
Sedangkan di parkiran Dante masih sibuk berdebat dengan Aqila.
"Jadi, lo mau kemana?" tanya Dante bingung.
Bugh
"Kalau gue tahu gak bakalan ngajak lo buat jalan- jalan," marahnya karena kesal dengan Aqila.
"Ya tuhan sakit tahu," gumam Dante sembari mengusap- usap bahunya yang dipukul keras oleh Aqila.
"Yaudah buruan naik," kata Dante sembari memakaikan helmnya pada Aqila.
"Gue enggak mau pakai helm lo, berat pusing pala gue," kata Aqila menolak saat dipakaikan helm.
"Terus entar kalau lo jatuh terus kepala lo lepas mau diganti pakai ban serep? Di toko enggak jual kepala apalagi hati," omel Dante sembari merapikan rambut Aqila agar tidak rusak karena helmnya.
Aqila hanya bisa nurut dan naik ke atas motor Dante.
Dante yang baru menyalakan motornya tidak hentinya tersenyum.
"Lo enggak mau pegangan gitu? Gue mau ngebut," tawar Dante membuat Aqila memalingkan muka.
"Enggak," jawab Aqila singkat membuat Dante hanya mengangguk lalu melajukan motornya keluar sekolah.
Sekeluarnya dari sekolah, Dante menambahkan kecepatan motornya.
"Dante begooooo," teriak Aqila yang langsung mengeratkan pelukan di lingkaran perut Dante.
Dante hanya bisa tertawa puas melihat Aqila terus berteriak dan mencubiti perut sixpacknya.
Sampai akhirnya Dante kembali menyetabilkan kecepatan motornya untuk menikmati jalanan bersama Aqila.
Aqila terlihat begitu menikamti jalanan di siang hari ini.
Sampai pada akhirnya mereka sampai di tempat di mana Dante inginkan.
"Udah sampai," kata Dante sembari membantu Aqila turun dari motor.
"Kita ngapain kesini?" tanya Aqila sembari menatap sekitarnya.
"Ngemis," jawab Dante kesal sembari melepaskan helm Aqila dan merapikan rambutnya.
"Ayo," kata Dante menggandeng tangan Aqila untuk masuk ke dalam wahana tersebut.
Aqila yang tadinya bingung kini mendadak grogi gugup karena tangan Dante yang menarik lembut tangannya.
Setelah selesai membeli karcis mereka berdua masuk ke dalam.
Dante melihat wajah Aqila yang sekala berubah begitu berbinar melihat wahana permainan yang ada.
"Ayo- ayo buat kalian semua yang punya pasangan ataupun yang masih jomblo, buatlah permohonan di pohon ajaib ini, siapa tahu suatu saat nanti akan terkabul," teriak seorang pria paruh baya sembari memberikan selembar kertas dan bolpoin pada semua orang yang lewat.
"Ehhh," kata Aqila saat Dante menarik tangannya menuju pohon ajaib tersebut.
"Mas mau nulis juga?" tanya bapak itu dan diangguki olehnya.
Seketika mereka langsung diberikan note kecil dan bolpoin.
"Cepet tulis permohonan lo," kata Dante pada Aqila.
"Awas lo ngintip," kata Aqila sengit hingga membuat pria paruh baya itu tersenyum.
Setelah selesai menuliskan permohonan mereka harus memasukkanya ke dalam plastik dan menggantungnya di pohon.
"Apa permohonan lo?" tanya Dante pada Aqila.
"Rahasia," ketusnya lalu pergi meninggalkan Dante sendiri.
Dante hanya tersenyum lalu menyusul Aqila.
"Danteee ayo naik itu," teriak Aqila sembari menunjuk wahana yang ingin ia naiki.
Glek
"Mampus gue, niat kemari mau romantis- romantisan, ehh diajak jemput malaikat maut," gumam Dante sembari menatap ngeri orang- orang yang menaiki wahana itu berteriak dengan sangat histeris.
"Ayo tunggu apalagi," kata Aqila yang tak sabaran dan langsung menarik tangan Dante untuk segera naik wahana tersebut.
Dante mencoba menenangkan degub jantungnya dan kaki yang bergemetar.
"Masnya takut ya?" ejek bapak itu sembari memasang sabuk pengamannya.
