Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Terjebak Di Gudang


__ADS_3

Leyna sudah bersiap dengan seragamnya.


Tepat pukul 6.15 ia sudah rapi dan menuruni tangga untuk berpamitan dengan mamanya.


"Ma," panggil Leyna saat melihat mamanya sedang menyiapkan sarapan.


"Hey sayang, ayo sarapan," katanya sembari menyodorkan susu hamil untuk Leyna.


"Mama baru sembuh jangan capek- capek ya," kata Leyna sembari menatap mamanya yang terlihat begitu senang.


"Mama enggak papa sayang, kemarin cuma kecapekan aja kok," jawabnya ngeles.


"Papa mana ma?" tanya Leyna saat tidak melihat sosok ayahnya.


Sontak Leyna menatap mamanya, wajah yang semakin tua itu berubah sendu lalu dengan cepat ia langsung tersenyum.


"Papa lagi lembur sayang, nanti mungkin pulang," kata Fara mencoba untuk membuat Leyna tidan marah.


BRAKK


Leyna menggebrak meja dan berdiri.


Pikirannya langsung tertuju pada Bianca.


"Mama jangan selalu diam aja kalau papa jarang pulang, sekali- kali mama harus memeriksanya dan melihat bagaimana papa di kantor," Fara sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Iya sayang, maafin mama,"


"Kenapa mama cuma bisa meminta maaf, yang buat salah itu papa bukan mama," Leyna mencoba untuk mengontrol emosinya namun terasa sulit.


Ia begitu sensitif terlebih dia sedang hamil.


"Udah ya sayang, sekarang kamu sarapan dulu," kata Fara mencoba meraih tangan Leyna.


"Leyna enggak mau sarapan," ketusnya lalu pergi meninggalkan mamanya tanpa berpamitan.


Fara hanya bisa menatap kepergian Leyna.


Tes


Air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh juga.


Rasanya memang sangat menyakitkan.


Namun, inilah alasan Fara diam saja disaat ia tahu jika suaminya di luar sana memang bukan sekedar bekerja, namun juga berfoya- foya dengan wanita.


Usia Fara sudah tak lama lagi, harus ada seseorang yang bisa menjaga Leyna.


Namun, harapannya pupus disaat ia tahu wanita yang selalu digandrungi oleh suaminya.


Kini Fara merasa tidak berguna dan tak berdaya.


Pada siapa ia harus meminta bantuan sebelum dirinya pergi untuk selamanya.


.


.


Leyna sudah sampai di apartemen Damar.


Dengan langkah lemas dan lunglai, juga wajah yang murung ia mengetuk pintunya.


Tok tok tok


Ceklek


"Ehh non Leyna, mari masuk," sambut ART itu dengan begitu ramah.


Leyna sedikit kikuk, sejak kapan ada ART paruh baya ini.


"Silahkan naik lift, tuan muda ada di kamarnya,"


"Makasih bi,"


Leyna langsung masuk ke dalam lift dan menuju kamar Damar.


Ting


Leyna sampai di lantai atas, terlihat sepi sekali.


Apa Damar belum bangun, pikir Leyna sembari berjalan pelan menuju kamar yang hanya ada satu di lantai atas itu.


Ceklek


Bersamaan dengan pintu dibuka, Damar menoleh dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambutnya.



"Ehh sorry- sorry gue enggak tahu," kata Leyna yang langsung kembali menutup pintunya.


Damar yang melihat Leyna tersenyum manis.


Ia menghentikan aktivitasnya lalu memakai kaos oblong.


"Masuklah," teriak Damar yang enggan untuk keluar dari kamar.


"Enggak, gue di luar aja," jawab Leyna yang duduk di ruang TV.


Damar tersenyum lebar, akalnya masih banyak untuk membuat wanitanya itu mau memenuhi perintahnya.


"Yaudah, kita kelasnya sendiri- sendiri aja kalau gitu...,"


Ceklek


"Ngeselin banget sih lo," ketus Leyna yang membuka lebar- lebar pintu kamar Damar.


"Eh tutup dulu pintunya kalau perlu kunci," suruhnya membuat Leyna melebarkan kedua matanya.


"Apa lo gila, apa kata orang nanti," marah Leyna yang tidak kunjung menutup pintunya.


"Yakan kita calon pasutri, emang kenapa kalau di kamar berdua," katanya sembari berjalan untuk menutup pintunya.


Damar berjalan mendekati Leyna yang duduk di sofa dekat jendela.


"Jangan macem- macem," ancam Leyna saat Damar mengunci tubuh Leyna dengan tangan bertumpu di sofa di kanan kiri tubuh Leyna.


