
Setelah memutuskan untuk membantu Cahaya mencari jawaban , akhirnya mereka bisa menyelesaikan tugas yang memusingkan itu . Bahkan sangkin pusingnya , disetiap kata yang Cahaya ucapkan terselip sebuah umpatan . Luar biasa .
Sudah berkali-kali Cahaya memergoki lelaki beriris legam itu tertawa kecil karena ulahnya . Namun ia biarkan , ini bisa menjadi kenangan tersendiri untuknya . Ya , kenangan .
Beberapa minggu kedepan mereka akan semakin fokus dalam belajar untuk menghadapi Ujian Sekolah dan sangat kecil kemungkinan untuk mereka berdua bersama-sama seperti ini . Ohh , maksudnya bertiga , jangan lupakan Hanni Westlly .
Mungkin setelah lulus , mereka akan berpisah . Menemukan sekolah terbaik sesuai kriteria mereka dan mungkin mereka akan saling melupakan setelah ini . Itu sedikit menyakitkan tapi memang itulah yang akan terjadi kedepan .
" Beberapa hari ini , aku tidak melihat Ms.Westlly bersamamu , kemanakah gerangan ? " Tanya Dassa sesaat setelah Cahaya memasukkan irisan tomat segar kedalam mulutnya .
Cahaya terdiam sejenak lalu kembali mengunyah . Mata coklat madu itu melirik kesana kemari seolah sedang menyusun kata . Setelah menelan tomat itu ia berdehem sebentar lalu membuka suara sambil sedikit berbisik dan mendekatkan diri pada Dassa yang ada didepannya .
" Akhir-akhir ini , Hanni sedikit frustasi . Tapi doakan saja semoga ia tidak gila . Kau tau kan rumor yang mengatakan bahwa Westlly Brother Company sedang mengalami krisis yang sangat luar biasa . Bahkan kabarnya , Xanderious.Corp ingin mengakuisisi 70% perusahaan keluarganya itu . "
Dassa hanya mengerenyit kan keningnya . Ia sedikit kebingungan dengan apa yang diucapkan Cahaya . Orang tuanya memang seniman tapi bukan berarti ia sangat buta mengenai urusan perusahaan .
" Untuk apa Xanderious.Corp ingin mengakuisisi sebanyak itu ? apa perusahaan Hanni sangat berpotensi ? "
" Aku sudah beberapa kali menanyakan hal itu pada kakekku tapi yang kakekku katakan bahwa ' is none of your bussines , baby ' Aku yakin pasti ada udang di balik bakwan . " Cahaya berbicara dengan mengikuti logat kakeknya .
Dassa hanya meng-OH .
" Lantas kenapa tak membujuk kakekmu untuk memberikan suntikan dana saja . Bukankah kau pintar dalam bidang negosiasi ."
" Jangan lupakan bahwa yang aku hadapi adalah seorang ' veteran ' dalam perusahaan , dude ."
" Ya , pasti ada alasan kenapa kakekmu tidak melakukan itu . "
Cahaya hanya mengangguk -angguk sambil membuka tutup minuman bersodanya .
" Lalu siapa pemilik Xanderious.Corp ? dari rumor yang aku dengar anak sang pemilik juga sekolah di NIS ? "
" Rumor ? apakah Xanderious.Corp juga menjadi berita hangat akhir-akhir ini ? Wahh sekolah kita penuh dengan rumor ternyata . "
Cahaya terkekeh kecil sambil meminum kembali minuman soda yang menyegarkan itu .
" Menurutmu siapa yang paling pas untuk dicurigai sebagai pewaris sah mereka di sini ? "
" Hanni ? " Dassa menebak asal.
" come on , dude ! Bahkan kita sedang membicarakan perusahaannya yang akan diakuisisi oleh pihak Xanderious.Corp . "
" Ari , mungkin ? "
__ADS_1
Cahaya mengangkat salah satu sudut bibirnya , dengan angkuh ia menjawab " Bahkan ia makan makanan sisa di mansion kakekku kemarin malam . "
" Watch your mouth , girl . Aku hanya menebak ."
" Apa tak ada nama orang lain selain parasit itu ? aku lebih suka jika kau menyebut nama Nani , Nanu , Nini atau siapa lah itu ketimbang nama anak si*lan itu ."
" Nana , Nana Jacson ." Sahut Dassa cepat .
Damn , Dassa bahkan sangat cepat menyambut nama anak miskin itu .
" Ya siapapun namanya ." Cahaya menjawab dengan wajah jutek . Suasana hatinya memburuk sekarang .
"Tapi kau tau jika Nana adalah anak penjaga sekolah , jadi itu tidak mungkin . "
" Aku juga hanya menebak , dude ."
