
Sedangkan itu, Bianca sudah sampai di kantor Adi.
Dengan cepat Bianca masuk ke dalam diantar oleh pengawal yang sedari tadi menunggu kedatangan Bianca.
Sesampainya di lantai atas, Bianca langsung masuk ke dalam ruangan Adi.
Ceklek
"Sayang," sapa Bianca membuat Adi tersenyum lebar dan langsung beranjak dari duduknya menghampiri Bianca.
"Apa aku menganggumu?" Adi menggelengkan kepalanya sembari menciumi leher Bianca.
"Apa yang ingin kamu lakukan sayang, di sini tidak banyak yang bisa kamu lakukan? Apa kupanggilkan spa ke sini?" Bianca menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, aku hanya ingin menemanimu," tolaknya sembari melonggarkan dasi Adi.
Adi langsung mengangkat tubuh Bianca ke atas meja kerjanya.
"Sayang," panggil Bianca yang mana tangannya sudah bereaksi.
"Iya," jawabnya dengan mata yang menatap lekat Bianca.
"Kudengar kemarin kamu bekerja sama dengan om Antorio ya?" Adi menaikkan sebelah alisnya.
"Dari mana kamu tahu?" Bianca yang keceplosan sontak langsung tersenyum.
"Maaf aku tidak sengaja mendengarnya," ucapnya sembari melepas dasi hitam tersebut.
"Lantas kenapa? Kamu mengenalnya?" Bianca menggelengkan kepalanya.
"Kapan kamu ada pertemuan dengannya? Aku ingin memberitahunya tentang sikap putranya," Adi menatap jam tangannya.
"Nanti siang dekat kantor untuk bahas proyek," Bianca hanya mengangguk lalu membuka kancing kemeja Adi.
"Boleh aku ikut?" Adi mengangguk sembari mencium sekilas leher jenjang Bianca.
"Memang apa yang putranya lakukan?" tanya Adi membuat Bianca kembali berpikir keras.
"Sedikit kurang mengenakan, jadi kurasa Antorio perlu menegurnya," Adi hanya mengangguk sembari merapatkan tubuhnya pada Bianca.
"Putra dan bapaknya sama saja, sama- sama suka ikut campur urusan orang lain," Bianca mengangguk setuju.
"Kenapa kamu mau bekerja sama dengannya? Karena Damar Leyna menjadi berubah seperti ini, dia bahkan berani melawanmu," pancing Bianca ingin tahu.
"Karena dia menawarkan tender besar padaku, bahkan ia juga memberikan keuntungan yang sangat besar sayang. Jika aku banyak mendapatkan keuntungan, uangnya untuk kamu," Bianca tersenyum lebar sembari meraba dada bidang Adi yang mana kini kemejanya sudah terbuka setengah.
"Apa kamu berniat menggodaku di sini?" Bianca hanya tersenyum sembari mengecup sekilas dada bidang Adi untuk memberikannya rangsangan.
Adi langsung menyambar bibir manis itu dengan sedikit kasar dan liar.
Bahkan Adi selalu menuntut dan tidak memberi ampun kala bibirnya bergulat membuat Bianca sempat kuwalahan.
"Enggh," erang Bianca kala Adi menggigit bibir bawahnya.
Adi kini membaringkan Bianca dan bermain puas pada bibirnya.
Adi dengan cepat mengangkat tubuh Bianca ke sofa dan menindihnya.
Bianca yang tadinya berencana untuk menggoda Antorio nantinya seketika langsung menghentikan aksi Adi.
"Sayang, jangan sekarang," tolaknya kala Adi hendak membuka bajunya.
"Aku sedang tidak enak badan,"Adi hanya tersenyum dan mengangguk.
Bukannya malah berhenti Adi malah mencumbu setiap jengkal tubuh Bianca membuat sang empu sangat dongkol.
__ADS_1
Tok tok
"****," umpat Adi membuat Bianca bersorak kesenangan.
Adi langsung bangun dari atas tubuh Bianca dan merapikan penampilannya.
"Masuk," pintanya membuat pintu terbuka.
"Maaf tuan sudah waktunya untuk bertemu tuan Antorio," Adi hanya mengangguk membuat Bianca tampak sangat senang.
"Aku ke kamar mandi bentar," Adi hanya mengangguk sembari memakai kembali dasinya.
Di dalam kamar mandi Bianca menatap warna kemerahan pada setiap jengkal lehernya.
"****, bapak tua ini benar- benar sangat gila," umpatnya sembari menutupi warna kemerahan itu dengan bedaknya.
Setelah penampilannya sudah kembali rapi Bianca keluar dan terlihat Adi tampak menunggunya.
"Ayo sayang," ajaknya membuat Bianca mengangguk dan langsung menggandeng tangan Adi.
Mereka lalu pergi ke restoran yang tak jauh dari kantor.
Sesampainya di restorannya Adi langsung memasuki ruang VVIP yang ia pesan.
Terlihat di sana ada Antorio yang tengah menunggu dirinya.
"Apa anda sudah menunggu lama?" sontak Antorio menoleh dan langsung berdiri menyambut kedatangan Adi.
"Tuan Adi, saya baru saja tiba," Adi hanya mengangguk lalu Bianca melemparkan senyum manisnya membuat Antorio hanya menatapnya sekilas.
Mereka lalu duduk bersama sembari menikmati menu makan siangnya.
