
Dante dan El selesai bermain dan turun ke lantai bawah.
"Pa ma, koko di mana? Udah pulang belum?" tanya Dante saat melihat Sela dan Bara duduk santai di ruang keluarga.
"Ada tadi, mungkin di kamarnya," Dante kembali ke lantai atas untuk mencari kokonya.
Tak lama ia kembali lagi.
"Enggak ada ini ma," kata Dante saat tidak menemukan Al di kamarnya.
"Coba liat di lapangan basket belakang rumah Dan, koko kan hari minggu mau turnamen, siapa tahu latihan," kata El yang merebahkan kepalanya di pangkuan Sela.
"Iya juga," Dante langsung menuju belakang rumah untuk mencari kokonya.
"Tuh bocah satu kalau enggak liat kokonya enggak tenang bener perasaan," gumam Sela membuat El dan Bara terkekeh.
Dante sampai di belakang rumah dan benar saja terlihat Al sedang latihan basket.
"Ko," panggil Dante membuat Al menoleh sembari berkacak pinggang.
"Apa?" tanyanya.
"Udah malem, besok lagi latihannya," kata Dante sembari menghampiri Al yang berbaring di tengah lapangan.
Dante duduk di samping kokonya.
"Ko turnamennya hari minggu jam berapa?" Al menoleh menatap Dante intens.
"Pukul 9, kenapa?" tanyanya balik pada Dante.
"Enggak ada cuma nanya. Oh ya tadi koko sama Luna kemana?" sontak Al terdiam dan teringat pada Luna.
"Enggak jadi," jawab Al singkat lalu kembali bermain basket.
Dante mengangkat sebelah alisnya merasa ada sesuatu yang terjadi antara mereka.
"Kayaknya lagi berantem deh mereka," gumamnya pelan sembari menatap kokonya yang bermain tanpa henti.
Hampir 30 menit lamanya Dante menunggu Al bermain basket.
"Ko udah dong mainnya, Dante ngantuk nungguin koko," keluh Dante yang tidak kuat lagi untuk membuka matanya.
Al berhenti bermain lalu menoleh menatap Dante.
"Tidur duluan aja, nanti koko nyusul," katanya lalu kembali bermain basket.
Dante melirik jam tangannya, pukul 10 malam.
"Ini gue kayak bapak nungguin anak lagi main, mana mata gue udah lengket banget lagi," gumam Dante sembari berbaring di tepi lapangan menunggu kokonya.
Sedangkan Al bermain tanpa henti dengan pikiran yang dipenuhi oleh Luna.
Al tidak ada maksud untuk membuat Luna menunggu lama, apalagi berduaan bersama Aretha.
Bugh
Al memantulkan bolanya ke sembarang arah, ia terdiam sejenak.
"Tunggu- tunggu, Luna kesel lihat gue sama Aretha berduaan terus pergi gitu aja, itu artinya," Al menahan bibirnya untuk tidak tersenyum lebar.
"Luna cemburu sama Aretha, bukan?" jawab Al sendiri dengan senyum lebarnya.
Al membungkam mulutnya tak percaya, ia melompat- lompat kegirangan lalu menatap Dante yang terbaring di tepi lapangan.
"Andai dia masih bangun, pasti bakalan heboh kalau tahu soal ini," gumam Al.
Al tersenyum manis lalu mendekati Dante yang sudah tertidur pulas.
"Ko...,"
"Ssstt," kata Al saat Bara menghampiri keduanya.
"Astaga sampai tidur di sini," gumam Bara heran pada putra bungsunya.
"Papa kok belum tidur?" tanya Al pada Bara.
"Mamamu tadi nyuruh papa nungguin kalian," jawab Bara sembari berjongkok di samping Dante.
"Jangan dibangunin pa, biar koko bopong," kata Al melarang saat Bara akan membangunkannya.
"Emang kuat ko?" tanya Bara sembari mengejek Al.
"Gini- gini koko ikutan karate pa," kata Al membanggakan dirinya.
"Sama Luna juga?" Al menatapnya papanya sekilas lalu membopong Dante meski sedikit berat.
"Kadang kalau jodoh suka samaan hobinya," celetuk Al lalu pergi untuk membawa Dante masuk.
Bara tertawa mendengar jawaban Al.
"Emang bener, kalau buah jatuh enggak jauh dari pohonnya," gumam Bara saat ia menyadari sikap Al sama persis seperti dirinya.
.
.
Keesokan paginya Al berangkat lebih dulu untuk menyusul Luna seperti biasanya.
Bahkan Al berangkat pukul 6 dari rumah agar ia bisa menjemput Luna.
__ADS_1
Tak sampai 15 menit Al sudah sampai di depan tangga rumah Luna.
Al melihat Vino baru keluar dari dalam rumah dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
"Kak Al," sapa Vino pada Al.
