
" Kau yang memulai ! "
Teriakan itu samar-samar menyambut kepulangan Cahaya dari sekolah . Jika bisa jujur , mungkin ini adalah salah satu hari 'TERBAIK' dalam hidupnya .
" Ya tuhan , apa aku tidak bisa tenang barang sedikit saja ? Apa itu terlalu mustahil untukku ? " Lirihnya dalam hati yang masih terluka .
Baru tadi pagi Cahaya mendapatkan luka , bahkan luka itu masih mengangga , namun sekarang tanpa terlihat sebuah tangan sebentar lagi akan menaburkan garam di sana , sempurna .
Pintu masih belum dibuka , ia masih di ambang pintu . Cahaya sedang mempersiapkan mental untuk menghadapi keributan yang sebentar lagi akan ia ambil alih .
" Kau siap nona ? apa kau harus mengambil nafas terlebih dahulu ? " Hibur Tonny .
Namun yang di tanya hanya menatap nanar gagang pintu yang sedang di genggam olehnya .
Pria tua ini bertanya apakah aku siap ? Apakah yang ia tanyakan adalah Mentalku yang sudah siap untuk dirusak lagi dan lagi ?
Hampir 10 detik ia menunggu , akhirnya sang sopir membuka pintu jahanam itu .
" Bagaimana aku tidak memulai jika kau yang memancingku terlebih dahulu ! "
Teriakan itu mulai jelas . Sepertinya keributan itu berasal dari ruang makan .
Cahaya sedikit mempercepat langkahnya . Suara dari sepatu pantofel itu semakin membesar kala ia berjalan .
" Tapi kau selalu membuatku emosi ."
Itu suara ibunya . Malikka March Benjamin .
Benjamin adalah nama keluarga ibunya . Malikka bahkan tak diizinkan oleh sang suami untuk mengecap ' Marga ' darinya .
" Bahkan untuk marah pun kau tidak mempunyai hak dirumah ini ! "
Lagi , ayahnya selalu MEMPERJELAS bahwa wanita yang ia nikahi tak pernah memiliki hak secuilpun didaerah kekuasaan milliknya .
Lihatlah , bahkan pria tak memiliki hati itu berbicara sambil berteriak . Wahh , apakah lelaki itu fikir ia sedang melakukan kampanye pemilu sekarang ?
Cahaya dengan santai melewati kedua orang itu tanpa menoleh sedikitpun . Hari ini sangat melelahkan , jangan sampai ia semakin membebani dirinya dengan hal tidak penting seperti saat ini .
Kedua orang itu tampak sedikit terdiam ketika anak manis itu berjalan membelah pertarungan sengit diantara keduanya .
Namun , tepat setelah kaki itu menampak gundukan tangga pertama , mereka kembali saling menyerang . Tepatnya , sang ayah .
" Berhenti membentak ibuku ! "
__ADS_1
Tangannya sudah mengepal . Buku-buku jarinyapun sudah memutihkan .
Semua maid dan pengawal yang tadi hanya berbaris takut kini semakin menundukkan kepala . Jika sudah begini , mereka benar-benar dalam masalah besar . Wanita kecil itu dapat dipastikan akan mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ia lihat .
Dengan jantung yang tak karuan arah , Cahaya berjalan mendekat , nafasnya sedikit sesak melihat ibunya yang hanya menunduk menahan tangis . Perlahan ia memberikan kode dengan memainkan mata kepada beberapa pengawal untuk berdiri tepat di belakang ayahnya .
Cahaya tau ini akan berakhir dengan kekerasan dan mustahil ia akan menang melawan ayahnya . Dirinya tak sehebat itu .
" Sehebat apa dirimu hingga berani membentak ibuku ? " Tatapannya mehunus tajam iris coklat milik sang ayah .
" Heii , apa ini yang diajarkan oleh ibu tercintamu saat dirumah ? dimana sopan santun mu ? "
Lelaki itu memeluk dirinya sendiri dan sedikit tersenyum . Ah , ini sangat menguji nyali .
" Aku hanya sopan kepada orang yang kuanggap memang pantas untuk hormati . "
Nada bicara Cahaya sedikit melunak sekarang . Ia sadar , ayahnya sedang memprovokasinya saat ini .
" Aku adalah ayahmu . " Salah satu alis itu terangkat , seolah mempertanyakan maksud dari jawaban wanita kecil di hadapannya ini .
Seketika Cahaya tertawa sumbang . Meskipun sedikit dipaksakan setidaknya sang ' ayah ' termakan oleh provokasi nya kali ini .