Selesai makan kini Antorio dan Adi tampak mulai diskusi tentang proyek yang mereka bangun bersama.
Karena merasa gabut serta tak sabar untuk memulai rencananya, Bianca tanpa menunggu lama kini mulai melancarkan aksinya.
Antorio mendadak tak fokus karena kaki Bianca.
Bianca hanya menunduk berpura- pura melihat sosial medianya agar Adi tak curiga.
Sedangkan Antorio berusaha tenang dan bersikap biasa saja meski kini miliknya sudah benar- benar tak bisa dikondisikan.
"Ohhh iya tuan, benar kata anda itu akan sangat menguntungkan," Bianca tersenyum tipis kala Antorio hampir saja keceplosan mengeluarkan suara karena kakinya yang kini sudah sampai atas membelah pahanya.
Antorio lalu menahan kaki Bianca yang hampir saja sampai pada intinya.
"Kurasa kita harus melakukan observasi sebelum melakukan pembangunan awal dengan begitu kita bisa mengetahui seberapa besar perubahannya," Antorio hanya mengangguk pasalnya jika ia membuka suara bukan jawaban yang akan ia berikan melainkan suara *******.
Bianca mencoba memberontak agar cengkraman tangan Antorio pada tangannya terlepas.
Antorio tampak mengepalkan tangan kirinya kala kaki Bianca berhasil menekan intinya.
"Maaf apa boleh saya ke belakang sebentar perut saya sangat sakit," Adi lalu mempersilahkan membuat Antorio dengan cepat pergi dari sana.
Bianca lantas mencari ide untuk bisa menyusul Antorio.
Ia dengan sengaja memakan mochi di depannya lalu berpura- pura mual agar bisa beralasan ke belakang.
"Huk huk," Bianca berusaha berakting mual sesempurna mungkin membuat Adi seketika langsung mengajaknya ke belakang.
"Ayo sayang kita ke belakang," ajaknya namun Bianca tahan.
"Aku bisa sendiri, tetaplah di sini, Antorio akan mencarimu nanti," Adi dengan perasaan cemas hanya bisa mengangguk pasrah.
__ADS_1
Bianca lalu bergegas ke kamar mandi pria sebelum Antorio kembali.
"Ternyata Antorio tampan juga, bahkan pria tua bangka ini kalah jauh dengannya," gumamnya yang kini malah membandingkan Antorio dan Adi.
Bianca menunggu di depan kamar mandi yang tertutup tersebut yang mana ia yakini itu Antorio.
Ceklek
Antorio tampak terkejut dengan kedatangan Bianca ke kamar mandi.
"Apa yang kam..," Bianca langsung mendorong masuk Antorio.
"Apa kamu simpanannya tuan Adi? Bagaimana jika ia melihatnya?" Bianca hanya diam sembari meraba dada bidang kekar itu.
"Tenang saja, dia duduk tenang di sana," ucapnya sembari menggoda Antorio.
"Ini tidak benar, cepat kita keluar," ajaknya namun Bianca menahan lengannya dan langsung berjinjit mencium bibir seksi Antorio.
Brugh
"Apa yang kamu lakukan?" marah Antorio kala Bianca mencium bibirnya.
"Bukankah kita sama- sama menginginkannya?" tanya Bianca sembari menurunkan tali gaunnya.
Brugh
Antorio mendorong tubuh Bianca hingga menabrak dinding di belakangnya.
"Engghh," erang Antorio kala tangan Bianca dengan santainya memegang miliknya.
Antorio langsung menyambar bibir manis itu untuk menghentikan tangan Bianca di bawah sana.
Antorio mencengkeram kuat kepala Bianca dan mengulum kasar lidah Bianca.
Bianca tampak tersenyum kesenangan dan memeluk Antorio erat.
Perlahan Bianca menggiring Antorio untuk duduk di toilet duduk tersebut.
"Sudah kita hentik hmpp," Bianca langsung duduk di pangkuan Antorio dan melahap bibir seksi itu.
Bianca tampak menggoyangkan tubuhnya dengan lihai di atas pangkuan Antorio.
Bahkan ia menempelkan tubuhnya lekat pada tubuh Antorio.
Remasan pada rambut Antorio membuat Antorio terbuai dan melupakan sejenak Adi.
Cup
"Kita bisa melakukannya di rumahmu nanti," bisik Bianca di telinga Antorio lalu berdiri dari atas pangkuan Antorio.
Bianca merapikan kembali penampilannya dan terlihat Antorio sedikit kecewa karena tak mendapatkan puncaknya.
Bianca lalu keluar begitu saja sembari mengerlingkan matanya.
Antorio mengatur napasnya lalu membenahi penampilannya.
Bianca dengan cepat menghampiri Adi.
"Apa Antorio belum kembali?" Adi menggelengkan kepalanya sembari meraih pinggang Bianca.
"Apa sudah selesai mualnya?" Bianca mengangguk bersamaan dengan Antorio yang kembali dari kamar mandi.
Lantas keduanya kembali melanjutkan diskusinya dengan Bianca yang kembali menganggu Antorio.
__ADS_1
Kini Antorio tampak membiarkan kala kaki Bianca mempermainkan miliknya.
Pasalnya tadi Antorio tak mendapatkan kepuasan, alhasil ia membiarkan Bianca mempermainkan kakinya saat ini meski Antorio ingin sekali berteriak.