Damar tidak mengatakan apapun, ia hanya menatap Leyna.


Cup


Bugh


"Awww," rintih Damar saat Leyna menendang tulang kering kakinya.


"Lo kok kdrt banget sih belum nikah, gue takut mati muda kalau kita udah nikah nanti," kata Damar sembari mengusap- usap kakinya.


"Ya lo lagian, main cium aja," gumamnya yang malu sembari mengusap keningnya bekas ciuman Damar.


"Namanya juga sayang," celetuk Damar yang berjalan pincang ke arah king size untuk bersiap daring.


Leyna merasa bersalah melihat Damar kesakitan.


Leyna berdiri lalu berjalan pelan menghampiri Damar yang duduk di king size membuka laptop untuk menyiapkan beberapa pelajaran hari ini.

__ADS_1


"Sorry," gumam Leyna yang berdiri di samping Damar.


Damar hanya diam saja tak menggubris ucapan Leyna.


"Ihh kok lo yang jadi marah," kata Leyna yang tak sabar menghadapi sikap Damar.


Damar menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh kearah Leyna.


"Minta maaf yang bener makanya," kata Damar membuat Leyna beberapa kali menghentakkan kakinya kesal.


"Yakan gue udah bilang sorry tadi masak...,"


"Yang baik kalau ngomong, sorry itu kata apaan enggak pas buat minta maaf," kata Damar memberitahu Leyna.


Leyna terdiam ia mencoba untuk tidak kembali marah.


"Iya- iya, kalau gitu gue minta maaf," kata Leyna dengan malas.


Damar menunduk menahan senyumnya.


"Gue maafin asal lo mau morning kiss gue dulu," Leyna melebarkan matanya tak percaya.


Bugh


"Kok lo banyak permintaannya sih," bentak Leyna kesal.


"Cuma di pipi emang kenapa sih, lagian gue juga enggak bakal buat anak lagi kok," celetuk Damar yang membuat Leyna tersipu malu.


Leyna terdiam tak kunjung melakukan apa yang diminta Damar.


"Mau enggak?" tanya Damar lagi membuat Leyna mengepalkan tangannya.


"Iya- iya bawel banget lo," kata Leyna sembari sedikit menunduk untuk mensejajarkan dengan wajah Damar.


Disaat Leyna akan mencium pipi Damar, dengan sengaja Damar menoleh.


Leyna hendak mundur namun dengan cepat Damar menahannya.


Leyna merasakan benda kenyal itu menempel lama di bibir tipisnya.


Terlihat Damar perlahan mulai ******* bibir manis Leyna, namun tak ada balasan darinya.


Damar menyesap kuat bibir Leyna agar lebih terbuka namun hal itu membuat Leyna menahan diri dengan kuat agar tidak membuka mulutnya.


"Aww," rintih Leyna saat Damar menggigit kecil bibir bawah Leyna agar terbuka dan memberikan akses padanya.


Leyna perlahan memejamkan mata menikmati permainan lidah Damar di dalam sana.


Damar tersenyum disaat Leyna diam dan menikmati permainan yang ia pimpin.


"Hah hah,"


Leyna mencoba untuk menghirup banyak oksigen karena Damar tidak memberinya kesempatan untuk bernafas.


Dengan keadaan Leyna masih merunduk, keduanya saling menatap satu sama lain.


Sret


Bugh


"Dam hmppp,"


Damar menarik Leyna hingga terbaring di king sizenya dan kembali mencium bibir manis yang mungkin kini akan menjadi candu baginya.


Damar mencoba sebisa mungkin untuk membuat Leyna nyaman dan tidak takut.


Leyna mendorong pelan dada kekar Damar.


Keduanya saling menatap, mata dengan softlens biru itu membuat Damar semakin mencintainya.


♡♡♡


Al dan kedua adiknya turun dari motornya.


Terlihat Al berjalan lebih dulu meninggalkan kedua adiknya.


"Koko kenapa Dan?" tanya El saat melihat kokonya hanya diam saja.


"Enggak tahu, berantem mungkin sama Luna," jawab Dante asal.


"Biasanya berangkat bareng tumben sendirian koko," gumam El lalu berjalan menyusul Al.


"Gue serasa jadi pengadilan hukum perasaan, setiap koko ada masalah sama Luna perasaan tanyanya ke gue," gumam Dante heran.


El dan Dante berjalan melewati lorong, terlihat sedikit sepi dan kebanyakan mereka berada di dalam kelas hanya ada siswa yang nongkrong di depan kelas.


