Sembunyi

Sembunyi
Masih di Hari Yang Sama


__ADS_3

Setelah pamit untuk pulang , Hanni di antar oleh maid untuk menuju pintu utama . Ketika hampir sampai , Hanni menoleh dan sedikit melirik pada name tag maid itu . Niran . Nama maid itu Niran .


" Em , Niran . Apakah aku bisa minta tolong padamu ? " Hanni menghentikan langkahnya dan berbalik 90 derajat untuk melihat reaksi sang maid .


Niran sedikit terkejut ketika nona muda kecil di depannya itu , tau namanya " Selama saya bisa membantu , nona . " ujarnya lembut .


" Bagus . Bisa tolong sampaikan kepada Cahaya bahwa ayahnya Dassa meninggal dunia . Dia harus datang ke peringatan kematiannya malam nanti . Pukul 7 malam ." Bahkan reaksi yang Hanni berikan sangat membuat Niran gemas . Lihatlah poni nya yang lucu itu , ikut bergoyang ketika Hanni sedang melakukan ' selebrasi ' .


" Dimana lokasi peringatannya , nona ? "


" Suruh saja nona muda tak berperasaan mu itu untuk datang kerumahku . Karena rumahku dan Dassa cuma berbeda 1 blok . Bisa kau sampaikan ? "


" Tentu saja , nona . "


" Good . Terima kasih atas bantuanmu . Dassa sangat menunggu kehadirannya . "


Hanni pergi melenggang meninggalkan rumah mewah luar biasa itu . Ketika sampai di pagar , dia pun terhenti sebentar .


" Apa ada masalah , nona ? " Sang penjaga berkata demikian karena ketika pagar itu terbuka untuk Hanni lewati , namun ia malah tak berjalan .


" Pagarnya . " Tunjuk Hanni pada pagar yang tampak mengkilap di siram sinar matahari .


" Ada apa dengan pagarnya , nona ? "


" Dimana kalian membeli cat sebagus itu ? maksudku , warnanya sangat mengkilap jika terkena sinar matahari ."


Penjaga tertawa , astaga bahkan ia tak bisa menyembunyikan rasa geli itu .


" Kenapa kau menertawaiku ? "


" Maafkan saya , nona . Tapi itu bukan cat seperti yang anda fikirkan . Yang berwarna putih itu - batang perak asli , dan yang kuning itu - asli bongkahan emas ."


Hanni bahkan hampir pingsan jika saja ia tak bersikap seperti bangsawan . INI GILA .


...***...


Hanni kembali datang ke peringatan kematian hari kedua ayah Dassa . Seperti biasa , lelaki itu akan selalu terlihat melamun sambil menatap foto sang ayah .


" Aku harap , ayahmu bahagia disana . " Hanni duduk menghadap lelaki itu sambil mengusap lembut punggung Dassa .


" Kau bertemu dengannya ? "


Tanpa aba-aba Hanni langsung memukul punggung itu dengan sangat keras . Ya , bahkan Hanni sampai menggunakan tenaga dalam . Persetan jika Dassa langsung ikut menyusul ayah nya sekarang .

__ADS_1


" Kau gila ? " Dassa masih berusaha menggapai punggungnya yang terasa terbakar .


" Kau yang gila . Aku baru akan menghiburku tapi kau malah mencari gara-gara . " Dassa masih merasa kesakitan , karena sedari tadi Hanni dapat melihat bahwa Dassa meringis . " Aku tidak akan minta maaf . "


" Baiklah , kali ini mungkin aku yang salah . Jadi , apa hasil dari kepergianmu kesana , hm ? "


" Hasilnya , aku hampir gila . " Hanni memasukkan rambut ke semua sela-sela jemarinya . Kepalanya tertunduk . Masih tak percaya bahwa Cahaya sekaya itu .


" What the hell we're doing . Kenapa kita selalu menggunakan kata gila di setiap kalimat ? "


" Karena ini benar -benar gila . Kau tau apa yang aku dapat ? Secara tidak langsung aku sedang memperlihatkan betapa miskin nya aku saat ada disana .


" Cahaya dan kemewahan , itu sudah seperti bagian hidup nya . Takkan mudah untuk di pisahkan . "


Hanni sangat frustasi sekarang . Untung saja , dirinya bisa memantaskan diri tadi , bersikap untuk tetap tenang dan tak norak meskipun kakinya serasa lumpuh melihat ' replika surga ' itu . Dan kemungkinan yang terburuk adalah jatuh sudah nama klan Westlly di mata klan Benjamin .


" Kau hanya ingin melaporkan itu padaku ? "


Mata indah Hanni terbelakak , bisa-bisanya lelaki kurang ajar itu berkata seenteng itu .


