Sembunyi

Sembunyi
Hanni Sang DramaQueen


__ADS_3

Cahaya mengedipkan matanya beberapa kali . Mulutnya masih setengah terbuka . Jujur saja , Cahaya syok mendengar cerita dari Hanni .


Demi SpongeBob SquarePants yang tak pernah akur dengan Squidward Quincy Tentacles ! Hanni sedang menangis tersedu - sedu sekarang .


Sudah berkali - kali wanita berponi itu mengucapkan maaf padanya . Padahal titik dari semua permasalahan ini ada pada dirinya - Cahaya Senja 'Maxmillan ' .


Bahkan baru setengah cerita pun , Hanni sudah sesegukan . Apalagi ketika ia menceritakan bagian bagaimana kacaunya Dassa yang mencarinya seperti orang gila - Oke , lupakan bahwa Dassa mencarinya seperti orang gila , karena itu tak pernah terjadi . Hanni hanya membuat suasana agar lebih dramatis . Itu saja .


Setelah pembicaraan selesai , Cahaya izin untuk pergi ke toilet .


Dari bilik toilet yang megah itu , Cahaya menahan tangisnya agar tidak pecah berserakan .


Gara-gara keegoisan sia*an ini , dirinya bisa melukai kedua teman terbaik dalam hidupnya . Entah kapan ia bisa mendapatkan teman sebaik mereka lagi .


Hatinya baru selesai di obati , namun seperti ada yang kembali menggerogoti sampai hatinya kembali terluka - bahkan , ini mungkin lebih parah .


Cahaya mencengkram kedua tangannya sampai kuku miliknya menancap sempurna diantara kulit berwarna eksotis itu . Biarlah , jiwanya lebih sakit sekarang .


Lama ia termenung . Merutuki betapa bodohnya ia karena terlena dengan perasaan kep*rat itu .


Jika saja ia lebih memilih untuk menghiraukan dan mendengarkan Dassa untuk tidak menjauh , mungkin mereka bertiga sedang duduk di kantin sekarang . Menyantap menu terbaik di Nirwana International School , lalu pergi ke timezone , menghabiskan waktu untuk berdebat beberapa hal yang tidak pernah usai .


Gosh , Cahaya merindukan itu .


Ia kembali tersenyum getir . Menangis pun tak akan merubah keadaan . Dirinya tau dimana kota asal lelaki sok misterius itu , tapi tidak dengan seluk - beluk nya .


Seketika , hatinya kembali teriris . Selama ini , hanya Dassa yang memperhatikan dirinya namun lelaki itu tidak mendapatkan timbal balik yang semestinya .


Perlahan ia berdiri . Kepala Cahaya dongakkan keatas , agar air matanya tak ada celah untuk keluar . Setelah dirasa sudah cukup , ia menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan sedikit kasar .


Ini berat , tapi harus di jalani , kan ?


...***...


Semua murid kelas 6 sudah sibuk dengan buku yang mereka pegang . Besok puncak dari ujian sekolah . Mereka hanya punya dua pilihan - nilai besar atau tidak sama sekali .


Nilai besar - Mereka akan selalu diajak ke semua pesta dan perjamuan makan yang sangat tidak penting oleh orang tua , memakai pakaian dan barang yang luar biasa mahalnya . Lalu orang tua akan memulai 'berpidato' tentang seberapa hebat keturunannya itu dalam menempuh pendidikan di Nirwana International School . Tugas sang anak cukup tersenyum elegan dan meladeni setiap pertanyaan dari kolega keluarganya .


Tidak sama sekali - Kebalikan dari 'nilai besar ' sang anak tidak akan pernah dianggap bernilai jika dari SD saja sudah tidak bisa mendapatkan nilai sempurna . Tak ada perkenalan di pesta atau dimanapun . Tak ada barang mewah , tak ada kasih sayang , dan lainnya . Ini , menyakitkan . Tapi , seperti itulah kehidupan para konglomerat .

__ADS_1


Meskipun pikirannya bercabang , tapi Cahaya masih bisa percaya diri dengan semua soal yang akan ia hadapi besok .


Ya , Cahaya bukan anak kebanggaan Nirwana International School , but hei - dia tak pernah keluar dari lingkaran 10 besar se-NIS . Catat itu .


Dengan malas ia membuka buku matematika . Besok , di hari pertama - matematika siap menyambutnya dengan tangan terbuka .


Cahaya tanpa sengaja membuka halaman 62 , tepatnya materi pengolahan data . Ia tersenyum kecut .


Dulu , Dassa membantunya menyelesaikan soal pengolahan data yang di berikan oleh Mr.Gellard . Tak bisa di pungkiri bahwa - lelaki itu cukup pintar dalam bermain angka .


