Sekretaris Canduku S2

Sekretaris Canduku S2
S2 - Jemput Sekolah


__ADS_3

Al dan Luna sudah selesai memberi beberapa pengertian tentang pelajaran yang Willy tidak mengerti.


"Udah sore, kita pulang dulu ya Wil," kata Luna pada Willy.


"Eh Lun lo enggak mau makan dulu gitu atau main di sini bentar," kata Willy yang berusaha menahan agar Luna lebih lama di rumahnya.


"Lo kira kita enggak butuh istirahat, besok masih sekolah," ketus Al sembari mengemasi beberapa bukunya.


Willy menatap kesal Al yang terus bersikap ketus padanya.


"Iya Wil lagian ini udah sore, jadi kita pulang dulu ya," kata Luna yang sudah beranjak dari duduknya lalu disusul Al.


"Iya deh, ayo gue anter ke depan," kata Willy mengantar mereka ke depan.


"Kita pulang duluan ya," pamit Luna sedangkan Al hanya diam saja karena malas bicara apalagi sama Willy.


Willy tidak menjawab ia malah fokus sama tangan Luna yang melingkar di perut Al dan Luna yang memakai hoodie Al yang kebesaran di tubuhnya.


Al melajukan motornya untuk mengantar Luna pulang.


Sepanjang jalan mereka hanya diam tapi entah kenapa Luna merasa jika Al mengendarai motornya sangat pelan.


"Al cepet dikit bisa enggak bawa motornya, keburu malem akunya nyampek rumah," kata Luna yang berbicara di depan telinga Al.


"Bawel," gumam Al pelan yang mungkin tidak didengar oleh Luna.


Luna menikmati udara di sore hari, ternyata begitu menyenangkan jalan- jalan di waktu sore begini.


Tiba- tiba Al membelokkan motornya ke tepi dan berhenti di salah satu kedai di pinggir jalan.



"Lo malu enggak makan di pinggir jalan?" tanya Al sedikit menoleh ke belakang pada Luna.


"Enggak," jawab Luna yang langsung turun dari motor.


Al lalu memesan beberapa menu untuk mereka makan karena tadi di rumah Willy hanya disediain camilan jadi Al berinisiatif membawa Luna kemari untuk makan siang.


"Lo mau makan apa?" tanya Al pada Luna yang sibuk mengamati sekitar jalan.


"Terserah yang penting kenyang," jawab Luna santai membuat Al menahan untuk tidak ketawa.


Lalu dengan jahilnya Al sengaja memesan menunya dengan ukuran medium semua.


Al lalu duduk di depan Luna sembari menunggu pesanannya.


Pesanan telah datang terlihat seorang pria tinggi dan dewasa itu tersenyum pada Luna.


"Sepertinya kalian berdua sepasang kekasih?" tebaknya sembari menyajikan pesanan mereka membuat Luna dan Al saling menatap.


"Bukan pak," kata Luna yang merasa canggung sendiri.


"Meskipun iya, saya tidak akan memberitahu pelanggan lainnya," goda waiters itu membuat Luna dan Al memalingkan muka.


"Baiklah saya tidak akan menganggu sepasang kasih ini untuk makan, silahkan menikmati," katanya lalu pergi.


"Biasanya kalau makan bareng kekasih, makanannya akan terasa berbeda, lebih enak dari biasanya," kata waiters itu kembali lagi menggoda Al dan Luna.


"Jerry jangan kau ganggu pelanggan yang sedang makan," teriak pemilik kedai lalu menunduk untuk meminta maaf pada Al dan Luna.


Waiters itu lalu kembali untuk melayani pelanggan yang lainnya.


"Bagaimana bisa dia bilang kita sepasang kekasih?" gumam Luna sembari menatap waiters laki itu yang sepantaran dengan Vino adiknya.


Al berdeham saat Luna terus menatap waiters laki itu.


"Jangan- jangan lo suka lagi sama waiters itu?" tebak Al membuat Luna langsung mendelik kesal.


