
Keesokan paginya Luna sudah bersiap dengan seragamnya dan ia juga telah menghabiskan sarapannya.
Bukannya berangkat ia malah duduk di depan teras sembari menunggu seseorang yang akan menjemputnya.
Ceklek
"Loh, kakak belum berangkat?" tanya Vino kala melihat kakaknya yang sudah rapi masih duduk di teras rumah.
"Bentar lagi, kamu berangkat aja dulu, nanti ketinggalan bus lagi," kata Luna membuat Vino hanya mengangguk lalu pergi berangkat ke sekolah.
Sekitar 15 menit Luna mencoba untuk kembali menunggu Al, namun tidak ada tanda- tanda ia datang.
Brum brum
Seketika wajah cantik itu nampak begitu sumringah kala mendengar suara motor.
Spontan wajah Luna berubah murung kala El melepaskan helmnya.
"Lun," panggilnya pada Luna yang melamun.
Kenapa bukan Al, batinnya dalam hati kala El yang datang.
Luna kembali sadar lalu menghampiri El yang duduk di atas motornya.
"Ayo berangkat sama gue," katanya membuat Luna menengok kanan kiri berharap Al datang.
"Koko enggak bisa jemput," katanya yang tahu Luna pikirkan.
"Kenapa?" El mengedikkan kedua bahunya.
"Dia cuma nyuruh gue buat jemput lo," kata El sembari memberikan helm yang biasa Al bawa untuknya.
Luna memakai helmnya lalu tanpa kembali bertanya ia naik ke atas motor sebelum terlambat.
Keduanya lalu berangkat bersama ke sekolah.
Kini El dan Luna telah sampai di sekolah dan berjalan bersama menuju kelas.
Dan kalian tahu, saat Luna masuk ke dalam kelas terlihat Al sudah duduk manis dibangkunya sembari mendengarkan musik.
Tadinya Luna hendak menghampiri Al namun bel masuk membuat dirinya mengurungkan diri.
Tak lama pak Budi datang tanpa membawa tas andalannya ataupun selembar kertas yang biasa beliau bawa.
"Ayo semua keluarkan selembar kertas, kita mulai ulangan hariannya," intruksi pak Budi benar- benar membuat Luna panik dan cemas sedangkan seisi kelas terdengar menghela napas berat.
"Aqila emang hari ini ada ulangan?" Aqila hanya mengangguk lemas sembari memasukkan buku paketnya.
"Emang ulangan apa, kan baru selesai ujian nasional?" seketika Aqila melotot lalu menonyor kepala Luna.
"Makanya jangan mikirin Al mulu, lo enggak lihat info grup, pelajaran pak Budi semua kelas remidi," Luna terlihat bingung dan tak tahu apapun.
Ulangan harian pun dimulai dengan Luna yang benar- benar tidak tahu apa- apa.
Sekitar 45 menit ulangan telah usai dan semua berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin karena hari ini bebas setelah ujian nasional berakhir.
Luna beranjak dari duduknya dan menghampiri bangku Al.
"Al kemarin kamu..,"
Ucapan Luna terpotong kala ada stand siaran yang sedang memanggil semua para anggota osis untuk datang melakukan rapat.
Al langsung beranjak dari duduknya tanpa memedulikan Luna.
"Kenapa lagi lo? Perasaan baru kemarin senyam- senyum sendiri sekarang udah mellow," ejek Aqila yang melihat wajah galau Luna.
"Lun ayo ke ruang osis, bu Sari udah nunggu," ajak Dinda yang langsung menarik tangan Luna keluar kelas.
Selesai rapat tentang study tour yang akan dilaksanakan senin depan, mereka langsung bubar untuk kembali ke kelas.
Luna yang duduk berdampingan bersama Al buru- buru menyelesaikan catatannya agar ia bisa bertanya pada Al.
"Al aku..,"
"Al dipanggil Aretha noh," teriak Dinda diambang pintu sembari menenteng proposal yang hendak ia setorkan ke kesiswaan.
Al langsung pergi tanpa menoleh pada Luna.
Dengan sabar Luna menghembuskan napasnya, kembali duduk di kursinya dan merebahkan kepalanya di atas meja.
"Hari ini ada apa sih sebenarnya, kenapa Al tiba- tiba berubah gitu? Dari kemarin dia cuekin aku bahkan enggak kasih kabar," gumamnya lirih sembari menatap ke arah jendela.
