
Damar sedang berdiam diri di rooftop sembari berbaring di bangku.
Bayangan tentang Leyna kemarin siang yang begitu mengkhawatirkan Eros karena tawuran terus terngiang di dalam pikiran Damar.
Damar tahu, betapa mencintainya Leyna pada Eros.
Tapi Damar juga tahu, bagaimana brengseknya Eros pada perempuan.
Eros hanya mempermainkan hati mereka dan hanya bermain- main saja.
Damar tidak mau Leyna tersakiti oleh Eros.
"Huhh," Damar menghela napas kasar sembari menatap langit yang begitu terang.
Damar tidak tahu tentang perasaannya sendiri.
Entah kenapa Damar begitu cepat menaruh perasaan pada Leyna.
Sedangkan Damar sendiri tahu jika Leyna tidak mencintainya.
Bahkan yang membuat Damar tidak percaya dengan dirinya sendiri adalah saat dia dengan tegas dan berani bilang jika ia mau bertanggung jawab pada Leyna.
"Huek huek," Damar sontak langsung terbangun saat mendengar seseorang muntah.
"Leyna," Damar bergegas menghampiri Leyna untuk membantunya.
"Lo kenapa?" tanya Damar sembari memeriksa wajah pucat Leyna.
"Gue habis dari uks tadi ngambil obat merah buat Eros," Damar langsung memalingkan wajahnya.
"Yaudah jangan ke uks lagi kalau mual, tiduran di kelas aja," kata Damar mencemaskan Leyna.
"Lo ngapain di sini?" tanya Leyna sembari berjalan menuju bangku.
Damar tidak menjawab, ia hanya duduk di samping Leyna dan menatap ke depan.
Leyna mendadak canggung dengan keadaan yang ada.
"Kemarin lo kemana?" tanya Leyna pada Damar untuk memecahkan keheningan yang ada.
"Kapan?" tanya balik Damar membuat Leyna mendengus sebal.
"Waktu tawuran kemarin?" Damar tersenyum samar.
"Ada di kelas," jawabnya santai dengan sedikit malas.
"Lo enggak bantu Eros dong berarti?" tanya Leyna saat Damar bilang jika ia di kelas.
Padahal kemarin Damar ikut membantu geng Alex bersama rombongan Al dan anggota osis lainnya.
"Emang lo secemas itu ya sama Eros?" Leyna terdiam dan bingung saat Damar menatap dirinya lekat.
"Bukan gitu maksud gue, lo berarti enggak bantu yang lain gitu buat ngelerai anak SMA sebelah kemarin?" kata Leyna mendadak gugup.
"Udah masuk kelas sana, di sini anginnya kencang," kata Damar menyuruh agar Leyna masuk kelas.
"Gue pengin di sini," kata Leyna yang malah menikmati udara pagi.
Damar berdiri di depan Leyna dan menatapnya tulus sekali.
"Ayo gue anter, di sini anginnya kencang entar masuk angin," kata Damar terus memaksa Leyna dengan menarik tangannya pelan.
Leyna tidak sengaja melihat punggung tangan Damar terluka.
"Tangan lo luka," kata Leyna sembari memegang tangan Damar dan memeriksa lukanya.
"Lo enggak bisa apa ngobati luka gini aja, kalau infeksi gimana?" kata Leyna membuat Damar menatapnya lekat.
Leyna tidak bicara ia langsung menarik tangan Damar entah kemana.
Ternyata Leyna membawanya masuk ke dalam uks.
"Gue obati di rumah aja, enggak usah maksa entar mual lagi," kata Damar melarang Leyna mengobati dirinya di uks.
"Udah diem, duduk disitu," ketus Leyna pada Damar. Damar hanya bisa diam dan menatap Leyna yang memasang masker.
Leyna membawa kotak P3K dan mulai membersihkan luka Damar sebelum diberi plester.
Damar terus menatap Leyna yang mengobati lukanya.
Entah kenapa ia begitu menyukai Leyna yang sekarang duduk di depannya saat ini.
"Udah selesai," katanya lalu mengembalikan kotaknya ke tempat semula dan membuka maskernya.
"Gimana masih sakit?" tanya Leyna sembari memegang luka Damar yang sudah tertutup plester.
Damar tidak menjawab ia hanya fokus menatap wajah cantik Leyna.
"Ayo ke hmppp,"
__ADS_1
Damar menarik tengkuk Leyna dan menciumnya sekilas.
Bugh
Leyna mendorong bahu Damar saat bibir mereka bertemu meski sekilas.
"Apa lo gila? Ini di sekolah kalau ada yang liat gimana," marah Leyna sembari memegang bibirnya yang sedikit blepotan.
Damar hanya tersenyum dan mendekat ke arah Leyna.
"Lagian bentar lagi juga mau nikah, enggak masalah kan?" bisik Damar lalu pergi keluar dari uks meninggalkan Leyna sendiri.
Sedangkan Leyna masih terkejut dan sedikit bingung dengan sikap Damar barusan.
"Damar memang gila," gumamnya pelan sembari menahan senyumnya.
《♡♡♡》
Al dan Luna baru sampai di sekolah tepat pukul setengah 7.