"Dia terlihat seperti wanita begitu, bagaimana mungkin aku menyukainya," Al menahan tawanya sembari menatap waiters yang bernama Jerry itu yang bersikap seolah seperti perempuan.


"Baguslah kalau begitu," gumam Al membuat Luna bertanya.


"Kamu omong apa?" Al hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan makan.


Selesai makan, Al langsung mengantar Luna pulang karena waktu sudah begitu petang pukul 5 sore.


Al menghentikan motornya tepat di depan tangga naik ke lantai rumah Luna.


"Nih jaketnya, makasih," kata Luna sembari mengembalikan hoodie milik Al.


"Lo pakai aja, besok buat sekolah," kata Al yang kembali memasang helmnya.


"Aku udah punya jaket sendiri, lagian ini kebesaren banget," kata Luna sembari menjabarkan hoodie Al yang begitu besar.


"Lebih baik besar bisa nutupi tubuh lo, daripada kecil gini," kata Al menyindir jaket Luna yang sudah kekecilan.


Luna mendengus sebal dan langsung naik ke tangga tanpa memedulikan Al yang masih diam di tempatnya.


"Besok gue jemput," teriak Al membuat Luna berbalik dan Al sudah melajukan motornya.


"Dasar cowok enggak jelas banget," gerutu Luna yang berjalan begitu malas untuk menaiki tangga yang begitu panjang.


.


.


Al telah sampai di rumah tepat pukul setengah 6.


Ceklek


Semua yang duduk di ruang tamu sontak menoleh.


"Ko sini," panggil Sela membuat Al langsung menghampirinya.

__ADS_1


Al mencium pipi Sela kanan dan kiri lalu duduk di sampingnya.


"Kenapa ma?" tanya Al belum menyadari tatapan marah Sela.


"Tadi di sekolah ngapain ikut- ikutan ngelerai tawuran, kalau koko kenapa- napa gimana, siapa yang khawatir?" Al langsung menatap El dan Dante.


"Ma koko kan ketua osis, jadi koko harus bantu lerai mereka lagian tadi juga udah ada polisi," kata Al memberitahu Sela.


"Mau koko ketua osis atau bukan, jangan ceroboh kalau terjadi apa- apa sama koko gimana?" Al langsung memeluk mamanya.


"Iya ma koko minta maaf," katanya sembari menatap El dan Dante penuh kekesalan.


El dan Dante memalingkan muka untuk menghindari tatapan tajam kokonya.


"Sini liat, mana yang terluka?" kata Sela sembari memeriksa tubuh putranya.


"Ini kenapa? Kok diplester?" tanya Sela saat ia melihat lengan Al di pelster.


"Hekm plesternya kok warna pink ko?" goda Dante yang benar- benar rese'.


"Mama lepas ya, diganti perban," kata Sela membuat Al langsung menarik tangannya.


"Enggak usah ma tadi ini udah dibersihin kok sebelum diplester," kata Al sembari malu- malu memalingkan mukanya.


"Bentar- bentar jangan bilang kalau yang ngobatin Luna?" tebak Sela membuat Dante dan El langsung bersiul.


"Pantesan plesternya enggak boleh diganti, yang ngobatin ketua PMR nya langsung," kata Dante membuat Sela tertawa.


"Oh jadi Luna juga ketua PMR?" tanya Sela yang diangguki Dante dan El.


"Yaampun pinter banget sih calonnya koko, mama jadi penasaran dia kayak apa?" kata Sela membuat Dante langsung berdiri dan naik ke lantai atas.


"Ini ma fotonya ma," teriak Dante yang sedikit berlari.


"Jangan lari dek," kata Sela memarahi Dante yang berlarian di dalam rumah.


"Nih mah, gimana cantik enggak?" kata Dante sembari memberikan ponselnya.



"Wah cantik banget Luna nya," puji Sela membuat Al jadi penasaran tapi ia juga gengsi yang mau liat.


"Kalau koko enggak mau, Luna sama Dante boleh ya ma?" tanya Dante sembari memasukkan kembali ponselnya.