"Ko cuma perasaan Dante atau emang sekarang ada ujian, kenapa mereka banyak yang di dalem kelas dan baca buku," kata Dante membuat El juga heran.


"Iya juga ya,"


Keduanya lalu masuk ke dalam kelas dan betapa terkejutnya El dan Dante melihat isi kelasnya.



"Tunggu- tunggu, kenapa kelas kita tiba- tiba penuh? Terus kenapa mereka pada belajar?" tanya Dante terheran- heran.


El melihat papan kelas, XII IPA 1.


"Kita enggak salah masuk kelas tuh," kata El lalu berkacak pinggang melihat punggung Calista yang ikut dalam salah satu siswi satu kelas ini.


"Kalian pada ngerjain apaan?" tanya El membuat semua menoleh ke belakang dan tersenyum begitu lebar.


"Eh El, kita lagi belajar bareng buat dapetin juara 3 ujian nasional,"


"Itukan syarat buat jadi pacar kamu,"


"Wah mampus ko, bisa- bisanya mereka belajar demi bisa jadi pacar koko,"


Tatapan El bertemu dengan Calista sekilas lalu El menatap ke arah lain.


"Emang gue bilang kalau itu berlaku buat kalian semua?" tanya El dengan mode galaknya.


"Emang sih itu syarat cuma buat Calista, tapi enggak ada salahnya dong kalau salah satu diantara kita semua ada yang masuk juara 3 waktu ujian nasional,"


El pusing dengan ulah yang ia buat sendiri.


"Gawat ko kalau sampai ada yang juara 3, habis riwayat koko," El menoleh dan menatap sengit Dante yang terus mengomporinya.


Kringggggg


Bel masuk sudah berbunyi, dengan kompak dan serentaknya mereka mengemas bukunya dan kembali ke kelas masing- masing.


"Astaga bisa- bisanya mereka ke kelas kita cuma buat belajar bareng, the power of fans koko very good," gumam Dante yang berjalan menuju bangkunya saat sudah kosong.


Tak lama pak Budi masuk ke dalam kelas dengan tas besar yang ia tenteng.


"Selamat pagi semua," sapanya seperti biasa.


"Pagi pakkk," pak Budi meneliti semua bangku.


Ada dua bangku kosong.


"Luna sama Willy kemana?" tanya pak Budi.

__ADS_1


Semua sekilas menatap Al lalu kembali menatap ke depan.


"Kok bisa ya mereka serempak natap koko gitu," gumam Dante yang takjub saat seisi kelas menatap kokonya sekilas lalu menatap pak Budi.


"Tadi dipanggil bu Jesy pak," jawab Dinda membuat pak Budi mengangguk.


"Oh ya sebelum pelajaran dimulai, saya ingin mengatakan sesuatu yang membuat saya benar- benar takjub," katanya sembari duduk di tepi meja dan melipat kedua tangannya.


"El, terima kasih sudah membangkitkan semangat belajar para murid, yahh meski bapak tahu itu syarat untuk bisa menjadi pacar kamu tapi bapak tetap bangga," semua seisi kelas bertepuk tangan ria.


El hanya bisa menghela napas dan tidak habis pikir.


"Wah selamat ko, anda telah menjadi duta SMA membangkitkan semangat belajar para siswa," kata Dante yang membuat pak Budi terkekeh.


"Sudah- sudah kita mulai belajarnya," kata pak Budi membuat semua siswa menghela napas.


Al terlihat hanya diam saja, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


Hingga bel istirahat berbunyi, Luna dan Willy tak kunjung masuk kelas juga.


"Ko enggak pengin nyari Luna gitu, takutnya kebawa Willy pulang," goda Dante sembari berkumpul bersama dengan teman- temannya untuk mabar.


Al hanya menatap dingin Dante tanpa menjawab atau meresponnya.


Tak lama Luna dan Willy datang bersama.


Terlihat wajah Luna menunduk lesu.


Tatapan Al tidak teralihkan sedikitpun dari gerakan Luna.


Luna langsung merebahkan kepalanya di atas meja sembari menyumpal telinganya dengan earphone dan hal itu tak luput dari pandangan Al.


Karena tidak ingin menganggu Luna yang sedang tidur, Al mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Al ikut merebahkan kepalanya di atas meja sembari menyumpal telinganya dengan earphone dan ikut terlelap.


Seisi kelas terheran- heran saat melihat pemandangan langka saat ini.


Al dan Luna.


Sama- sama tidur dan mendengarkan musik dengan earphone.


