
tut...tut...tutt....
Banin menggeleng untuk yang keempat kalinya dalam waktu 20 menit terakhir . Hanni masih saja menatap penuh dengan harap .
Tadi ia sempat menelepon sang ayah melalui ponsel pribadi , tapi yang mengangkat adalah seketaris ayah . Katanya , ayahnya benar-benar tak bisa diganggu saat ini . Ayolah , bahkan anak manis seperti Hanni tidak di perkenankan untuk menyapa .
Hanni mencari cara sedari tadi sampai sebuah ide masuk kedalam otak kecilnya . Ia berlari sekuat tenaga mencari Banin diseluruh penjuru rumah . Banin yang sedang makan pisang goreng ditemani secangkir kopi pekat itu menoleh ketika Hanni menariknya dengan kuat .
" Banin , ikut aku . Ayo . "
" Kemana , nona ? Kau tidak punya jadwal apapun hari ini . "
" Ayo ikut saja . "
Banin masih menahan tubuh besarnya untuk tidak berdiri . Astaga , entah kenapa pisang goreng terlihat sangat menggoda sore ini . Dia tak rela jika meninggalkan pisang goreng malang itu begitu saja .
" Kenapa tidak meminta tolong pada seorang maid , hmm ? " Ujarnya sedikit lembut . ketika pada akhirnya Banin mengalah dan dengan terpaksa ia ikut berdiri . Awas saja jika tidak terlalu penting .
Hanni tak menjawab , dia masih sibuk menyeret Banin menuju lantai dua dan berhenti tepat di depan pintu berpelitur sederhana . Itu adalah ruang kerja . Hanni menekan gagang pintu dan pintu terbuka . Mereka masuk , Hanni duduk di sofa .
Banin masih berdiri kikuk , menunggu perintah apa yang akan ia laksanakan .
" Hubungi ayahku . " Suara Hanni terdengar sedikit menuntut tapi juga terdengar sedikit kacau dalam waktu yang bersamaan .
" Kena- "
" Ayahku tidak menggajimu untuk membantahku , Banin ! " Suaranya meninggi , bisa dikatakan bahwa anak manis itu sedang berteriak . Dia tak marah , karena Banin rasa Hanni sangat membutuhkan kehadiran orang tuanya saat ini .
' YA , AKU MEMANG DIGAJI UNTUK TIDAK MEMBANTAH JIKA ITU BERHUBUNGAN DENGAN PERKERJAANKU SELAKU SOPIR . APA KAU TAU SOPIR , NONA ? SOPIR BERTUGAS HANYA UNTUK MENGENDARAI MOBIL DAN MENGANTAR MAJIKANNYA ! DAN KAU MENYURUHKU UNTUK MENGHUBUNGI AYAHMU ?! ITU DILUAR TUGASKU ! KAU GILA . GADIS GILA ! '
" Baik , nona . " Dari banyaknya umpatan yang berada diujung lidah , Banin memilih untuk menjawab dengan patuh .
__ADS_1
Lelaki itu berjalan dan memegang gagang telepon rumah . Pergerakan Banin terhenti lalu melirik sedikit kearah Hanni yang masih duduk disofa dengan mata tajam . Malah ia terlihat sangat lucu . Pipi yang disengaja mengembang dan bibir mengerucut . Menggemaskan .
" Apa ?! " Hardiknya dengan suara yang masih tinggi . Pikiran Hanni cukup kacau sekarang . Bahkan , sejak tadi dirinya sudah uring-uringan dikamar . Ia begitu merindukan sebuah pelukan ! Sialan .
" Kenapa tidak menghubungi melalui ponsel pribadi saja , nona ? " Banin masih berusaha untuk bernegosiasi , siapa tau anak manis didepannya saat ini akan tertarik , bukan ?!
" Aku takkan berada disini jika hal itu berhasil . " Hanni melempar badannya ke sandaran sofa . Ia berpura-pura merajuk , rencananya takkan berhasil jika Banin selalu merecoki .
Banin sedikit mengangguk . Ia mulai menggerakkan jari untuk menekan setiap seri nomor . Lalu ia kembali berhenti .
" Apa lagi ? "
" Aku bahkan tak tau nomor yang harus aku hubungi , nona .Setidaknya beri aku nomor kantor atau perusahaan ayahmu . " Banin sedikit meringis ketika mengatakan itu . Jujur saja , apa yang sedang ia lakukan di depan telepon ini sekarang ? ia bahkan lebih buruk dibanding orang idiot yang selalu mengeluarkan liur dari mulutnya .
