
Cahaya mengedipkan matanya beberapa kali . Mulutnya masih setengah terbuka . Jujur saja , Cahaya syok mendengar cerita dari Hanni .
Demi SpongeBob SquarePants yang tak pernah akur dengan Squidward Quincy Tentacles ! Hanni sedang menangis tersedu - sedu sekarang .
Sudah berkali - kali wanita berponi itu mengucapkan maaf padanya . Padahal titik dari semua permasalahan ini ada pada dirinya - Cahaya Senja 'Maxmillan ' .
Bahkan baru setengah cerita pun , Hanni sudah sesegukan . Apalagi ketika ia menceritakan bagian bagaimana kacaunya Dassa yang mencarinya seperti orang gila - Oke , lupakan bahwa Dassa mencarinya seperti orang gila , karena itu tak pernah terjadi . Hanni hanya membuat suasana agar lebih dramatis . Itu saja .
Setelah pembicaraan selesai , Cahaya izin untuk pergi ke toilet .
Dari bilik toilet yang megah itu , Cahaya menahan tangisnya agar tidak pecah berserakan .
Gara-gara keegoisan sia*an ini , dirinya bisa melukai kedua teman terbaik dalam hidupnya . Entah kapan ia bisa mendapatkan teman sebaik mereka lagi .
Hatinya baru selesai di obati , namun seperti ada yang kembali menggerogoti sampai hatinya kembali terluka - bahkan , ini mungkin lebih parah .
Cahaya mencengkram kedua tangannya sampai kuku miliknya menancap sempurna diantara kulit berwarna eksotis itu . Biarlah , jiwanya lebih sakit sekarang .
Lama ia termenung . Merutuki betapa bodohnya ia karena terlena dengan perasaan kep*rat itu .
Jika saja ia lebih memilih untuk menghiraukan dan mendengarkan Dassa untuk tidak menjauh , mungkin mereka bertiga sedang duduk di kantin sekarang . Menyantap menu terbaik di Nirwana International School , lalu pergi ke timezone , menghabiskan waktu untuk berdebat beberapa hal yang tidak pernah usai .
Gosh , Cahaya merindukan itu .
Ia kembali tersenyum getir . Menangis pun tak akan merubah keadaan . Dirinya tau dimana kota asal lelaki sok misterius itu , tapi tidak dengan seluk - beluk nya .
Seketika , hatinya kembali teriris . Selama ini , hanya Dassa yang memperhatikan dirinya namun lelaki itu tidak mendapatkan timbal balik yang semestinya .
Perlahan ia berdiri . Kepala Cahaya dongakkan keatas , agar air matanya tak ada celah untuk keluar . Setelah dirasa sudah cukup , ia menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan sedikit kasar .
Ini berat , tapi harus di jalani , kan ?
...***...
Semua murid kelas 6 sudah sibuk dengan buku yang mereka pegang . Besok puncak dari ujian sekolah . Mereka hanya punya dua pilihan - nilai besar atau tidak sama sekali .
Nilai besar - Mereka akan selalu diajak ke semua pesta dan perjamuan makan yang sangat tidak penting oleh orang tua , memakai pakaian dan barang yang luar biasa mahalnya . Lalu orang tua akan memulai 'berpidato' tentang seberapa hebat keturunannya itu dalam menempuh pendidikan di Nirwana International School . Tugas sang anak cukup tersenyum elegan dan meladeni setiap pertanyaan dari kolega keluarganya .
Tidak sama sekali - Kebalikan dari 'nilai besar ' sang anak tidak akan pernah dianggap bernilai jika dari SD saja sudah tidak bisa mendapatkan nilai sempurna . Tak ada perkenalan di pesta atau dimanapun . Tak ada barang mewah , tak ada kasih sayang , dan lainnya . Ini , menyakitkan . Tapi , seperti itulah kehidupan para konglomerat .
__ADS_1
Meskipun pikirannya bercabang , tapi Cahaya masih bisa percaya diri dengan semua soal yang akan ia hadapi besok .
Ya , Cahaya bukan anak kebanggaan Nirwana International School , but hei - dia tak pernah keluar dari lingkaran 10 besar se-NIS . Catat itu .
Dengan malas ia membuka buku matematika . Besok , di hari pertama - matematika siap menyambutnya dengan tangan terbuka .
Cahaya tanpa sengaja membuka halaman 62 , tepatnya materi pengolahan data . Ia tersenyum kecut .
Dulu , Dassa membantunya menyelesaikan soal pengolahan data yang di berikan oleh Mr.Gellard . Tak bisa di pungkiri bahwa - lelaki itu cukup pintar dalam bermain angka .