" Dan itu hanya status formalitas saja , jika kau lupa . "
" Bahkan aku lupa jika aku adalah ayahku , karena kau terlalu lama bersembunyi di ketiak jal*ngmu itu . "
Setelah berbicara itu , dengan cepat Cahaya mengedipkan mata . Seketika sang pengawal langsung maju menutup akses antara dirinya sang ayah .
" Jaga mulut kotormu itu , sialan . Kau masih kecil dan tidak tau apa-apa ! "
Ibu tercekat , beraninya sang putri mempermalukan sang ayah dengan berbagai rupa . Cahaya keterlaluan ,tapi - ia tidak salah . Ia memiliki darah ayahnya , jadi tidak heran jika Cahaya bisa mengimbangi ' Kegilaan ' ayahnya .
Ini benar-benar di luar dugaan , tapi Cahaya tak ingin ambil pusing . Harinya sangat kacau sekarang .
Sudah cukup , akhiri saja , tubuh dan hatinya butuh istirahat .
" Listen , Boy . Jika kau masih bersikap seperti ini lagi , aku tak akan segan-segan mengadukanmu pada kakek . Ini memang rumahmu , tapi teritorial ada di telapak tanganku . "
Cahaya memainkan kedua tangan dan membolak-balik untuk semakin memprovokasi ayahnya .
Ketika sang ayah sedang menggila untuk melepaskan pegangan dari para pengawal , Cahaya malah berteriak kaget .
"Arghhhhhh.... " Cahaya melotot sambil menutup mulut dengan kedua tangannya .
__ADS_1
Spontan saja semua mata tertuju padanya termasuk sang ayah yang memberhentikan sikap arogannya yang sedari tadi ingin terlepas dari para pengawal .
Bahkan salah satu pengawal pun mendekat , memastikan bahwa nona mudanya tidak apa-apa .
Perlahan salah satu tangan wanita itu menunjuk dan turun ke bawah kaki sang ayah . Ekspresi terkejut itu masih sama bahkan sangat meyakinkan . Dengan b*dohnya semua mata kembali mengikuti tunjukan wanita itu .
Dengan sigap Malikka berjalan dan mendekati kaki sang suami yang sedikit tertutup oleh kaki pengawal .
" Ada apa , Senja ? apa yang kau lihat katakan pada ibumu ? " Ujar Malikka dengan raut wajah khawatir .
" Aku . " Cahaya mejeda , lalu melanjutkan " Aku melihat . " Namun ia menghentikannya lagi . Seolah sedang menggelitik rasa ingin tahu ibunya itu .
" Melihat apa ? " Malikka malah semakin khawatir bahkan hampir saja embun itu turun begitu saja . Menjijikkan .
Bahkan ibunya masih memiliki waktu untuk mengkhawatirkan lelaki gila di depannya itu .
" Aku melihat harga diri lelaki brengsek itu terjatuh dan di injak-injak oleh pengawal , itu sangat memalukan . "
Semua tercekat , seolah seluruh pasokan oksigen di lahap habis oleh Cahaya seorang . Tak ada yang berani bersuara .
" Tak ada yang ingin tertawa ? padahal aku sedang berbaik hati untuk menghibur kalian . " Ujar wanita itu dengan santai .
" Bocah b*jingan ! si*lan ! kemari kau , Senja ! "
Bak banteng yang disuguhkan oleh sutra merah , ayahnya semakin menggila . Bahkan Cahaya tak membutuhkan tiket ke Spanyol untuk sekedar melihat ' BINATANG ' yang sedang mengamuk bukan ?
Cahaya yang beberapa langkah jauh di hadapan ayahnya tersenyum kecut mendengar penghinaan indah itu .
" I'm your daughter , Dude . Jangan berpura-pura lupa . Aku berani karena darah menjijikkanmu itu mengalir di tubuh malangku ini ."
Tak banyak pikir panjang Cahaya langsung menarik sang ibu dan pergi meninggalkan ayahnya .
Sedangkan sang ayah , jelas saja semakin menjadi-jadi dalam menghina ia dan ibunya . Wajahnya memerah , ia malu sekaligus marah .
Dalam waktu kurang dari 1 jam , ia sudah berhasil berkali-kali di permalukan oleh anak kecil didepan para ' babu ' bahkan parahnya ia tak bisa berbuat apa-apa .
Sebelum pergi , Cahaya sempat berkata pada salah satu pengawal yang mendekati dirinya saat berteriak tadi .
" Steven , jika lelaki itu belum pergi jaga ketat pintu kamarku dan ibuku , namun jika ia sudah pergi semakin perketan keamanan rumah agar ia tak pulang sekalian . "
" Aku menyesal selalu mengharapkan dia untuk pulang , pria b*jingan ." Rutuknya dalam diam sambil sesekali meneteskan air matanya .
...***...
__ADS_1