
Semenjak kejadian bertubi-tubi yang lalu , Cahaya jadi semakin ' Giat ' mengurung dirinya sendiri dikamar . Setidaknya kesunyian selalu berpihak padanya . Memeluk hingga lelap menjemput .
Disekolah pun ia semakin sibuk dengan dunianya sendiri . Bahkan Dassa dan Hanni ikut menjadi imbas dari luka di hati rapuh itu .
Namun hubungannya dengan Dassa , sejauh ini , bisa dikatakan baik-baik saja . Meski sebenarnya , hanya dari pihak Dassa saja yang pantas mengatakan hal tersebut .
Dassa bahkan masih bersikap seperti biasa , sedangkan Cahaya ? jangan ditanya . Ia bahkan uring-uringan mencari cara bagaimana bersikap biasa saja , terlepas dari rasa yang sedang Cahaya emban .
Kemarahan masih sangat mendominasi jiwa tak bersalah ini . Mood-pun masih tetap belum stabil . Sebenarnya , ia begitu mencintai ayahnya , namun ayahnya sendiri bahkan tak memiliki minat akan hidup yang ia jalani .
Lagi , dia tersenyum kecut .
Lamunannya melebur ketika Dassa menyembulkan kepala diujung pintu masuk .
" Apa aku datang terlalu pagi ? " Dassa memulai pembicaraan pagi ini dengan sedikit tersenyum .
" kau terlihat bersemangat . Apa ada kemajuan untuk hubunganmu dengan anak miskin itu ? " Nyeri , bahkan badannya merespons sangat gila tentang apa yang ia tanya barusan .
" Berhenti mengacaukan mood pagiku , girl . "
Ah , ya . Dassa pasti akan memasang badan untuk anak miskin itu .
Cahaya hanya mengidikan bahu dan membenarkan sedikit posisi duduknya . Dassa sedikit mendesah .
" Kau tau , kabar baiknya akhir-akhir ini aku lebih sedikit dekat dengan Nana , itu membuatku bersemangat . " Iris legam itu menatap langit-langit sekolah . Entah apa yang ia rencanakan saat ini sampai dirinya mau repot - repot untuk tersenyum seperti orang gila .
wanita bermata monolid itu memutar mata dengan malas , risih dengan pernyataan tersebut .
" Heii . Jangan mengejekku , setidaknya aku memiliki seseorang untuk ku sukai . Bagaiamana denganmu ? " Dassa menaik-naikan kedua alisnya .
JANGAN MEMULAI ! batinnya .
" Kenapa kau begitu berisik , seingatku kau adalah tipikal lelaki sok cool dan pendiam . "
" Ya , sampai-sampai kau mengira bahwa aku adalah penunggu sekolah ini , ewwww kau dan pikiran liarmu . "
Mereka tertawa , kemudian terdiam bersama . Lalu , tanpa sadar mereka sibuk menyelami pikiran masing-masing .
" Kau sudah menentukan sekolah menengah mana yang akan kau pilih ? " Dassa membuka suara baritonnya .
" Entahlah , aku tak begitu memikirkannya ."
Mereka kembali terdiam , hanya deru AC yang terdengar .
" Kau tidak ada niatan untuk bertanya balik padaku ? " Oh god , mengerutkan alis saja Dassa masih sangat menawan .
"Apa harus ? " Cahaya tak melirik Dassa yang ada didepannya , bahkan Cahaya sibuk melihat sana sini untuk mengalihkan pikirannya . Ia tau , ketampanan lelaki itu sungguh tak bisa diajak kompromi .
" Astaga kau begitu kaku , wajar saja tidak ada yang ingin berteman denganmu . " Ejeknya , " Kecuali aku yang manis nanti baik hati ini . " Ia menambahkan .
__ADS_1
Cahaya merespons dengan pura-pura akan muntah . Dasar , lelaki aneh .
...***...
" Apa yang sedang kau tulis ? "
Cahaya terkejut dan buru-buru menutup buku berwarna pink bermanik biru itu , Lalu tanpa BA-BI-BU Cahaya mendudukinya .
" Nothing , dan tidak penting . " Sahutnya dengan cepat . Cahaya mengusap-usap tengkuk yang tidak gatal sedikit pun .
Hanni sedikit menyipitkan kedua bola mata biru miliknya . Jujur saja Hanni sudah beberapa kali melihat Cahaya menulis di buku itu tapi ia tak pernah menggubrisnya , sampai dihari ini rasa penasaran itu semakin menjadi-jadi .
" Aku curiga . "
" Tentang ? " Jantung Cahaya semakin meronta-ronta didalam rongganya .
" Apa lagi jika bukan dengan tulisan yang ada di dalam buku manis yang kau sembunyikan itu . " Manik biru itu turun kearah buku yang sedang Cahaya duduki .