"Enak aja takut, saya belum terbiasa aja naik ginian," katanya sembari melirik Aqila yang kini sedang tertawa mengejek dirinya.
"Udah siap?" tanya bapak itu pada semua penumpang.
"Pak- pak tunggu, ini beneran udah aman?"
"Udah mas, ini sangat erat kuncinya,"
"Siap semua?" tanyanya sekali lagi pada para penumpang.
"Pak- pak tunggu, bapak enggak mau ngecek sabuknya dulu gitu, atau kursinya siapa tahu longgar,"
"Enggak mas, mas tenang aja semua ini sudah diperiksa sebelum penumpang naik,"
"Siap semuaaa?"
"Siapppp,"
"Pak- pak tunggu,"
"Apalagi sehhhhhh," teriak semua penumpang yang sudah geram dengan tingkah Dante.
Aqila yang duduk di samping Dante sedari tadi terus memelototi Dante.
"Enggak cuma mau bilang, ayo buruan jalanin," kata Dante dengan suara gugup gemetar.
Perlahan wahana dijalankan hingga waktu puncaknya mereka seakan dilempar begitu jauh ke langit hingga Dante berteriak paling keras dari semua penumpang yang ada.
"Papa mama tolonggggggg Aqila ayo pulangg,"
Sedangkan Aqila hanya tertawa melihat wajah ketakutan Dante.
__ADS_1
"Bang cukup bang cukup,"
Setelah 5 menit dijalankan kini wahana sudah berhenti.
Aqila tak henti- hentinya tertawa melihat wajah kocak Dante.
"Lo beneran takut?" tanya Aqila pada Dante yang berjongkok di tanah.
"Enggak," jawabnya spontan tanpa memikirkan akibatnya.
"Ok kalau gitu lo berani enggak naik wahana itu," kata Aqila sembari menunjuk wahana yang ingin sekali ia naiki.
Deg
"Ya kalau ini namanya jemput maut sebelum waktunya," gumamnya lirih sembari menatap wahana tersebut.
"Ayo buruannn," kata Aqila dan kembali menarik tangan Dante untuk naik wahana tersebut.
Aqila dengan semangat 45 nya langsung duduk di bangku penumpang sedangkan Dante masih ragu dan takut untuk mengulangi hal yang sama yang mampu membuat organ dalamnya pindah tempat semua.
"Dante buruannn," panggil Aqila.
"Bang entar kalau gue udah naik, kalau pas mau jalanin pelan- pelan ya, soalnya pacar saya itu suka mabukan, jadi jangan kenceng- kenceng ya muternya?" kata Dante yang mencoba menegoisasi dengan penjaganya.
"Oh baik mas," Dante tersenyum lebar dan langsung naik di samping Aqila.
"Lo ngomong apa sama bapaknya?" Dante hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar.
Wahana mulai di jalankan hingga detik ketiga wahana itu semakin tak karuan.
"Ahhh bang pelan- pelan banggg," teriak Dante membuat Aqila tertawa.
"Dante buka matamu," teriak Aqila dengan sangat senang.
"Gue enggak mau, entar yang ada baru buka mata udah ada di surga," katanya sembari mencubiti kursinya dengan mata yang terus terpejam.
"Banggg berhenti bangg,"
"Bang tadi kita kan udah negoisasi, kenapa malah dikencengin terbangnya, saya sudah hampir tiba di surga ini," teriak Dante pada penjaganya.
"Maaf mas saya lupa ternyata enggak ada tombol slow nya, i' am sorry ya," kata bapak itu yang tertawa melihat wajah Dante.
"Ya tuhan pak bisa- bisanya anda bilang i' am sorry sedangkan saya hampir mati," teriak Dante yang membuat Aqila tidak bisa berhenti tertawa.
Aqila dan Dante sudah turun dari wahana dan bapak penjaga itu langsung menghampirinya.
"Mas enggak papa kan?" tanya bapak itu.
"Bapak udah berapa tahun kerja di sini?" tanya Dante yang malah wawancarai.
"Hampir 5 tahun," jawabnya singkat.
"Udah pernah nyoba belum jemput malaikat maut?" bapak itu menggelengkan kepalanya.
"Hehe kalau bisa jangan deh mas, saya sudah tua nanti dipanggilnya pelan- pelan aja, jangan lewat wahana ginian, enggak seru," jawabnya lalu pergi untuk menjalankan lagi wahana lainnya.