"Kakak lo...,"
"Baru aja berangkat, emang enggak ngasih tahu kakak?" tanya balik Vino pada Al.
Al hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia buru- buru menaiki motornya untuk menuju ke sekolah.
"Mereka udah kayak suami istri lagi berantem aja," gumam Vino heran.
Sedangkan Al mengendarai motornya begitu cepat, apa Luna semarah itu padanya.
Brum brum brum
Al memasuki gerbang sekolah dan tepat dengan itu ia melihat Luna berjalan bersama Willy.
Buru- buru Al memarkirkan motornya agar ia bisa menghampiri Luna.
"Lun," panggil Al sembari meraih tangan Luna hingga berbalik ke arahnya.
"Gue mau ngomong bentar sama lo," kata Al sembari melirik sekilas Willy dan enggan melepaskan genggaman tangan Luna.
"Bentar Al aku ada urusan sama Willy, nanti aja ya," kata Luna yang melepaskan genggaman tangan Al dan pergi begitu saja bersama Willy.
Brum brum brum
Dante dan El baru saja tiba dan memarkirkan motornya di samping motor kokonya.
"Ko," panggil Dante menghampiri Al yang hendak pergi bukan ke kelasnya.
"Apa?" tanya Al dingin.
"Mau kemana? Kelasnya kan di sana," kata Dante membuat Al pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Dante.
"Koko mau kemana?" tanya El pada Dante.
"Enggak tahu ko, dari kemarin malem koko latihan basket sampai malem banget," kata Dante memberitahu El.
"Enggak biasanya koko main basket segitu lamanya," gumam El yang heran.
Keduanya lalu masuk ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
Begitupun Luna yang baru selesai dari ruang BK bersama Willy masuk ke dalam kelas bersama.
Mata Luna langsung tertuju pada bangku Al yang kosong.
Kemana dia?
"Lun, lo enggak tahu koko kemana?" tanya Dante pada Luna.
Tak lama pak Budi masuk dan pelajaran berlangsung tanpa Al di kelas.
Luna terus menatap ambang pintu berharap Al datang ke kelas.
"Pak Budinya di depan Lun, bukan di ambang pintu," sindir Aqila yang sejak tadi memperhatikan tatapan Luna.
"Apaan sih?" kesal Luna untuk menutupi rasa malunya karena ketahuan Aqila.
"Koko kemana sih?" tanya Dante pada El yang bisa didengar oleh Luna.
Luna yang merasa tidak fokus pada pelajaran ia berniat untuk pergi ke kamar mandi.
"Maaf pak saya mau izin ke kamar mandi," kata Luna membuat semua menatapnya.
"Iya silahkan," kata pak Budi membuat Luna langsung keluar kelas.
"Kira- kira kemana dia?" gumam Luna saat menyusuri lorong menuju kamar mandi.
Saat melewati lapangan basket khusus latihan, Luna tak sengaja melihat Al yang memantulkan bolanya.
Reflek Luna berhenti di tempatnya menatap Al yang kembali bermain sendiri.
Terlihat Al sudah begitu letih namun tak juga berhenti bermain.
"Al," Luna ikut menoleh mendengar suara tersebut.
Aretha.
Luna sedikit bersembunyi di balik dinding agar tidak ketahuan mereka berdua.
Terlihat Aretha memberikan sebotol air minum pada Al.
Namun, Al hanya menatapnya dan enggan untuk menerimanya.
Luna memutuskan untuk balik lagi ke kelas setelah melihat hal itu.
Daripada menganggu mereka berdua mending balik aja kan ke kelas pikirnya.
Sedangkan Al meraih tasnya dan pergi begitu saja dari lapangan tanpa memedulikan Aretha.
"Hihhh Al ngeselin banget sihh," kesal Aretha menghentakkan kakinya saat Al pergi begitu saja.
Tepat saat Al masuk bel istirahat berbunyi.
"Ko dari mana aja? Kok enggak masuk kelas?" tanya Dante saat Al masuk ke dalam kelas.
"Latihan basket," jawab Al singkat membuat Dante dan El mengangkat alisnya heran.
__ADS_1
Al hendak menghampiri bangku Luna namun Willy lebih cepat darinya.
"Ayo Lun," ajak Willy pada Luna. Luna langsung beranjak dari duduknya dan pergi lagi bersama Willy.
"Luna sama Willy kayak ada urusan penting aja pergi berdua mulu dari tadi," gumam Dante yang masih bisa didengar oleh Al.
"Jangan- jangan mereka diam- diam lagi ngurusin surat nikah nih," celetuk Dante membuat Al menoleh dan menatapnya tajam.
Puk
"Dasar mulut nakal, ngomongnya sembarangan," kata Dante sembari menepuk mulutnya dan pergi menjauh dari kokonya sebelum kena tendang.
Al keluar kelas lagi dan menuju lapangan basket.