Cahaya gelagapan . Ia tak memperkirakan bahwa Hanni akan mengejutkannya . Ya , meskipun mereka satu bangku tapi Hanni tak pernah kepo dengan urusan pribadinya .
" Ba-bagaimana perusahaan keluargamu , aku dengar Xanderious Corp. akan mengakuisisi sebagian besar dari saham milik keluargamu ? "
Cahaya berpikir keras untuk mencari cara mengalihkan kecurigaan Hanni . Dan ya berhasil , wajah Hanni tiba-tiba berubah sendu ketika ia mendengar hal ' menyedihkan ' itu .
" Aku rasa , sepertinya sumpahmu benar-benar menjadi kenyataan . Perusahaan keluargaku sedang di ujung tombak sekarang . Bahkan Xanderious.Corp bisa menjadi pemegang saham utama . 70% saham sudah pasti di genggamannya . "
Hanni berusaha untuk tabah , namun air matanya mengalir begitu saja . Lalu tak lama ia menutupi kedua mata dengan tangan kemudian menangis tersedu-sedu .
" Suttttt .... jangan menangis , poni badaimu bisa rusak . " Cahaya berusaha menenangkan temannya itu , dengan usapan kecil di punggungnya .
Tak ada sahutan yang berarti selain suara tarik - menarik ingus disana .
" Aku ada solusi , apa kau mau mendengarkanku ? "
Tawaran Cahaya bak oasis dipadang pasir , tentu saja anak perempuan itu langsung angguk - anggukkan kepala dengan keras .
" Jika kau bangkrut , kau bisa berkerja menjadi tukang kebun dirumahku , kau tertarik ? "
Si*lan , Hanni tertipu . Ia kembali menangis tersedu-sedu olehnya .
" Ngomong-ngomong , siapa pemilik Xanderious.Corp ? "
" kau tau perusahaannya tapi kau tak tau pemiliknya ? " Alis Hanni mengkerut sedemikian rupa tanda ia sedang kebingungan saat ini .
" Itu diluar kapasitasku . " Jawabnya santai .
" Seharusnya kau tau . "
" Jika aku tau untuk apa aku bertanya padamu ."
__ADS_1
Hanni masih belum menuntaskan tangisnya .
" Jadi , siapa ? " Cahaya cukup penasaran .
" Aku- "
" Aku " Cahaya mengulangi perkataan Hanni dengan sabar .
" Aku juga tak tau ."
Jawaban yang sangat tak ingin Cahaya dengar , bahkan Cahaya memutar bola mata jengah .
" Ayah tak memberitahu ku perihal siapa pemilik Xanderious.Corp, dan ketika aku cari di internet , ternyata sangat sedikit info tentang perusahaan mereka . "
Cahaya masih sabar mendengarkan .
" Tapi , ada satu hal yang perlu kau tau . Ayahku berkata bahwa pewaris sah mereka ada di sekolah kita . "
Apa-apaan ini ? bahkan Cahaya tak terlihat terkejut sedikitpun .
" Siapa yang memiliki nama belakang Xander ? atau Ious , mungkin ? "
" Aku tidak dalam mood ingin bercanda , b*doh ! "
" Begitupun denganku , bi- " dengan gerakan refleks , Hanni menutup mulut Cahaya dengan kuat bahkan mereka hampir terjerebab di lantai .
" Jangan diteruskan perkataan hina itu atau aku akan menjambak rambut idiotmu itu . "
Tanpa di sangka dan di duga , Ari dan para dayang sudah berdiri di depan pintu kelas mereka .
" Aku tak berniat untuk menguping , tapi aku dengar kau akan menjambaknya ? apakah aku salah dengar ? " Ari berjalan diiringi para dayang dan sampai tepat depan hadapan mereka berdua .
" Apa harus aku bertaruh ? " Salah satu dari antek itu pun bersuara .
" Maka aku yakin , Hanni akan menang ." yang satu tepat di belakang Ari pun ikut menimpali .
" HAHAHAAHA " Tawa Ari dan teman - teman gengnya lepas begitu saja setelah dirasa puas mencibir Hanni Dan Cahaya .
" Tak bisakah kalian berhenti mengganggu Cahaya ? aku penasaran sebenarnya ada masalah apa diantara kau dan sahabatku ? " Geram Hanni , tangannya sudah mengepal .
" kenapa kau begitu penasaran ? " Ari maju dan duduk di meja .
" karena kau selalu mengganggu sahabatku . "
" Sahabat ? Sedekat apa , kenapa aku sedikit meragukan klaim-mu itu , Ms.Westly . " Ari sedikit menunduk untuk melihat lebih jelas wajah Hanni yang sudah sangat memerah .
" Cukup . " Cahaya membuka suara .
" kenapa cukup ? bahkan kita belum memulai , Ms.-"
__ADS_1
" CUKUP , KEPARAT ! "
...***...