"Nih minum dulu," kata Aqila yang ikut berjongkok di depan Dante sembari membukakan botol minumannya.
Dante dengan cepat menghabiskan minumannya tanpa sisa.
Ya tuhan saya rela tiap hari jemput malaikat maut kalau Aqila bisa bersikap manis kayak gini, batin Dante.
"Kita naik wahana apalagi?" Aqila mengerutkan keningnya tanda ragu akan ucapan Dante.
"Kamu yakin?" Dante menganggukkan kepalanya.
Aqila dengan cepat langsung berlari untuk mengantri.
"Ya tuhan semoga aja kali ini gue bisa duduk tenang tanpa harus teriak- teriak," gumam Dante sembari menyusul Aqila yang sedang mengantri.
Dante tersenyum lebar kala Aqila antre wahana yang menurut Dante biasa aja.
"Kamu beneran mau naik ini?" Aqila mengangguk dengan sangat antusias.
Setelah mengantri akhirnya mereka masuk ke dalam dan duduk dibangku paling depan.
Dante melihat kanan kirinya karena ruangan begitu gelap sekali.
"La ini kita mau naik kereta apa lagi digua, kenapa gelap banget," tanya Dante yang merinding karena udaranya sangat dingin.
"Lah kan ini emang goa zombie," jawab Aqila santai namun mampu membuat Dante melotot meski tak terlihat karena ruangannya yang remang- remang.
"Ya tuhan ini namanya uji nyali setelah tadi menghindari mati," gumamnya sembari menggenggam erat tangan Aqila.
"Ihhh apaan sih lo pegangan gue," kata Aqila saat tangannya di genggam erat Dante.
"La lo bawa pampers yang biasa lo pakai kalau waktu dateng bulan enggak?" Aqila tertawa keras hingga semua menoleh.
"Buat apaan emang?" tanya Aqila penasaran.
"Gue takut entar kalau pas di dalem gue kencing gimana, perut gue udah mules sekarang," kata Dante merengek ingin memakai pampers.
"Ya enggak bisa dodol, itu dibuat untuk perempuan bukan laki- laki," kata Aqila bersamaan dengan wahana mulai dijalankan.
Dante terus berpegangan erat pada tangan Aqila.
Krekkkkk
Suara pintu dibuka dan kereta mulai dijalankan.
"Uwah uwah uwahh zombie ma pa,"
"Tolonggg siapapun keluarin keretanya,"
Aqila yang berada di samping Dante hanya bisa tertawa mendengar racauan Dante.
Setelah 7 menit mengelilingi goa zombie tersebut akhirnya mereka keluar juga.
Aqila dan Dante duduk di kursi dekat antrean tadi.
Mendadak Dante menjadi linglung dan setengah sadar.
"Dan lo masih sadar kan?" tanya Aqila sembari menepuk bahu Dante.
__ADS_1
"Lo tahu, mendadak organ tubuh gue acak dan pindah tempat," kata Dante membuat Aqila tertawa.
"Yaudah yuk kalau gitu pulang," katanya sembari menarik tangan Dante.
Dengan setengah linglung Dante akhirnya jalan untuk segera pulang.
"La gimana kalau kita pesen taksi aja, gue takut kita bukannya nyampe rumah malah pergi ke surga," kata Dante yang ngacau.
"Apaan sih enggaklah, entar gue deh boncengin kalau lo masih mabuk," kata Aqila sembari melihat kanan kirinya yang terdapat banyak para pedagang.
"Dante," kata Aqila yang tiba- tiba berhenti di depan Dante.
"Apa?" tanya Dante pelan sembari menatap Aqila.
"Naik wahana itu ya, sekali aja, habis itu pulang kok," kata Aqila memohon sembari menunjuk bianglala itu.
Dante hanya diam karena ia sedang mempertimbangkan antara sayang nyawanya atau Aqila.
"Boleh ya?" kata Aqila memohon dengan wajah yang menggemaskan.
"Iyadeh satu kali lagi," kata Dante membuat Aqila bersorak dan langsung naik bianglala cantik tersebut.
"Kalau naik ini dijamin lo enggak akan teriak ketakutan, ini cuma muter doang kok, lihat deh pemandangannya, bagus kan?" kata Aqila sembari menunjuk pemandangan dari atas.