"Iya boleh, asal Luna jadi menantu mama mau sama aja boleh," kata Sela sembari melirik Al yang menatap kesal Dante.


"Koko mau enggak sama Luna?" tanya Sela sembari mengusap wajah Al yang sedikit kusam.


"Apaan sih ma," kata Al yang langsung pergi.


"Ko tunggu, mama belum nanya sama koko. Pulang sampai malam gini dari mana aja?" tanya Sela membuat Al berbalik dan menatap mamanya.


"Koko disuruh bimbing Willy ma anak baru di sekolah, cuma satu minggu kok bimbingnya jadi kemungkinan satu minggu ini koko pulangnya agak malam," jelas Al membuat Sela mengangguk paham.


Al berbalik dan berdiri di depan pintu lift belum menjawab pertanyaan Dante.


Saat pintu terbuka, Al menoleh menatap mamanya.


"Sama Luna juga ma," buru- buru Al masuk lift sebelum digoda sama mereka bertiga.


Sontak mereka langsung tertawa sedangkan Dante melompat- lompat kegirangan.


"Koko kalau salting lucu ya ma," kata Dante membuat Sela tertawa.


"El Dante, kesini kalian," teriak Al dari lantai atas membuat El dan Dante saling menatap.


"Ko kayaknya kita bakal disidang nih," kata Dante pada El.


"Lo sih pakai acara goda koko, lo sono duluan ke atas," kata El sembari menarik Dante agar naik ke lantai atas.


"Buruan El Dante," teriak Al lagi.


"Iya ko ini lagi jalan," kata Dante yang sibuk mengatur napasnya di depan lift sebelum ke lantai atas.


Sedangkan El dan Sela tertawa melihat tingkah Dante.


Ting


Pintu lift terbuka dan Dante begitu terkejut saat Al sudah di depan lift.


"Liat ponsel kamu," kata Al membuat Dante langsung menyerahkan ponselnya.


Al melihat galeri Dante, ada foto Luna yang Dante ambil diam- diam.


Al melirik Dante sekilas, ia mengirim foto Luna ke ponselnya lalu menghapus foto Luna yang ada di galeri Dante.


"Nih," kata Al pada Dante lalu langsung pergi.


Dante yang faktanya memang cerdik langsung memeriksa galerinya.


Kosong.


Foto Luna enggak ada sama sekali.


"Kan koko suka sama Luna," teriak Dante membuat Al kembali keluar dari kamarnya.


Buru- buru Dante memencet tombol lift sebelum ia kena tendang Al.


《♡♡♡》


Keesokan paginya mereka sedang sarapan bersama.


Oh ya Rendy sama Laura sedang ada bisnis di luar kota jadi ia jarang kumpul sama mereka.

__ADS_1


Kalau Reno sama Dea, mereka emang enggak serumah sama Sela dan Laura.


Karena Reno membeli apartemen yang dekat dengan kantor agar lebih cepat aja sih ke kantornya.


Tapi terkadang Daffa menginap di rumah Sela untuk sekedar bermain bersama kokonya atau kumpul bersama.


Balik lagi ke acara sarapan keluarga Bara.


"Ko papa enggak mau koko ikut- ikutan ngelerai tawuran itu lagi, nanti papa akan bilang sama pihak yang berwajib buat ambil tindakan tegas," kata Bara memperingati Al setelah kemarin malam diberitahu Sela.


"Iya pa," kata Al nurut sama Bara.


"Ma koko berangkat dulu ya," kata Al membuat Dante panik.


"Loh ko, Dante belum habis sarapannya," kata Dante dengan mulut yang masih penuh makanan.


"Adik masih sarapan lo ko, tunggu dulu bentar," kata Sela pada Al.


"Koko ada urusan ma nanti ada rapat osis buat acara study tour setelah ujian," kata Al membuat Sela mengerti.


"Oh yaudah kalau gitu. Dek kamu sama ko El aja ya, koko mau ada rapat nanti," kata Sela memberitahu Dante.


