan sebelum jadi suami istri," kata Damar yang seakan tahu kata hati Leyna.
Bugh
"Siapa juga yang gugup," pukul Leyna pada dada Damar.
Damar menggenggam erat tangan Leyna di atas dadanya lalu memejamkan matanya.
Leyna menunduk menatap wajah Damar.
Cukup lama Damar memejamkan matanya begitu juga Leyna yang menatap Damar.
"Gue setampan itu ya sampek lo liatin gue lama banget," Leyna terkejut saat Damar tiba- tiba membuka matanya dan tersenyum.
"Apaan sih, gue cuma liatin doang," ketus Leyna yang selalu gengsi.
Leyna kembali teringat perkataan Bianca di kelas tadi.
Ia menunduk kembali melihat wajah Damar yang memejamkan mata, di sudut bibirnya ada darah yang sudah mengering.
"Dam," panggil Leyna membuat Damar membuka matanya.
"Apa?" tanya Damar lembut sembari menatap wajah Leyna.
"Kalau janin di dalam kandungan gue ini bener bukan bayi lo," Leyna terdiam ia tak sanggup untuk melanjutkannya.
Damar tahu perasaan Leyna saat ini.
"Apa hmpp,"
Damar sedikit mengangkat tubuhnya lalu meraih tengkuk Leyna.
Leyna merasakan benda kenyal menempel di bibir tipisnya, perlahan Damar ******* bibir tipis tersebut.
Semakin lama Damar semakin menekan tengkuk Leyna untuk memperdalam ciumannya.
Leyna mendorong pelan dada Damar untuk mengambil napas.
"Lo bisa enggak sih jangan sembarangan kalau nyium, tahu tempat dikit napa?" marah Leyna membuat Damar terkekeh lalu kembali merebahkan kepalanya di paha Leyna.
"Emangnya kenapa, toh mereka semua udah tahu kalau lo ngandung anak gue," Leyna melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1
Bugh
"Enak aja kalau ngomong," kata Leyna sembari memukul dada Damar.
Damar kembali menggenggam tangan Leyna menatapnya intens.
"Mau orang bilang itu janin anak gue atau bukan, gue enggak peduli "
Leyna mencoba memasang kedua telinganya baik- baik untuk mendengarkan ucapan Damar.
"Gue tulus mau nikahin lo dan bertanggung jawab," lanjutnya membuat hati Leyna seakan terbang.
Kringgggg
Leyna langsung memalingkan mukanya saat bel pulang berbunyi.
Damar bangun dari pangkuan Leyna lalu ia kembali menatap Leyna begitu dekat.
"Mulai sekarang enggak usah dengerin ucapan orang, lo cukup nurut dan jangan jauh- jauh dari gue," kata Damar sembari mengusap puncak kepala Leyna.
Leyna mencoba menyadarkan dirinya jika benar ini mimpi rasanya Leyna tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini.
Biarkan ia merasakan mimpi indah ini layaknya kehidupan nyatanya.
Karena Leyna tidak pernah merasakan betapa tulusnya kasih sayang dari seseorang terdekatnya kecuali mamanya.
Sedangkan di kelas Luna terlihat sedikit murung.
Entah kenapa Luna ikut pusing memikirkan perkataan bu Jesy tadi.
Meski Leyna tidak pernah baik sama Luna, namun rasanya Luna ingin membantunya.
Tapi bagaimana caranya?
"Lun ditanya Al itu loh?" kata Calista saat Luna melamun dan tidak memperhatikan Al yang sudah berdiri di sampingnya.
"Eh kenapa?" kata Luna sedikit gelagapan dan menatap Al yang sudah berdiri di sampingnya.
"Hari ini Willy bilang libur dulu belajar kelompoknya, lo pulang sama siapa?" tanya Al pada Luna.
"Oh gue pulang sama mereka berdua naik bus," jawab Luna sembari menatap tajam Aqila dan Calista agar mengiyakannya.
Aqila dan Calista yang memang dasarnya jahil, langsung menggelengkan kepala.
"Ehh enggak Al kita berdua mau shoping iya mau shoping ayo La buruan," kata Calista sembari buru- buru memasukkan bukunya.