Bertepatan dengan itu ada Aretha yang baru sampai juga diantar oleh sopirnya.
Aretha melihat Luna yang dibantu turun oleh Al dari atas motor.
Rasa tidak suka itu muncul dari dalam diri Aretha.
Seakan ia iri dengan semua yang Luna alami setiap harinya.
Al dan Luna berjalan bersama menuju ruang osis.
Banyak dari para siswa yang memberi cuitan dan teriakan saat melihat Luna dan Al berangkat ke sekolah bersama.
Bahkan Aretha langsung melihat ponselnya saat ada notifikasi.
Benar saja, trend topic SMA hari ini adalah Al yang membonceng Luna ke sekolah.
Aretha memasukkan ponselnya dan langsung berjalan menuju kelas.
Menurut Aretha, Luna adalah saingan terberatnya untuk ia bisa mendapatkan Al.
Sedangkan Al dan Luna sekarang, mereka berjalan menuju ruang osis bersama.
Luna yang faktanya tidak suka menjadi pusat perhatian menjadi risih saat semua menggodanya dengan segala cuitan.
"Al besok jangan berangkat bareng lagi deh," kata Luna mengeluh pada Al.
"Kenapa?" tanya Al santai membuat Luna langsung mencubit pinggangnya.
"Liat aja, penggemarmu begitu menggilai, aku tidak suka menjadi pusat perhatian mereka semua," adu Luna membuat Al memalingkan wajahnya tersenyum tipis.
Semua siswi semakin menggila saat ada yang tahu jika Al tersenyum.
Bagi mereka itu, Al tersenyum sekali aja dalam sehari adalah anugerah paling indah bagi mereka.
"Hihhh kamu ngeselin banget sih jadi orang," kesal Luna yang jalan duluan dan meninggalkan Al sendiri.
Al menahan senyumnya dan berlari kecil mengejar Luna yang sudah naik tangga menuju lantai atas.
Sesampainya di ruang osis, semua anggota sudah datang hanya kurang pembinanya yaitu bu Sari dan pak Budi.
"Selamat pagi semua," sapa bu Sari yang datang bersama pak Budi.
"Pagi bu," jawab mereka serempak.
"Langsung saja ya kita bahas, waktunya tinggal 20 menit sebelum pelajaran dimulai. Dan ini adalah tugas terakhir kalian sebelum pergantian anggota baru," kata bu Sari yang terdengar sangat sedih.
"Seperti biasa, study tour ini akan berlangsung setelah ujian akhir semester kelas 11 dan selesai kalian ujian nasional untuk kelulusan. Jadi, study tour kali ini kita akan pergi ke beberapa monumen, untuk rinciannya pak Budi akan menyampaikan selanjutnya," kata bu Sari mempersilahkan waktu untuk pak Budi.
"Sebelumnya terima kasih untuk waktu yang telah bu Sari berikan. Langsung saja bapak akan jelaskan rinciannya,"
"Museum yang akan kita kunjungi ada 5 yaitu Ontario, Montreal, Alberta, Ottawa dan Toronto. Setelah hari terakhir selesai mengunjungi museum, kita akan pergi ke pusat oleh- oleh dan jalan- jalan sebentar di pantai sekitaran pusat oleh- oleh. Oh ya untuk hotel penginapan sudah terinci jelas di sini, nanti kalian bisa pahami rinciannya,"
"Sedangkan anggota osis dan pembina nanti, juga akan tinggal di hotel yang sama agar memudahkan jika sesuatu terjadi pada siswa kelas 11. Dari sini kalian paham?" tanya pak Budi setelah menjelaskan panjang lebar.
"Paham pak," jawab mereka serempak membuat bu Sari mengangguk dan tersenyum manis.
"Maaf menyela pak, untuk tahun ini apa kita akan membawa beberapa perwakilan?" tanya Al sebelum rapat ditutup.
"Sepertinya tidak Al, tapi jika ada yang mau ikut mereka harus membayar mandiri tidak ikut dalam pembayaran sekolah. Itupun jika mereka mau," kata pak Budi menjawab pertanyaan Al.
"Lalu bagaimana pak jika di jalan ada yang sakit atau terjadi sesuatu?" tanya Arka pada pak Budi.
"Kan beberapa anggota osis ada yang ikut PMR, ditambah Luna sendiri adalah ketuanya," jawab Dinda yang disetujui oleh bu Sari.
"Benar kata Dinda, nanti yang lebih banyak ikut adalah pembina osis dan guru pendamping jadi kalian tidak perlu mengajak perwakilan banyak- banyak," kata pak Budi memberi penjelasan pada mereka.
"Oh ya Al jangan lupa nanti kamu bagi agar anggotamu saling berkoordinasi untuk persiapan study tour ini. Mulai pembagian seragam study tour sampai kelompok penginapan di hotel kalau bisa segera bentuk anggota kelompok kamu untuk langsung terjun ke lapangan," kata bu Sari mengingatkan pada Al.
"Baik bu setelah ini akan saya bagi kelompok," kata Al dengan tanggap.
