
Kaki wanita kecil itu terpaku ketika ia tepat didepan pintu rumahnya . Pintu yang kaya akan ornamen bernuansa putih dan emas itu sangat memanjakan mata , namun tidak akan pernah berlaku oleh sang anak pemiliknya , Cahaya .
" Tonny . " Tonny yang ada di belakangnya sedikit memajukan diri untuk lebih jernih mendengar apa yang akan diucapkan oleh anak kecil itu .
" Apakah kau sampai saat ini masih tetap terkesan setiap melihat ornamen murahan yang tertempel di pintu jelek ini ? "
Setelah yakin dengan apa yang di tanyakan ,Tonny malah terlihat gelagapan menjawab pertanyaan semudah ini . Matanya melirik kiri-kanan , mencari jawaban apa yang harus ia berikan .
Cahaya memang anak SD tapi pemikirannya mungkin lebih jauh tinggi di banding teman sebayanya . Teman ? Ah , Tonny lupa sebuah kenyataan bahwa Nona-nya tidak pernah mempunyai teman .
" Kenapa kau diam ? Aku bertanya padamu , sopir tua . " Cahaya lalu memiring sedikit badannya untuk melihat respons seperti apa yang akan Tonny berikan .
" Aku baru berusia 35 tahun , nona . Jika anda lupa . " ia sedikit menundukkan kepalanya agar bisa lebih mudah melihat mahluk manis itu .
" Dan harus aku tekankan bahwa kau akan 45 tahun untuk 10 tahun kedepan ketika aku berumur 21 tahun . "
Cahaya mengucapkan perkataan itu dengan sangat mulus . Sepertinya ia benar-benar telah memperhitungkan jawaban apa yang akan Tonny berikan .
" Ya , aku akan setua itu untuk 10 tahun kedepan ." Baiklah , Tonny tak akan pernah menang darinya . Ah , ini sedikit melukai harga diri .
" Dan jika boleh aku jujur , sebenarnya aku penasaran apakah kau akan sampai di usia yang kita bicarakan barusan . " Cahaya mengulum bibirnya menahan tawa ketika melihat ekspresi yang ia harapkan . Sopir sialan suruhan ayahnya itu terkejut dengan argumennya .
" Ma-maksudmu , nona ? " Tonny sedikit menaikan nada bicaranya , bagaimanapun juga Cahaya benar-benar sudah membuatnya hilang kesabaran .
" Ah , lupakan saja . Kau membuat mood-ku membaik sekarang . " Ia kembali menghadap pintu dan membenarkan sedikit roknya yang kusut .
" Aku akan masuk sekarang . Terima kasih , Tonny . " Sambungnya disertai dengan tepukan kecil di pinggang lelaki itu .
Tonny menunduk tetapi wanita kecil itu masih belum beranjak , sedikit risih Tonny mengangkat kepalanya .
" Apakah aku harus membuka pintu ini sendiri ? " Cahaya melipat kedua tangannya ke dada sambil menatap Tonny dengan sedikit jengah .
" Maafkan aku nona , maaf . " Secepat kilat ia langsung membuka pintu raksasa itu .
" Tak apa , kau sedikit pendendam rupanya . " masuk dengan wajah yang kembali datar tanpa ekspresi , seperti biasanya .
Wanita itu memang pintar untuk memprovokasi .
__ADS_1
...***...
Ketika pagi menyingsing , Cahaya langsung secepat mungkin untuk berangkat sekolah . Ia tak mau berhadapan dengan kenyataan bahwa ayahnya jarang atau bisa dibilang tak pernah dirumah . Ia berusaha untuk mengerti , namun hatinya terlalu rapuh untuk memahami .
Salah satu bagian terburuk dalam hidupnya adalah ketika ia tak pernah bisa bercengkrama bersama kedua orang tuanya lagi , terutama ayah .
Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya , dan itu Benar.
Ketika sampai disekolah , ia hampir berteriak jika saja ia tak sadar bahwa di dalam kelas yang sedikit masih meremang itu adalah sosok seorang Dassa . Ya , Dassa Alaric .
ini sudah minggu kedua Dassa selalu mengejutkannya disetiap pagi .
Padahal matahari masih malu-malu untuk masuk kekelas ditambah gorden yang belum sepenuhnya terbuka sangat mengganggu sinar matahari itu untuk masuk .
Ia beranjak mendekat dan berdiri tepat di depan meja lelaki manis itu .
" Hari ini masih pukul 5.50 pagi tapi kau sudah datang . Apa kau tak punya rumah ? setidaknya apartement ? " Cahaya melirik jam tangan kecil di tangannya .