"Oh iya kita mau shoping, maaf ya Lun gue mau nemenin Calista dulu," kata Aqila yang buru- buru menarik tangan Calista.
"Ehh tapi..,"
"Lo pulang sama gue aja," kata Al membuat Luna mendadak diam membisu gugup dan gemetar.
"Hekm ko kita kayaknya juga harus shoping kayak Aqila sama Calista juga," celetuk Dante yang masih berada di dalam kelas begitupun El.
"Kalian enggak mau pulang?" tanya Al setelah melempar keduanya dengan sepatunya.
"Oh iya ko ini juga mau pulang kok," kata El sembari menarik tangan Dante.
"Ya ampun koko enggak sabaran banget orangnya," kata Dante membuat Al melayangkan tatapan datar kearahnya.
Kini hanya ada mereka berdua di dalam kelas.
"Kamu mau ngajak kemana? Aku habis ini mau langsung ke cafe buat bantu paman Hasan," kata Luna membuat Al menjadi sedikit gugup untuk menjawabnya.
Ting
Al melihat ponselnya, ada pesan dari pak Chandra jika tim basket untuk turnamen hari minggu ada kendala dan terpaksa Al harus menggantikannya.
"Kenapa?" tanya Luna pada Al yang mendadak berubah ekspresi wajahnya.
Al menatap Luna, ia bingung untuk menjelaskannya.
"Pak Chandra nyuruh gue buat kumpul tim basket," jawab Al tak enak hati pada Luna.
"Yaudah, tunggu apalagi, cepatlah datang mereka pasti sedang menunggumu," kata Luna yang tidak ada raut marah ataupun kecewa.
"Lo enggak marah sama gue?" tanya Al membuat Luna bingung untuk menjawabnya.
"Kenapa harus marah maksudku aku tidak melarangmu untuk pergi jadi aku akan pulang sendiri saja naik bus seperti biasa," kata Luna sedikit terbata sembari beranjak dari duduknya.
Al memegang kedua bahu Luna membuat Luna kaget gemetar dan jantungnya berdetak begitu cepat.
"Gue cuma sebentar jadi, jangan pulang dulu nanti pulangnya sama gue," kata Al sebelum ia berlari pergi keluar kelas.
Luna meraba dadanya yang berdetak begitu cepat.
"Astaga apa barusan aku menahan napas?" gumamnya kembali duduk dan menetralkan detak jantungnya.
Sedangkan Al buru- buru menuju lapangan basket khusus latihan.
Di sana terlihat pak Chandra dan tim junior sedang berkumpul.
"Al akhirnya kamu datang," kata pak Chandra.
"Memangnya apa begitu serius luka Kevin?" tanya Al sembari menatap Kevin yang duduk di pinggir lapangan.
"Tidak terlalu Al hanya saja dia sedikit kesusahan untuk melakukan servis dan berlari, jadi bapak minta tolong agar kamu menggantikannya sebagai kapten di turnamen pada hari minggu," kata pak Chandra yang begitu berharap pada Al.
"Baiklah saya bersedia menggantikannya," jawab Al membuat pak Chandra tersenyum lebar.
"Baik kalau gitu kita latihan sebentar saja, hanya 15 menit setelahnya kita pulang," Al terdiam, lalu bagaimana dengan Luna.
"Pak apa saya tidak bisa izin hanya untuk hari ini, saya...,"
"Hanya hari ini saja terakhir latihan Al, 2 hari lagi kita sudah turnamen besok kita akan istirahat untuk menyimpan tenaga," kata pak Chandra membuat Al bimbang.
__ADS_1
Mana yang harus ia pilih, latihan apa Luna.
Al melihat jam tangan berwarna army yang melingkar di tangannya.
Pukul 2 siang, mungkin Al akan berlatih untuk 15 menit saja dan dia akan segera menyusul Luna.
"Baik pak,"
Setelahnya mereka latihan untuk persiapan turnamen di hari minggu ini.
Tak terasa mereka latihan sudah lewat dari 15 menit.
Al menggiring bolanya dan mencoba untuk melakukan servis.
Bugh
"Awww," semua menoleh saat bola itu memantul dan mengenai seseorang.
Al langsung berlari dan menghampiri perempuan itu.
