
Tak terasa pertengahan semester tiba , sama seperti sekolah umumnya , Nirwana International School (NIS)-pun semakin 'memperketat' sistem pembelajaran kepada para murid terutama untuk kelas 6 .
Mereka akan diajar dengan giat , bahkan tak segan-segan pihak sekolah menambah jam dan materi pelajaran untuk membantu murid dalam menghadapi ujian kelulusan nanti . Murid bahkan dituntut untuk masuk ke SMP bergengsi disini . Sebenarnya , NIS telah mencakup SD,SMP,SMA dan Kampus . Tapi tak semua murid berniat untuk 'kembali bergabung ' di sekolah yang sama .
Kedepannya murid akan benar-benar kehilangan jam 'bermain' mereka . Hal ini tentu saja sangat di benci murid , namun mereka tidak bisa apa-apa selain patuh dan tunduk terhadap sekolah . Terlebih , akan sangat mengerikan jika orang tua ikut andil dalam sistem pembelajarannya .
Siang ini Cahaya benar-benar direpotkan dengan berbagai macam tugas dari para guru . Matematika , Sastra , Bahasa dan Ilmu pengetahuan fuc*ing Alam . Iyuuuuuhhhhhh .
Ia bahkan harus secara suka rela menghabiskan waktunya di perpustakaan sekolah hanya untuk mencari jawaban dari tugas itu . Berjam-jam ia sudah mengobrak-abrik rak per rak disana .
" Demi tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang ! Perpustakaan ini bahkan melebihi hall Mall dan aku harus mencari jawaban disetiap buku satu per satu . "
Cahaya hampir berteriak ketika rak buku yang ia cari sangat penuh , tentu saja ia pasti membutuhkan waktu yang eksta untuk kembali berpetualang . Bagaimana mungkin para guru hanya memberikannya waktu sampai kelas istirahat tiba .
Ia frustasi . Bayangkan saja , dari 30 soal easy bahkan tak seperempat jawaban pun yang Cahaya temukan disini. Cahaya membenturkan kepalanya pelan ke rak buku yang tinggi menjulang hingga langit-langit atap .
Mata monolid itu terpejam . Kepala kecil itu seolah berputar-putar tidak pada porosnya . Setelah puas , Cahaya membalik badan dan merosot kan tubuh kecil itu di bagian pinggir rak .
Cahaya terduduk lemas . Kepala ia tundukkan di antara dengkul yang terlipat , kedua tangannya memeluk dengkul mulus itu seerat mungkin . Fikiran nya terpecah , sekolah - ibu - Dassa dan tentu saja nasib dirinya dimasa depan .
Tak lama ia terkekeh dan bergumam " Aku bahkan belum genap 17 tahun , tapi beban si*lan ini sangat menyakitkan punggungku ."
Tanpa ia komando , bulir bening itu mengalir deras . Ia akan selalu menangis setiap kali bertemu dengan sepi . Namun , kali ini ia biarkan saja dirinya menangis hingga puas , toh takkan ada orang yang menemukannya di rak terpojok di perpustakaan raksasa ini .
" Aku menemukanmu ." Suara khas setengah berbisik itu memasuki ruang telinga wanita manis yang sedang ' kesakitan ' itu .
Cahaya menghentikan tangisnya tapi ia belum mau menaikan kepala , Astaga Cahaya bahkan sampai hapal suara lelaki ini , Dassa Allaric .
Dassa berjalan beberapa langkah , dan bisa dirasakan bahwa ia sudah duduk berjongkok tepat didepannya . Tanpa sadar pipi tirus Cahaya memerah . Bahkan wajahnya memanas saat ini .
" Aku mencarimu kemana-mana , bahkan aku hampir menerobos toilet wanita hanya untuk mencarimu ." Dassa masih setengah berbisik mengingat mereka masih di perpustakaan sekarang .
__ADS_1
Hening , Namun Cahaya sudah berusaha menormalkan sesegukannya . Kekacauan dihatinya harus ia bereskan sekarang .
" Hei , are you ok ? " Suara anak lelaki itu sedikit khawatir . Dassa menyentuh kepala Cahaya dengan sangat hati-hati . Memberi kode kepada cahaya untuk mengangkat kepalanya .
Cahaya hanya mengangguk .
" No , it's ok if u not ok . Kadang kau memang harus menumpahkan semua air yang penuh untuk mendapatkan air yang lebih baru dan segar ." Dassa menarik tangannya dari kepala Cahaya , dan berdiri . Jujur saja , seketika Cahaya merasa kehilangan .