Dassa hanya mengidikkan bahu . Mata hitam itu masih tertutup , telinganya dipenuhi oleh earphone .
" Aku penasaran mengapa kau selalu datang sepagi ini ? " Cahaya diabaikan , akhirnya dirinya memutar badan dan mendudukkan bokong di kursi empuk itu . Mereka adalah ' tetangga ' dalam berbangku .
" Aku tak tau jika aku semenarik itu ." Dassa membuka mata tanpa aba-aba . Yang di tatap malah terdiam , untuk kedua kalinya mereka saling mengunci tatapan . Ini sungguh memabukkan .
Karena terlalu terpana , tanpa sengaja Cahaya malah merusak suasana itu dengan menjatuhkan tangannya dari dagu sehingga refleks kepalanya jatuh membentur meja .
" YA TUHAN TAK BISAKAH KAU LEBIH BAIK PADAKU ? " Batinnya berteriak menggila .
Apa ini ? kenapa pagi ini sangat roller coaster ? Cahaya malu bukan main bahkan ia tak berani untuk sekedar mengangkat wajahnya .
" Kau tak apa ? "
Cahaya hanya mengangkat salah 1 tangannya untuk berkata ' stop ' dan kemudian melambai-lambaikan tangannya untuk berkata ' enyahlah ' , dan kabar baiknya Dassa paham maksud dari teman nya itu .
Jujur saja ini sangat lucu , Dassa bahkan sebentar lagi akan meledakkan tawanya , namun ia tak ingin mempermalukan perasaan Cahaya .
" Baiklah , aku harap kau baik-baik saja . Aku akan pergi ke toilet sekarang , jika perlu apa-apa kau bisa mencarimu di - " pembicaraan lelaki itu terhenti ketika Cahaya langsung menyambar perkataannya .
__ADS_1
"Di toilet ? "
" BIG NO ! AKU TIDAK SECABUL ITU ! kau bisa menemui ku di kantin ."
" Jadi , sebenarnya kau mau ke toilet atau ke kantin ? "
" Aku akan - "
" Baiklah aku mengerti , jadi pergilah ."
Ketika sudah di depan pintu , Dassa menoleh sebentar dan berkata " Apakah kau sadar , ini adalah pertama kalau kita berbicara ? maksudku secara santai . Bahkan kau tadi duluan yang menyapaku . Ya , meskipun sedikit menyakitkan tapi aku suka . Apakah kita sudah resmi berteman ? "
Dasssa menunggu , Cahaya akhirnya mengangguk mantap .
Dassa tersenyum dan sedikit berlari kembali ke arah Cahaya .
" Baiklah , nona pemarah . Aku akan menjadi teman yang baik untukmu . " Ia mengucapkan itu sambil mengelus beberapa surai yang tak terkuncir kuda .
" Jika kau tadi bertanya kenapa aku selalu datang sangat pagi , jawaban yang mendekati pasti dariku adalah karena aku sedang menunggumu . Aku selalu berpikir bagaimana caranya bisa dekat denganmu , dan Hanni mengatakan bahwa kau tidak pernah ABSEN untuk datang sangat pagi setiap hari nya . Jadi aku merelakan waktu tidurku hanya untuk lebih dekat denganmu , apakah itu cukup memuaskan rasa penasaranmu ? "
Lagi , Cahaya mengangguk dengan mantap .
Tanpa basa-basi Dassa pergi meninggalkan Cahaya sendiri .
Saat Cahaya memastikan bahwa dassa memang benar-benar telah pergi , ia mengangkat kepalanya perlahan .
Rasa sakit di tengkorak kepalanya masih sangat menyengat , Cahaya pastikan beberapa menit kedepan ia akan menjadi sasaran empuk Ari CS .
Napasnya menderu , ia membutuhkan lebih banyak oksigen . Dirinya sendiri disini tapi ia merasa sedang berebut pasokan oksigen dengan miliaran orang tak terlihat .
Wajahnya memerah - APA INI !
" Atau mungkin panic attack-ku kambuh ? ya kurasa itu bisa saja terjadi meskipun dengan hal semacam ini ."
Jantung seolah sedang bermasalah akhir-akhir ini .
Cahaya bahkan memegang kedua pipinya . Suhu tubuhnya juga sedikit panas .
__ADS_1
Apa yang terjadi ? Apa aku demam ? KENAPA AKU SELALU BERTANYA PADA DIRIKU SENDIRI ? KENAPA ?
...***...