Sembunyi

Sembunyi
Best fuckin' day


__ADS_3

" Kau yang memulai ! "


Teriakan itu samar-samar menyambut kepulangan Cahaya dari sekolah . Jika bisa jujur , mungkin ini adalah salah satu hari 'TERBAIK' dalam hidupnya .


" Ya tuhan , apa aku tidak bisa tenang barang sedikit saja ? Apa itu terlalu mustahil untukku ? " Lirihnya dalam hati yang masih terluka .


Baru tadi pagi Cahaya mendapatkan luka , bahkan luka itu masih mengangga , namun sekarang tanpa terlihat sebuah tangan sebentar lagi akan menaburkan garam di sana , sempurna .


Pintu masih belum dibuka , ia masih di ambang pintu . Cahaya sedang mempersiapkan mental untuk menghadapi keributan yang sebentar lagi akan ia ambil alih .


" Kau siap nona ? apa kau harus mengambil nafas terlebih dahulu ? " Hibur Tonny .


Namun yang di tanya hanya menatap nanar gagang pintu yang sedang di genggam olehnya .


Pria tua ini bertanya apakah aku siap ? Apakah yang ia tanyakan adalah Mentalku yang sudah siap untuk dirusak lagi dan lagi ?


Hampir 10 detik ia menunggu , akhirnya sang sopir membuka pintu jahanam itu .


" Bagaimana aku tidak memulai jika kau yang memancingku terlebih dahulu ! "


Teriakan itu mulai jelas . Sepertinya keributan itu berasal dari ruang makan .


Cahaya sedikit mempercepat langkahnya . Suara dari sepatu pantofel itu semakin membesar kala ia berjalan .


" Tapi kau selalu membuatku emosi ."


Itu suara ibunya . Malikka March Benjamin .


Benjamin adalah nama keluarga ibunya . Malikka bahkan tak diizinkan oleh sang suami untuk mengecap ' Marga ' darinya .


" Bahkan untuk marah pun kau tidak mempunyai hak dirumah ini ! "


Lagi , ayahnya selalu MEMPERJELAS bahwa wanita yang ia nikahi tak pernah memiliki hak secuilpun didaerah kekuasaan milliknya .


Lihatlah , bahkan pria tak memiliki hati itu berbicara sambil berteriak . Wahh , apakah lelaki itu fikir ia sedang melakukan kampanye pemilu sekarang ?


Cahaya dengan santai melewati kedua orang itu tanpa menoleh sedikitpun . Hari ini sangat melelahkan , jangan sampai ia semakin membebani dirinya dengan hal tidak penting seperti saat ini .


Kedua orang itu tampak sedikit terdiam ketika anak manis itu berjalan membelah pertarungan sengit diantara keduanya .


Namun , tepat setelah kaki itu menampak gundukan tangga pertama , mereka kembali saling menyerang . Tepatnya , sang ayah .


" Berhenti membentak ibuku ! "

__ADS_1


Tangannya sudah mengepal . Buku-buku jarinyapun sudah memutihkan .


Semua maid dan pengawal yang tadi hanya berbaris takut kini semakin menundukkan kepala . Jika sudah begini , mereka benar-benar dalam masalah besar . Wanita kecil itu dapat dipastikan akan mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ia lihat .


Dengan jantung yang tak karuan arah , Cahaya berjalan mendekat , nafasnya sedikit sesak melihat ibunya yang hanya menunduk menahan tangis . Perlahan ia memberikan kode dengan memainkan mata kepada beberapa pengawal untuk berdiri tepat di belakang ayahnya .


Cahaya tau ini akan berakhir dengan kekerasan dan mustahil ia akan menang melawan ayahnya . Dirinya tak sehebat itu .


" Sehebat apa dirimu hingga berani membentak ibuku ? " Tatapannya mehunus tajam iris coklat milik sang ayah .


" Heii , apa ini yang diajarkan oleh ibu tercintamu saat dirumah ? dimana sopan santun mu ? "


Lelaki itu memeluk dirinya sendiri dan sedikit tersenyum . Ah , ini sangat menguji nyali .


" Aku hanya sopan kepada orang yang kuanggap memang pantas untuk hormati . "


Nada bicara Cahaya sedikit melunak sekarang . Ia sadar , ayahnya sedang memprovokasinya saat ini .


" Aku adalah ayahmu . " Salah satu alis itu terangkat , seolah mempertanyakan maksud dari jawaban wanita kecil di hadapannya ini .


Seketika Cahaya tertawa sumbang . Meskipun sedikit dipaksakan setidaknya sang ' ayah ' termakan oleh provokasi nya kali ini .