"Susah ya kalau dunia udah dukung yang bucin, bahkan nyamuk aja serempak buat enggak ganggu mereka tidur," celetuk salah satu siswa membuat semua tertawa pelan.


"Aqila sama Dante...,"


"Ssstttttt," serempak seisi kelas menempelkan jari telunjuknya di bibir mereka agar siswi itu tidak berisik.


"Dipanggil sama pak Kimmy," katanya dengan pelan lalu pergi keluar dari kelas IPA 1.


Aqila yang bingung langsung berdiri dan keluar kelas.


Dante yang melihat Aqila keluar duluan buru- buru menyusulnya.


"La tungguin," teriak Dante namun enggan didengarkan oleh Aqila.


Happ


Dante meraih tangan Aqila hingga menabrak dada bidangnya.


"Aduhhhhh sakit taukkkk," teriak Aqila kesal sembari mengusap- usap keningnya.


"Sorry- sorry gue enggak sengaja," kata Dante membuat Aqila menghempaskan tangannya.


"Makanya kalau dipanggil berhenti," kata Dante yang malah menyalahkan Aqila.


"Kok lo jadi nyalahin gue sih,"


"Lak masak gue harus salahin pak Budi,"


"Aqila Dante," teriak pak Kimmy kesal sembari menenteng beberapa tumpuk buku.


"Kalian berdua ini, sehari aja enggak berantem bisa enggak sih, heran saya,"


"Enggak," jawab keduanya kompak.


"Udah- udah pusing bapak ngurusin kalian, nih buku- buku ini tolong kalian taruh di gudang, karena besok akan ada buku baru yang datang,"


"Kok nyuruh kita sih pak?" protes Aqila membuat pak Kimmy langsung berkacak pinggang.


"Kamu ini, piket kelas jarang, piket uks kalau inget, piket perpus kalau lagi pengin bolos jam pelajaran, hari ini kan piket kalian berdua buat mensurvei beberapa buku yang seharusnya ditaruh digudang," Aqila hanya menyengirkan kedua bibirnya tanpa merasa bersalah.


"Hehe iya pak saya lupa," kata Aqila membuat Dante mendengus sebal.


"Udah buruan taruh digudang, habis ini kelas mau masuk," kata pak Kimmy lalu kembali ke ruang guru.


Keduanya saling menatap.


"Apa lo liat- liat," ketus Aqila lalu berjalan menuju gudang yang berada di lantai atas.


"Gue pastiin, yang bakal jadi suaminya kalau enggak tahan, bisa mati muda dia," gerutu Dante lalu menyusul Aqila ke gudang.


Ceklek


Aqila membuka gudangnya dan langsung menaruh beberapa buku tersebut bersama kumpulan buku lainnya yang harus direvisi.


"Berat juga bawanya," gumam Aqila sembari mengibaskan tangannya karena debu.


BRUGH


Aqila menoleh saat Dante meletakkan buku tersebut di lantai.


"Udah selesaikan?" Aqila mengangguk lalu mereka hendak keluar dari gudang.


Ceklek


Ceklek


Ceklek


"Tunggu, kenapa pintunya tiba- tiba macet?" kata Aqila yang sudah panik dan ketakutan.


"Tadi lo tutup?" bentaknya pada Dante dengan sangat marah.


"Enggak, gue enggak nutup," jawab Dante sembari mencoba untuk membuka pintunya namun hasilnya tetap sama, terkunci dari luar.


"Terus gimana dong kita keluarnya," kata Aqila sembari menatap sekeliling gudang yang tertutup rapat tanpa jendela.


"Lo bawa ponsel enggak?" Aqila menggelengkan kepalanya membuat Dante semakin putus asa.


"Tolongggggggg, siapapun di luar sana tolong bukain pintunya," teriak Aqila membuat Dante menyumpal telinganya.


"Astaga kekuatan teriakan lo bener- bener bisa menghancurkan gendang telinga gue," kata Dante sembari meniup tangannya lalu ia dekatkan pada telinganya.


"Diem lo, gue takut tahu enggak," ketus Aqila membuat Dante terdiam dan membiarkan Aqila terus berteriak.


Setelah beberapa menit berteriak tidak ada pertolongan apapun, Aqila menyerah dan merosot hingga terduduk di lantai.


"Udah capek teriak- teriaknya?" tanya Dante yang terdengar begitu menyebalkan.


Aqila hanya diam saja dan meringkuk sembari memeluk lututnya.


"Hiks hiks,"

__ADS_1


Dante mendengar suara isak tangis dari Aqila.


"Dantee gue takut,"


__ADS_2