__ADS_1
"Baik kurang 3 menit lagi kalian masuk kelas. Terima kasih atas waktunya, kalian bisa kembali ke kelas," kata bu Sari mengakhiri rapat pagi ini.
Semua lalu satu persatu kembali ke kelas dan menyisakan Al dan Luna.
"Nanti ke rumah Willy lagi kan?" tanya Al pada Luna.
"Ya, kenapa kamu enggak bisa kah?" tanya Luna sembari membereskan beberapa proposal dan rincian penginapan hotel.
"Bisa, nanti pulangnya sama gue lagi," kata Al pada Luna.
"Iya," jawab Luna santai.
"Al," panggil Aretha yang langsung masuk ke dalam ruang osis.
Al melirik Luna yang sibuk menata proosal di dalam lokernya.
"Ini sarapan buat kamu," kata Aretha sembari meletakkan susu kotak dan roti lapis di atas meja Al.
"Gue udah sarapan," kata Al dingin sembari mencatati beberapa hal yang kurang.
"Yaudah dimakan nanti aja," kata Aretha sembari melihat sekilas Luna yang tidak memedulikan dua orang ini.
Al hanya diam saja dan fokus mencatat.
Luna yang sudah selesai langsung keluar dari ruang osis tanpa menunggu Al dan menyisakan mereka berdua.
"Gue mau balik ke kelas, makasih rotinya," kata Al sembari cepat- cepat membereskan kertas dan buku catatannya.
Al keluar dari ruang osis begitu saja tanpa menunggu Aretha atau mengajaknya ke kelas bersama.
Memang sih susu dan roti lapisnya dibawa, tapi sikap Al pada Aretha membuat Aretha sedikit sedih.
"Kenapa si Al lo dingin banget jadi cowok," gumamnya pelan sembari berjalan keluar dari ruang osis.
Pelajaran dimulai seperti biasa hingga bel pulang sudah berbunyi.
"Lun gue pulang duluan ya sama Calista?" tanya Aqila pada Luna.
"Iya kalian hati- hati ya pulangnya," kata Luna karena ia sudah memberitahu kedua sahabatnya jika ia sedang sibuk mengurus persiapan study tour.
Setelah Aqila dan Calista cipika- cipiki sama Luna, lalu mereka berdua langsung pulang bersama.
Luna yang melihat Al masih berberes memilih menunggu dia di parkiran saja.
"Ko anter Dante ke toko buku ya," kata Dante sembari memakai hoodienya.
"Koko enggak bisa anter Dan, koko ada urusan buat persiapan study tour," kata Al sedikit terburu- buru.
"Yaelah ko, terus kapan dong, masak koko hari ini mau ngajarin Willy lagi?" tanya Dante yang langsung mendapat tatapan dari Al.
"Sama ko El kan bisa," kata Al geram pada Dante yang begitu manja padanya.
"Kalau sama ko El suruh beli bukunya sendiri enggak mau nemenin masuk ke dalem ko," keluh Dante saat El selalu tidak mau mendampingi Dante seperti Al yang begitu telaten dan sabar saat menemani Dante.
"Nanti koko yang bilangin, udah ya koko buru- buru," kata Al yang langsung keluar kelas meninggalkan Dante yang seorang diri.
Sedangkan El sudah keluar kelas sejak jam pelajaran terakhir tadi.
"Hilih bilang aja koko mau kencan sama Luna kan?" gerutu Dante sembari menyampirkan tasnya dan keluar kelas.
Al melihat Luna sudah menunggu di dekat motornya.
"Nunggu lama?" tanya Al yang terdengar sedikit ambigu.
"Enggak," jawab Luna yang untungnya paham maksud Al.
"Ayo naik," kata Al saat Luna sudah menutupi rok pendeknya dengan jaket.
"Kenapa hoodienya enggak dipakai?" tanya Al saat Luna sudah duduk di jok belakang.
"Enggak dingin," jawab Luna singkat sembari menatap sekeliling takut jika seseorang melihatnya.
"Besok pakai, tinggal makai aja apa susahnya sih," gerutu pelan Al yang masih bisa didengar oleh Luna.
Luna hanya diam saja dan pegangan pundak Al.
"Lo kira gue abang ojek, kenapa pegangan dipundak?" kata Al kesal saat Luna pegangan dipundak.
Bugh
"Kamu cerewet banget sih, ini masih di sekolah kalau ada guru yang liat gimana?" ketus Luna yang kesal pada Al.
"Bodo amat. Lagian kalau lo jatuh yang tanggung jawab gue aja bukan guru," kata Al sembari menyalakan motornya.
"Pegangan," kata Al mengingatkan Luna untuk perpegangan.
Dengan terpaksa dan sedikit kesal akhirnya Luna terpaksa melingkarkan kedua tangannya di perut Al.
Setelah Luna pegangan Al langsung melajukan motornya keluar dari halaman sekolah dan menuju rumah Willy.
__ADS_1
Dibalik itu semua ada seseorang yang sejak tadi melihat keduanya.
"Beruntung banget lo jadi cewek, selain bisa luluhin hati Al lo juga bisa segalanya," gumamnya iri lalu masuk ke dalam mobil setelah melihat Al dam Luna berbocengan motor.