Cahaya menutup matanya rapat . Bayang-bayang tentang kenangan lucu mereka kembali melekat . " Nakal ." Bisik nya serak pada diri sendiri .
Ia membuka halaman lain . Dirinya harus fokus , kekek menjanjikan seekor kuda ras Morgan jika ia tak keluar dari 5 besar di ujian nanti .
Tentu saja itu menggiurkan . Salah satu kuda dengan ras terkuat didunia . Hitam mencolok dan warnanya akan semakin ' berani ' jika tubuhnya terpapar sinar matahari .
" Ya tuhan , aku sangat bersemangat . Dengan hanya membayangkan berkuda dengan kuda itu sudah sangat menyenangkan . Apalagi jika aku benar - benar sudah memilikinya , kurasa aku akan tidur di kandang kuda selama sebulan . "
Cahaya menggosok kedua tangannya pertanda bahwa ia sudah tidak sabar . Ia terkikik geli setelah sadar dengan apa yang ia ucap barusan .
" Apa yang membuatmu tertawa sampai seperti orang gila ? " Hanni datang setelah membeli beberapa camilan untuk belajar .
Hanni mencebik sambil memegang poni itu . Dia diam dan tak mau berdebat lebih lebar .
" Apa kabar , Westlly Brother Company ? "
Terdengar helaan kasar namun tidak begitu keras dari mulut wanita di sebelahnya itu .
" Aku tidak tau harus berkata apa . Yang jelas ayah dan ibu ku terlihat lebih baik di banding saudara ayahku yang lain . Tapi , sepertinya ayah dan ibuku lebih sibuk sekarang , buktinya mereka sangat jarang terlihat dirumah . " Hanni sedikit merosot kan tubuhnya di kursi yang ia duduki .
" Mengurus pekerjaan tidak semudah mengurus kucing ras , Hanni . " Cahaya berusaha menenangkan wanita manja itu . Sudah cukup ia tertekan karena dirinya , sekarang Cahaya akan mencoba menghibur Hanni - Meskipun , itu tak membantu sama sekali .
" Ya , aku paham . Tapi , aku rindu mereka . "
" Astaga . Jangan memulai lagi , Hanni . Kita sudah cukup pusing beberapa hari yang lalu . "
Hanni hanya mengangguk tanda setuju .
__ADS_1
...***...
Dassa duduk sambil memelintir ujung bantal yang ia pegang . Matanya tertuju pada gorden yang tersingkap beberapa kali oleh belaian angin lalu kembali seperti semula .
Kamarnya nampak abu - abu . Bukan warna , tapi cuaca sedang mendung hari ini .
Pintu terketuk 3 kali , pertanda jika bukan Irina yang akan datang . Betty masuk dengan mendorong troli yang berisi menu makan siang .
" Makan siang anda , tuan . "
" Taruh di atas meja saja . Terima kasih ."
Betty mengangguk samar dan menata menu makan siang di atas meja belajar . Banyak menu yang di sajikan .
Kening lelaki manis itu mengkerut ketika melihat ada makanan pembuka dan penutup . Begitupun dengan minum . Betty menghidangkan air putih , susu kacang almond hingga - teh oolong ?
" Kenapa harus ada ini dan ini ? " Dassa turun dari kasur ketika melihat ada hidangan manis dimeja sambil menunjuk makanan yang ia maksud satu persatu .
Melihat sang tuan mendekat , Betty mundur beberapa langkah untuk memberi jarak agar Dassa lebih leluasa melihat menu yang ia sajikan . " Nyonya ingin agar tuan lebih banyak mendapat asupan gula . " Betty sedikit menunduk untuk menunjukkan rasa hormat .
Dassa melipat kedua tangan sambil menghadap Betty dengan senyuman sedikit mengejek .
" Apa aku terlihat selemah itu ? "
" Anda bahkan terlihat lebih pucat dari kemarin , tuan . "
" Ini bukan karena kekurangan gula . Ini karena dia yang membawaku pergi sana . Ibu mana yang tega membius anaknya sendiri demi kepentingan pribadi ? " Dassa sedikit berbicara dengan nada mencibir .
" Kepentingan pribadi , katamu ? "
Dassa hanya menaikan alis nya ketika melihat tubuh cantik Irina masuk dengan gaun yang sangat elegan .
" Ya ampun , dirumah saja dia berpakaian sangat formal . " Dassa sedikit berbisik pada Betty . Betty tak menyahut , ia bahkan masih menundukkan kepala .
" Aku mendengar mu , Dassa Allaric . "
" Itulah guna telinga , Irina Bexly . "
__ADS_1
" Hei , jangan hilangkan Allaric-nya . "
...***...