"Sorry- sorry gue enggak sengaja tadi...Aretha?" kata Al saat tahu perempuan yang terkena bola itu adalah Aretha.
"Aduh Al kepalaku sakit," katanya sembari memegangi kepalanya.
"Sorry gue tadi enggak sengaja," kata Al yang berulang kali meminta maaf.
Aretha begitu senang dalam hatinya saat Al begitu cemas dan khawatir padanya.
Apalagi Al begitu jarang berbicara padanya tapi kali ini.
"Aduh Al kepala gue sakit banget," kata Aretha memegangi kepalanya sembari sempoyongan mendekat kearah Al.
Al merasa sedikit geli dan jijik saat ada perempuan yang menempel seperti ini.
"Kalau gitu duduk di sana aja," kata Al sembari membawa Aretha ke tepi lapangan.
Luna yang merasa bosan dan kelamaan menunggu Al di pos satpam, ia memutuskan untuk menyusul Al ke lapangan basket.
Belum sampai kakinya menginjak tepi lapangan, ia melihat Al dan Aretha sedang duduk berdua sedangkan pak Chandra dan tim lainnya sedang istirahat di tengah lapangan.
Luna balik kanan tidak mau menganggu mereka berdua.
"Kenapa aku tidak pulang sejak tadi," gumamnya pelan sembari berjalan menunduk.
Happ
"Lo mau kemana?" tanya Al saat ia berhasil meraih tangan Luna.
Al tadi melihat Luna datang dan berbalik begitu saja tanpa menghampirinya.
Luna terkejut saat Al meraih tangannya.
"Aku mau pulang duluan aja, bantu paman Hasan," kata Luna sembari melirik Aretha yang menatapnya tajam.
"Pulang sama gue, gue udah selesai," kata Al yang tak juga melepas genggaman tangannya pada Luna.
"Enggak perlu, aku pulang naik bus aja. Kamu anter Aretha aja," kata Luna yang melepaskan tangan Al dan pergi begitu saja.
Al berbalik mengambil tas dan juga hoodienya lalu mengejar Luna.
"Al tunggu," teriak Aretha yang tidak digubris oleh Al.
"His, awas aja lo Lun," gerutunya sembari pergi meninggalkan lapangan basket.
Sedangkan Al buru- buru mengejar Luna sebelum keluar dari sekolah.
Tapi terlambat Luna sudah naik bus yang selalu datang di saat anak- anak sekolah pulang.
"Arghh sial," umpat Al saat ia tidak bisa mengejar Luna dan pulang bersama.
"Al kamu kok ninggalin aku sih," kata Aretha yang mengejar Al hingga ke depan gerbang.
Al hanya menatap sekilas Aretha lalu pergi menuju parkiran begitu saja.
"Hihhh ngeselin banget sihh," gerutu Aretha saat Al kembali bersikap dingin padanya.
Al melajukan motornya dan melewati Aretha begitu saja tanpa menawarinya untuk diantar pulang atau tidak.
"Awas aja Al gue pastiin lo kelak bakal kejar- kejar gue," gumamnya pelan sembari menatap kepergian Al.
Al mengendarai motornya begitu cepat dan hanya butuh waktu 7 menit untuk sampai di rumah.
Kebayangkan gimana cepatnya dia mengendarai motor.
Ceklek
"Udah pulang ko?" tanya Sela yang duduk santai di ruang keluarga bersama Bara.
"Adek mana?" tanya Al saat tak melihat Dante dan El.
"Ada di kamar main sama Adam dan yang lainnya," jawab Sela sembari menatap wajah putranya.
"Kamu kenapa ko? Apa ada masalah?" tanya Sela saat Al hanya diam saja.
"Enggak ada," jawabnya singkat.
Tak lama Al teringat tentang Leyna dan Luna di ruang BK tadi.
Ya, Al memang sengaja mencuri pembicaraan mereka tadi saat tidak sengaja melewati ruang BK.
"Pa koko boleh minta bantuan enggak?" tanya Al membuat Bara yang tadi fokus dengan ponselnya menatap serius putranya.
"Apa ko?" tanya Bara.
Al menatap Bara serius dan Bara paham jika putranya sedang ada kendala.
__ADS_1