Lama Luna diam lalu mengangkat kepalanya seakan baru saja mendapatkan ide cemerlang.
__ADS_1
"Enak aja Aretha dari kemarin manggil Al mulu, dia enggak tahu apa kalau Al pacar..," mendadak Luna diam kala teringat sesuatu.
"Oh ya, aku lupa kan aku yang putusin buat backstreet," gumamnya lesu lalu kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
"Gini amat nasibnya punya pacar idola semua siswa sekolah," gerutunya uring- uringan sendiri.
Dengan lesu ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke kelas.
Karena Luna iseng dan ingin tahu apa yang Al dan Aretha lakukan, akhirnya ia sengaja berjalan melewati kelas Aretha.
Sesampainya di depan kelas ia tidak menemukan Al ataupun Aretha di dalam kelas.
Lalu kemana Al pergi?
"Apa mungkin di uks?" gumamnya lirih dan berbalik arah untuk menuju uks.
Saat di depan uks Luna tak menemukan sepasang sepatupun.
Untuk lebih memastikan sekali lagi, Luna masuk ke dalam uks.
Dan hasilnya nihil.
Tidak ada Al dan Aretha di sana.
Luna menghela napas lelah dan berniat untuk kembali saja ke kelas.
Sepanjang koridor Luna terlihat tidak begitu fokus dan berjalan dengan sangat lesu.
Luna mendongak kala ia masuk kelas dan tidak mendapati temannya satupun.
"Kemana mereka pergi?" gumamnya bingung ketika kelas kosong dan hanya ada tas Luna dan Aqila.
"Lunaaaa," teriak Aqila yang berlari dari koridor menghampiri Luna.
"La semua temen- temen kemana? Kenapa kelasnya kosong?" tanya Luna yang tidak tahu.
"Enggak tahu gue, sekarang yang paling penting adalah lo liat ini sendiri," kata Aqila sembari menyodorkan ponselnya.
Luna sempat terkejut kala Al dengan seragam sekolahnya datang ke mal lebih tepatnya ke bioskop bersama perempuan yang Luna yakini itu pasti Aretha.
"Gimana, lo mau nyusul Al enggak?" tanya Aqila yang merebut ponselnya.
"Itu seriusan Al sama Aretha?" Aqila nampak kesal dengan sikap oon Luna.
Luna terdiam untuk berpikir sejenak.
"Lo cinta enggak sama Al?" tanya Aqila mengintimidasi, Luna mengangguk mantap.
"Yaudah tunggu apalagi, kita susul mereka," kata Aqila sembari menarik tangan Luna menuju parkiran.
"Tapi La, kemana teman- teman semua? Nanti kalau dicariin guru gimana?" tanya Luna yang masih memedulikan hal itu.
"Nanti aja dulu, sekarang ayo susulin Al di bioskop," jawab Aqila sembari memberikan helm Luna dan membonceng Luna menggunakan motor vespa kesayangannya ke mal milik tuan Aldebaran.
♡♡♡
Sesampainya di bioskop Aqila nampak terburu- buru dan langsung mengajak Luna ke lantai atas.
"La ayo kita balik aja," ajak Luna kala mereka berada di dalam lift.
"Enggak enak aja balik, gue mau ngelabrak mak lampir satu ini, apalagi Al udah punya lo juga masih gatel sama Aretha," sindir Aqila sembari menggenggam tangan Luna.
Luna hanya diam termenung memikirkan apakah iya Al kini bersama Aretha sedangkan Al dan Luna menjalin hubungan.
Ya meski hubungan ini backstreet, tapi Luna tak rela Al gandeng perempuan lain.
"Makanya lo tuh kalau suka sama Al ungkapin, begitupun sebaliknya, kan kalau gini mau cemburu jadi repot urusannya karena lo bukan siapa- siapanya," Luna menoleh menatap Aqila dengan kerutan di dahinya.
"Enak aja, aku sama Al..,"
Ting
"Udah ayo cepet," kata Aqila menarik tangan Luna menuju gedung bioskop.
Aqila sudah membeli 2 tiket kini hanya perlu mengumpulkan semua niat dan keberanian untuk masuk ke dalam sana.
"Lun lo siap kan?" tanya Aqila saat Luna menggenggam erat tangan Aqila.
"La ayo balik aja deh ke sekolah, aku enggak berani," kata Luna yang berbalik hendak kembali.