Jleg
Aqila dan Dante saling menatap kala bianglala tersebut berhenti tepat di mana mereka berada paling atas.
"Kok macet?" tanya Dante.
"Biasany enggak kok," jawab Aqila santai.
"Jangan- jangan habis ini bianglalanya lepas lagi dari rodanya terus jalan- jalan di kota kayak film apa itu," sontak Aqila langsung tertawa membuat ranjangnya kembali bergoyang.
"Lo jangan ketawa, keranjangnya goyang- goyang nih," kata Dante sembari menggenggam erat tangan Aqila.
"Bang, kenapa macet gini? Gue besok masih ujian bang?" teriak Dante hingga membuat orang- orang di bawah sana mendongak ke atas.
"Bentar aja kok mas berhentinya, biar mas bisa lihat pemandangan dari atas juga," jawab penjaganya.
"Enggak perlu mas, tadi saya juga udah terbang ke langit sebelum naik ini,"
"Bang jangan gantung saya napa, besok saya masih ujian bang, cukup Aqila aja bang yang gantung perasaan saya," teriak Dante tanpa henti.
Aqila yang mendengar hal itu entah kenapa mendadak bulshit.
Jleg
Bianglalanya kembali berjalan membuat Dante bernafas lega.
Setelah 3 kali putaran mereka turun dan berniat untuk langsung pulang.
"Sini biar gue aja yang bawa motornya," kata Aqila yang hendak merebut kunci motor Dante.
"Gue pengin cepet pulang ke rumah bukan ke surga," kata Dante sembari memakaikan helmnya pada Aqila.
Setelah selesai memakaikan helmnya Dante melepaskan hoodie hitamnya.
"Nih pakai, udah sore dingin," katanya sembari memberikan hoodienya pada Aqila.
Aqila hanya diam dan memakai hoodie Dante lalu naik ke atas motor.
Tepat pukul 5 mereka sudah sampai di rumah masing- masing.
Dante buru- buru masuk rumah dan kepergok Sela yang duduk di ruang tamu.
"Adek kamu dari mana?" tanya Sela marah.
Mampus gue, ada koko lagi, masak iya gue bilang habis jalan- jalan sama Aqila, batin Dante sembari menghampiri Sela.
"Ma tadi Dante habis nganterin Aqila karena sakit terus ke rumah Arka," bohongnya sembari melirik El.
"Kok enggak bilang koko, enggak ngabarin mama lagi," kata Sela marah.
"Iya maaf Dante lupa," katanya sembari mencium kedua pipi Sela.
"Yaudah sana mandi dulu habis itu nanti makan malam," kata Sela sembari mengelap keringat Dante.
"Iya ma," Dante langsung pergi ke kamarnya.
Tapi bukannya mandi, Dante malah mencari bi Asih.
"Den Dante, ada apa?" tanya bi Asih ketika Dante pergi ke rumah belakang.
"Bi tolong kerokin Dante dong, Dante kayaknya masuk angin," katanya yang langsung melepas seragamnya.
"Loh jangan Den, nanti dimarahi nyonya, kita ke rumah sakit aja ya," kata bi Asih namun Dante menggelengkan kepalanya.
"Enggak bi, kerokin aja," paksanya membuat bi Asih mau tak mau ngerokin Dante gara- gara naik wahana sama Aqila.
Dasar bocah satu ini.
Katanya berani naik wahana itu, ehh enggak tahunya pulang- pulang minta dikerokin.
○○○
Sedangkan di gedung tua mereka sedang menunggu Leyna yang belum sadar dari pingsannya.
"Coba telpon bos," suruh temannya pada preman itu.
Ia hanya mengangguk lalu menelpon seseorang dibalik ini semua.
"Halo bos,"
"Gimana dia udah bangun?"
"Belum juga bos. Nanti mau diapakan dia bos?"
"Terserah kalian, mau kalian bunuh, atau kalian nikmati dulu tubuhnya,"
"Beneran boleh bos?"
"Ya terserah kalian, asal jangan sampai ada yang tahu,"
"Baik bos,"
__ADS_1
Panggilan berakhir, terlihat empat preman itu begitu senang dan bergembira mendengar ucapan bosnya.
"Gimana, kita gilir dulu ya?" mereka serentak mengangguk.