Astaga , apakah ini akan berakhir saling melarikan diri seperti yang sudah - sud
ah karena topik yang tidak nyaman ini ?
Seketika nasi goreng yang baru beberapa suapan itu terlihat hambar dan memuakkan . Warna coklat keemasan nasi goreng itu malah tak menarik lagi . Nafsu makannya sudah hilang ketika Dassa menyebut nama anak penjaga sekolah itu . Nana Jackson .
Cahaya menghembuskan nafasnya kasar . Ia tak suka suasana ini . Baiklah , kali ini ia akan mengalah . Ia tak mau berdebat lebih panjang . Itu bisa merusak kedekatan mereka .
Cahaya mendorong kursi kebelakang dengan pelan , lalu berdiri dengan tenang . Dassa yang melihatnya tampak kebingungan .
" Aku sudah kenyang . " Tangan Cahaya sibuk memasukkan barangnya kedalam tas .
" Kau baru makan 3 suap , bahkan tomatmu masih bersisa 4 iris ." Dassa menunjuk tomat merah yang segar itu .
" Aku , kenyang . "
" Bagaimana denganku ? pesananku saja belum turun dari penggorengan . " Dassa setengah histeris tidak percaya .
Lalu ? apa maumu , sialan !
" Kau tak mau makan sendiri ? "
" Aku senang kau mengerti maksudku . "
Dassa tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya . Tubuhnya kembali rileks , terlihat dari bahunya yang perlahan kembali bersandar di kursi dan kedua tangannya terlipat di dada seperti semula .
" Haha .. kau menggemaskan , seperti anak anjing ." Cahaya mencubit salah satu pipi tirus lelaki manis itu.
__ADS_1
" Kau menghinaku ? "
" Astaga dimana letak aku menghinamu ? " Cahaya memutar kedua bola mata monolid-nya .
" Kau mengatakan bahwa aku anak anjing ."
" Itu pujian , orang Asia Timur biasa seperti itu . "
" tapi kita di Asia Tenggara ." Dassa mengeluarkan argumennya . Wajah se-cool ini dikatakan seperti anak anjing ? yang benar saja .
" Hanya indonesia dan malaysia yang mengatakan bahwa anjing itu tak baik ."
" Valerine ! " Tiba-tiba Cahaya berteriak .
Wanita yang sedang duduk di salah satu kursi kantin itu - menoleh . Cahaya melambaikan tangan memanggil anak wanita bersurai perak itu . Kantin seketika hening , termasuk teman-teman anak wanita bersurai perak yang ia panggil . Perasaan Dassa mulai tidak enak karena Valerine salah satu anak wanita yang sangat mengidolakannya disekolah .
Dengan malu-malu anak bersurai perak itu mendekat .
" Dassa mencarimu dari kemarin ." Ya tuhan , bahkan Cahaya tersenyum lebar ketika mengatakan kebohongan sebesar itu .
" Ke-kenapa ? "
" Ia ingin makan siang bersamamu , apakah kau mau ? "
mata valerine membesar , apakah ia sedang bermimpi ? Karena tak mau Dassa berubah fikiran , Valerine mengangguk tanda setuju .
" Ya tentu , tentu saja aku mau dengan senang hati , a-aku akan meng-mengambil makananku , tunggu sebentar ."
" No , tak perlu . Akan ku pesankan yang baru , dan Dassa akan mentraktirmu ."
" Nah , kurasa semua ' hal ' sudah selesai , kalau begitu aku permisi , nikmati makan siangmu , Mr.Alaric ." Cahaya sedikit menundukkan punggungnya lalu tersenyum licik pada lelaki itu . Dassa hanya terdiam , masih mencerna arti dari senyuman maut itu .
Ketika Valerine akan duduk di tempat duduknya , Cahaya kembali mengerjai Dassa .
"Oh , apa yang kau lakukan ? "
" aku ? aku akan duduk disini ." Muka Valerine memerah karena malu , apakah ia sedang di kerjai sekarang ?
" Ya kau akan duduk , tapi tidak disini ."
Cahaya berjalan dan menarik kursi disebelah dassa . Terdengar Dassa menghembuskan nafasnya pelan . Sepertinya ia sangat-sangat marah sekarang .
" tapi disini , valerine ."
__ADS_1
mulut Dassa terbuka bahkan hampir jatuh dibuatnya . tak habis fikir bahwa orang yang dia anggap teman tega menjebaknya seperti ini . Lain halnya dengan Valerine , gadis itu bahkan hampir melompat kegirangan karena rejeki yang tak terkira ini .
...***...