
" Aku takkan berbicara banyak . Aku hanya ingin bilang kalau aku turut berduka cita "
" Aku juga ."
" Aku juga . "
" Begitupun aku ."
Satu persatu 'antek-antek' lelaki itu bersuara . Dassa hanya tersenyum kecut dan menganggukan kepala . Ia kembali membuka novel .
Ari pun segera bangkit dan pergi dari sana . Perlahan matanya melirik pada jam dinding yang tertancap di atas papan tulis putih di depannya .
07:12
" Come on . " Dassa memohon dalam hati . Ia benar -benar tak tau apa yang harus ia lakukan . Kekacauan ini sangat mengganggu fikiran nya .
Ia bahkan tak bisa berfikir jernih sejak kabar kematian ayahnya 2 hari yang lalu . Dassa seperti orang linglung . Masalah kecil seperti ini saja ia tak bisa untuk menyelesaikannya . Parah .
Pintu kelas terbuka . Lagi , Dassa memalingkan wajah manis itu melihat siapa yang membuka pintu . Dan ternyata , Hanni Westlly dan satu perempuan lagi yang entah siapa namanya , itu tidak penting .
Jantungnya dibuat maraton hanya sekedar memikirkan bagaimana jika nanti ia benar-benar berhadapan dengan wanita gila itu ? ralat , maksudnya wanita keras seperti Cahaya .
Dia sadar bahwa ia takkan pernah menang melawan logika Cahaya yang sungguh - Masuk akal ? Entahlah .
Hanni pun sama terkejutnya dengan Dassa . Wanita perponi itu langsung berlari dan duduk di sampingnya .
" Kau sudah masuk sekolah , hari ini ? "
" Itulah gunanya mata , Ms.Westlly . "
Hanni memukul kecil mulutnya , ia salah berucap lagi kali ini . Tanpa ingin memperpanjang ia bergeser dan duduk di kursi miliknya .
" Emm , Dassa . "
Dassa hanya melirik tanpa minat padanya . Kampret !
Hanni kembali duduk di bangku Cahaya sambil menekankan suara agar tak ada yang mendengarkan isi percakapan mereka . " Aku sudah untuk mencoba menelpon ponsel Cahaya tapi seperti katamu , Ponselnya tidak aktif . Lalu , aku coba menelpon nomor rumahnya , dan yang mengangkat malah seorang maid . "
" Apa katanya ? " Dassa masih terdengar tak berminat pada obrolan ini , padahal hatinya sangat menggebu-gebu ingin tau keadaan wanita bermata monolid itu .
" Mereka bilang kalau Cahaya benar-benar tak bisa di ganggu sekarang . Astaga , bahkan ia belum sah menjabat jadi CEO BENJAMIN LUXURY COMPANY , tapi lagaknya benar -benar sombong . " Hanni memijat jidat nya . Ia sangat tak mengerti dengan sifat Cahaya yang sangat semena - mena .
Dassa tak memberi respon . Ia kembali memutar wajahnya untuk menatap alpabeth yang merangkai indah di buku .
" Sudah coba mendatangi rumahnya ? "
" belum ." Hanni menggeleng pelan .
" Coba saja ."
" Kenapa tak kau saja ? " Hanni mengerutkan alis tipis itu . Dasar monster . Kerjanya hanya menyuruh orang .
__ADS_1
" Yang ada dia tak mau keluar , kau yang lebih tau posisi kami lebih dari siapapun, Hanni . Remember ? " Dassa sedikit menarik salah satu alis nya berusaha mengisyaratkan tentang kejadian beberapa hari yang lalu .
" Ya tuhan , jadi sekarang kau ingin memperalatku ? " Wanita cantik itu terlihat berang . Astaga , Cahaya dan Dassa sama saja , menganggap dirinya adalah babu mereka . Tidak sopan !
" Aku tak masalah jika kau beranggapan seperti itu . "
" Aku tidak mau ! " Hanni memalingkan muka sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya .
' Coba kau lihat aku , ini sebuah bentuk protes yang nyata , bodoh . Apa kau tak lihat ! ' Hanni berteriak didalam hati . Sepertinya ia tak mau lagi bertemu dengan Dassa .
" Maka hubunganku dengan Cahaya takkan menemukan titik temu yang ada hanya titik jenuh , Hanni . "
" Aku tak perduli . " Hanni masih dengan posisi yang sama.
" Aku tak punya teman selain dirimu , Hanni . " Suara Dassa terdengar melemah .
" Kau menggodaku ? " Hanni sedikit tersenyum miring melihat tingkah Dassa yang sangat ekstrim .
" Nope ! aku hanya merayumu sedikit . "
" Itu sama saja . "Hanni mengibaskan tangannya tanda ia tak setuju dengan argumen dari lelaki di sebelahnya itu .
" Tak apa jika kau beranggapan seperti itu . " Hanni langsung memalingkan wajah melihat Dassa lagi . Sekali lagi , ia di buat tercengang dengan kelakuan ajaib temannya itu .
" Kenapa kau sangat mudah untuk mengalah ? "
" Bukankah itu hal yang selalu wanita inginkan , hm ? "
...***...