Cahaya menutup matanya rapat . Bayang-bayang tentang kenangan lucu mereka kembali melekat . " Nakal ." Bisik nya serak pada diri sendiri .


Ia membuka halaman lain . Dirinya harus fokus , kekek menjanjikan seekor kuda ras Morgan jika ia tak keluar dari 5 besar di ujian nanti .



Tentu saja itu menggiurkan . Salah satu kuda dengan ras terkuat didunia . Hitam mencolok dan warnanya akan semakin ' berani ' jika tubuhnya terpapar sinar matahari .


" Ya tuhan , aku sangat bersemangat . Dengan hanya membayangkan berkuda dengan kuda itu sudah sangat menyenangkan . Apalagi jika aku benar - benar sudah memilikinya , kurasa aku akan tidur di kandang kuda selama sebulan . "


Cahaya menggosok kedua tangannya pertanda bahwa ia sudah tidak sabar . Ia terkikik geli setelah sadar dengan apa yang ia ucap barusan .


" Apa yang membuatmu tertawa sampai seperti orang gila ? " Hanni datang setelah membeli beberapa camilan untuk belajar .


Hanni mencebik sambil memegang poni itu . Dia diam dan tak mau berdebat lebih lebar .


" Apa kabar , Westlly Brother Company ? "


Terdengar helaan kasar namun tidak begitu keras dari mulut wanita di sebelahnya itu .


" Aku tidak tau harus berkata apa . Yang jelas ayah dan ibu ku terlihat lebih baik di banding saudara ayahku yang lain . Tapi , sepertinya ayah dan ibuku lebih sibuk sekarang , buktinya mereka sangat jarang terlihat dirumah . " Hanni sedikit merosot kan tubuhnya di kursi yang ia duduki .


" Mengurus pekerjaan tidak semudah mengurus kucing ras , Hanni . " Cahaya berusaha menenangkan wanita manja itu . Sudah cukup ia tertekan karena dirinya , sekarang Cahaya akan mencoba menghibur Hanni - Meskipun , itu tak membantu sama sekali .


" Ya , aku paham . Tapi , aku rindu mereka . "


" Astaga . Jangan memulai lagi , Hanni . Kita sudah cukup pusing beberapa hari yang lalu . "


Hanni hanya mengangguk tanda setuju .

__ADS_1


...***...


Dassa duduk sambil memelintir ujung bantal yang ia pegang . Matanya tertuju pada gorden yang tersingkap beberapa kali oleh belaian angin lalu kembali seperti semula .


Kamarnya nampak abu - abu . Bukan warna , tapi cuaca sedang mendung hari ini .


Pintu terketuk 3 kali , pertanda jika bukan Irina yang akan datang . Betty masuk dengan mendorong troli yang berisi menu makan siang .


" Makan siang anda , tuan . "


" Taruh di atas meja saja . Terima kasih ."


Betty mengangguk samar dan menata menu makan siang di atas meja belajar . Banyak menu yang di sajikan .


Kening lelaki manis itu mengkerut ketika melihat ada makanan pembuka dan penutup . Begitupun dengan minum . Betty menghidangkan air putih , susu kacang almond hingga - teh oolong ?


" Kenapa harus ada ini dan ini ? " Dassa turun dari kasur ketika melihat ada hidangan manis dimeja sambil menunjuk makanan yang ia maksud satu persatu .


Melihat sang tuan mendekat , Betty mundur beberapa langkah untuk memberi jarak agar Dassa lebih leluasa melihat menu yang ia sajikan . " Nyonya ingin agar tuan lebih banyak mendapat asupan gula . " Betty sedikit menunduk untuk menunjukkan rasa hormat .


Dassa melipat kedua tangan sambil menghadap Betty dengan senyuman sedikit mengejek .


" Apa aku terlihat selemah itu ? "


" Anda bahkan terlihat lebih pucat dari kemarin , tuan . "


" Ini bukan karena kekurangan gula . Ini karena dia yang membawaku pergi sana . Ibu mana yang tega membius anaknya sendiri demi kepentingan pribadi ? " Dassa sedikit berbicara dengan nada mencibir .


" Kepentingan pribadi , katamu ? "


Dassa hanya menaikan alis nya ketika melihat tubuh cantik Irina masuk dengan gaun yang sangat elegan .



" Ya ampun , dirumah saja dia berpakaian sangat formal . " Dassa sedikit berbisik pada Betty . Betty tak menyahut , ia bahkan masih menundukkan kepala .


" Aku mendengar mu , Dassa Allaric . "


" Itulah guna telinga , Irina Bexly . "

__ADS_1


" Hei , jangan hilangkan Allaric-nya . "


...***...


__ADS_2