Setiap dirinya kesal ia akan melampiaskan pada basket.
Bel masuk kedua sudah berbunyi, beberapa dari mereka bergerombol untuk masuk ke dalam kelas.
Begitupun Luna dan Willy yang baru selesai dari BK juga langsung menuju kelas.
"Lun entar belajar kelompok kan?" tanya Willy sembari berjalan.
"Hmm iya, tapi nanti nunggu Al ya," kata Luna sedikit ragu membuat Willy ada rasa cemburu.
"Emang harus banget ya nunggu Al, kan awalnya gue minta belajarnya cuma sama lo doang bukan sama Al," Luna berhenti berjalan lalu menatap Willy.
"Tapi Al penting buat aku," kata Luna yang keceplosan membuat Willy sedikit terkejut.
Karena malu, Luna langsung pergi meninggalkan Willy.
Willy hanya bisa menatap punggung kecil Luna yang perlahan menjauh darinya.
"Gue nyesel banget Lun dulu nglepas lo," gumamnya lirih lalu menyusul Luna ke kelas.
Luna masuk ke dalam kelas dan belum ada guru yang datang.
Luna tidak melihat Al di bangkunya lagi.
Apa dia kembali bermain basket, batin Luna.
Hingga pelajaran berakhir, Al tak kembali ke kelas.
Entah kenapa Luna merasa jika ini karena dirinya.
"Lun kita pulang duluan ya?" tanya Calista pada Luna.
"Iya," jawab Luna sembari menenteng tas ranselnya.
Willy menghampiri Luna untuk mengajaknya pulang bersama.
"Ayo pulang sekarang," kata Willy pada Luna.
Luna yang ragu, hanya mengangguk pelan dan berjalan keluar kelas.
Tepat saat ia keluar, Al berjalan kearah Luna.
"Lo seharian dari mana enggak masuk kelas?" tanya Willy yang tidak dihiraukan pada Al.
"Besok lo ada waktu luang enggak?" tanya Al pada Luna yang menatap arah lain.
"Lun jangan lupa besok, lo sama gue ada urusan," kata Willy mengingatkan pada Luna.
Seketika Luna teringat hal itu dan menatap Al tak enak hati.
"Maaf Al besok aku enggak bisa, emang ada apa?" tanya Luna penasaran karena sejak kemarin Al seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Enggak ada. Yaudah kalau gitu gue balik dulu," kata Al yang langsung balik badan dan melupakan sesuatu.
Ya, Al lupa seharusnya dia mengantar Luna pulang setelah kerja kelompok dari Willy.
Tapi sepertinya hari ini Luna akan pulang sendiri.
"Lun, Al enggak ikut ke rumah?" tanya Willy saat Al pamit pulang begitu saja.
"Enggak tahu, sibuk kali sama ceweknya," ketus Luna yang berjalan menuju gerbang sekolah.
"Nih dua orang aneh bener perasaan," gumam Willy heran pada sikap keduanya.
.
.
Sedangkan di BK kini Leyna sedang berhadapan dengan kepala sekolah, wali kelas dan juga guru BK.
"Leyna, hari ini kami bertiga sudah mendiskusikan tentang kondisi kamu. Dan hari ini kita akan memberitahu keputusannya," kata bu Jesy membuat Leyna meremas ujung roknya erat.
"Apa saya akan dikeluarkan pak?" tanya Leyna pelan dengan suara yang gemetar.
"Mungkin ini adalah keberuntungan bagimu untuk bisa melanjutkan hingga kelulusan nanti," secercah harapan seakan muncul di depan Leyna.
"Bapak kepala sekolah memberikan kesempatan padamu dan Damar untuk tetap mengikuti pelajaran biasanya hingga menjelang ujian sekolah tiba dengan syarat, kamu daring dari rumah begitu juga Damar,"
Mendadak eskpresi Leyna berubah, namun hal itu tidak masalah baginya karena artinya Leyna tidak dikeluarkan dari sekolah.
"Bagaimana Leyna, apa kamu setuju dengan keputusan ini untuk belajar dari rumah begitu juga Damar?" tanya bu Sari selaku wali kelasnya.
"Iya bu saya mau," jawab Leyna tegas tanpa ragu.
"Kalian akan daring dari rumah sekitar 2 minggu dan setelahnya ujian sekolah tiba, jadi bersabarlah dan ikuti daringnya dengan semangat dan untuk ujian prakteknya Leyna, kamu mungkin nanti akan ujian praktek yang mudah saja karena kamu sedang mengandung," kata bu Jesy memberitahu Leyna.
"Iya bu,".
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain ada seseorang yang sejak tadi mencuri pembicaraan mereka.
"Sial, bagaimana bisa Leyna tidak dikeluarkan dari sekolah. Ini enggak bisa dibiarin," guman Bianca yang lalu pergi entah kemana.