"Ehh enak aja balik, gue udah susah payah bonceng lo kesini buat bisa ngelabrak Aretha, lo main balik aja enggak kasian apa sama gue," marah Aqila membuat ia mengurungkan niatnya untuk kembali.
"Lo pasti bisa Lun, ayo," kata Aqila menyakinkan Luna.
__ADS_1
"Lo di depan, gue di belakang lo," kata Aqila yang beralih ke belakang punggung Luna.
Dengan napas yang tak teratur Luna mencoba memberanikan diri membuka pintu gedung bioskop.
Ceklek
Terlihat layar bioskop menyala tanda filmnya belum dimulai.
Luna mengernyitkan keningnya kala semua penonton memakai topi.
"Lun kenapa semua makai topi?" tanya Aqila yang dijawab gelengan kepala oleh Luna.
Luna nampak mencari keberadaan Al di antara para penonton bertopi semua.
Tapi tidak ada.
Klik
"HAPPY BIRTHDAY LUNAAA," sorak mereka kala lampu menyala sembari membuka topi secara bersamaan.
Luna menoleh ke belakang menatap Aqila dan Calista yang ikut bersorak ramai.
"Happy birthday sahabatku," kata Aqila yang langsung memeluk Luna begitupun Calista.
Semua menyanyikan lagu ulang tahun bersamaan dengan Al yang menghampiri Luna diikuti El dan Dante yang membawakan kue juga buket bunganya.
Luna sempat terpana akan kejutan yang Al berikan, ia menatap teman sekelasnya yang bersorak menyanyikan lagu untuk dirinya sembari membawa kertas yang bertuliskan 'HAPPY BIRTHDAY LUNA'
"Kenapa nangis?" tanya Al sembari tertawa meledek Luna.
"Katanya Aqila kamu nonton bioskop sama Aretha," gelak tawa dari mereka memenuhi gedung bioskop kala mendengar jawaban Luna.
"Enggak ada," kata Al sembari menghapus air mata Luna.
"Udah make a wish dulu," kata Al sembari menatap Luna lekat.
Dante maju ke depan agar Luna make a wish.
Luna menutup kedua matanya, berdoa yang terbaik untuk usianya yang sudah beranjak semakin dewasa ini.
Al lalu mengeluarkan kalung yang ia beli kemarin bersama mamanya.
Dengan begitu romantisnya Al berjalan ke belakang Luna dan memakaikan kalungnya.
Sorak sorai dan cuitan dari temannya memenuhi gedung bioskop.
"Cieeeeeee dikasih kalung nih ye," teriak mereka.
Luna nampak merona merah kala mendapati godaan dari teman- temannya.
Setelah tiup lilin dan pemotongan kue, kini saatnya menonton bioskop bersama, yang mana semua ini gratis untuk mereka semua.
Al dan Luna duduk di bangku tengah yang telah Al pesan.
Sedangkan Aqila hendak duduk di samping Luna namun Dante dengan usilnya menarik tangannya untuk duduk sedik jauh dari Luna dan Al.
"Dante lo apa- apaan sih," ketus Aqila kesal saat bangku samping Luna terisi teman lainnya.
"Duduk sini aja sama gue," katanya sembari menggenggam tangan Aqila agar tidak kabur.
Aqila terpaksa duduk di samping Dante dengan tangan yang tidak dilepas sama sekali olehnya.
Sedangkan dibangku belakang Al dan Luna ada Calista yang hendak duduk di samping Dinda.
Namun, tak lama Willy datang hendak duduk disamping Calista.
BRUGH
"Arghh," pekik Willy kaget kala El mendorongnya dan menduduki bangku di samping Calista.
"Lo apa- apaan sih?" marah El namun tak digubris oleh El.
"El lo ada masalah apa sih sama Willy?" tanya Calista yang melihat El tidak akur dengan Willy.
"Ini bangku gue, apa salahnya?" tanya Willy santai.
Calista hanya bisa menghela napas dan menatap Willy yang pergi menjauh dan duduk di belakang.
"Lo keterlaluan," gumam Calista yang pergi menghampiri Willy di bangku belakang.
Perlahan El menoleh ke belakang untuk melihat apa yang Calista lakukan.
Ternyata mereka malah duduk bersama di belakang.
__ADS_1
El yang sudah bad mood terlanjur tidur tanpa memedulikan yang lainnya.