" Aku tak tau ini tepat atau tidak untuk bercerita , tapi ku fikir ada baiknya jika aku menghibur temanku sendiri . "
Cahaya fikir ia akan di tinggalkan , namun Dassa malah memilih untuk menghiburnya . Bahkan lelaki itu sekarang sudah duduk tepat di samping kirinya . Posisinya pun sama , lelaki itu juga memeluk kedua kakinya .
Karena tak tau respon seperti apa yang harus Cahaya berikan , akhirnya Cahaya memilih untuk kembali mengangguk .
" Dulu , aku sempat bertanya kepada ayah dan ibu kenapa pekerjaan mereka tidak sehebat pekerjaan orang tua temanku . Kau tau kan seperti , dewan dereksi , owner sebuah perusahaan , petinggi dalam negeri dan lainnya , mereka malah memilih untuk menjadi pelukis dan membuka galeri seni sendiri padahal pendidikan mereka tak bisa diremehkan . Maksudku , ayahku adalah lulusan MIT di - "
" Di antara Central dan Kendall Squares, dan di seberang Sungai Charles dari Back Bay Bost, Massachusetts, Amerika Serikat." Potong Cahaya lantang dengan suara serak khas orang habis menangis .
" Tapi , mereka bisa menjawab pertanyaan ku dengan sangat bijak ." Dassa menggantung ucapannya , terdiam dan memancing wanita bermata monolid itu , apakah ia tertarik atau tidak .
" Apa yang mereka katakan ? "
Dassa tersenyum karena mungkin niatnya menghibur cahaya akan terlaksana .
" Aku senang kau merespon , terima kasih . "
Ah sudahlah , Dassa memang tidak pernah serius jika berbicara dengannya .Cahaya mengangkat kepala dan menoleh pada Dassa , namun wajahnya sangat datar dan , dingin ?
Dassa membulatkan mata yang beriris hitam pekat itu . Apakah ia sudah salah berbicara ?
" Baiklah , aku teruskan . Sebelum itu bisakah teman ku yang manis ini tersenyum ? "
__ADS_1
' OH *** ! DIA MENGGODAKU SEKARANG ! SI*LAN ! DASSA SILAN ! '
Cahaya hanya bisa meraung-raung didalam hatinya . Kupu-kupu mulai terbang di perut kecilnya yang lapar . Wajahnya memerah seperti tomat . ME-MA-LU-KAN ! Catat itu !
Tanpa basa-basi Cahaya kembali menjatuhkan kepalanya di tumpukan dengkul itu . Cahaya tak mau Dassa melihatnya tersipu . APA , TERSIPU ? kenapa ia tersipu ? ARGGGHHHHHH...
" Kau mengabaikan ku , LAGI ? takkan ku teruskan . Sepertinya lebih baik aku kembali ke kelas saja ." Dassa berpura-pura berdiri . Tapi matanya masih terus memandangi Cahaya yang terduduk disebelahnya .
Dengan cepat ia mengangkat kepalanya lalu terpaksa tersenyum . Cahaya tak rela jika 'rasa nyaman'-nya pergi begitu saja .
" Bisa kau lebih iklas ? bahkan matamu masih melotot ."
Cahaya memutar bola mata lalu tersenyum , lagi .
" Lebih lebar !"
sekali lagi . Namun akhirnya ia memberikan senyum tulus untuk Dassa .
" Ya seperti ini , dan teruslah seperti ini . Ketika kau tersenyum , matamu yang unik itu sangat berhasil memberikan kesan hangat seperti musim semi . Astaga , Kau bahkan sehangat namamu , Senja . "
Dassa kembali duduk berjongkok dihadapan cahaya dan sedikit menyentuh ringan pelipis mata monolid itu . Entahlah , semerah apa wajah wanita itu saat ini .
" Bisa kau lanjutkan ? " Cahaya sudah tidak tahan . Dassa benar-benar menjadi pusat dunia untuk dirinya yang kehilangan arah .
" Haha , kau selalu saja serius ." sambil mengusap air mata yang mulai mengering di pipinya .
" Mereka mengatakan bahwa bisa saja mereka memiliki pekerjaan seperti itu . Tapi mereka tak ingin hidup terkurung di sangkar emas . Benar atau tidak hampir semua pelukis itu berjiwa bebas . Kedua orang tuaku tak suka jika hidup mereka terlalu ditekan , di kontrol dan lainnya . Lukisan adalah bagian dari luapan emosi pribadi yang mereka alami . "
" Apakah kau kecewa dengan keputusan mereka ? "
" Aku hanya anak kecil , mereka yang lebih paham jalan fikiran mereka sendiri . Selama itu tidak merugikan orang lain , aku akan selalu menyukai pekerjaan kedua orang tuaku ."
__ADS_1
...***...