" melaporkan katamu ? Wahh , apa yang Cahaya lihat dari dirimu yang minus ini . Kurasa , tak ada ! "


" Minus ? coba katakan , lelaki mana yang secara terang-terangan yang merebutkan mu disekolah karena kelebihanmu ? "


" Bahkan Ari datang ke sini . " Mata Hanni mencari orang yang Dassa maksud . Ya , Ari ada disana sedang berdoa dengan khusyuk .


" Aku rasa , Cahaya hanya terlambat . Tungu sebentar lagi . " Ucap Hanni sampai berkali-kali melihat jam di tangannya .


" Tak ada kemungkinan lain selain , dia tak lagi menganggap ku sebagai temannya . Baiklah kalau begitu , akan aku kabulkan permintaannya . "


...***...


Rumah Cahaya , Setelah kepulangan Hanni .


Tok...tok..tok...


Pintu terdengar terbuka dengan sangat pelan , Cahaya yakin itu bukan ibunya , jadi dia tak berminat sedikitpun untuk merespons .


Maid yang bernama Niran itu menunduk sedikit dan kembali menegakkan kepalanya .


" Nona - "


" Aku sedang tak berminat mendengarkan apapun , jadi - lebih baik kau keluar sekarang. "

__ADS_1


" Tapi , nona . Ini pesan pen- "


" Keluar atau aku akan memecatmu . "


" Tapi - "


" Apa kau pikir aku sedang bermain - main sekarang ? Apa perkataanku tentang memecatmu itu hanya lelucon , hah ? " Cahaya yang awalnya sedang mengalihkan segala rasa sakitnya pada kanvas , kini berdiri dan membanting beberapa cat hingga mengenai ujung sepatu Niran . Bahkan , Cahaya berbicara dan menggeram dalam satu waktu .


Maid itu ketakutan setengah mati . Pekerjaannya bisa menjadi taruhan . Ia takkan bertindak bodoh . Akhirnya , tanpa mengatakan apapun , Niran langsung pergi dari kamar itu .


Begitulah akhirnya , pesan itu tak pernah tersampaikan .


...***...


Setelah hari itu , Dassa tak terlihat lagi di sekolah begitupun dengan Cahaya . Hingga hari itu tiba . Tepat di hari kelima , sebuah kabar mengejutkan datang tanpa berperasaan .


" Perhatian semua . " Ms.Ponix mengetuk beberapa kali meja yang ada di hadapannya .


Semua atensi jatuh kepadanya . Ia tersenyum sebentar . " Terima kasih ."


" Aku sangat menyesal untuk mengatakan ini , tapi teman kita yang bernama Dassa Allaric memilih untuk kembali ke sekolah lamanya . "


Semua siswa tak terkecuali Hanni terkejut bukan main . Ini diluar ekspetasinya . Tanpa berfikir , tangan kanan nya secara spontan terangkat di udara dan berdiri .


" Miss , Ba-bagaimana mungkin Dassa pindah sedangkan ujian akhir sebentar lagi . " Hanni berusaha untuk berbicara santai meskipun suaranya sudah tercekat di tenggorokan .


" Hal ini sudah di bicarakan antar dewan dan kepala sekolah . Jadi , semua pertimbangan sudah di selesaikan . "


" Tapi , Ms.ponix - "


" Ada baiknya kita menghargai keputusan dari teman kalian , ya , Ms.Westlly . " Sang wali kelas memotong argumen wanita berponi itu dengan sedikit tersenyum bertanda bahwa ' sesi tanya - jawab ' sudah berakhir .


" Ok , thank you , Ms.Ponix . "


Hanni terduduk dan matanya yang mulai berkaca - kaca . Ia tak akan sanggup dengan apa yang terjadi pada Cahaya kedepan . Hanni merasakan sesak . Hanya Hanni yang mengetahui cerita yang sebenarnya dibalik kepergian lelaki itu .


" Oh , dear . It's ok . Dassa berkata bahwa kalian adalah teman yang baik untuknya , ia takkan melupakan kalian ." Hanni merasa bahwa Ms.Ponix memeluknya dengan hangat . Luruhlah sudah pertahanan nya . Ia menangis layaknya anak kecil . Hanni menyalahkan dirinya sendiri . Ya , ini salahnya .


Coba saja hari itu ia berusaha sedikit lebih keras untuk bertemu Cahaya , pasti hal ini takkan pernah terjadi .


Seandainya kemarin ia tak bosan untuk berbicara tentang klan-nya pada ibunya Cahaya , mungkin wanita cantik itu akan sedikit berbesar hati untuk membawanya kekamar Cahaya .


Ya tuhan . Apa yang sudah ia perbuat . Mengapa semuanya malah menjadi semakin rumit ?

__ADS_1


...***...


__ADS_2