" Dan itu hanya status formalitas saja , jika kau lupa . "


" Bahkan aku lupa jika aku adalah ayahku , karena kau terlalu lama bersembunyi di ketiak jal*ngmu itu . "


Setelah berbicara itu , dengan cepat Cahaya mengedipkan mata . Seketika sang pengawal langsung maju menutup akses antara dirinya sang ayah .


" Jaga mulut kotormu itu , sialan . Kau masih kecil dan tidak tau apa-apa ! "


Ibu tercekat , beraninya sang putri mempermalukan sang ayah dengan berbagai rupa . Cahaya keterlaluan ,tapi - ia tidak salah . Ia memiliki darah ayahnya , jadi tidak heran jika Cahaya bisa mengimbangi ' Kegilaan ' ayahnya .


Ini benar-benar di luar dugaan , tapi Cahaya tak ingin ambil pusing . Harinya sangat kacau sekarang .


Sudah cukup , akhiri saja , tubuh dan hatinya butuh istirahat .


" Listen , Boy . Jika kau masih bersikap seperti ini lagi , aku tak akan segan-segan mengadukanmu pada kakek . Ini memang rumahmu , tapi teritorial ada di telapak tanganku . "


Cahaya memainkan kedua tangan dan membolak-balik untuk semakin memprovokasi ayahnya .


Ketika sang ayah sedang menggila untuk melepaskan pegangan dari para pengawal , Cahaya malah berteriak kaget .


"Arghhhhhh.... " Cahaya melotot sambil menutup mulut dengan kedua tangannya .

__ADS_1


Spontan saja semua mata tertuju padanya termasuk sang ayah yang memberhentikan sikap arogannya yang sedari tadi ingin terlepas dari para pengawal .


Bahkan salah satu pengawal pun mendekat , memastikan bahwa nona mudanya tidak apa-apa .


Perlahan salah satu tangan wanita itu menunjuk dan turun ke bawah kaki sang ayah . Ekspresi terkejut itu masih sama bahkan sangat meyakinkan . Dengan b*dohnya semua mata kembali mengikuti tunjukan wanita itu .


Dengan sigap Malikka berjalan dan mendekati kaki sang suami yang sedikit tertutup oleh kaki pengawal .


" Ada apa , Senja ? apa yang kau lihat katakan pada ibumu ? " Ujar Malikka dengan raut wajah khawatir .


" Aku . " Cahaya mejeda , lalu melanjutkan " Aku melihat . " Namun ia menghentikannya lagi . Seolah sedang menggelitik rasa ingin tahu ibunya itu .


" Melihat apa ? " Malikka malah semakin khawatir bahkan hampir saja embun itu turun begitu saja . Menjijikkan .


Bahkan ibunya masih memiliki waktu untuk mengkhawatirkan lelaki gila di depannya itu .


" Aku melihat harga diri lelaki brengsek itu terjatuh dan di injak-injak oleh pengawal , itu sangat memalukan . "


Semua tercekat , seolah seluruh pasokan oksigen di lahap habis oleh Cahaya seorang . Tak ada yang berani bersuara .


" Tak ada yang ingin tertawa ? padahal aku sedang berbaik hati untuk menghibur kalian . " Ujar wanita itu dengan santai .


" Bocah b*jingan ! si*lan ! kemari kau , Senja ! "


Bak banteng yang disuguhkan oleh sutra merah , ayahnya semakin menggila . Bahkan Cahaya tak membutuhkan tiket ke Spanyol untuk sekedar melihat ' BINATANG ' yang sedang mengamuk bukan ?


Cahaya yang beberapa langkah jauh di hadapan ayahnya tersenyum kecut mendengar penghinaan indah itu .


" I'm your daughter , Dude . Jangan berpura-pura lupa . Aku berani karena darah menjijikkanmu itu mengalir di tubuh malangku ini ."


Tak banyak pikir panjang Cahaya langsung menarik sang ibu dan pergi meninggalkan ayahnya .


Sedangkan sang ayah , jelas saja semakin menjadi-jadi dalam menghina ia dan ibunya . Wajahnya memerah , ia malu sekaligus marah .


Dalam waktu kurang dari 1 jam , ia sudah berhasil berkali-kali di permalukan oleh anak kecil didepan para ' babu ' bahkan parahnya ia tak bisa berbuat apa-apa .


Sebelum pergi , Cahaya sempat berkata pada salah satu pengawal yang mendekati dirinya saat berteriak tadi .


" Steven , jika lelaki itu belum pergi jaga ketat pintu kamarku dan ibuku , namun jika ia sudah pergi semakin perketan keamanan rumah agar ia tak pulang sekalian . "


" Aku menyesal selalu mengharapkan dia untuk pulang , pria b*jingan ." Rutuknya dalam diam sambil sesekali meneteskan air matanya .


...***...

__ADS_1


__ADS_2