"Iyadeh ma enggak papa," kata Dante membuat Al langsung mencium pipi Sela kanan dan kiri dan salaman andalannya yang ia buat sama papanya.


"Koko berangkat dulu ya ma," pamit Al dengan semangat 45.


"Koko mau rapat seneng banget ya ma, biasanya koko paling males dan paling belakangan berangkatnya," kata El merasa aneh sama kokonya.


"Gimana enggak semangat kalau Luna yang ada disampingnya plus yang jadi sekretarisnya," sontak semua tertawa mendengar ucapan Dante.


Sedangkan Al langsung melajukan motornya.


Hanya butuh 15 menit Al sudah sampai di rumah Luna.


Bentar- bentar, katanya tadi rapat, kok ke rumah Luna.


Ini antara mau jemput sekretaris osis atau kekasihnya nih?


Atau rapatnya diadakan di rumah Luna?


Dasar koko emang, banyak banget akalnya biar bisa jemput Luna.


Terlihat Luna menuruni tangga dengan memakai hoodie milik Al yang begitu kebesaran.


"Al kamu ngapain di sini?" tanya Luna yang membuat Al ingin sekali menenggelamkan dirinya.


"Buruan naik," kata Al membuat Luna mendelik kesal.


Cit


Mobil merchedez putih berhenti tepat di depan mereka.


Willy keluar dari mobil dengan senyum manisnya.


"Lun ayo berangkat sama gue," kata Willy membuat Luna jadi bingung.


"Maaf Wil tapi aku udah sama Al," kata Luna yang lebih memilih sama Al.


"Oh gitu," kata Willy terlihat dia begitu


kecewa.


"Emang Al tiap hari jemput kamu atau emang cuma hari ini?" tanya Willy siapa tahu kalau cuma hari ini dia berkesempatan buat jemput Luna lain hari.


"Tiap hari Wil jadi kamu enggak perlu kemari buat jemput aku, langsung ke sekolah aja," kata Luna membuat Al hatinya kini sedang berpesta ria.


"Oh yaudah kalau gitu, gue berangkat duluan ya," kata Willy yang kembali masuk mobil dan berangkat lebih dulu.


Al menatap Luna yang masih menatap kepergian Willy.


"Berangkat sama gue harus kasih ongkos tapi," kata Al membuat Luna berkacak pinggang.


"Aku nyesel nolak Willy tadi, tau gitu sama dia tadi," kata Luna ketus membuat Al menahan tawanya.


"Udah naik, keburu telat rapatnya," kata Al pada Luna.


"Kamu jemput anak orang enggak bawain helm gitu, kalau terjadi apa- apa sama primadonanya SMA gimana?Semua bakal rugi kalau aku terluka," kata Luna yang enggan naik ke atas motor.


Tak


"Enggak usah bawel, gue bawa motornya enggak bakal ugal- ugalan," kata Al sembari menyentil kening Luna.


Luna mengusap- usap keningnya sembari menatap Al kesal.


"Udah naik. Atau lo mau pakai helm gue?" tawar Al membuat Luna memukul punggungnya.


Dengan kesal Luna naik ke atas motor membuat Al yang di depan menahan senyumnya.


"Lo enggak mau pegangan, gue mau ngebut soalnya, biar enggak telat rapat," kata Al memberi peringatan pada Luna.


Bugh


"Tadi bilangnya enggak bakal ugal- ugalan sekarang mau ngebut, mending aku naik bus aja tahu gitu," kesal Luna yang langsung memukul bahu Al.


Al tersenyum tipis saat Luna marah padanya.


Dengan sungkan canggung dan malu, akhirnya Luna melingkarkan tangannya di perut Al.


"Ayo buruan jalan," ketus Luna saat Al tak kunjung menjalankan motornya.


"Siap bu ratu," gumam Al membuat Luna yang masih bisa mendengarnya mendadak pipinya menjadi panas dan merona merah.


Luna berusaha untuk berpura- pura tidak mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2