Hanni menarik nafas pelan lalu menghembuskan dengan kasar . Ia sudah di sana sejak 15 menit yang lalu , tapi Hanni masih belum berani untuk keluar dari mobil .
" Apa lebih baik jika kau turun bersamaku , nona ? " Tawar sopir tua yang telah menjadi ' bagian ' dalam keluarga Westlly itu .
" Nope , Banin . Lututmu takkan kuat berdiri lama disana . " Ucap Hanni seraya menunjuk pagar tinggi nan kokoh berwarna perak dan keemasan di setiap bentuk bunga yang menjulang di depan .
" Aku masih 45 tahun , nona . "
" Whatever . Sekarang aku akan turun . Jangan kemana-mana . "
Banin hanya mengangguk . Sambil melihat nona kecil lucunya sedang berusaha memecahkan masalah yang sedang ia hadapi .
Hanni berjalan menuju pagar tinggi itu . Semakin dekat , jantungnya semakin ingin lari .
" Bahkan pagarnya saja mengalahkan benteng Takeshi . Dasar orang kaya yang suka pamer . Berapa uang yang telah ia keluarkan hanya untuk sebuah pagar ." Cibirnya .
Ketika sampai , seorang penjaga menghampiri . Astaga , wajahnya sangat mirip dengan preman di gang sempit .
" Ada yang bisa saya bantu , nonaaa- "
" Hanni , Hanni Westlly ." Hanni memotong dengan cepat , ia tau pasti penjaga itu ingin bertanya namanya .
__ADS_1
" Ok , Ms.Westlly . Apa yang bisa saya bantu ? " Sangat berbanding terbalik dengan wajahnya . Penjaga itu ternyata cukup bersahabat .
" Aku ingin bertemu dengan Cahaya . Apa dia ada dirumah ? "
" Sudah membuat janji temu ? "
' Aku berjanji , jika nanti aku bertemu denganmu , akan ku patahkan tulang lehermu , Cahaya . ' Hanni hampir stress , mereka yang punya masalah , tapi dirinya yang menjadi kambing hitam .
" Su-sudah . " Bibirnya bergetar , ia tak terbiasa untuk berbohong .
" Baiklah , aku akan antarkan sampai ke dalam . "
Sang penjaga membuka pagar itu dengan - remot ?! Ya tuhan , jadi apa tugas sebenarnya dari penjaga ini ? jika hal kecil seperti ini saja sudah menggunakan remot kontrol .
Ketika pagar terbuka , ia langsung masuk dan mengekori sang penjaga . Hingga akhirnya sampailah ia pada pintu tinggi yang sangat kaya akan ornamen cantik senada dengan warna pagar yang ia lewati tadi . Pahatan yang sangat - Sempurna .
Ketika pintu di buka dari dalam , Hanni sampai menahan nafas karena terkejut melihat isi rumah sang teman .
Apakah ini replika surga ?
Hanni bimbang untuk menginjak marmer mengkilat itu . Tak tega jika ia harus mengotorinya . Namun , mau tak mau dia harus masuk . Misi sia*an ini harus di selesaikan .
Seorang maid menyambutnya . Mengantarnya menuju ruang tamu yang bernuansa sangat manis dan mewah .
" Mulai sekarang aku takkan marah jika ia ingin merekrutku menjadi sekretarisnya dimasa depan . Astaga , bahkan warna emas wajib disetiap sudut interior rumahnya .
Dan tentu saja aku takkan aneh lagi tentang kemewahan ini . Maksudku , dia adalah bagian dari BENJAMIN LUXURY COMPANY . LUXURY !LUXURY ITU ARTINYA MEWAH ! "
Hanni masih berdialog di dalam hati . Tak tau lagi apa kata yang harus ia keluarkan ketika sudah menginjakan kaki dirumah sahabatnya itu .
" Maaf telah lama membuatmu menunggu , Ms.Westlly . "
Malikka datang entah dari mana . Ia langsung memeluk Hanni . Dan Hanni , untunglah dia sudah diajarkan bagaimana cara bersikap seperti seorang bangsawan .
" Tak apa , Tante . Aku juga baru sampai ."
" Silahkan duduk kalau begitu ." Malikka tersenyum sambil mempersilahkan Hanni untuk duduk .
" Aku tak menyangka bahwa klan Westlly ternyata adalah teman anakku . Dan , kau sangat manis . Aku suka ponimu ."
Hanni masih tersenyum elegan , ia mulai muak jika membicarakan urusan bisnis .
" Ngomong - ngomong , apakah Cahaya baik - baik saja ? dia sudah absen 2 hari . "
" ketika pulang sekolah , dia mendadak tak nafsu makan . mungkin dia terlalu stress untuk ujian sekolah . Selebihnya , Cahaya baik-baik saja ."
" Boleh aku - menjenguknya ? " Sejujurnya Hanni ragu untuk mengatakan itu , tapi itulah tujuan awalnya datang kemari .
" Maafkan aku , Ms.Westlly . Aku rasa Cahaya sedang tak ingin di ganggu . Aku harap kau bisa mengerti . "
__ADS_1
...***...