Alis Hanni sedikit bertaut . Banin benar , seharusnya Hanni memberikan setidaknya satu nomor untuk di hubungi . Astaga . " Kau harus menghapalnya mulai sekarang . " Hanni tak mau malu , meskipun pipinya sudah sangat panas .
" Apa itu harus ? "
' KAN katanya ? kau menambah beban hidupku ! '
"Tidak sama sekali , nona . " Banin tersenyum dan menggeleng . Ia kembali nenatap seri angka yang ada di sana . Sialan , apa yang harus dia lakukan sekarang ? Dan tentu saja senyumannya sangat hampa .
Ia memejamkan mata . " Ayo otakku yang seksi , tunjukkan pesonamu . " Ujarnya pelan memuji kepalanya agar bisa berbelas kasih . Dia pernah menghubungi kantor Akkram beberapa kali beberapa minggu yang lalu .
Sebuah keajaiban turun dari tuhan yang maha agung , tiba-tiba dia mengingat satu nomor , matanya berbinar dan langsung menekan angka itu satu persatu dengan sangat lancar hingga suara tersambung terdengar .
Hanni yang melihat itu langsung melompat dari sofa . Dia terlalu bersemangat sampai menyandung kaki meja didepannya . Sudah dua bulan orang tuanya menghilang tanpa kabar sama sekali . Tak perduli , Hanni langsung menarik tangan Banin pelan dan ikut menempelkan telinga di gagang telepon itu .
" Apa aku yakin ini nomornya ? " Bahkan Hanni berbicara dengan berbisik pelan sambil melirik Banin dengan was-was .
Banin mengangguk dan tersenyum . Ya , tak salah jika dirinya memanfaatkan Banin . Lelaki itu memang selalu bisa diandalkan .
__ADS_1
...BANIN IS THE BEST !...
Alisnya berkerut . Hanni akui , ia cukup tegang . Lalu telepon diangkat .
" Selamat siang . Ada yang bisa saya bantu ? " Hanni tanpa sadar mencengkram baju Banin dengan sangat kuat sampai lelaki itu sedikit menunduk dibuatnya .
" Ya , selamat siang . Maaf , bisa hubungkan aku dengan tuan Akkram Bruneo Wetlly ? "
" Maaf ? " Satu kata itu membuat mereka berdua menegang . Orang itu tuli atau apa ? Dia tidak tau Akkram ?! Yang benar saja .
" Apakah ini resepsionis Westlly Brother Company ? "
" Ah ... Maaf mengecewakanmu , tapi ini bengkel mobil ' WOW .. KEREN SEKALI ' , tuan . Anda salah sambung . " Hanni langsung luruh di lantai , kepalanya terduduk . Tangannya terkepal tapi pegangan di ujung baju Banin masih terjaga - dengan sangat baik .
" Astaga , aku minta maaf . Aku mengingat nomor ini karena aku sering menelepon untuk service berkala disana . " Banin sudah akan tertawa terbahak tapi ia juga merasa sedang dibawah ancaman seorang psikopat sekarang . Dia merasakan dua sensasi yang berbeda dalam satu waktu .
" Tak apa . Lalu , apakah anda tertarik dengan promo kami untuk bulan ini ? Kau bisa gratis ganti oli jika kau mengganti ban baru disini . "
" Akan aku pertimbangkan . Sekali lagi maaf . " Banin menutup telepon itu tanpa persetujuan dari pihak bengkel ' WOW .. KEREN SEKALI ' itu .
Jarinya bertaut . Sial , rasa geli di perutnya sungguh menggelitik untuk berhamburan keluar . Bibirnya tak bisa diajak kerja sama untuk tidak tersenyum sekalipun ia sudah mengulum bibir .
" Bahkan mereka mengajukan promo padamu untuk bulan ini . " Hanni masih tertunduk . Astaga , suasana macam apa ini ?
Banin memalingkan wajahnya kesamping . Ia berusaha menggigit daging pipi dalamnya . Matanya terpejam , ia ingin meledak . Dirinya harus tahan . Pekerja macam apa dirinya jika tertawa melihat tuan yang ' memelihara ' mereka dalam kesusahan ? Itu.Sungguh.Tak.Masuk.Akal !
" Aku akan menghancurkan bengkel sialan itu . " Ia berdiri dengan penuh tekat , dan segera berbalik meninggalkan Banin sendiri . Suara pintu terbanting terdengar sangat nyaring di ujung telinganya .
Banin langsung terduduk lemas dan tertawa sejadi-jadinya . Sedari tadi kaki itu sudah tak mampu lagi untuk menahan beban tubuhnya sendiri .
...***...
__ADS_1